Pintu ruang tindakan tertutup kembali di depan mata Hendra.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana seperti orang yang kehilangan kemampuan berpikir.
Suara roda brankar, langkah para perawat, bunyi monitor dari balik dinding, dan percakapan keluarga pasien lain bercampur menjadi dengungan yang jauh.
Di sampingnya, Clara masih menatap dengan wajah pucat.
“Jadi benar?” suaranya bergetar. “Bayi itu mungkin anakmu?”
Hendra mengusap wajah kasar-kasar.
“Aku belum tahu.”
“Belum tahu?” Clara tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kelucuan dalam suaranya. “Dia hamil tiga puluh empat minggu, kalian bercerai delapan bulan lalu, dan dia menyebut namamu ketika hampir tidak sadar. Kamu masih bilang belum tahu?”
Hendra menatap pintu ruang tindakan.
“Aku bilang sekarang bukan waktunya.”
Clara hendak membalas, tetapi seorang perawat keluar dan memanggil.
“Pak Hendra?”
Hendra segera mendekat.
“Dokter meminta Bapak menunggu di ruang konsultasi. Ada informasi tambahan yang harus kami sampaikan.”
Hendra mengikuti perawat tanpa melihat Clara.
Namun Clara ikut berjalan di belakangnya.
Di depan ruang konsultasi, perawat menahan langkah perempuan itu.
“Maaf, hanya keluarga pasien.”
Clara membeku.
Hendra menoleh sekilas.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat dengan jelas perbedaan antara dua perempuan yang selama ini ada di dalam hidupnya.
Maya sedang berjuang mempertahankan nyawa.
Sementara Clara sejak masuk UGD hanya memikirkan kamar VIP, kenyamanan, dan posisi dirinya dalam hubungan.
Hendra masuk tanpa berkata apa-apa.
Dokter yang tadi menemuinya sudah menunggu.
Di atas meja terdapat beberapa lembar hasil pemeriksaan.
“Kondisi Ibu Maya memburuk,” kata dokter. “Tekanan darahnya turun, fungsi jantung sangat lemah, dan detak jantung janin mulai tidak stabil.”
Hendra menarik kursi.
“Lakukan apa pun yang diperlukan.”
“Kami kemungkinan besar harus melakukan operasi sesar darurat.”
“Lakukan.”
Dokter menatapnya.
“Ada masalah lain. Secara administratif, Anda bukan suami pasien. Kami sudah mencoba menghubungi nomor kontak darurat yang tercatat, tapi belum tersambung.”
“Siapa?”
Dokter melihat berkas.
“Nama kontaknya Ratna Indriani.”
Hendra mengenalnya.
Kakak kandung Maya.
Hendra segera mengeluarkan ponselnya, baru teringat layarnya pecah di lantai UGD.
Ia memanggil salah satu pengawalnya dan meminjam telepon.
Nomor Ratna masih tersimpan dalam ingatannya.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Pada panggilan ketiga, suara perempuan terdengar panik.
“Halo?”
“Mbak Ratna, ini Hendra.”
Keheningan panjang muncul dari seberang.
Lalu suara Ratna berubah dingin.
“Kamu dapat nomor saya dari mana?”
“Maya di rumah sakit.”
“Apa?”
“UGD Medika Utama. Kondisinya kritis. Dokter butuh keluarga.”
Ratna tidak menjawab beberapa detik.
Ketika akhirnya bicara, suaranya terdengar seperti menahan tangis.
“Saya ke sana sekarang.”
Telepon terputus.
Dokter kembali menjelaskan risiko tindakan.
Hendra menandatangani beberapa dokumen sebagai pihak yang bersedia menjadi saksi medis sambil menunggu keluarga resmi datang.
Tangannya gemetar.
Ia pernah menandatangani kontrak senilai ratusan miliar rupiah tanpa ragu sedikit pun.
Namun malam itu, pena seharga beberapa juta rupiah terasa hampir terlalu berat untuk ia pegang.
Ketika keluar dari ruang konsultasi, Clara langsung mendekat.
“Bagaimana?”
“Mereka akan operasi.”
Clara menggigit bibir.
“Dan bayi itu?”
Hendra menatapnya tajam.
“Jangan sekarang.”
Clara merendahkan suara.
“Aku cuma ingin tahu posisiku.”
Kalimat itu membuat Hendra berhenti.
“Posisimu?”
“Iya. Kalau bayi itu ternyata benar anakmu, terus bagaimana dengan kita?”
Hendra menatap perempuan di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Seorang perempuan sedang mungkin mati di dalam sana, Clara.”
“Aku tahu, tapi hidup kita juga akan berubah.”
“Hidup kita?”
Clara menghela napas frustrasi.
“Hendra, jangan pura-pura nggak paham. Kita sudah bicara soal masa depan.”
“Kita bicara soal liburan, apartemen, dan acara keluarga.”
“Itu juga masa depan!”
Hendra menggeleng pelan.
“Aku baru sadar, mungkin selama ini aku salah mengartikan banyak hal.”
Wajah Clara menegang.
Sebelum pertengkaran mereka berlanjut, suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong.
Ratna datang bersama seorang perempuan tua.
Ibu Maya.
Bu Indri.
Begitu melihat Hendra, ekspresi Bu Indri berubah.
Bukan lega.
Bukan marah.
Melainkan campuran antara takut dan kecewa.
“Hendra?”
Hendra berdiri.
“Bu.”
Perempuan tua itu menatapnya beberapa saat, lalu melewati Hendra tanpa menyapa lagi.
Ratna langsung menemui dokter.
Setelah menerima penjelasan dan menandatangani persetujuan operasi, Ratna berdiri di depan Hendra.
“Kamu ngapain di sini?”
“Saya kebetulan ada di UGD ketika Maya datang.”
“Dengan dia?”
Ratna melirik Clara.
Hendra tidak menjawab.
Ratna tertawa kecil tanpa humor.
“Luar biasa.”
“Mbak Ratna, saya cuma ingin tahu satu hal.”
Ratna langsung tahu pertanyaan yang ingin diajukan.
“Jangan.”
“Maya hamil tiga puluh empat minggu.”
“Hendra.”
“Apakah bayi itu anak saya?”
Ratna mengepalkan rahang.
“Kamu nggak punya hak untuk bertanya sekarang.”
“Kalau dia anak saya, saya punya hak.”
“Dan delapan bulan terakhir kamu di mana?”
Kalimat itu mengenai Hendra tepat di dada.
Ia terdiam.
Ratna melangkah mendekat.
“Kamu tahu apa yang terjadi setelah perceraian?”
Hendra tidak menjawab.
“Kamu tahu Maya pingsan dua minggu setelah keluar dari rumah kalian?”
Mata Hendra berubah.
“Apa?”
“Dia kira cuma kecapekan. Kami bawa ke dokter. Ternyata hamil.”
Hendra seperti kehilangan keseimbangan.
“Dua minggu setelah…”
Ratna mengangguk.
“Setelah malam terakhir kalian.”
Clara yang berdiri beberapa meter dari sana ikut mendengar.
Wajahnya langsung pucat.
Hendra berbisik.
“Kenapa dia nggak bilang?”
Ratna menatapnya lama.
“Karena dia mau bilang.”
Hendra mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Ratna menarik napas dalam-dalam.
“Waktu Maya tahu dia hamil, dia hampir nggak percaya. Tujuh tahun kalian menunggu. Tujuh tahun dia menyalahkan dirinya sendiri. Jadi ketika dokter bilang dia hamil, hal pertama yang dia lakukan adalah menelepon kamu.”
Hendra membeku.

“Saya tidak pernah menerima telepon.”
“Benar.”
Ratna mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah amplop kecil yang sudah kusut.
“Karena dia juga datang ke rumah keluarga Prasetya.”
Hendra menatap amplop itu.
Ratna melanjutkan.
“Dia mau memberikan hasil pemeriksaan secara langsung.”
“Lalu?”
“Dia tidak pernah bertemu kamu.”
Hendra semakin bingung.
“Siapa yang dia temui?”
Ratna menatapnya tepat di mata.
“Ibumu.”
Napas Hendra tertahan.
Clara ikut menoleh.
“Ibu saya?”
“Bu Lestari.”
Nama itu membuat suasana berubah.
Lestari Prasetya adalah ibu Hendra.
Perempuan yang selama tujuh tahun pernikahan mereka selalu terlihat ramah di depan Hendra, tetapi hampir tidak pernah menyembunyikan kekecewaannya terhadap Maya karena belum memberikan cucu.
Ratna membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat salinan hasil USG pertama Maya.
Nama pasien.
Tanggal pemeriksaan.
Usia kandungan.
Semuanya jelas.
“Bu Lestari membaca ini,” kata Ratna. “Lalu dia bilang kepada Maya untuk tidak pernah menghubungi kamu lagi.”
Hendra menatap lembar itu seperti orang yang tidak mengenali tulisan di depannya.
“Tidak mungkin.”
Ratna tertawa pahit.
“Kamu selalu bilang begitu kalau kenyataan tidak sesuai dengan keluargamu.”
“Mbak Ratna, ibu saya memang keras, tapi dia tidak mungkin…”
“Dia bilang Maya cuma ingin menggunakan kehamilan itu untuk masuk lagi ke keluarga Prasetya.”
Hendra menggeleng.
“Tidak.”
“Dia juga bilang kamu sudah punya perempuan lain.”
Mata Hendra seketika berpindah kepada Clara.
Clara membeku.
Ratna mengikuti tatapannya.
“Kamu kenal dia waktu itu?”
Hendra menjawab perlahan.
“Saya baru mulai dekat dengan Clara tiga bulan setelah perceraian.”
Ratna menatap Clara.
“Menarik.”
Clara langsung defensif.
“Apa maksudnya?”
Ratna menyilangkan tangan.
“Karena menurut Maya, Bu Lestari menunjukkan foto perempuan ini.”
Hendra menatap Clara.
Wajah Clara langsung berubah.
“Itu bohong.”
Ratna tidak mengalihkan pandangan.
“Foto makan malam di sebuah restoran. Kamu dan Bu Lestari.”
Clara membuka mulut tetapi tidak segera menjawab.
Hendra berjalan satu langkah mendekatinya.
“Kamu sudah kenal ibu saya sebelum kenal saya?”
Clara tertawa gugup.
“Hendra, ini situasinya kacau. Jangan percaya semua…”
“Jawab.”
Nada suara Hendra rendah.
Clara menelan ludah.
“Iya.”
Hendra diam.
Clara buru-buru melanjutkan.
“Tapi cuma kenal biasa. Mamamu klien temanku.”
“Berapa lama?”
“Beberapa bulan.”
“Berapa lama, Clara?”
“Sekitar setahun.”
Wajah Hendra berubah total.
Setahun berarti Clara sudah mengenal ibunya ketika ia masih menikah dengan Maya.
Ratna menatap Hendra dengan kasihan.
“Maya tahu semuanya malam itu.”
Hendra hampir tidak bersuara.
“Apanya?”
“Ibumu menyuruh dia pergi dan diam. Katanya kamu sudah ingin hidup baru. Katanya kalau Maya benar-benar mencintai kamu, dia tidak akan menggunakan anak itu untuk mengikat kamu lagi.”
Hendra duduk perlahan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat benar-benar hancur.
“Tapi Maya bisa menghubungi saya lewat kantor.”
“Dia coba.”
Hendra mengangkat kepala.
“Apa?”
“Dia kirim surat ke kantor.”
Hendra menatapnya tidak percaya.
“Tidak pernah sampai.”
“Tentu saja.”
Ratna menghela napas.
“Dua minggu setelah itu, Maya menerima surat dari pengacara keluarga Prasetya.”
“Apa isinya?”
“Peringatan agar dia berhenti menghubungi kamu dan keluarga.”
Hendra berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh.
“Saya tidak pernah menyuruh siapa pun mengirim surat!”
“Saya tahu.”
Ratna mengeluarkan ponselnya.
Ia menunjukkan foto dokumen.
Di bagian bawah tercetak nama firma hukum yang selama bertahun-tahun menangani bisnis keluarga Prasetya.
Hendra mengenalnya dengan sangat baik.
Dan di sebelah tanda tangan pengacara terdapat catatan persetujuan internal.
L. Prasetya.
Ibunya.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka.
Semua orang menoleh.
Dokter keluar.
Wajahnya masih serius, tetapi kali ini ada sedikit kelegaan.
“Bayinya sudah lahir.”
Bu Indri menutup mulut.
Ratna langsung menangis.
Hendra tidak bergerak.
“Laki-laki,” lanjut dokter. “Prematur, tapi untuk sementara stabil. Kami sudah membawanya ke NICU.”
Hendra memejamkan mata.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
“Dan Maya?”
Ekspresi dokter berubah lagi.
“Kondisinya masih kritis.”
Semua kebahagiaan yang baru muncul sekejap langsung menghilang.
“Kami berhasil menghentikan perdarahan, tetapi fungsi jantungnya masih sangat lemah. Beberapa jam ke depan sangat menentukan.”
Bu Indri terisak.
Ratna memeluk ibunya.
Hendra berdiri terpaku.
Dokter lalu menatap Ratna.
“Pasien membawa sebuah tas kecil. Ada beberapa dokumen yang mungkin perlu keluarga simpan.”
Seorang perawat menyerahkan tas Maya.
Ratna membukanya.
Di dalam terdapat pakaian bayi, dompet, charger, dan sebuah amplop cokelat.
Nama Hendra tertulis di bagian depan.
Semua orang terdiam.
Ratna menyerahkannya.
“Tampaknya ini buat kamu.”
Tangan Hendra bergetar saat membuka amplop.
Di dalamnya terdapat surat dan sebuah hasil tes laboratorium.
Tes DNA prenatal non-invasif dari rumah sakit di Singapura.
Hendra membaca satu baris utama.
Probabilitas hubungan biologis ayah dan janin 99,99 persen.
Dunia Hendra seperti berhenti.
Anak itu memang anaknya.
Ia mengusap wajah sambil terisak pelan.
Namun masih ada surat.
Tulisan tangan Maya memenuhi dua halaman.
Hendra mulai membaca.
“Hendra, kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak punya keberanian untuk bicara langsung denganmu.
Aku tahu tentang kehamilan ini dua minggu setelah aku pergi.
Aku menangis hampir semalaman.
Bukan karena takut.
Tapi karena setelah tujuh tahun menunggu, ternyata Tuhan memberi kita anak justru ketika kita sudah berpisah.
Aku ingin langsung mencarimu.
Aku datang ke rumah.
Tapi aku bertemu Ibumu.
Dia bilang kamu sudah bahagia dengan perempuan lain.
Dia menunjukkan fotonya.
Aku tetap tidak percaya.
Aku kirim pesan, surat, dan mencoba lewat kantor.
Lalu aku menerima peringatan dari pengacara keluargamu.
Saat itu aku sadar, mungkin satu-satunya cara mencintai anak ini adalah berhenti memaksanya masuk ke dalam keluarga yang tidak menginginkan kami.”
Hendra berhenti membaca.
Tangannya gemetar semakin keras.
Di sebelahnya, Clara mulai mundur perlahan.
Namun Ratna melihat gerakan itu.
“Tunggu.”
Clara berhenti.
Ratna mengambil ponselnya lagi.
“Ada satu hal lagi.”
Hendra mengangkat wajah.
Ratna membuka rekaman suara.
Suara Lestari Prasetya terdengar.
Jernih.
“Maya, kamu harus berpikir realistis. Hendra butuh perempuan yang bisa membantu masa depannya, bukan seseorang yang terus membuatnya merasa gagal karena masalah keturunan.”
Lalu suara Maya.
“Saya sedang hamil, Bu.”
“Saya tahu. Justru itu masalahnya.”
Hendra menutup mata.
Rekaman berlanjut.
“Clara sudah dekat dengan keluarga kami sejak lama. Dia jauh lebih cocok.”
Kemudian muncul suara ketiga.
Suara seorang perempuan muda.
“Kalau Mbak Maya benar-benar pergi, saya bisa pastikan Hendra tidak perlu tahu semua ini.”
Hendra perlahan membuka mata.
Clara menangis.
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
Suara di rekaman jelas miliknya.
Hendra menatapnya.
“Kamu tahu.”
Clara mulai panik.
“Aku cuma diminta mamamu menemani dia hari itu. Aku nggak tahu kalau…”
“Kamu tahu Maya hamil.”
Clara diam.
“Lima bulan kamu bersamaku,” lanjut Hendra. “Setiap hari. Kamu tidur di rumah saya. Makan dengan keluarga saya. Dan kamu tahu saya punya anak yang bahkan belum saya ketahui.”
Clara menangis lebih keras.
“Aku takut kehilangan kamu.”
Hendra mengangguk perlahan.
“Dan karena takut kehilangan saya, kamu membiarkan saya kehilangan delapan bulan pertama kehidupan anak saya.”
Clara mencoba menyentuh tangannya.
Hendra mundur.
“Pulang.”
“Hendra…”
“Pulang.”
Nada suaranya membuat Clara tidak berani berkata lagi.
Ia pergi dengan langkah cepat.
Tidak ada yang mengejarnya.
Pagi mulai mendekat ketika Hendra berdiri di depan kaca NICU.
Di balik kaca itu, seorang bayi kecil terbaring di dalam inkubator.
Selang kecil terpasang di tubuhnya.
Tangannya begitu kecil.
Namun ketika Hendra mendekat ke kaca, bayi itu bergerak pelan.
Hendra menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca.
“Maaf,” bisiknya.
Air matanya jatuh lagi.
“Ayah terlambat.”
Dua jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah sakit.
Lestari Prasetya turun dengan wajah tegang.
Rupanya Clara sudah meneleponnya.
Lestari menemukan Hendra di lorong depan ICU.
“Hendra, Ibu bisa jelaskan.”
Hendra menatapnya.
Tidak ada kemarahan meledak-ledak.
Justru ketenangan di wajahnya membuat Lestari semakin takut.
“Kenapa?”
Lestari menarik napas.
“Ibu cuma ingin melindungi kamu.”
“Dari anak saya?”
“Dari pernikahan yang sudah membuat kamu menderita.”
“Maya tidak pernah membuat saya menderita.”
“Kalian tujuh tahun tidak punya anak.”
Hendra tertawa kecil.
“Jadi itu alasan Ibu?”
Lestari menurunkan suara.
“Keluarga kita butuh penerus.”
“Dan ketika Maya akhirnya hamil, Ibu malah mengusirnya.”
Lestari terdiam.
Hendra menatap ibunya lama.
“Saya kehilangan delapan bulan kehamilan anak saya karena Ibu.”
“Ibu pikir hubungan kalian sudah selesai.”
“Perceraian saya dengan Maya adalah urusan saya. Anak saya bukan hak Ibu untuk disembunyikan.”
Lestari mulai menangis.
“Hendra…”
“Mulai hari ini, Ibu tidak lagi punya kewenangan di Prasetya Group.”
Lestari membeku.
“Apa?”
“Saya sudah menelepon direksi.”
“Kamu tidak bisa melakukan itu.”
“Saya pemegang saham mayoritas.”
“Karena keluarga ini membangun semuanya untuk kamu!”
Hendra menatapnya dingin.
“Dan keluarga ini hampir membuat saya kehilangan anak saya.”
Lestari tidak bisa berkata lagi.
Tiba-tiba pintu ICU terbuka.
Dokter keluar.
“Pak Hendra?”
Hendra langsung berbalik.
“Ibu Maya sadar.”
Semua orang diam.
“Belum stabil,” lanjut dokter. “Tapi dia bisa bicara sebentar.”
Hendra menutup mata sejenak.
Kemudian ia masuk.
Maya terlihat sangat lemah.
Selang oksigen masih terpasang.
Wajahnya pucat.
Tetapi ketika melihat Hendra, matanya perlahan berkaca-kaca.
Hendra berdiri di samping ranjang.
Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Akhirnya hanya satu kata yang keluar.
“Maaf.”
Maya tersenyum tipis.
“Kamu sudah tahu?”
Hendra mengangguk.
“Semua.”
Maya memejamkan mata sesaat.
“Bayi kita?”
“Laki-laki.”
Air mata mengalir di sudut mata Maya.
“Dia baik?”
“Dokter bilang stabil.”
Hendra menarik kursi.
“Aku lihat dia.”
Maya menatapnya.
“Mirip siapa?”
Untuk pertama kalinya malam itu, Hendra tertawa kecil di tengah air mata.
“Masih merah semua. Sulit menilai.”
Maya ikut tersenyum.
Lalu hening.
Hendra menggenggam tepi ranjang, tidak berani langsung menyentuh tangannya.
“Aku nggak akan minta kamu kembali.”
Maya terlihat terkejut.
“Aku juga nggak akan menjadikan anak kita alasan untuk memperbaiki sesuatu yang belum tentu bisa diperbaiki,” lanjut Hendra. “Aku cuma mau minta satu kesempatan.”
“Kesempatan apa?”
“Jadi ayah yang seharusnya.”
Maya menatapnya lama.
“Delapan bulan lalu aku benci kamu.”
Hendra mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku pikir kamu memang memilih hidup baru.”
“Aku bodoh.”
“Sedikit.”
Hendra tersenyum getir.
Maya menarik napas perlahan.
“Tapi kalau kamu mau ada dalam hidup anak kita, aku tidak akan melarang.”
Hendra menunduk.
“Terima kasih.”
Maya memandang ke arah jendela.
“Aku sudah memilih nama.”
Hendra menatapnya.
“Apa?”
“Arka.”
“Arka?”
Maya mengangguk lemah.
“Artinya cahaya.”
Hendra tersenyum.
“Cocok.”
Maya memejamkan mata lagi.
“Karena dia datang ketika semuanya gelap.”
Empat bulan kemudian, Maya keluar dari masa pemulihan jantung dengan kondisi jauh lebih baik.
Arka tumbuh sehat.
Hendra tidak kembali tinggal bersama Maya.
Ia menyewa rumah tidak jauh dari tempat Maya tinggal dan mengikuti semua jadwal kontrol bayi tanpa pernah absen.
Hubungan mereka tidak langsung pulih.
Tidak ada pelukan romantis.
Tidak ada janji bahwa mereka akan menikah lagi.
Yang ada hanyalah dua orang yang perlahan belajar bicara tanpa luka lama.
Lestari mengundurkan diri dari seluruh posisi keluarga setelah skandal surat pengacara dan rekaman suara diketahui para pemegang saham.
Clara pindah dari Surabaya beberapa minggu kemudian.
Namun hal yang paling tidak disangka Hendra terjadi hampir setahun setelah malam di UGD.
Pada ulang tahun pertama Arka, keluarga kecil itu berkumpul sederhana di rumah Maya.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada pejabat.
Tidak ada pengusaha besar.
Hanya kue kecil, beberapa kerabat, dan seorang bayi yang sibuk meremas krim dengan tangannya.
Ketika semua tamu pulang, Hendra membantu Maya membersihkan meja.
Arka sudah tertidur.
Maya tiba-tiba berkata, “Kamu tahu nggak hal paling aneh dari semua ini?”
Hendra menatapnya.
“Apa?”
“Aku pernah bertanya sama dokter dulu, kenapa selama tujuh tahun aku nggak pernah hamil.”
“Terus?”
Maya mengambil sebuah amplop dari laci.
“Aku melakukan pemeriksaan ulang setelah melahirkan.”
Hendra menerimanya.
Ia membaca hasil pemeriksaan.
Lalu membeku.
Tidak ada kelainan serius pada sistem reproduksi Maya.
Kesempatan hamil secara alami memang lebih rendah dari rata-rata.
Tetapi jauh dari kata mustahil.
Hendra menatap Maya.
“Jadi diagnosis dulu salah?”
“Sebagian.”
Maya tersenyum pahit.
“Dokter bilang masalahnya mungkin bukan cuma dari aku.”
Hendra perlahan memahami.
Maya menyerahkan lembar lain.
Hasil pemeriksaan lama Hendra.
Yang selama bertahun-tahun disimpan oleh klinik fertilitas.
Ada satu catatan yang tidak pernah sampai kepadanya.
Motilitas sperma Hendra rendah pada beberapa pemeriksaan awal.
Namun hasil itu dulu disampaikan kepada satu nomor kontak keluarga.
Nomor Lestari.
Hendra terpaku.
Berarti selama bertahun-tahun, ibunya mengetahui bahwa masalah kesuburan mereka bukan hanya berasal dari Maya.
Tetapi ia membiarkan seluruh keluarga menyalahkan Maya.
Hendra duduk perlahan.
“Maya…”
Maya menatapnya tenang.
“Aku nggak mau kamu marah lagi.”
“Dia tahu sejak dulu.”
“Iya.”
“Dan dia biarkan kamu…”
“Aku sudah berhenti mencari alasan kenapa orang melakukan hal buruk.”
Maya menatap kamar Arka.
“Sekarang aku cuma ingin memastikan Arka tumbuh tanpa mewarisi luka kita.”
Hendra memandang perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.
Dulu ia mengira kekuatan berarti memiliki uang, perusahaan, dan kemampuan mengendalikan keadaan.
Namun kenyataannya, ia tidak mampu melihat kebohongan yang terjadi tepat di depan matanya sendiri.
Ia tidak tahu apakah Maya akan pernah mencintainya seperti dulu.
Ia juga tidak tahu apakah mereka akan kembali menjadi suami istri.
Tetapi untuk pertama kalinya, Hendra tidak merasa harus memaksa masa depan berjalan sesuai kehendaknya.
Dari kamar sebelah terdengar tangisan kecil Arka.
Maya dan Hendra berdiri bersamaan.
Mereka saling menatap.
Lalu tertawa pelan.
“Aku ambil susu,” kata Hendra.
Maya menggeleng.
“Kamu gendong dulu. Aku yang bikin.”
Hendra berjalan ke kamar.
Ia mengangkat Arka dengan hati-hati.
Bayi itu langsung berhenti menangis begitu menempel di dadanya.
Hendra menatap wajah kecil itu lama.
Delapan bulan pertama kehidupan Arka telah dirampas darinya oleh kebohongan.
Namun malam itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Keluarga bukan tentang darah, nama besar, atau siapa yang paling berhak mengambil keputusan.
Keluarga adalah orang-orang yang memilih hadir ketika semuanya sulit.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hendra tidak ingin menjadi orang paling berkuasa di dalam sebuah keluarga.
Ia hanya ingin menjadi seseorang yang tidak pernah lagi terlambat pulang.
