SUAMIKU MENCOBA MEMBIUSKU DI GALA KELUARGA DEMI MENGUASAI HARTAKU!

Dina menggeser gelas itu hanya beberapa sentimeter.

Gerakannya begitu kecil sehingga bahkan pramusaji yang berdiri beberapa meter dari meja tidak akan menyadarinya.

Gelas jus jeruk yang telah ditetesi cairan oleh Rendra kini berada di posisi yang sebelumnya ditempati minuman Sisca. Sementara gelas lain yang aman berada di depan Dina.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut orang lain bisa mendengarnya.

Beberapa detik kemudian, Rendra kembali menoleh.

“Sudah diminum?”

Dina mengangkat gelas yang kini ada di depannya.

Ia meneguk sedikit.

Rendra menatapnya lama, lalu sudut bibirnya terangkat.

Untuk pertama kalinya malam itu, Dina melihat sesuatu di wajah suaminya yang membuat darahnya terasa membeku.

Kelegaan.

Seolah-olah sesuatu yang sejak awal ia tunggu akhirnya terjadi.

“Bagus,” katanya pelan.

Dina meletakkan gelas.

Ia berpura-pura tidak melihat tatapan singkat yang dipertukarkan Rendra dan Sisca.

Tak lama kemudian, pembawa acara mengumumkan sesi penghargaan bagi para eksekutif yang dianggap berjasa terhadap perkembangan Wijaya Group.

Sisca tersenyum puas ketika namanya disebut sebagai salah satu penerima penghargaan.

Sebelum berdiri, ia mengambil gelas yang berada di dekat tangannya.

“Untuk keberhasilan kita,” katanya kepada Rendra.

Kemudian ia meneguknya beberapa kali.

Dina menahan napas.

Rendra yang sedang berbicara dengan pamannya tidak memperhatikan.

Sisca berdiri dan berjalan menuju panggung.

Lima menit pertama tidak terjadi apa-apa.

Sepuluh menit kemudian, Dina mulai bertanya-tanya apakah cairan itu memang bukan sesuatu yang berbahaya.

Namun ketika Sisca sedang berbicara dengan beberapa tamu setelah turun dari panggung, langkahnya mendadak goyah.

Tangannya meraih sandaran kursi.

“Sisca?”

Seorang rekan kerja mencoba menahannya.

Sisca menggeleng.

“Aku… pusing.”

Rendra langsung berdiri.

Wajahnya berubah pucat.

Bukan ekspresi seseorang yang terkejut melihat rekannya sakit.

Melainkan ekspresi seseorang yang memahami persis apa yang sedang terjadi.

Dina melihat semuanya.

Sisca mencoba berjalan, tetapi kakinya kehilangan keseimbangan. Seorang pramusaji dan dua tamu segera membantunya duduk.

“Panggil dokter,” kata seseorang.

Kebetulan salah satu tamu gala adalah dokter yang bekerja sama dengan perusahaan. Ia segera memeriksa Sisca.

“Kesadarannya menurun. Kita perlu membawanya ke rumah sakit.”

Ballroom mulai gaduh.

Bambang Wijaya turun dari panggung dengan wajah tegang.

“Jangan panik. Tolong jangan ada yang merekam.”

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan pertanyaan tentang keadaan Sisca.

Melainkan soal kamera.

Dina semakin yakin bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Ketika petugas medis hotel membawa kursi roda, Sisca tiba-tiba mencengkeram lengan Rendra.

“Jangan biarkan mereka mengambil darahku.”

Rendra membeku.

“Diam, Sisca.”

“Aku nggak mau.”

“Kamu sedang tidak sadar.”

Sisca tertawa kecil.

Tatapannya mulai kosong.

Pengaruh cairan itu tampaknya membuat kesadarannya kabur dan kontrol dirinya menurun.

“Takut ketahuan?” gumamnya.

Rendra langsung mendekat.

“Cukup.”

Namun Sisca malah tertawa lebih keras.

Beberapa orang mulai memperhatikan.

Bambang memberi isyarat kepada petugas keamanan agar menjauhkan wartawan.

Dina berdiri beberapa langkah dari mereka.

Kemudian Sisca menatap Bambang.

“Bapak juga takut?”

Ballroom mendadak lebih sunyi.

Bambang mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Sisca mengangkat kepala dengan susah payah.

“Takut kalau semuanya terbongkar.”

Rendra mencengkeram bahunya.

“Sisca, diam!”

Sisca menepis tangannya.

“Kenapa aku harus diam? Kalian bilang setelah Dina dianggap tidak mampu mengurus hartanya, semuanya selesai.”

Dina merasa seolah udara di ballroom menghilang.

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.

Rendra kehilangan warna di wajahnya.

“Apa yang kamu bicarakan?”

Sisca menunjuk Dina dengan tangan gemetar.

“Rencana kalian.”

Suara bisik-bisik mulai terdengar.

Rendra mencoba membawa Sisca pergi.

Namun Dina melangkah maju.

“Biarkan dia bicara.”

“Dina, jangan ikut campur.”

Dina menatap suaminya.

“Dia baru menyebut namaku.”

Bambang mendekat.

“Semua orang kembali ke tempat masing-masing. Sisca sedang sakit.”

Namun Sisca kembali tertawa.

“Sakit?”

Ia menatap Bambang.

“Yang sakit itu keluarga kalian.”

“Sisca!”

“Perusahaan kalian hampir tenggelam.”

Kali ini beberapa eksekutif senior ikut berdiri.

Bambang memucat.

Sisca mulai berbicara tanpa kendali.

Tentang utang tersembunyi Wijaya Group.

Tentang proyek properti yang gagal.

Tentang pinjaman yang jatuh tempo.

Tentang rekening perusahaan yang selama berbulan-bulan digunakan untuk menutup kerugian dari anak perusahaan lain.

Dan kemudian muncul satu nama yang membuat Dina akhirnya memahami semuanya.

PT Arunika Sentosa.

Perusahaan investasi peninggalan almarhum ayah Dina.

Dina adalah pemegang saham mayoritas.

Nilai asetnya jauh lebih besar daripada yang selama ini diketahui sebagian besar keluarga Wijaya.

Rendra menikahinya ketika Wijaya Group masih berada dalam kondisi baik. Namun beberapa tahun terakhir, ekspansi agresif Bambang dan Rendra membuat perusahaan menanggung utang besar.

Mereka membutuhkan jaminan baru.

Dan aset Dina adalah jalan keluarnya.

“Rendra bilang kalau Dina menandatangani surat kuasa, bank akan menerima aset Arunika sebagai jaminan,” ujar Sisca terbata-bata.

Dina menatap suaminya.

“Jadi itu sebabnya kamu terus memintaku menandatangani surat-surat itu?”

Rendra tidak menjawab.

Sisca kembali tertawa.

“Tapi dia nggak mau tanda tangan.”

Lalu ia menunjuk Rendra.

“Makanya kamu bilang kita pakai cara kedua.”

Wajah Rendra berubah.

“Sisca, tutup mulutmu!”

“Cara kedua apa?” tanya Dina.

Sisca memandangnya.

“Membuatmu terlihat tidak stabil.”

Dina merasa perutnya berputar.

Sisca mengatakan bahwa selama beberapa bulan terakhir Rendra sengaja mengumpulkan rekaman pertengkaran mereka.

Setiap kali Dina marah karena kebohongan atau perselingkuhan, Rendra diam-diam merekamnya.

Beberapa pesan bahkan sengaja dipancing untuk membuat Dina terlihat emosional.

Rencananya adalah membangun narasi bahwa kondisi mental Dina memburuk.

Jika suatu malam Dina ditemukan dalam keadaan linglung setelah melakukan sesuatu yang dianggap memalukan di depan banyak saksi, Rendra akan memiliki alasan untuk membawa istrinya menjalani pemeriksaan medis.

Setelah itu, ia berharap bisa mendapatkan kendali sementara atas beberapa keputusan finansial melalui dokumen yang telah dipersiapkan.

Dina menatap gelas di meja.

Tiba-tiba semuanya menjadi jelas.

Malam ini seharusnya menjadi panggungnya.

Ratusan saksi.

Eksekutif.

Keluarga.

Wartawan.

Semua orang akan melihat Dina kehilangan kendali.

Kemudian keluarga Wijaya akan mengatakan bahwa mereka hanya sedang “menolong”.

“Jadi cairan itu…” suara Dina bergetar.

Rendra langsung menyela.

“Jangan percaya omongan orang yang sedang tidak sadar!”

Dina menatapnya tajam.

“Aku melihatmu memasukkannya ke gelasku.”

Keheningan jatuh.

Rendra membeku.

Dina mengeluarkan ponselnya.

“Aku juga merekam sebagian dari meja sejak tadi.”

Itu tidak sepenuhnya benar.

Ia memang sempat mengaktifkan kamera setelah melihat botol di kamar, tetapi sudut rekamannya belum tentu menangkap jelas saat Rendra menuangkan cairan.

Namun Rendra tidak mengetahui itu.

Dan reaksinya cukup untuk membuat beberapa orang semakin curiga.

Bambang segera mendekati Dina.

“Kita selesaikan ini di rumah.”

“Tidak.”

“Dina.”

“Tidak, Pak.”

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun menjadi bagian keluarga Wijaya, Dina tidak menundukkan kepala.

“Delapan tahun saya selalu diminta diam demi nama keluarga. Malam ini seseorang memasukkan zat yang tidak saya ketahui ke minuman saya. Ini bukan lagi masalah keluarga.”

Bambang menatapnya dingin.

“Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

“Saya justru baru mulai mengerti.”

Sirene ambulans terdengar dari luar hotel.

Petugas medis membawa Sisca keluar.

Sebelum dibawa pergi, perempuan itu tiba-tiba menarik tangan Dina.

“Ada satu lagi.”

Dina menunduk.

“Apa?”

“Laptop Rendra.”

Rendra langsung bergerak.

Namun petugas keamanan hotel menahannya setelah beberapa tamu mulai memprotes.

Sisca berbisik.

“Folder Merapi.”

Dina tidak mengatakan apa-apa.

Malam itu polisi akhirnya dipanggil setelah Dina secara resmi meminta pihak hotel mengamankan rekaman CCTV dan gelas yang diduga telah tercampur zat tertentu.

Hasil pemeriksaan medis kemudian menemukan kandungan obat penenang pada sampel minuman.

Namun skandal terbesar justru muncul dua hari kemudian.

Dengan bantuan pengacaranya, Dina menyerahkan sejumlah dokumen dan rekaman komunikasi yang berhasil diamankan dari perangkat yang selama ini digunakan bersama dalam urusan keluarga.

Folder bernama Merapi ternyata berisi laporan keuangan internal, surat perjanjian, dan percakapan yang menunjukkan adanya transaksi mencurigakan melalui beberapa perusahaan cangkang.

Lebih mengejutkan lagi, nama Rendra bukan satu-satunya yang muncul.

Nama Bambang Wijaya ada di hampir semua dokumen penting.

Selama bertahun-tahun, sebagian kerugian Wijaya Group disembunyikan dari investor melalui pencatatan yang dimanipulasi.

Sisca mengetahui hal tersebut karena ia bukan sekadar selingkuhan Rendra.

Ia juga orang yang membantu menyiapkan sebagian dokumen proyek.

Hubungan mereka bermula dari pekerjaan, kemudian berubah menjadi perselingkuhan, dan akhirnya menjadi kerja sama untuk menyelamatkan Rendra jika perusahaan runtuh.

Namun ada sesuatu yang bahkan Rendra tidak ketahui.

Sisca menyimpan salinan seluruh dokumen.

Sebagai jaminan untuk dirinya sendiri.

Tiga minggu setelah gala, wajah keluarga Wijaya memenuhi berbagai pemberitaan bisnis.

Penyelidikan terhadap transaksi perusahaan dimulai.

Beberapa direksi diperiksa.

Rendra tidak hanya menghadapi proses hukum terkait dugaan pemberian zat tanpa persetujuan, tetapi juga pemeriksaan atas sejumlah transaksi perusahaan.

Bambang mengundurkan diri dari jabatan komisaris utama.

Sementara Dina mengajukan gugatan cerai.

Pada pertemuan terakhir mereka sebelum proses hukum berjalan lebih jauh, Rendra menatap Dina dari seberang meja kantor pengacara.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibandingkan sebulan sebelumnya.

“Aku melakukan semuanya untuk menyelamatkan perusahaan keluarga.”

Dina menatapnya tenang.

“Dengan menghancurkan istrimu?”

Rendra menunduk.

“Kamu nggak mengerti tekanannya.”

“Aku mengerti.”

Dina mengambil cincin pernikahannya dan meletakkannya di atas meja.

“Aku hanya tidak pernah menyangka bahwa ketika kamu harus memilih antara kehilangan perusahaan dan kehilangan aku, kamu bahkan tidak ragu.”

Rendra terdiam.

Dina berdiri.

Namun sebelum pergi, ia berhenti di depan pintu.

“Ada satu hal yang masih belum kamu tahu.”

Rendra mengangkat kepala.

Dina tersenyum tipis.

“Arunika Sentosa tidak pernah bisa kamu jadikan jaminan hanya dengan tanda tanganku.”

Rendra mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Ayahku sudah memikirkan kemungkinan seperti ini jauh sebelum aku menikah.”

Dalam akta perusahaan terdapat ketentuan bahwa setiap pengalihan atau penjaminan aset utama membutuhkan persetujuan dewan pengawas independen.

Bahkan jika Dina menandatangani seluruh surat yang diberikan Rendra, aset itu tidak akan pernah otomatis jatuh ke tangan keluarga Wijaya.

Rendra menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi semua ini…”

“Semua rencana kalian sia-sia sejak awal.”

Dina membuka pintu.

Enam bulan kemudian, kehidupan Dina berubah sepenuhnya.

Ia kembali aktif mengelola perusahaan peninggalan ayahnya dan membangun sistem pengawasan yang jauh lebih ketat.

Ia juga mendirikan layanan bantuan hukum bagi perempuan yang menghadapi manipulasi finansial dalam rumah tangga.

Sementara itu, Wijaya Group menjalani restrukturisasi besar.

Beberapa aset dijual.

Manajemen diganti.

Nama keluarga yang selama puluhan tahun identik dengan kekuasaan tidak lagi terdengar sama.

Namun ada satu hal yang paling sering teringat oleh Dina.

Bukan sidang.

Bukan berita.

Bukan pula pengkhianatan Rendra.

Melainkan sebuah gelas jus jeruk di atas meja gala.

Sebuah benda sederhana yang malam itu mengajarkannya sesuatu.

Bahaya terbesar tidak selalu datang dari orang asing.

Kadang ia tidur di sebelahmu selama bertahun-tahun, mengenakan cincin yang sama, tersenyum di depan keluarga, lalu perlahan mencoba meyakinkanmu bahwa kamu tidak lagi berhak mengendalikan hidupmu sendiri.

Dina pernah berpikir malam itu adalah malam ketika rumah tangganya hancur.

Belakangan ia menyadari bahwa ia salah.

Rumah tangganya sudah lama hancur.

Malam gala itu hanyalah malam ketika akhirnya ia berhenti berdiri di dalam reruntuhannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang