Maya menatap Arini beberapa detik tanpa mengubah ekspresi.
“Jadi,” katanya pelan, “ibu Anda mengambil kursi yang saya bayar, saya tidak membuat keributan, saya bahkan mengeluarkan uang tambahan supaya tidak memperpanjang masalah, lalu sekarang saya diminta meminta maaf?”
Arini mengatupkan rahang.
“Anda membuat ibu saya merasa dipermalukan.”
“Saya bahkan tidak bicara kepadanya setelah pindah.”
“Tapi tindakan Anda sangat demonstratif. Anda sengaja melewati kursinya dengan boarding pass baru. Ibu saya melihat itu.”
Maya menghela napas kecil.
“Pesawat ini hanya punya satu lorong menuju kabin depan. Saya harus terbang lewat atap supaya ibu Anda tidak melihat saya?”
Penumpang di seberang lorong menahan senyum.
Wajah Arini berubah merah.
“Jangan bersikap sinis. Ibu saya sudah tua.”
“Dan saya menghormati orang tua.”
“Kalau begitu turunlah sebentar, temui beliau, lalu minta maaf.”
Maya menatap kepala kabin.
“Pak, apakah maskapai Anda memang punya aturan bahwa penumpang yang kursinya diambil wajib meminta maaf kepada orang yang mengambilnya?”
Kepala kabin bernama Rendra tampak serba salah.
“Tentu tidak, Bu.”
“Nah.”
Arini langsung memotong.
“Saya tidak bicara soal aturan. Saya bicara soal empati.”
Maya mengangguk perlahan.
“Empati itu penting. Tapi empati tidak sama dengan membiarkan seseorang mengambil hak orang lain lalu menyalahkan korbannya karena merasa tidak nyaman.”
Suara Maya tetap datar, tetapi justru itu yang membuat perkataannya terdengar lebih tajam.
Arini menoleh kepada Rendra.
“Bisa panggil kapten? Saya ingin melaporkan bahwa penumpang ini membuat kondisi medis ibu saya memburuk.”
Rendra akhirnya mengubah sikapnya.
“Bu Arini, kalau ibu Anda benar-benar mengalami peningkatan tekanan darah atau keluhan medis, kami harus memanggil petugas medis dan mempertimbangkan apakah beliau layak mengikuti penerbangan.”
Arini terdiam.
“Tidak perlu sejauh itu.”
“Jika kondisinya serius, prosedurnya memang seperti itu.”
“Beliau hanya stres.”
“Kalau begitu,” kata Maya, “seharusnya tidak ada alasan untuk menyalahkan saya.”
Arini memandang Maya dengan tajam.
“Orang seperti Anda memang selalu merasa semua masalah bisa selesai dengan uang.”
Kalimat itu membuat Maya berhenti tersenyum.
Ia mengenali nada semacam itu.
Nada orang yang tidak tahu apa-apa tentang hidupnya, tetapi merasa berhak menyimpulkan segalanya.
Maya meletakkan punggungnya tegak.
“Bu Arini, saya akan mengatakan ini sekali saja. Saya membeli kursi bisnis karena saya bekerja sampai hampir tidak tidur selama tiga hari. Ketika kursi saya ditempati ibu Anda, saya tidak mengusir beliau. Saya tidak mempermalukan beliau. Saya bahkan menerima keadaan dan membayar lebih supaya semua orang bisa tenang. Kalau setelah itu ibu Anda merasa bersalah, mungkin yang sedang berbicara bukan tekanan darahnya.”
Maya berhenti sesaat.
“Mungkin hati nuraninya.”
Wajah Arini langsung menegang.
Beberapa penumpang menoleh.
Rendra melangkah setengah langkah ke depan.
“Bu, saya rasa sebaiknya Anda kembali ke kursi Anda. Pesawat akan segera menutup pintu.”
Namun Arini belum mau menyerah.
“Anda akan menyesal memperlakukan keluarga saya seperti ini.”
Maya memandangnya.
Ancaman itu terdengar familiar.
Terlalu familiar.
“Apakah itu ancaman?”
“Anggap saja peringatan.”
Arini berbalik dan pergi.
Maya melihat punggungnya menjauh tanpa berkata apa-apa.
Ia sebenarnya bisa langsung melupakan kejadian itu.
Namun sebelum Arini keluar dari kabin utama, Maya sempat melihat kartu identitas yang tergantung pada tas laptop perempuan itu.
Danuarta Property Group.
Maya membeku sepersekian detik.
Nama itu bukan nama asing.
Justru nama itulah yang membuatnya harus berada di Surabaya Senin pagi.
Selama enam bulan terakhir, perusahaan tempat Maya bekerja, Arunika Infrastruktur, sedang menyeleksi mitra untuk proyek kawasan logistik baru di Jawa Timur.
Nilainya lebih dari dua triliun rupiah.
Danuarta Property Group adalah salah satu dari tiga kandidat terakhir.
Dan Senin pagi, Maya dijadwalkan memimpin rapat evaluasi final.
Ia menutup mata sebentar.
Sungguh kebetulan yang buruk.
Atau mungkin sangat menarik.
Maya tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
Ia juga tidak berniat melakukannya sekarang.
Namun ia mulai memahami satu hal.
Kesombongan keluarga itu rupanya bukan sekadar muncul karena kursi pesawat.
Pesawat akhirnya lepas landas.
Selama hampir satu jam pertama, Maya benar-benar berhasil tidur.
Ia terbangun ketika suara keributan samar terdengar dari arah kabin bisnis.
Seorang pramugari berlari melewati tirai.
Tak lama kemudian, pengumuman terdengar.
“Apakah ada dokter atau tenaga medis di antara penumpang?”
Maya langsung membuka mata.
Rendra berjalan cepat menuju belakang.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah serius.
Maya memanggilnya.
“Ada apa?”
Rendra berhenti.
“Penumpang di kursi 21A merasa sesak napas dan pusing.”
Maya langsung berdiri.
“Sudah ada dokter?”
“Ada dokter umum dari kursi 8D.”
Maya mengangguk.
Ia tidak ikut campur.
Sekitar sepuluh menit kemudian, suasana mereda.
Rendra kembali ke kabin utama.
“Bagaimana kondisinya?”
“Stabil. Tekanan darahnya sedikit tinggi, tapi dokter bilang tidak dalam kondisi darurat.”
Maya mengembuskan napas lega.
Walaupun wanita tua itu telah merebut kursinya, Maya tentu tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi.

Namun kemudian Rendra melanjutkan.
“Dokter menemukan obat tekanan darah di tas beliau. Sepertinya beliau belum meminumnya sejak pagi.”
Maya terdiam.
Jadi masalahnya sama sekali tidak berkaitan dengan dirinya.
Belum sempat Maya kembali duduk, Arini muncul lagi.
Wajahnya kali ini tampak lebih pucat.
Ia mendekati Maya tanpa bicara keras.
“Kondisi ibu saya memburuk.”
“Saya sudah dengar. Saya harap beliau segera membaik.”
Arini menggigit bibir.
“Dokter bilang karena beliau terlambat minum obat.”
Maya tidak menjawab.
Arini tampak malu untuk beberapa detik.
Namun bukannya meminta maaf, ia justru berkata, “Kalau tadi Anda tidak membuat masalah soal kursi, mungkin ibu saya tidak akan lupa minum obat.”
Maya menatapnya lama.
Bahkan Rendra terlihat tidak percaya.
“Bu Arini,” katanya tegas, “tolong kembali ke kursi sekarang.”
“Tapi…”
“Kalau Anda terus mengganggu penumpang lain, saya harus membuat laporan resmi kepada kapten.”
Untuk pertama kalinya, Arini mundur.
Ia berjalan pergi dengan wajah keras.
Maya menyandarkan tubuh ke kursinya.
Ia tidak marah lagi.
Yang ia rasakan justru lelah.
Ada tipe orang yang akan selalu mencari seseorang untuk disalahkan karena mengakui kesalahan sendiri terasa terlalu menyakitkan.
Sekitar tiga puluh menit sebelum mendarat, wanita tua dari kursi 21A tiba-tiba muncul di kabin utama.
Ia berjalan perlahan menggunakan tongkat lipat.
Tanpa Arini.
Maya langsung berdiri.
“Ibu sebaiknya duduk. Kondisi Ibu baru saja tidak enak.”
Wanita itu menggeleng.
“Saya cuma mau bicara sebentar.”
Dari dekat, wajahnya terlihat berbeda.
Tidak lagi angkuh seperti sebelumnya.
Ia tampak lelah.
“Nama saya Ratih.”
“Maya.”
“Saya tahu.”
Ratih menarik napas.
“Saya datang untuk minta maaf.”
Maya tidak menyangka.
Ratih menatap tangannya sendiri.
“Saya memang biasa duduk dekat jendela karena saya takut terbang. Tapi kursi saya sebenarnya 22C.”
Maya tetap diam.
“Arini bilang kursi itu kosong ketika kami naik. Dia bilang kalau ada pemiliknya nanti dia yang akan bicara.”
Ratih menelan ludah.
“Saya seharusnya tidak menurutinya.”
Maya mempersilakan Ratih duduk di kursi kosong sebelahnya.
Ratih duduk perlahan.
“Waktu Anda datang, saya sebenarnya sudah mau pindah. Tapi Arini mencubit tangan saya dan berbisik agar saya pura-pura pusing.”
Maya menatap Ratih.
Sekarang semua menjadi jelas.
“Apa?”
“Saya malu mengatakan ini.”
Ratih menunduk.
“Putri saya selalu begitu. Sejak ayahnya meninggal dan perusahaan diwariskan kepadanya, dia merasa semua orang harus mengalah. Stafnya, keluarga kami, bahkan orang asing.”
Ratih tersenyum pahit.
“Saya terlalu sering membiarkannya. Mungkin itu juga kesalahan saya.”
Maya terdiam beberapa saat.
“Kondisi Ibu tadi benar-benar sakit?”
“Iya. Yang itu bukan pura-pura.”
Ratih tertawa kecil, malu.
“Saya lupa minum obat karena terlalu sibuk mendengarkan Arini mengomel soal Anda.”
Maya akhirnya ikut tersenyum tipis.
“Tolong jangan lupa lagi.”
Ratih mengangguk.
Lalu wajahnya berubah serius.
“Saya juga ingin mengembalikan uang upgrade Anda.”
“Tidak perlu.”
“Lima ratus dolar bukan sedikit.”
“Saya membayarnya sendiri karena saya memilih pindah. Jadi tidak ada utang.”
Ratih memandang Maya cukup lama.
“Sekarang saya mengerti kenapa Arini begitu kesal kepada Anda.”
Maya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena Anda tidak takut padanya.”
Maya terdiam.
Ratih berdiri.
“Saya minta maaf sekali lagi.”
“Saya terima.”
Ratih hendak pergi, lalu berhenti.
“Kalau suatu saat Anda bertemu Arini lagi, jangan mengalah hanya karena dia membuat suara paling keras.”
Maya tersenyum.
“Saya rasa saya akan mengingat itu.”
Pesawat mendarat di Surabaya menjelang malam.
Maya mengira drama itu selesai di sana.
Namun Senin pagi, ketika ia memasuki ruang rapat lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran di Surabaya Barat, ia mendapati sekitar dua belas orang sudah duduk mengelilingi meja panjang.
Tim legal.
Tim keuangan.
Tim teknik.
Dan tiga kelompok kandidat mitra.
Maya berjalan masuk mengenakan setelan abu-abu sederhana sambil membawa laptop.
Semua orang berdiri.
Direktur operasional Arunika Infrastruktur memperkenalkannya.
“Rekan-rekan, ini Ibu Maya Sanjaya, Direktur Strategi Regional kami. Beliau yang akan memimpin evaluasi akhir proyek hari ini.”
Maya mengangguk kepada semua peserta.
Lalu matanya berhenti di ujung meja.
Arini Danuarta berdiri membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
Tangannya masih memegang map presentasi.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Maya tidak menunjukkan reaksi.
“Selamat pagi, Bu Arini.”
Arini akhirnya menelan ludah.
“Selamat pagi.”
Presentasi dimulai.
Maya bersikap sepenuhnya profesional.
Tidak sekali pun ia menyinggung kejadian di pesawat.
Bahkan ketika Danuarta Property mempresentasikan penawarannya, Maya mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengajukan pertanyaan yang sama detailnya seperti kepada kandidat lain.
Namun masalah mulai muncul ketika tim legal membahas budaya kepemimpinan dan kepatuhan.
Salah seorang auditor independen membuka dokumen.
“Kami menemukan tingkat turnover manajemen di Danuarta Property cukup tinggi. Dalam delapan belas bulan, ada tujuh manajer senior mengundurkan diri.”
Arini langsung membela diri.
“Itu restrukturisasi.”
Auditor mengangguk.
“Kami juga menerima tiga laporan terkait tekanan terhadap staf agar mengubah data keterlambatan proyek.”
Suasana ruangan berubah.
Arini menatap tajam bawahannya.
“Itu tuduhan mantan karyawan yang tidak kompeten.”
Maya menyimak tanpa ekspresi.
Lalu staf kepatuhan menampilkan satu email.
Email itu dikirim langsung dari akun Arini.
Isinya instruksi agar tanggal inspeksi dimundurkan supaya penalti kontrak tidak dikenakan.
Arini mulai gugup.
“Itu di luar konteks.”
Maya akhirnya berbicara.
“Bu Arini, apakah email itu dikirim oleh Anda?”
“Ya, tapi…”
“Apakah Anda meminta tim mengubah tanggal laporan?”
“Secara administratif.”
“Tanggal inspeksi aktual tanggal sebelas. Di laporan berubah menjadi tanggal empat belas.”
Arini terdiam.
Maya menutup dokumen.
“Saya rasa konteksnya cukup jelas.”
Rapat berlangsung hampir empat jam.
Ketika waktunya mengambil keputusan, Danuarta Property tidak dipilih.
Bukan karena kejadian di pesawat.
Bahkan tanpa kejadian itu, hasil audit mereka memang memiliki terlalu banyak risiko.
Namun setelah peserta lain meninggalkan ruangan, Arini tetap berdiri di sana.
“Maya.”
Maya yang sedang membereskan laptop menoleh.
“Ya?”
“Kamu melakukan ini karena ibu saya.”
Maya menghela napas.
“Saya tidak melakukan apa-apa karena ibu Anda.”
“Jangan bohong.”
Maya membuka kembali dokumen evaluasi.
“Skor teknis perusahaan Anda nomor dua. Skor keuangan nomor dua. Tapi skor kepatuhan paling rendah. Anda kehilangan proyek karena data Anda sendiri.”
Arini menatap Maya dengan mata penuh kemarahan.
“Sejak awal kamu sudah berniat membalas saya.”
Maya mengambil pena.
Lalu menulis sesuatu di atas selembar kertas.
Ia menyodorkannya kepada Arini.
Di sana hanya tertulis satu nomor.
21A.
Arini menatapnya bingung.
Maya berkata pelan, “Masalah Anda bukan kehilangan kursi 21A atau kehilangan kontrak dua triliun.”
Ia menatap langsung mata Arini.
“Masalah Anda adalah selalu percaya bahwa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan Anda, pasti orang lain yang bersalah.”
Arini membeku.
Maya memasukkan laptop ke dalam tas.
“Di pesawat, Anda menyalahkan saya karena ibu Anda mengambil kursi saya. Ketika ibu Anda lupa minum obat, Anda kembali menyalahkan saya. Hari ini perusahaan Anda gagal dalam audit, dan lagi-lagi Anda menyalahkan saya.”
Maya berdiri.
“Suatu hari nanti Anda akan kehabisan orang untuk disalahkan. Saat itu, Anda hanya akan tersisa sendirian dengan akibat dari keputusan Anda sendiri.”
Maya berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, suara Arini terdengar dari belakang.
“Ibu saya menghubungi saya tadi malam.”
Maya berhenti.
“Dia bilang dia akan mundur dari komisaris kehormatan perusahaan.”
Maya menoleh.
Wajah Arini tidak lagi marah.
Hanya terlihat hancur.
“Dia bilang selama ini dia ikut bersalah karena selalu membenarkan saya.”
Maya tidak berkata apa-apa.
Air mata mulai menggenang di mata Arini.
“Saya pikir semua orang selalu mengalah karena mereka menghormati saya.”
Ia tertawa pendek dengan getir.
“Ternyata mereka cuma takut.”
Maya menatapnya beberapa detik.
“Takut dan hormat memang sering terlihat sama dari jauh.”
Arini mengusap matanya.
“Tapi ketika orang sudah tidak takut lagi, bedanya menjadi jelas.”
Maya lalu pergi.
Tiga bulan kemudian, sebuah paket kecil tiba di kantor Maya.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat miniatur pesawat dengan sebuah kartu sederhana.
Terima kasih karena waktu itu Anda tidak meminta saya turun dari kursi Anda dengan kasar.
Dan terima kasih karena Anda juga tidak membalas putri saya dengan cara yang sama seperti dia memperlakukan orang lain.
Saya sedang belajar berhenti membenarkan kesalahan orang yang saya sayangi.
Semoga suatu hari Arini juga belajar.
Ratih.
Maya meletakkan kartu itu di meja.
Di bawahnya terdapat benda kecil lain.
Sebuah gantungan kunci berbentuk kursi pesawat.
Di sandarannya tercetak angka 21A.
Maya tertawa untuk pertama kalinya pagi itu.
Ia lalu menaruhnya di samping laptop.
Sejak hari itu, setiap kali seseorang di kantornya berkata, “Sudahlah, mengalah saja supaya cepat selesai,” Maya selalu mengingat kursi 21A.
Karena mengalah memang kadang merupakan bentuk kebaikan.
Namun kebaikan yang terus-menerus dipaksa akan berubah menjadi izin bagi orang lain untuk melanggar batas.
Dan menghormati orang lain tidak pernah berarti kita harus berhenti menghormati diri sendiri.
