DIBUANG KARENA DIANGGAP TAK PANTAS, WANITA INI DATANG KE PENGADILAN MEMBAWA BUKTI RAHASIA DAN PEWARIS TUNGGAL YANG MEMBUAT MANTAN SUAMINYA BANGKRUT!
Namaku Maya. Usia 30 tahun.
Lima tahun lalu, kehidupan yang selama ini kuanggap sempurna hancur hanya dalam satu malam.
Suamiku, Aris, adalah Direktur Utama PT Danuendra Perdana, salah satu perusahaan konglomerasi besar di Jakarta.
Selama dua tahun pertama pernikahan kami, aku memilih menjadi istri yang tenang dan selalu mendukung suamiku dari rumah. Aku mengurus segala kebutuhannya dan berusaha memastikan rumah menjadi tempat yang nyaman setiap kali dia pulang.
Namun, perlahan sikap Aris berubah.
Dia semakin dingin dan terasa seperti orang asing.
Aris sering pergi selama berminggu-minggu dengan alasan perjalanan bisnis ke luar negeri. Singapura, Jepang, Eropa—selalu ada kota atau negara baru yang dijadikan alasan.
Dan bodohnya, saat itu aku mempercayai setiap perkataannya.
Sampai suatu malam, Aris pulang membawa sebuah map biru dan keputusan yang menghancurkan seluruh hidupku.
Padahal malam itu aku sudah menyiapkan kejutan besar untuknya.
Aku ingin memberitahunya bahwa aku sedang hamil dua bulan.
Hasil pemeriksaan dokter bahkan sudah kusimpan di dalam sebuah kotak kecil. Rencananya, kotak itu akan kuberikan kepadanya setelah makan malam.
Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, Aris melemparkan sebuah map biru ke atas meja kaca di ruang tamu.
Brak!
Suara map yang menghantam meja memecah keheningan.
“Tanda tangani surat cerai ini sekarang, Maya.”
Suara Aris terdengar datar.
Tanpa emosi.
Bahkan dia tidak mau menatap wajahku.
Aku memandangi map itu, lalu menatapnya kembali dengan napas tercekat.
“A-Aris? Apa maksudmu? Aku ini istrimu.”
Aris justru tertawa sinis sambil merapikan jas mahal yang dikenakannya.
“Memang. Tapi kamu tidak pernah pantas menjadi istri seorang CEO.”
Dadaku seketika terasa sesak.
“Kamu membosankan, tidak punya kelas, dan hidupmu cuma berkutat di rumah. Wanita seperti kamu sama sekali tidak berguna untuk menunjang karierku.”
Aku terpaku.
Pria yang berdiri di hadapanku terasa seperti seseorang yang sama sekali tidak pernah kukenal.
“Aku membutuhkan wanita yang bisa berdiri di sampingku saat bertemu investor, menghadiri jamuan bisnis, dan masuk ke ruang rapat internasional. Bukan wanita seperti kamu.”
Aku menahan napas sambil memandang pria yang sudah kudampingi selama tiga tahun.
Ada satu pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin kutanyakan.
Namun, aku harus mendengar jawabannya langsung dari mulut Aris.
“Ada wanita lain?”
Aris terdiam sesaat.
Kemudian bibirnya membentuk senyum tipis tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Ya.”
Satu kata itu terasa seperti pisau yang menembus dadaku.
“Namanya Siska.”
Aris bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
“Dia wanita berkelas. Selama ini dialah yang menemaniku dalam perjalanan ke Singapura dan Eropa.”
Jadi semua perjalanan bisnis itu…
Aku mengepalkan tangan.
Semua alasan yang selama ini kupercaya ternyata hanya kebohongan.
“Aku sudah mentransfer sedikit uang ke rekeningmu,” lanjut Aris dengan santai.
“Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini malam ini juga.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Malam ini?”
“Ya.”
Aris mengambil ponselnya seolah percakapan kami tidak lebih penting daripada pesan yang masuk ke layar benda itu.

“Aku ingin semuanya selesai secepat mungkin. Aku ingin statusku segera bebas.”
Begitu mudahnya dia mengatakan semua itu.
Seolah tiga tahun pernikahan kami tidak pernah berarti apa-apa.
Tanganku perlahan menyentuh perut yang masih rata.
Di dalam sana ada kehidupan kecil yang bahkan belum sempat diketahui ayahnya.
Sebenarnya aku hanya perlu mengucapkan satu kalimat.
“Aku hamil.”
Mungkin Aris akan menghentikan semuanya.
Mungkin dia akan berubah pikiran.
Namun, ketika melihat tatapan matanya yang dipenuhi penghinaan, aku justru mengambil keputusan terbesar dalam hidupku.
Tidak.
Anakku tidak boleh tumbuh di bawah bayang-bayang seorang ayah yang tega membuang keluarganya demi wanita lain.
Dan aku tidak akan menggunakan kehamilanku untuk mengemis cinta dari pria seperti Aris.
Aku mengambil bukti transfer yang diberikannya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
“Aku tidak butuh uangmu.”
Aris mengangkat sebelah alis.
Aku menyeka air mata, mengambil pena, lalu menandatangani lembar kesepakatan awal di dalam map itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Malam itu aku meninggalkan rumah megah tersebut hanya dengan membawa sebuah koper tua.
Aris tidak mengejarku.
Tidak meneleponku.
Tidak pernah sekalipun mencoba mencari tahu ke mana aku pergi.
Bahkan dia tidak pernah memastikan apakah aku masih hidup atau sudah mati.
Selama lima tahun berikutnya, aku benar-benar menghilang dari kehidupan Aris.
Aku melahirkan putraku dan memberinya nama Rehan.
Aku membesarkannya seorang diri.
Tentu saja tidak mudah.
Aku bekerja dari pagi hingga malam, menerima berbagai pekerjaan, lalu perlahan membangun usaha tekstil kecil-kecilan dari nol.
Aku memulai semuanya dengan modal seadanya.
Tanpa nama besar.
Tanpa koneksi keluarga Danuendra.
Tanpa sepeser pun uang dari Aris.
Hanya kemampuan, keberanian, dan tekad untuk memastikan Rehan tumbuh tanpa pernah kekurangan kasih sayang.
Sedikit demi sedikit, usahaku berkembang.
Namun, selama lima tahun itu, tak seorang pun dari masa laluku mengetahui keberadaanku.
Terutama Aris.
Sampai akhirnya, hari yang selama ini kutunggu tiba.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggelar sidang yang akan menentukan penyelesaian pembagian aset sekaligus menuntaskan proses perceraian kami secara resmi.
Pagi itu, ruang sidang terasa dingin.
Aris duduk dengan sangat percaya diri.
Penampilannya hampir tidak berubah.
Jas mahal, jam tangan mewah, rambut tertata rapi, dan tatapan seorang pria yang merasa sudah memenangkan segalanya bahkan sebelum hakim menjatuhkan putusan.
Di sampingnya duduk Siska.
Wanita yang dulu menjadi selingkuhannya itu kini tampil mencolok dengan gaun mahal, kalung emas, dan cincin berlian besar yang berkilau di jarinya.
Aris juga datang bersama tiga pengacara senior dengan reputasi besar.
Sementara aku?
Aku duduk sendirian di meja penggugat.
Tanpa rombongan.
Tanpa deretan pengacara mahal yang mengelilingiku.
Melihat itu, senyum Aris semakin lebar.
Pengacara utamanya berdiri dan mulai menyampaikan argumentasi di hadapan majelis hakim.
“Yang Mulia, berdasarkan perjanjian pranikah yang telah ditandatangani secara sah oleh kedua belah pihak, Saudari Maya tidak memiliki hak atas aset maupun saham PT Danuendra Perdana.”
Dia membuka beberapa lembar dokumen.
“Selain itu, berdasarkan keterangan yang selama ini kami terima, penggugat dan tergugat tidak memiliki anak selama masa pernikahan.”
Aku tetap menatap lurus ke depan.
“Dan kedua belah pihak telah hidup terpisah selama lima tahun berturut-turut.”
Pengacara itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada mantap.
“Oleh karena itu, kami memohon kepada majelis hakim untuk menolak tuntutan penggugat terhadap aset perusahaan serta menetapkan bahwa kepemilikan yang menjadi hak klien kami tetap berada pada Tuan Aris sesuai dengan dokumen hukum yang berlaku.”
Aris menoleh ke arahku.
Senyumnya penuh kemenangan.
“Sudah kuduga kamu tidak akan mampu menyewa pengacara hebat, Maya.”
Bisikannya cukup keras hingga orang-orang yang duduk di dekat kami bisa mendengarnya.
Aku tetap diam.
“Sudahlah. Jangan mempermalukan dirimu sendiri.”
Aris bersandar santai di kursinya.
“Serahkan semuanya dan tanda tangani keputusan akhirnya.”
Kemudian dia tersenyum mengejek.
“Mungkin setelah ini aku bisa memberimu lima puluh ribu untuk ongkos taksi pulang.”
Siska langsung tertawa kecil.
Tangannya sengaja melingkar manja di lengan Aris.
“Kasihan sekali kamu, Maya.”
Aku menoleh kepadanya.
Siska tersenyum puas.
“Lima tahun berlalu, tapi ternyata kamu tetap bukan siapa-siapa.”
Aku tidak membalas.
Tidak marah.
Tidak menangis.
Aku hanya mengangkat kepala dan melihat jam besar yang tergantung di dinding ruang sidang.
09.58 WIB.
Dua menit lagi.
Pintu utama ruang sidang masih tertutup, tetapi persidangan belum benar-benar berakhir.
Aris rupanya mengira aku datang ke tempat ini untuk memohon belas kasihan.
Siska mengira aku muncul kembali setelah lima tahun hanya karena mengincar harta mantan suamiku.
Mereka berdua sama sekali tidak menyadari satu hal.
Aku tidak pernah datang untuk mengambil sesuatu yang menjadi milik Aris.
Karena kekayaan yang selama ini begitu dia banggakan…
belum tentu benar-benar miliknya.
Ketua majelis hakim mulai merapikan dokumen di hadapannya.
Aris tersenyum semakin lebar.
Siska menggenggam tangannya.
Kemudian hakim mengangkat palu, bersiap melanjutkan persidangan menuju keputusan berikutnya.
Tepat pada saat itulah ponsel yang tergeletak di atas mejaku bergetar singkat.
Bzzzt.
Sebuah pesan masuk.
Aku menunduk dan membaca tulisan yang muncul di layar.
“Kami sudah sampai di depan pintu.”
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang sidang, aku tersenyum.
Aris langsung menyipitkan mata.
Dia belum tahu siapa yang sedang berdiri di balik pintu itu.
Dia juga belum tahu bahwa aku tidak datang sendirian.
Ada seseorang yang keberadaannya tidak pernah dia ketahui selama lima tahun terakhir.
Seorang anak bernama Rehan.
Putranya sendiri.
Dan bersama Rehan, ada sebuah dokumen lama yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan dari Aris.
Dokumen yang akan membuktikan siapa pewaris sebenarnya dari keluarga Danuendra.
Dokumen yang juga akan mengungkap siapa yang sesungguhnya memiliki hak atas perusahaan yang selama ini Aris anggap sebagai kerajaannya sendiri.
Pagi itu, Aris datang ke pengadilan dengan keyakinan bahwa dia hanya tinggal menyingkirkan mantan istrinya untuk selamanya.
Dia belum tahu bahwa beberapa menit lagi, satu pintu akan terbuka.
Dan ketika orang-orang di balik pintu itu masuk, bukan hanya pernikahannya yang akan benar-benar berakhir.
Seluruh kerajaan yang selama ini dia banggakan juga akan mulai runtuh tepat di depan matanya.
