TAS ITU KUBELI DENGAN GAJIKU SENDIRI, TAPI TUNANGANKU MALAH MENAMPARKU TIGA KALI!

Pukul sembilan lewat sepuluh menit keesokan paginya, sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan rumah Nadia.

Nadia sudah menunggu di ruang tamu sejak setengah jam sebelumnya.

Pipinya masih sedikit bengkak. Bekas kemerahan di sisi wajahnya belum sepenuhnya hilang meski sudah berkali-kali ia kompres dengan es.

Ibunya sempat bertanya apa yang terjadi.

Nadia hanya menjawab singkat bahwa ia dan Rendra bertengkar dan pernikahan mereka kemungkinan besar dibatalkan.

Ia belum sanggup menceritakan semuanya.

Belum sekarang.

Bel rumah berbunyi.

Ketika Nadia membuka pintu, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di luar sambil membawa tas laptop dan sebuah map cokelat tebal.

Dian.

Penampilannya jauh berbeda dari bayangan Nadia selama ini.

Tidak ada kesan perempuan emosional seperti yang sering digambarkan Rendra.

Dian mengenakan kemeja putih sederhana, celana bahan hitam, dan rambutnya diikat rapi.

Wajahnya tampak tenang, tetapi ada ketegangan di matanya.

Tatapan Dian langsung jatuh ke pipi Nadia.

“Dia memukulmu?”

Nadia diam beberapa detik.

“Tiga kali.”

Rahang Dian mengeras.

Kemudian ia mengembuskan napas panjang.

“Aku berharap aku salah soal dia.”

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.

Dian tidak langsung membuka map yang dibawanya.

Ia justru memandang Nadia lama, seolah sedang memilih kalimat yang tepat.

“Aku akan cerita dari awal. Tapi sebelum itu, aku mau kamu tahu sesuatu. Apa pun yang Rendra pernah bilang soal aku, kemungkinan besar setengahnya bohong.”

Nadia menelan ludah.

“Dia bilang kalian putus karena kamu sering minta uang.”

Dian tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena pahit.

“Justru sebaliknya.”

Ia membuka map cokelat.

Berkas pertama yang dikeluarkan adalah fotokopi beberapa bukti transfer bank.

Nama penerima di semua transaksi sama.

Rendra Pratama.

Jumlahnya berbeda-beda.

Delapan juta.

Lima belas juta.

Dua puluh juta.

Tiga puluh juta.

Ada puluhan transaksi.

Nadia mengangkat wajah.

“Ini semua dari kamu?”

Dian mengangguk.

“Totalnya lebih dari tiga ratus juta.”

Nadia merasa tengkuknya mulai dingin.

“Untuk apa?”

“Awalnya bisnis.”

Dian menyandarkan tubuh ke sofa.

“Waktu itu Rendra bilang dia sedang membangun usaha distributor alat elektronik. Katanya ada proyek besar dengan sebuah perusahaan konstruksi. Dia butuh modal cepat dan berjanji mengembalikan dalam tiga bulan.”

Dian mengambil selembar surat.

“Aku bahkan bodohnya menandatangani surat pinjaman.”

Nadia membaca cepat.

Namun ada sesuatu yang membuatnya mengernyit.

Nama pemberi pinjaman memang Dian.

Tetapi dalam salah satu lembar tambahan tertulis bahwa jika terjadi kegagalan pembayaran, kewajiban tertentu dapat dibebankan pada pihak yang memiliki hubungan keuangan bersama dengan peminjam.

“Ini maksudnya apa?”

“Perhatikan halaman terakhir.”

Nadia membalik halaman.

Ada salinan formulir pengajuan rekening bersama.

Nama Dian tercantum.

Tanda tangannya terlihat seperti asli.

Namun Dian menunjuk bagian bawah.

“Aku tidak pernah menandatangani formulir ini.”

Nadia langsung menatapnya.

“Dipalsukan?”

Dian mengangguk.

“Aku baru tahu setelah hubungan kami berakhir.”

Ruangan tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.

Dian melanjutkan.

“Rendra menggunakan beberapa dokumenku untuk mengajukan fasilitas kredit. Dia bilang membutuhkan data untuk rencana pernikahan kami. Fotokopi KTP, NPWP, rekening koran, slip gaji. Aku kasih karena aku percaya.”

Nadia tanpa sadar menggenggam ujung bajunya.

Dokumen-dokumen yang disebut Dian terdengar sangat familiar.

Tiga bulan terakhir, Rendra juga beberapa kali meminta dokumen serupa kepadanya.

Ia bilang untuk mengurus administrasi gedung pernikahan.

Untungnya sebagian belum Nadia berikan.

“Setelah utangnya mulai jatuh tempo,” lanjut Dian, “dia mulai meminta uang lebih banyak. Setiap kali aku menolak, dia membuatku merasa bersalah. Katanya kalau aku benar-benar serius ingin menikah, aku harus mendukung calon suami.”

Nadia memejamkan mata sebentar.

Kalimat itu hampir sama dengan yang sering ia dengar.

Dian lalu mengeluarkan berkas lain.

Kali ini sebuah surat perjanjian utang dari perusahaan pembiayaan.

Nilainya hampir satu miliar rupiah.

Nama Rendra tercantum sebagai debitur utama.

Namun ada dua nama penjamin.

Salah satunya Dian.

Yang kedua membuat Nadia tidak langsung memahami apa yang sedang ia lihat.

Rahmawati.

Ibunya Rendra.

“Bu Rahma ikut?”

“Dia tahu semuanya.”

Suara Dian berubah lebih dingin.

“Bahkan sebagian uang itu masuk ke rekeningnya.”

Dian menunjukkan beberapa bukti transfer.

Nadia menatap nominal demi nominal.

Seratus juta.

Tujuh puluh lima juta.

Lima puluh juta.

Tujuannya tertulis berbeda-beda.

Investasi.

Pembelian barang.

Biaya operasional.

Namun penerimanya sama.

Bu Rahma.

“Bisnisnya memang ada?” tanya Nadia.

“Ada di atas kertas.”

Dian tersenyum miris.

“Gudangnya tidak pernah benar-benar beroperasi. Kontrak proyek yang dia tunjukkan padaku palsu. Sebagian uang dipakai membayar utang lama, sisanya dipakai keluarganya.”

Nadia mulai merasa mual.

Tiba-tiba ia teringat daftar kebutuhan pernikahan yang dikirim Bu Rahma.

Jam tangan mahal.

Hadiah untuk keluarga besar.

Liburan.

Semua itu sekarang terlihat berbeda.

Bukan sekadar keluarga yang konsumtif.

Melainkan pola.

“Kenapa kamu tidak melaporkan mereka?”

“Aku laporkan.”

Dian mengeluarkan beberapa dokumen lain.

Ada salinan laporan kepolisian.

Surat dari kuasa hukum.

Dokumen mediasi.

Namun kasusnya tidak sederhana.

Sebagian dokumen memang memiliki tanda tangan Dian.

Sebagian uang memang ia transfer secara sukarela.

Pemalsuan dokumen sulit dibuktikan saat itu karena Rendra selalu berdalih bahwa semuanya dilakukan dengan persetujuan.

“Pada akhirnya aku memilih menyelesaikan sebagian perkara secara perdata,” kata Dian. “Aku kehilangan banyak uang, tapi aku berhasil memutus hubungan hukum dengannya.”

“Lalu utangnya?”

“Belum semuanya selesai.”

Dian menatap Nadia dengan serius.

“Dan itulah alasan sebenarnya aku datang.”

Ia mengambil sebuah lembar terakhir.

Dokumen itu berbeda.

Tanggalnya baru dua minggu lalu.

Nadia membaca bagian atasnya.

Formulir simulasi restrukturisasi utang.

Nama Rendra tercantum jelas.

Di bagian calon pihak penjamin terdapat satu nama.

Nadia Prameswari.

Jantung Nadia seperti berhenti satu detik.

“Apa ini?”

“Aku mendapatkannya dari mantan kolega yang masih bekerja di perusahaan pembiayaan.”

Dian menunjuk bagian estimasi aset.

Ada data mengenai penghasilan Nadia.

Tabungan.

Investasi reksa dana.

Bahkan perkiraan nilai rumah yang akan diwariskan ayahnya.

Nadia langsung berdiri.

“Dari mana dia tahu semuanya?”

Dian tidak menjawab.

Karena jawabannya sudah jelas.

Rendra.

Selama hampir dua tahun, pria itu terus bertanya.

Berapa tabungannya?

Berapa bonusnya?

Berapa aset keluarganya?

Apakah rumah orang tuanya masih memiliki cicilan?

Apakah Nadia memiliki deposito?

Dulu pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti percakapan calon pasangan yang sedang merencanakan masa depan.

Sekarang semuanya terlihat seperti proses pengumpulan data.

Nadia merasa tangannya gemetar.

“Dia mau menjadikan aku penjamin?”

“Lebih dari itu.”

Dian kembali mengeluarkan sebuah dokumen.

Draft perjanjian pranikah.

Nadia mengenali formatnya.

Rendra pernah mengirim dokumen serupa kepadanya tiga hari sebelumnya.

Katanya hanya draft biasa dari notaris untuk mengatur keuangan setelah menikah.

Nadia belum sempat membacanya dengan teliti.

Dian membuka halaman keenam.

“Lihat pasal ini.”

Nadia membaca pelan.

Setelah pernikahan berlangsung, sejumlah kewajiban finansial yang timbul untuk kepentingan rumah tangga dapat dianggap sebagai tanggungan bersama sesuai persetujuan para pihak.

Kalimatnya terdengar normal.

Namun kemudian ada penjelasan tambahan mengenai kewajiban sebelum pernikahan yang “dikonversikan menjadi kepentingan keluarga setelah pernikahan”.

Nadia mengangkat wajah.

“Kalau aku tanda tangan…”

“Kamu memberi mereka dasar untuk menyeretmu masuk ke dalam utang Rendra.”

Nadia merasa lututnya melemas.

Ia duduk kembali.

Sekarang semuanya masuk akal.

Mengapa Rendra begitu terburu-buru menikah.

Mengapa ia terus menanyakan jumlah tabungan.

Mengapa Bu Rahma menuntut begitu banyak pembayaran dari Nadia.

Mengapa setiap kali Nadia membeli sesuatu untuk dirinya sendiri, Rendra selalu marah.

Bukan karena ia takut Nadia boros.

Mereka sedang menghitung berapa banyak uang yang bisa mereka gunakan.

Tas seharga dua puluh lima juta itu bukan masalah sebenarnya.

Masalahnya adalah Rendra menganggap uang Nadia sudah menjadi miliknya bahkan sebelum mereka menikah.

Ponsel Nadia tiba-tiba berdering.

Nama Rendra muncul.

Dian melihat layar.

“Angkat.”

Nadia menatapnya.

“Kenapa?”

“Biar kita tahu dia akan bilang apa.”

Nadia mengaktifkan perekam suara sebelum menerima telepon.

“Halo.”

Suara Rendra langsung terdengar.

Nada bicaranya jauh lebih lembut dibanding kemarin.

“Nad, kamu masih marah?”

Nadia hampir tertawa mendengarnya.

“Aku tidak marah.”

“Bagus. Aku juga sudah mikir. Kemarin aku memang sedikit emosi.”

Sedikit?

Tiga tamparan disebut sedikit emosi.

Rendra melanjutkan.

“Kita jangan besarkan masalah. Pernikahan tinggal beberapa hari. Semua vendor sudah dibayar. Keluarga juga sudah tahu.”

Nadia menatap Dian.

“Terus?”

“Datang saja nanti sore ke rumah. Kita selesaikan baik-baik.”

Rendra berhenti sebentar.

“Oh iya, bawa dokumen yang kemarin aku minta. Fotokopi rekening investasi sama NPWP. Notaris perlu cepat.”

Dian langsung menatap Nadia tajam.

Nadia merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.

Ia berusaha menjaga suara tetap tenang.

“Untuk apa sebenarnya?”

“Sudah aku bilang, administrasi pernikahan.”

“Kalau aku tidak mau?”

Nada suara Rendra berubah.

“Jangan mulai lagi, Nadia.”

Hanya dalam satu kalimat, kelembutan palsu tadi hilang.

“Kamu sudah bikin masalah besar kemarin. Jangan tambah masalah baru.”

Nadia tersenyum kecil.

Sekarang ia bisa melihat semuanya dengan jelas.

“Kalau aku tetap tidak mau?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Rendra berkata pelan.

“Kamu pikir setelah semua uang yang keluargaku keluarin untuk pernikahan ini kamu bisa pergi begitu saja?”

Nadia langsung menjawab.

“Sebagian besar uang pernikahan dibayar dari rekeningku.”

Rendra terdiam.

Kemudian suaranya meninggi.

“Makanya jangan egois! Setelah menikah semuanya juga jadi milik bersama!”

Nadia memutus sambungan.

Tangannya masih bergetar.

Namun bukan karena takut.

Untuk pertama kalinya, ia merasa marah.

Bukan marah karena dipukul.

Bukan hanya karena ditipu.

Ia marah pada dirinya sendiri karena hampir menyerahkan masa depannya kepada seseorang yang sejak awal menganggapnya bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai sumber uang.

Dian menatapnya.

“Sekarang kamu tahu.”

Nadia mengangguk.

“Tapi aku tidak mau cuma batal menikah.”

Dian terdiam.

“Aku mau memastikan dia tidak melakukan ini ke perempuan lain.”

Hari itu juga Nadia menghubungi seorang pengacara yang direkomendasikan Dian.

Rekaman kejadian di mal disimpan.

Bukti transfer dan dokumen dari Dian disalin.

Pesan-pesan Rendra dikumpulkan.

Draft perjanjian pranikah diperiksa.

Kemudian mereka menemukan satu hal lain yang bahkan membuat pengacara Nadia terdiam.

Rendra ternyata sedang dalam proses mengajukan restrukturisasi beberapa utangnya.

Dan pernikahan dengan Nadia dicantumkan dalam salah satu dokumen internal sebagai perubahan kemampuan finansial rumah tangga.

Artinya, pendapatan Nadia sudah diperhitungkan bahkan sebelum ia resmi menjadi istri.

Dua hari kemudian, Nadia resmi mengirimkan pemberitahuan pembatalan pernikahan kepada seluruh vendor.

Sebagian uang muka memang hangus.

Namun jumlah itu terasa kecil dibanding kerugian yang nyaris ia alami.

Ketika keluarga Rendra mengetahui kabar tersebut, Bu Rahma datang langsung ke rumah Nadia.

Ia datang bersama Rendra.

Wajah Rendra terlihat tegang.

Bu Rahma bahkan tidak mengucapkan salam dengan baik.

“Kamu sadar tidak sudah mempermalukan keluarga kami?”

Nadia berdiri di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.

“Apa yang lebih memalukan, Bu? Membatalkan pernikahan atau menampar calon istri di tempat umum?”

Bu Rahma membeku sebentar.

Namun segera membalas.

“Rendra cuma khilaf!”

“Tiga kali?”

“Laki-laki kadang emosi!”

Ayah Nadia langsung maju satu langkah.

“Kalau begitu silakan laki-laki seperti itu jauh dari anak saya.”

Rendra mencoba masuk ke pembicaraan.

“Nad, jangan dengarkan Dian. Dia sakit hati karena aku putusin.”

Nadia mengeluarkan satu lembar kertas dari map.

“Kamu kenal dokumen ini?”

Wajah Rendra berubah.

Itu adalah simulasi restrukturisasi utang yang mencantumkan Nadia sebagai calon penjamin.

Rendra langsung menoleh ke ibunya.

Tatapan singkat itu sudah cukup.

Bu Rahma tahu.

Nadia melihatnya.

Dian benar.

Keluarga itu bukan sekadar membiarkan.

Mereka bekerja bersama.

“Dapat dari mana kamu?”

Pertanyaan Rendra terdengar panik.

Nadia tersenyum tipis.

“Jadi dokumen ini asli?”

Rendra sadar ia baru saja melakukan kesalahan.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Rendra membuka mulut.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Nadia melanjutkan.

“Jelaskan kenapa data tabunganku ada di dokumen utangmu. Jelaskan kenapa draft perjanjian pranikah yang kamu kasih bisa membuat utang sebelum pernikahan dianggap kepentingan rumah tangga. Jelaskan kenapa kamu terus minta rekening koran dan NPWP.”

Bu Rahma mulai meninggikan suara.

“Semua calon suami istri membicarakan keuangan!”

“Benar.”

Nadia menatapnya.

“Tapi tidak semua calon suami menyiapkan calon istrinya sebagai jaminan utang tanpa pengetahuan mereka.”

Wajah Bu Rahma langsung pucat.

Rendra mencoba merampas dokumen dari tangan Nadia.

Namun ayah Nadia berdiri menghalangi.

“Keluar.”

Rendra menatap Nadia dengan penuh kebencian.

“Kamu bakal nyesel.”

Nadia mengeluarkan ponsel.

“Ancamanmu barusan juga terekam.”

Rendra membeku.

Itulah terakhir kalinya Nadia melihat wajah percaya dirinya.

Beberapa minggu berikutnya, masalah Rendra mulai membesar.

Laporan lama Dian dibuka kembali setelah muncul bukti tambahan.

Nadia juga membuat laporan terkait kekerasan yang dialaminya.

Rekaman suara dari mal menjadi salah satu bukti penting.

Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu bersedia memberikan keterangan.

Lebih mengejutkan lagi, setelah perkara tersebut mulai diketahui beberapa pihak, dua perempuan lain menghubungi Dian.

Keduanya pernah memiliki hubungan dengan Rendra.

Polanya hampir sama.

Menanyakan pendapatan.

Meminjam uang.

Membujuk membuka rekening bersama.

Kemudian memosisikan perempuan tersebut seolah-olah memiliki tanggung jawab atas utangnya.

Dian akhirnya berkata kepada Nadia suatu sore ketika mereka bertemu di sebuah kedai kopi.

“Aku dulu malu cerita ke siapa pun. Aku pikir orang akan bilang aku bodoh.”

Nadia mengaduk kopinya pelan.

“Kalau kamu tidak menyimpan semua dokumen itu, mungkin aku sekarang sudah menikah dengannya.”

Dian tersenyum tipis.

“Mungkin semua yang aku simpan memang bukan untuk menyelamatkan uangku lagi.”

“Lalu untuk apa?”

“Untuk menyelamatkan perempuan berikutnya.”

Enam bulan berlalu.

Hidup Nadia berubah jauh lebih tenang.

Pernikahan yang dulu ia anggap sebagai tujuan besar dalam hidupnya sekarang hanya menjadi satu rencana yang pernah hampir terjadi.

Ia kembali bekerja seperti biasa.

Ia mulai bepergian sendiri.

Mulai bertemu teman-teman yang dulu jarang ia temui karena Rendra selalu keberatan.

Dan suatu hari, saat membersihkan lemari, Nadia menemukan tas kulit yang menjadi awal semua kejadian itu.

Tas seharga dua puluh lima juta.

Tas yang pernah membuatnya ditampar tiga kali di tengah pusat perbelanjaan.

Ia memandangnya cukup lama.

Dulu ia sempat merasa tas itu membawa kesialan.

Sekarang ia melihatnya berbeda.

Tas itu bukan penyebab hubungan mereka hancur.

Tas itu hanya membuka sesuatu yang sudah lama retak.

Beberapa hari kemudian, Nadia membawa tas itu saat bertemu Dian.

Dian langsung mengenalinya.

“Ini tas yang bikin ribut itu?”

Nadia tertawa kecil.

“Katanya begitu.”

“Masih kamu pakai?”

“Harus.”

Nadia meletakkannya di kursi sebelah.

“Ini barang paling mahal yang pernah menyelamatkan hidupku.”

Dian ikut tertawa.

Namun kemudian Nadia menatap tas itu sekali lagi.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Kekerasan jarang dimulai dari tamparan.

Kadang ia dimulai dari pertanyaan yang terdengar wajar.

Berapa gajimu?

Berapa tabunganmu?

Kenapa kamu masih butuh rekening sendiri?

Kenapa harus minta izin untuk menggunakan uangmu?

Lalu perlahan batas-batas itu bergeser.

Sampai suatu hari, seseorang merasa berhak mengatur uangmu.

Waktumu.

Pilihanmu.

Bahkan tubuhmu.

Nadia hampir terlambat memahami semua itu.

Namun tiga tamparan yang sempat ia anggap sebagai penghinaan terbesar dalam hidupnya justru menjadi alarm terakhir sebelum ia masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih sulit untuk ditinggalkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak rencana pernikahannya hancur, Nadia tidak lagi merasa gagal menjadi calon istri.

Ia justru merasa berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang