Ketika aku membuka mata, hal pertama yang kurasakan adalah panas.
Bukan panas yang menyakitkan, melainkan kehangatan yang terasa asing setelah tubuhku hampir membeku di tengah badai.
Langit-langit putih rumah sakit terlihat samar di atas kepalaku. Sebuah selang infus menempel di tangan, sementara selimut tebal menutupi tubuhku hingga dada.
Aku mencoba bergerak, tetapi kepalaku langsung terasa berat.
“Jangan bangun dulu.”
Suara laki-laki terdengar dari sisi kanan tempat tidur.
Aku menoleh perlahan.
Pria yang malam sebelumnya hanya kulihat sebagai bayangan di tengah salju kini duduk di kursi dekat jendela. Usianya sekitar 35 tahun. Wajahnya tegas, rambutnya hitam rapi, dan tatapannya tenang.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana tanpa jas.
“Nama saya Adrian Wijaya,” katanya. “Saya yang menemukan Anda di depan rumah saya.”
Aku menatapnya beberapa detik sebelum ingatanku kembali.
Rendy.
Siska.
Pintu yang ditutup.
Badai salju.
Semua itu menghantam pikiranku sekaligus.
Air mataku langsung jatuh.
“Barang-barang saya…” suaraku serak. “Ponsel, dompet, paspor… semuanya masih di rumah suami saya.”
Adrian terdiam sebentar.
“Dokter bilang suhu tubuh Anda turun cukup parah. Kalau ditemukan tiga puluh menit lebih lambat, kondisinya mungkin jauh lebih buruk.”
Aku menutup wajah dengan tangan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku menangis bukan karena takut kehilangan Rendy.
Aku menangis karena akhirnya sadar bahwa laki-laki itu memang berniat membiarkanku mati.
Adrian tidak banyak bertanya.
Dia hanya mengatakan bahwa stafnya sudah menghubungi polisi dan konsulat Indonesia karena aku tidak membawa identitas apa pun.
Dua hari kemudian, polisi mendampingiku kembali ke rumah Rendy untuk mengambil barang-barang pribadi.
Ketika pintu terbuka, Siska yang menyambut kami.
Dia mengenakan jubah tidur milikku.
Aku mengenali jubah itu dengan jelas.
Hadiah ulang tahun dari ibuku sebelum beliau meninggal.
“Mau apa lagi?” tanyanya ketus.
Rendy muncul beberapa detik kemudian.
Wajahnya berubah ketika melihat dua polisi berdiri di belakangku.
“Maya, kamu malah bawa polisi?”
Aku menatapnya.
Anehnya, tidak ada lagi rasa ingin memohon.
“Aku cuma mau mengambil dokumen dan barang-barangku.”
Rendy tertawa sinis.
“Bagus. Ambil. Setelah itu jangan pernah kembali.”
Aku berjalan masuk tanpa menjawab.
Namun sebelum naik ke lantai dua, seorang petugas menghentikan Rendy.
“Kami juga menerima laporan mengenai pengusiran di tengah kondisi cuaca ekstrem. Kami perlu meminta keterangan Anda.”
Rendy langsung menunjukku.
“Dia melebih-lebihkan. Dia pergi atas kemauannya sendiri.”
Aku membeku.
Siska ikut menyahut.
“Benar. Dia marah karena tahu saya hamil, lalu keluar sendiri.”
Aku menatap mereka berdua.
Untuk sesaat, aku benar-benar tidak percaya mereka bisa berbohong setenang itu.
Namun kemudian salah satu petugas mengeluarkan sebuah tablet.
“Kamera rumah tetangga merekam sebagian kejadian di depan rumah.”
Wajah Rendy langsung berubah.
Aku baru tahu kemudian bahwa salah satu rumah di seberang memiliki kamera keamanan yang mengarah ke jalan. Rekaman itu menunjukkan dengan jelas Rendy mendorongku keluar lalu mengunci pintu ketika badai sedang berlangsung.
Saat itulah aku menyadari satu hal.
Kebenaran mungkin terlambat datang.
Tetapi bukan berarti ia tidak datang.
Aku tidak langsung memenjarakan Rendy seperti dalam film.
Proses hukum jauh lebih rumit.
Aku memilih mengurus perceraian terlebih dahulu.
Masalah terbesar justru muncul ketika pengacaraku memeriksa dokumen keuangan selama pernikahan kami.
Ternyata hampir seluruh tabungan bersama sudah dipindahkan Rendy sedikit demi sedikit ke rekening yang tidak kukenal.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa aset yang kukira kami miliki bersama ternyata sejak awal dicatat atas nama perusahaan miliknya.
Aku hampir tidak mendapatkan apa-apa.
Saat itu, aku benar-benar memulai hidup dari nol.
Aku kembali ke Indonesia tiga bulan kemudian.
Bukan bersama Adrian.
Bukan pula sebagai perempuan kaya.
Aku pulang sendirian dengan dua koper dan harga diri yang berusaha kurakit kembali.
Di Jakarta, aku tinggal sementara di rumah sepupuku di daerah Tangerang Selatan.
Setelah lima tahun tidak bekerja, mencari pekerjaan ternyata tidak mudah.
Aku pernah bekerja di bidang pemasaran digital sebelum menikah. Namun dunia sudah berubah begitu cepat.
Aku mulai belajar lagi.
Aku menerima pekerjaan apa pun yang bisa kulakukan.
Menulis konten.

Mengelola media sosial perusahaan kecil.
Membuat strategi kampanye.
Kadang-kadang aku tidur hanya empat jam karena harus menyelesaikan proyek sambilan.
Adrian masih sesekali menghubungiku.
Bukan dengan cara berlebihan.
Dia tidak pernah menawarkan uang.
Tidak pernah mengasihaniku.
Dia hanya bertanya satu hal setiap beberapa minggu.
“Kamu baik-baik saja?”
Awalnya aku selalu menjawab singkat.
“Baik.”
Meski sebenarnya tidak selalu.
Hampir setahun setelah kejadian itu, Adrian datang ke Jakarta untuk urusan bisnis.
Barulah aku mengetahui siapa dia sebenarnya.
Adrian Wijaya bukan sekadar pengusaha biasa.
Keluarganya memiliki Wijaya Global Group, konglomerasi yang bergerak di bidang properti, logistik, teknologi, dan investasi di beberapa negara.
Media bisnis menyebut kekayaan keluarganya mencapai miliaran dolar.
Aku bahkan tertawa ketika membaca artikel tentangnya.
“Kamu tidak pernah bilang kalau kamu miliarder.”
Kami sedang duduk di sebuah kafe di kawasan SCBD saat itu.
Adrian mengangkat bahu.
“Kamu juga tidak pernah bertanya.”
“Aku mungkin akan lebih sopan waktu pertama kali ketemu kalau tahu.”
Dia tersenyum.
“Pertama kali kita bertemu, kamu hampir tidak sadar.”
Aku ikut tertawa.
Dan entah sejak kapan, kehadirannya mulai terasa nyaman.
Hubungan kami berkembang sangat perlahan.
Adrian tahu aku memiliki luka dari pernikahan sebelumnya.
Dia tidak pernah memaksaku.
Ketika akhirnya melamarku hampir dua tahun setelah pertemuan kami, dia hanya mengatakan satu kalimat.
“Aku tidak membutuhkanmu menjadi perempuan sempurna. Aku cuma ingin kita menjalani hidup dengan jujur.”
Aku menerima.
Namun ada satu hal yang masih menghantuiku.
Anak.
Sebelum menikah, aku meminta Adrian menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap bersamaku.
Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Saat hasil pemeriksaan keluar, dokter memanggil kami ke ruang konsultasi.
Aku duduk dengan tangan dingin.
Dokter membuka hasil laboratorium.
“Bu Maya, secara medis tidak ditemukan masalah signifikan pada fungsi reproduksi Anda.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Anda memiliki peluang hamil secara alami.”
Dunia seakan berhenti.
“Dokter yakin?”
“Ya.”
Aku mulai gemetar.
Selama bertahun-tahun Rendy menyebutku mandul.
Dia menghina tubuhku.
Dia membuatku merasa sebagai perempuan gagal.
Ternyata tidak ada satu pun dokter yang pernah mengatakan aku mandul.
Aku hanya percaya pada kesimpulan yang dibuat Rendy sendiri.
Beberapa bulan setelah menikah dengan Adrian, aku hamil.
Aku menangis hampir sepanjang malam ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan.
Adrian menemukan aku duduk di lantai kamar mandi.
Dia langsung panik.
“Kamu kenapa?”
Aku hanya mengangkat alat tes itu.
Matanya membesar.
Beberapa detik kemudian dia memelukku erat.
Namun di tengah kebahagiaan itu, aku tiba-tiba teringat Rendy.
Dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya.
Kalau bukan aku yang bermasalah, bagaimana dengan dia?
Jawabannya datang tiga tahun setelah malam badai salju itu.
Wijaya Global Group sedang melakukan ekspansi besar di Indonesia dan berencana mengakuisisi beberapa perusahaan teknologi serta distribusi.
Salah satu perusahaan yang mengajukan pendanaan bernama Ardent Solutions.
Ketika aku melihat nama direktur utamanya, jantungku seolah berhenti.
Rendy Pratama.
Setelah aku pergi, Rendy ternyata kembali ke Indonesia dan membangun perusahaan bersama beberapa investor.
Saat itu Ardent Solutions sedang berada dalam kondisi kritis.
Utangnya besar.
Arus kasnya hampir habis.
Mereka membutuhkan investasi Wijaya Global untuk bertahan.
Pertemuan akhir dilakukan di kantor pusat Wijaya Global di Jakarta.
Aku datang bersama Adrian karena aku kini ikut terlibat dalam divisi strategi perusahaan.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, Rendy masuk bersama tiga orang stafnya.
Langkahnya langsung berhenti.
Wajahnya pucat.
“Maya?”
Aku berdiri di sisi Adrian mengenakan setelan krem sederhana.
Perutku sudah memasuki usia kehamilan tujuh bulan.
Tatapan Rendy turun perlahan ke perutku.
Ekspresinya berubah seperti seseorang baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
“Kamu… hamil?”
Aku tidak menjawab.
Adrian mempersilakan mereka duduk.
Pertemuan berlangsung tegang.
Tim kami mempresentasikan hasil audit.
Ada berbagai masalah dalam perusahaan Rendy.
Penggunaan dana investor tidak transparan.
Beberapa kontrak mencantumkan laporan pendapatan yang tidak sesuai.
Ada pula transaksi dengan perusahaan pihak ketiga yang ternyata dikendalikan teman dekat Rendy sendiri.
Rendy semakin gelisah.
Dia akhirnya berkata, “Kami bisa memperbaiki semua itu kalau investasi diberikan.”
Direktur keuangan kami menggeleng.
“Risikonya terlalu tinggi.”
Rendy menatap Adrian.
“Pak Adrian, kami hanya butuh kesempatan.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Dia menoleh kepadaku.
“Maya?”
Semua orang dalam ruangan memandangku.
Rendy terlihat terkejut.
Barulah dia mengerti bahwa aku bukan sekadar istri Adrian yang kebetulan ikut hadir.
Aku adalah salah satu orang yang ikut memberikan rekomendasi atas transaksi itu.
Aku membuka laporan di hadapanku.
“Secara bisnis, saya tidak merekomendasikan investasi.”
Rendy langsung berdiri.
“Maya, jangan campur masalah pribadi dengan bisnis!”
Aku menatapnya.
“Justru saya sedang membicarakan bisnis. Laporan keuangan perusahaanmu sendiri yang membuat keputusan ini mudah.”
Pertemuan selesai.
Namun satu jam kemudian, ketika aku hendak masuk ke lift pribadi, Rendy mengejarku.
“Maya!”
Aku berhenti.
Dia berdiri beberapa meter di belakangku.
Tidak ada lagi kesombongan seperti tiga tahun lalu.
Wajahnya lelah.
Bajunya kusut.
“Aku cuma mau bicara.”
“Apa?”
Rendy menatap perutku.
“Jadi selama ini kamu sebenarnya tidak mandul.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Aku tidak pernah mandul.”
Dia terdiam.
Kemudian aku bertanya sesuatu yang sudah lama menggangguku.
“Bagaimana dengan Siska?”
Rendy menunduk.
“Siska pergi dua tahun lalu.”
“Anak kalian?”
Wajahnya berubah.
“Itu bukan anakku.”
Aku membeku.
Rendy mengusap wajahnya.
“Setelah lahir, aku curiga. Aku melakukan tes DNA.”
Dia menelan ludah.
“Hasilnya negatif.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Rendy melanjutkan dengan suara semakin kecil.
“Setelah itu aku periksa ke dokter.”
Aku sudah bisa menebak kelanjutannya.
Dokter menemukan bahwa Rendy memiliki masalah kesuburan serius yang kemungkinan sudah dialaminya selama bertahun-tahun.
Ironisnya, selama pernikahan kami, dia tidak pernah mau diperiksa.
Dia selalu berasumsi masalahnya ada padaku.
Rendy tertawa getir.
“Aku menghancurkan pernikahan kita karena kebodohanku sendiri.”
Aku menatapnya tanpa kebencian.
Yang tersisa hanyalah rasa asing.
Tiba-tiba pintu ruang rapat di belakang terbuka.
Dua petugas hukum internal perusahaan keluar bersama seorang penyidik.
Rendy langsung menoleh.
Ternyata audit terhadap Ardent Solutions menemukan transaksi yang tidak hanya bermasalah secara bisnis.
Ada indikasi pemalsuan laporan keuangan dan penyalahgunaan dana investor.
Tim hukum Wijaya Global telah menyerahkan temuannya kepada pihak berwenang.
Wajah Rendy semakin pucat.
Dia menatapku.
“Maya, tolong.”
Aku diam.
Dia melangkah mendekat.
“Maya, kamu bisa bicara sama Adrian. Kalian bisa menghentikan ini.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bisa.”
Suara Rendy mulai pecah.
“Aku akan kehilangan semuanya.”
Aku menatap laki-laki yang dulu berdiri di balik jendela sambil menyaksikanku menggigil di tengah badai.
Tiga tahun lalu, aku memohon kepadanya untuk membuka pintu.
Sekarang dialah yang memohon.
Namun anehnya, aku sama sekali tidak merasa puas.
Rendy tiba-tiba berlutut.
“Maya, aku minta maaf.”
Orang-orang di koridor berhenti.
“Aku salah. Aku tahu aku salah.”
Air matanya mulai jatuh.
“Tolong jangan biarkan hidupku hancur.”
Aku menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan.
“Aku tidak menghancurkan hidupmu, Rendy.”
Dia mendongak.
“Kamu melakukannya sendiri setiap kali kamu memilih kebohongan, kesombongan, dan keserakahan.”
Aku melangkah mendekati lift.
Namun sebelum pintunya menutup, aku menoleh sekali lagi.
“Aku pernah berdiri di depan pintumu dan memohon supaya kamu membiarkanku hidup.”
Rendy menunduk.
“Sekarang aku bisa saja melakukan hal yang sama kepadamu.”
Dia mengangkat wajahnya penuh harap.
“Tapi aku tidak mau menjadi seperti kamu.”
Aku meminta tim hukum memastikan proses berjalan sesuai aturan.
Tidak ada dendam.
Tidak ada perlakuan khusus.
Tidak ada pula pertolongan untuk menutupi kesalahannya.
Beberapa bulan kemudian, Ardent Solutions dinyatakan bangkrut.
Rendy menghadapi proses hukum terkait laporan keuangan perusahaannya.
Aku tidak pernah menemuinya lagi.
Sedangkan hidupku berjalan ke arah yang sama sekali berbeda.
Putriku lahir sehat pada awal musim hujan di Jakarta.
Kami menamainya Aruna.
Pagi setelah kelahirannya, aku terbangun dan melihat Adrian sedang berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit sambil menggendong bayi kami.
Cahaya matahari masuk perlahan di antara tirai.
Aku menatap mereka dan tiba-tiba teringat malam di Toronto itu.
Badai.
Salju.
Pintu yang terkunci.
Tubuhku yang hampir membeku.
Dulu aku berpikir malam itu adalah akhir hidupku.
Ternyata aku salah.
Itu justru awalnya.
Adrian mendekat lalu meletakkan Aruna di sampingku.
“Kamu kenapa menangis?”
Aku tersenyum sambil menyentuh pipi kecil putriku.
“Aku cuma ingat seseorang pernah bilang aku tidak berguna karena tidak bisa punya anak.”
Adrian duduk di sisi tempat tidur.
“Dan sekarang?”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku tahu nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh kemampuan memberikan sesuatu kepada orang lain.”
Aku berhenti sejenak.
“Apalagi kepada orang yang tidak tahu bagaimana cara menghargainya.”
Di luar jendela, Jakarta mulai ramai.
Mobil memenuhi jalanan.
Orang-orang berangkat bekerja.
Hidup terus bergerak seperti biasa.
Dan akhirnya aku mengerti bahwa kemenangan terbesar bukanlah melihat Rendy berlutut di kakiku.
Bukan menjadi istri miliarder.
Bukan pula melihat orang yang pernah menyakitiku kehilangan segalanya.
Kemenangan terbesarku adalah ketika aku mampu melihat masa lalu tanpa ingin kembali ke sana.
Karena ternyata pintu yang pernah ditutup di hadapanku pada malam paling dingin dalam hidupku justru memaksaku berjalan menuju kehidupan yang jauh lebih hangat.
