Tim Audit Internal masuk lebih dulu.
Di belakang mereka menyusul Direktur Legal, Kepala HRD, dan Sekretaris Dewan Komisaris.
Tak seorang pun di ruang rapat lantai 24 berani bergerak.
Fiona yang beberapa menit sebelumnya masih tersenyum sambil mengambil dokumen Proyek Nusantara kini berdiri kaku di samping kursinya. Hendra bahkan tidak berani mengangkat wajah.
Ponsel Maya masih tergeletak di tengah meja.
Suara Hartono terdengar dari pengeras suara.
“Pak Surya sudah sampai?”
Sekretaris Dewan Komisaris, Surya Mahendra, mendekati meja.
“Sudah, Pak Hartono.”
“Bagus. Mulai sekarang, rapat itu berada di bawah pengawasan Dewan Komisaris. Jangan ada satu dokumen pun yang keluar dari ruangan.”
“Baik, Pak.”
Hendra akhirnya memberanikan diri bicara.
“Pak Hartono, saya mohon diberi kesempatan menjelaskan. Ini sebenarnya hanya kesalahpahaman.”
“Kesalahpahaman yang mana?”
Suara Hartono tetap tenang.
“Menyerahkan proyek bernilai hampir dua triliun rupiah kepada orang yang baru enam bulan bekerja? Atau menggunakan nama pemegang saham palsu untuk membenarkan keputusan itu?”
Hendra terdiam.
Maya memandang pria itu tanpa ekspresi.
Selama tiga bulan, dia mengira tantangan terbesar Proyek Nusantara adalah menyelesaikan analisis investasi dan negosiasi dengan mitra.
Ternyata dia salah.
Masalah sesungguhnya baru saja muncul.
Kepala Audit Internal, Adrian Wijaya, membuka laptopnya.
“Pak Hendra, kami membutuhkan dasar tertulis keputusan pemindahan kepemimpinan Proyek Nusantara dari Maya kepada Fiona.”
Hendra menarik napas panjang.
“Itu keputusan manajerial saya.”
“Dasarnya?”
“Pertimbangan strategis.”
“Pertimbangan strategis apa?”
Hendra mulai kehilangan kesabaran.
“Saya Direktur Komersial. Saya berhak menentukan siapa yang memimpin proyek di divisi saya.”
Adrian mengangguk.
“Benar. Tetapi Anda tidak berhak menggunakan informasi kepemilikan saham yang tidak benar untuk memengaruhi keputusan perusahaan.”
Wajah Hendra kembali pucat.
Fiona tiba-tiba menyela.
“Saya rasa ini tidak adil.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Fiona berdiri lebih tegak, berusaha mempertahankan ketenangannya.
“Saya tidak pernah meminta Pak Hendra memberikan proyek itu kepada saya.”
Maya akhirnya bicara.
“Tapi kamu menerimanya.”
Fiona menatapnya tajam.
“Kalau atasan memberikan tanggung jawab kepada saya, tentu saya menerimanya. Itu bukan kesalahan saya.”
“Lalu soal ayah calon suamimu sebagai pemegang saham?”
Fiona tidak langsung menjawab.
“Itu urusan keluarga.”
Maya menggeleng perlahan.
“Tidak lagi kalau informasi itu digunakan untuk mengambil keputusan perusahaan.”
Ruangan kembali sunyi.
Adrian meminta staf audit mengumpulkan laptop kantor Hendra dan Fiona untuk pemeriksaan awal. Ketika salah seorang staf mendekati laptop Fiona, perempuan itu refleks menarik perangkat tersebut.
“Sebentar. Ada file pribadi di sini.”
Direktur Legal langsung menatapnya.
“Laptop itu aset perusahaan.”
“Tapi saya punya hak privasi.”
“Tentu. Tim audit akan mengikuti prosedur. Namun Anda tidak boleh menghapus atau memindahkan data apa pun.”
Tangan Fiona perlahan terlepas dari laptop.
Maya melihat sesuatu yang aneh di wajahnya.
Bukan sekadar takut.
Panik.
Dan Maya segera mengerti bahwa masalah ini mungkin jauh lebih besar daripada perebutan proyek.
Dua jam kemudian, seluruh anggota tim diperbolehkan kembali ke meja masing-masing setelah memberikan keterangan singkat. Hendra dan Fiona diminta tetap tinggal.
Maya juga diminta menemui Dewan Komisaris sore itu.
Sebelum keluar dari ruang rapat, Fiona mengejarnya.
“Maya.”
Maya berhenti.
Fiona berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajah perempuan itu.
“Kamu sebenarnya siapa?”
Maya menatapnya.
“Orang yang mengerjakan proyek itu selama tiga bulan.”
Lalu dia pergi.
Keesokan paginya, suasana lantai 24 berubah total.
Tak ada lagi orang yang berani bergosip terang-terangan.
Hendra tidak datang.
Akun akses kantornya dinonaktifkan sementara selama audit berlangsung.
Fiona datang sekitar pukul sembilan, tetapi tak seorang pun mengundangnya makan siang seperti biasanya.
Orang-orang yang seminggu sebelumnya berebut duduk bersamanya kini bahkan menghindari kontak mata.
Maya tidak merasa puas melihat itu.
Justru sebaliknya.
Dia merasa muak.

Betapa cepat sikap orang berubah hanya karena mereka mengira seseorang memiliki kekuasaan.
Menjelang siang, Adrian datang ke meja Maya.
“Kita perlu bicara.”
Mereka masuk ke ruang rapat kecil.
Adrian menutup pintu.
“Kami menemukan sesuatu.”
Dia meletakkan beberapa lembar hasil cetak di depan Maya.
Ada rangkaian percakapan dari aplikasi pesan internal antara Hendra dan Fiona.
Awalnya hanya membahas pekerjaan.
Namun semakin ke bawah, isi pesannya berubah.
Salah satu pesan dari Fiona berbunyi bahwa Bambang bisa membantu Hendra mendapatkan kursi direktur utama regional setelah restrukturisasi perusahaan.
Sebagai gantinya, Hendra harus memastikan Fiona memiliki rekam jejak memimpin proyek besar.
Proyek Nusantara adalah proyek yang mereka pilih.
Maya membaca perlahan.
“Jadi ini bukan keputusan spontan.”
“Bukan.”
Adrian menunjuk halaman berikutnya.
“Sudah direncanakan hampir dua bulan.”
Maya terdiam.
Itu berarti ketika dia pulang tengah malam menyelesaikan proposal, Hendra sudah merencanakan untuk menyerahkan hasilnya kepada Fiona.
Ketika Hendra memujinya karena berhasil menekan biaya proyek sebesar sebelas persen, dia sudah tahu siapa yang akan mendapatkan kredit atas keberhasilan itu.
Namun ada sesuatu yang lebih buruk.
Adrian menggeser dokumen lain.
“Kami memeriksa siapa Bambang Susanto.”
Nama itu ternyata bukan nama asing di dunia bisnis.
Bambang memiliki perusahaan konsultan investasi bernama BS Capital Advisory.
Perusahaannya tidak memiliki saham di Sastra Group.
Tidak satu lembar pun.
Namun selama enam bulan terakhir, Bambang memperkenalkan dirinya kepada beberapa mitra bisnis sebagai salah satu investor strategis Sastra Group.
Dia menghadiri acara bisnis.
Berfoto dengan sejumlah eksekutif.
Menggunakan foto-foto itu untuk menciptakan kesan bahwa dirinya memiliki hubungan langsung dengan keluarga Sastrowardoyo.
“Bagaimana dia bisa masuk ke acara internal?”
Maya bertanya.
Adrian menatapnya.
“Hendra.”
Jawaban itu membuat semuanya masuk akal.
Hendra memberikan akses.
Bambang menciptakan citra.
Fiona mendapatkan posisi.
Sebagai gantinya, Hendra dijanjikan dukungan untuk kariernya.
Tetapi Adrian belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
Dia membuka sebuah spreadsheet.
Proyek Nusantara melibatkan akuisisi lahan industri dan pembangunan pusat logistik di Jawa Barat. Salah satu calon konsultan yang direkomendasikan Hendra adalah perusahaan bernama Nusantara Strategic Partners.
Pemilik perusahaan itu tersembunyi di balik dua badan usaha berbeda.
Tim Legal menelusurinya.
Pemilik manfaat akhirnya mengarah kepada satu nama.
Bambang Susanto.
Maya menatap layar beberapa detik.
“Berapa nilai kontraknya?”
“Seratus delapan puluh empat miliar.”
Darah Maya seperti berhenti mengalir.
Sekarang dia mengerti.
Proyek itu tidak direbut hanya untuk mempercantik CV Fiona.
Mereka membutuhkan Fiona di posisi pemimpin proyek agar perusahaan milik Bambang bisa lolos sebagai konsultan.
“Kalau saya tetap memimpin, mereka tahu saya akan menolak.”
Adrian mengangguk.
Dalam evaluasi sebelumnya, Maya memang memberi skor rendah kepada Nusantara Strategic Partners karena biaya jasanya terlalu tinggi dan rekam jejaknya tidak sebanding dengan dua kandidat lain.
Itulah alasan sebenarnya Maya harus disingkirkan.
Sore itu, rapat luar biasa Dewan Komisaris digelar.
Untuk pertama kalinya sejak masuk perusahaan, Maya datang bukan sebagai analis.
Dia duduk di ujung meja bersama Hartono.
Hendra masuk dengan wajah kusut.
Fiona datang bersama pengacara.
Dan beberapa menit kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun masuk.
Bambang Susanto.
Dia masih mencoba tersenyum.
“Pak Hartono, saya rasa masalah ini sudah berkembang terlalu jauh.”
Hartono memandangnya dingin.
“Duduk.”
Bambang duduk.
Direktur Legal mulai memaparkan hasil audit.
Kontrak.
Pesan internal.
Struktur kepemilikan perusahaan.
Hubungan antara Bambang, Fiona, dan Nusantara Strategic Partners.
Semakin lama presentasi berjalan, semakin hilang senyum Bambang.
Namun ketika pembahasan mengenai klaim kepemilikan saham muncul, dia justru tertawa kecil.
“Saya rasa itu hanya salah tafsir.”
Hartono mengangkat alis.
“Salah tafsir?”
“Saya memang pernah mengatakan keluarga saya memiliki kepentingan di Sastra Group.”
“Anda mengatakan Anda pemegang saham.”
“Mungkin orang lain yang menyimpulkan begitu.”
Hartono mengangguk pelan.
Kemudian Sekretaris Dewan Komisaris meletakkan sebuah rekaman suara.
Suara Bambang terdengar jelas.
Dia sedang berbicara dalam sebuah jamuan bisnis.
“Saya punya posisi cukup besar di Sastra. Hendra tahu itu. Sebentar lagi struktur manajemennya juga akan berubah.”
Ruangan hening.
Bambang tidak lagi tersenyum.
Fiona menoleh kepada ayahnya.
“Ayah bilang saham itu benar-benar ada.”
Bambang mengabaikannya.
Hartono justru menatap Fiona.
“Jadi Anda percaya?”
Fiona mulai menangis.
“Saya hanya mengikuti apa yang Ayah katakan. Ayah bilang setelah saya menikah dengan Adrian, keluarga kami akan menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh di perusahaan.”
Maya mengerutkan kening.
“Adrian?”
Semua mata beralih kepada Kepala Audit Internal.
Adrian Wijaya yang sejak tadi duduk di ujung meja terlihat sama terkejutnya.
Fiona menatapnya, lalu wajahnya berubah.
“Bukan dia. Adrian Santoso. Tunangan saya.”
Hartono tiba-tiba bersandar di kursinya.
“Apa nama lengkap tunanganmu?”
“Adrian Santoso.”
“Bekerja di mana?”
“Tidak bekerja di sini. Dia mengelola investasi keluarga.”
Hartono memandang Sekretaris Dewan Komisaris.
“Cari.”
Beberapa menit kemudian, informasi muncul.
Dan justru informasi itulah yang mengubah seluruh arah penyelidikan.
Adrian Santoso ternyata bukan investor.
Dia bekerja sebagai perantara bisnis untuk beberapa perusahaan.
Salah satu klien terbesarnya adalah Nusantara Strategic Partners.
Fiona menatap layar dengan wajah kosong.
“Tidak mungkin.”
Direktur Legal membuka dokumen berikutnya.
Ada pembayaran senilai hampir empat miliar rupiah dari perusahaan Bambang kepada perusahaan milik Adrian Santoso.
Pembayaran dilakukan dua minggu setelah Hendra pertama kali mengusulkan agar Fiona dimasukkan ke dalam tim Proyek Nusantara.
Fiona menutup mulutnya.
Untuk pertama kalinya, Maya melihat perempuan itu bukan sebagai orang yang merebut pekerjaannya.
Melainkan sebagai seseorang yang baru sadar dirinya juga telah dimanfaatkan.
“Ayah?”
Suara Fiona bergetar.
Bambang tetap diam.
“Ayah bilang Adrian mencintaiku.”
Tidak ada jawaban.
“Ayah bilang pernikahan kami akan menyatukan dua keluarga.”
Bambang akhirnya kehilangan kesabaran.
“Berhenti bersikap seperti anak kecil. Semua ini dilakukan untuk masa depan keluarga.”
Fiona menatap ayahnya seolah baru pertama kali mengenal pria itu.
“Jadi pertunanganku bagian dari bisnis?”
Bambang tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup.
Hendra menundukkan kepala.
Sementara Hartono berdiri perlahan.
“Mulai hari ini, Hendra Kusuma diberhentikan sementara dari seluruh fungsi eksekutif sampai proses hukum dan audit selesai.”
Dia kemudian menatap Bambang.
“Seluruh kerja sama dengan perusahaan yang terafiliasi dengan Anda dibekukan. Temuan ini akan diserahkan kepada pihak berwenang apabila pemeriksaan menemukan unsur pidana.”
Bambang bangkit.
“Anda tidak bisa menghancurkan keluarga saya hanya karena masalah internal seperti ini.”
Hartono menatapnya tanpa sedikit pun gentar.
“Saya tidak menghancurkan keluarga Anda, Pak Bambang. Anda sendiri yang menjadikan keluarga sebagai alat transaksi.”
Tak ada yang membalas.
Beberapa minggu kemudian, hasil audit final keluar.
Hendra resmi diberhentikan karena konflik kepentingan, pelanggaran tata kelola, dan manipulasi proses pengadaan.
Kontrak Nusantara Strategic Partners dibatalkan sebelum satu rupiah pun dibayarkan.
Bambang menghadapi penyelidikan lanjutan terkait sejumlah transaksi lain yang ditemukan selama audit.
Fiona mengundurkan diri.
Sebelum pergi, dia mendatangi meja Maya.
Tidak ada riasan mencolok seperti biasanya.
Tidak ada tas mahal yang sengaja diletakkan di atas meja agar semua orang melihat mereknya.
Dia hanya membawa sebuah kotak kecil berisi barang-barang pribadinya.
“Aku mau minta maaf.”
Maya memandangnya.
“Aku tahu proyek itu milikmu. Aku tahu kamu bekerja keras. Tapi aku tetap mengambilnya.”
Maya diam beberapa saat.
“Aku marah kepadamu, Fiona. Tapi sekarang aku tahu kamu bukan satu-satunya masalah.”
Air mata muncul di mata Fiona.
“Aku pikir memiliki keluarga berpengaruh akan membuat orang menghormatiku.”
Maya tersenyum tipis.
“Yang kamu dapat bukan rasa hormat. Mereka hanya takut kehilangan keuntungan.”
Fiona mengangguk.
Lalu pergi.
Dua bulan kemudian, Proyek Nusantara akhirnya mendapat persetujuan dewan.
Maya kembali menjadi pemimpinnya.
Namun ada satu hal yang membuat seluruh lantai 24 terkejut.
Hartono menawarkan Maya posisi Vice President Strategy.
Maya menolaknya.
“Kakek marah?”
Mereka sedang makan malam di rumah Hartono ketika Maya mengatakan itu.
Hartono tertawa.
“Kenapa Kakek harus marah?”
“Aku belum merasa pantas.”
“Padahal kamu cucu pendiri perusahaan?”
“Justru karena itu.”
Hartono menatap cucunya lama.
Kemudian dia tersenyum bangga.
“Kalau begitu, kapan kamu mau memberi tahu orang kantor siapa dirimu?”
Maya mengaduk tehnya.
“Tidak perlu.”
“Kabar sudah menyebar.”
“Biarkan mereka tahu aku cucu Kakek. Tapi aku ingin mereka lupa soal itu ketika melihat hasil kerjaku.”
Hartono mengangguk.
Beberapa hari kemudian, sebuah email dikirim kepada seluruh karyawan Sastra Group.
Bukan pengumuman tentang identitas Maya.
Bukan pula tentang promosi jabatan.
Isinya adalah kebijakan tata kelola baru.
Setiap keputusan pengangkatan pemimpin proyek strategis harus disertai evaluasi kompetensi tertulis.
Setiap hubungan keluarga dengan vendor wajib dilaporkan.
Setiap klaim mengenai kepemilikan saham harus diverifikasi melalui Sekretariat Perusahaan.
Dan yang paling mengejutkan, kebijakan itu diberi nama Sistem Integritas Nusantara.
Nama tersebut diambil dari proyek yang hampir dirampas dari Maya.
Enam bulan kemudian, Maya berdiri di ruang rapat yang sama di lantai 24.
Proyektor menyala.
Timnya bertepuk tangan setelah kontrak final Proyek Nusantara ditandatangani.
Nilai investasinya bahkan lebih besar daripada rencana awal.
Salah seorang analis baru mendekatinya setelah rapat.
“Mbak Maya, saya boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Benarkah Mbak cucu Pak Hartono?”
Maya tertawa kecil.
“Kenapa?”
Analis itu tampak gugup.
“Katanya suatu hari perusahaan ini bisa menjadi milik Mbak.”
Maya melihat keluar jendela.
Jakarta terbentang di bawah mereka, dipenuhi gedung, kendaraan, dan jutaan orang yang setiap hari berjuang membangun hidup masing-masing.
Kemudian dia menatap analis muda itu.
“Perusahaan sebesar ini tidak pernah benar-benar menjadi milik satu orang.”
Analis itu terlihat bingung.
Maya mengambil laptopnya.
“Perusahaan hanya akan bertahan selama orang-orang di dalamnya masih percaya bahwa kerja keras lebih berharga daripada nama keluarga.”
Dia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Maya berhenti dan menoleh.
“Oh ya, satu lagi.”
“Apa, Mbak?”
“Kalau suatu hari ada orang mengaku pemegang saham dan meminta kamu melakukan sesuatu yang melanggar aturan, jangan langsung percaya.”
Analis itu tersenyum.
“Terus saya harus bagaimana?”
Maya teringat pada hari ketika Hendra mengambil proyek yang telah dia kerjakan mati-matian selama tiga bulan. Pada senyum Fiona. Pada suara Kakeknya dari pengeras suara. Pada satu pertanyaan sederhana yang akhirnya membongkar jaringan kebohongan bernilai ratusan miliar rupiah.
Dia tersenyum.
“Periksa dulu daftar pemegang sahamnya.”
Pintu ruang rapat tertutup di belakangnya.
Dan sejak hari itu, di lantai 24 Sastra Group, tak ada lagi orang yang berani menggunakan nama besar untuk menggantikan kompetensi.
Karena semua orang sudah belajar bahwa kebohongan yang terlihat paling kuat sekalipun bisa runtuh hanya oleh satu pertanyaan yang tepat.
