Kalimat terakhir Pak Gunawan membuat Bu Rina kehilangan warna di wajahnya.
Kantong plastik berisi makanan yang sejak tadi dia genggam perlahan terlepas dari tangan.
Salah satunya jatuh ke lantai.
Beberapa buah apel menggelinding di antara kaki para tamu.
Namun tidak ada seorang pun yang bergerak untuk mengambilnya.
Semua mata tertuju kepada Pak Gunawan.
Farhan berdiri kaku.
Dia memandang ibunya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
— Maksud Bapak apa? — tanyanya akhirnya.
Pak Gunawan tidak langsung menjawab.
Dia membuka satu dokumen dari map kulitnya, lalu meletakkannya di atas meja.
— Tiga tahun lalu, Bu Rina meminjam uang Rp300 juta dari Pak Bambang dengan alasan untuk menyelamatkan usaha katering miliknya yang hampir bangkrut.
Bu Rina langsung menyela.
— Itu pinjaman keluarga! Dan sudah saya bicarakan dengan Pak Bambang!
— Benar.
Pak Gunawan mengangguk.
— Dan karena itu dibuat surat pengakuan utang resmi.
Dia mengeluarkan dokumen kedua.
— Tetapi enam bulan setelahnya, ada transfer lain sebesar Rp175 juta.
Tatapan Farhan berpindah cepat kepada ibunya.
— Transfer apa lagi, Bu?
Bu Rina membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Pak Gunawan kembali membuka dokumen.
— Kemudian Rp90 juta.
Dia meletakkan lembar ketiga.
— Lalu Rp125 juta.
Lembar berikutnya.
— Dan Rp210 juta.
Ruangan seketika dipenuhi bisikan kecil.
Maya berdiri tanpa bergerak.
Dia sendiri tidak mengetahui semua itu.
Dokumen yang ditemukannya pagi tadi hanya menunjukkan transaksi Rp300 juta.
Pak Gunawan menatap Maya sejenak sebelum melanjutkan.
— Total uang yang pernah keluar dari rekening Pak Bambang dan masuk ke rekening Bu Rina atau rekening yang terhubung dengannya adalah Rp900 juta lebih.
Maya merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
— Ayah memberikan hampir satu miliar rupiah kepada Ibu?
— Bukan memberikan.
Pak Gunawan memperbaiki kalimatnya.
— Sebagian besar dicatat sebagai pinjaman.
Bu Rina akhirnya menemukan suaranya.
— Pak Gunawan, cukup!
Nada suaranya meninggi.
— Bapak tidak punya hak membuka urusan pribadi saya di depan orang-orang!
Pak Gunawan menatapnya tenang.
— Saya memiliki kuasa tertulis dari almarhum.
Dia menunjukkan satu dokumen dengan tanda tangan Bambang.
— Dan ada alasan mengapa beliau meminta semuanya dibuka apabila Maya menemukan USB tersebut.
Maya menatap benda hitam kecil di tangannya.
Sejak tadi dia bahkan belum sempat membukanya.
— Apa isinya?
Pak Gunawan memandang Bu Rina.
Kemudian Farhan.
— Bukalah.
Di sudut restoran terdapat televisi besar yang sebelumnya digunakan untuk menampilkan foto-foto Bambang selama acara penghormatan.
Nina segera mengambil laptop miliknya dari sebuah meja.
Tangannya masih gemetar ketika memasukkan USB tersebut.
Bu Rina tiba-tiba bergerak maju.
— Jangan!
Semua orang tersentak.
Nina langsung berhenti.
Maya menatap ibu mertuanya.
Kali ini tidak ada lagi senyum sinis di wajah wanita itu.
Yang ada hanyalah ketakutan.
— Kenapa tidak boleh dibuka, Bu? — tanya Maya.
Bu Rina menelan ludah.
— Itu pasti berisi data pribadi.
— Data pribadi siapa?
Tidak ada jawaban.
Maya mengangguk kepada Nina.
— Buka.
Di dalam USB hanya terdapat satu folder.
Nama folder itu sederhana.
RINA.
Nina mengkliknya.
Ada puluhan file.
Rekaman percakapan.
Foto dokumen.
Rekening koran.
Dan beberapa video.
Pak Gunawan menunjuk salah satu rekaman suara.
— Yang itu.
Nina memutarnya.
Suara Bambang terdengar memenuhi ruangan.
Jernih.
Tenang.
Lalu suara Bu Rina menyusul.
“Pak Bambang, saya cuma butuh waktu tiga bulan.”
“Uang sebelumnya saja belum kembali.”
“Saya pasti bayar.”
“Kamu mengatakan hal yang sama enam bulan lalu.”
“Kalau Farhan tahu, rumah tangganya bisa hancur.”
Ruangan semakin sunyi.
Maya spontan menoleh kepada suaminya.
Farhan tampak kebingungan.
Rekaman terus berjalan.
Suara Bambang terdengar lagi.
“Masalahnya bukan uang, Bu Rina. Masalahnya Anda menggunakan nama Maya untuk meminjam.”
Jantung Maya seperti berhenti.
Nina menatap kakaknya.
Farhan mematung.
Suara Bu Rina terdengar lebih pelan.
“Maya tidak akan tahu.”
“Justru itu yang membuat saya marah.”
“Pak Bambang, saya mohon.”

“Kalau ini terulang lagi, saya akan memberitahunya.”
Rekaman berhenti.
Maya merasa udara di ruangan tiba-tiba terlalu berat.
Dia memandang Bu Rina.
— Menggunakan nama saya untuk apa?
Bu Rina menggeleng cepat.
— Itu salah paham.
Pak Gunawan membuka satu map tipis lain.
— Dua tahun lalu, Bu Rina mengajukan pinjaman kepada sebuah koperasi investasi swasta dengan mencantumkan bahwa Maya akan menjadi penjamin.
Maya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
— Saya tidak pernah menandatangani apa pun.
— Karena tanda tangan Anda dipalsukan.
Suara Nina terdengar tercekat.
— Astaga.
Farhan memegang sandaran kursi di dekatnya.
— Bu?
Bu Rina mulai menangis.
Namun air mata itu justru membuat ekspresi Farhan semakin keras.
— Bu, jawab.
— Ibu terpaksa.
— Terpaksa apa?
Farhan meninggikan suara untuk pertama kalinya sejak acara dimulai.
— Memalsukan tanda tangan istri saya?
Bu Rina menutup wajahnya.
— Bisnis Ibu waktu itu hampir hancur.
— Jadi Ibu menjadikan Maya penjamin tanpa sepengetahuannya?
Bu Rina tidak menjawab.
Pak Gunawan menarik sebuah dokumen lagi.
— Pak Bambang mengetahuinya setelah sebuah surat penagihan dikirim ke rumah lamanya karena alamat Maya pernah terdaftar di sana.
Maya memejamkan mata.
Kini semuanya masuk akal.
Mengapa beberapa tahun lalu ayahnya tiba-tiba bertanya apakah dia pernah menandatangani pinjaman.
Mengapa Bambang beberapa kali mendesaknya memeriksa laporan kredit.
Saat itu Maya mengira ayahnya hanya terlalu berhati-hati.
Ternyata Bambang sedang melindunginya.
— Ayah membayar utang itu? — tanya Maya.
Pak Gunawan mengangguk.
— Sebagian.
Dia menatap Bu Rina.
— Karena apabila dibiarkan, nama Maya bisa masuk daftar bermasalah dan kasus pemalsuan tanda tangan akan terbuka.
Maya perlahan duduk.
Lututnya terasa lemas.
Selama ini dia selalu mengira hubungan ayahnya dengan Bu Rina hanya sekadar sopan antara dua keluarga.
Dia tidak pernah tahu ayahnya diam-diam membereskan masalah sebesar itu.
Namun Pak Gunawan belum selesai.
— Masih ada sesuatu yang lebih serius.
Bu Rina langsung mengangkat wajah.
— Jangan.
Kali ini suaranya nyaris berbisik.
Pak Gunawan menatapnya.
— Saya berkewajiban menyampaikan semuanya.
Dia meminta Nina membuka sebuah file video.
Rekaman kamera keamanan muncul di layar.
Tanggal di sudut video menunjukkan sekitar delapan bulan lalu.
Lokasinya adalah ruang kerja Bambang.
Dalam video itu, Bu Rina terlihat masuk ke ruangan.
Dia membuka salah satu laci.
Mengambil amplop.
Kemudian memotretnya dengan ponsel.
Beberapa detik kemudian, dia mengambil sebuah kartu ATM lama yang tersimpan di dalam kotak kecil.
Farhan menggeleng perlahan.
— Tidak mungkin.
Bu Rina menatap layar dengan mata membesar.
— Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.
Pak Gunawan berkata,
— Kartu itu terhubung dengan rekening cadangan Pak Bambang.
Maya berdiri lagi.
— Apa Ibu mengambil uang dari rekening itu?
— Tidak!
Bu Rina berteriak.
— Saya cuma melihat!
Pak Gunawan membuka rekening koran.
— Dua hari setelah rekaman tersebut, terjadi penarikan tunai Rp100 juta melalui beberapa transaksi.
— Bukan saya!
— Kamera ATM memperlihatkan seseorang mengenakan masker dan topi.
Pak Gunawan berhenti.
— Tetapi mobil yang digunakan tercatat atas nama Bu Rina.
Suasana berubah.
Bukan lagi sekadar tegang.
Kini ada rasa tidak percaya yang hampir menyerupai jijik.
Beberapa sahabat Bambang saling berbisik.
Salah satu dari mereka, Pak Haris, berdiri.
— Bambang pernah cerita kepada saya bahwa ada uang yang hilang.
Bu Rina langsung menatapnya.
Pak Haris melanjutkan.
— Waktu itu dia bilang belum mau memperpanjang masalah karena menyangkut keluarga putrinya.
Maya menunduk.
Itulah ayahnya.
Selalu menjaga dirinya.
Bahkan ketika orang lain memanfaatkannya.
Bu Rina tiba-tiba menunjuk Maya.
— Kamu puas sekarang?
Semua orang terkejut.
— Sejak dulu kamu memang tidak pernah suka kepada saya!
Maya menatapnya tanpa ekspresi.
— Saya bahkan tidak tahu semua ini sampai hari ini.
— Kamu sengaja mempermalukan saya!
— Ibu yang tadi memilih mempermalukan saya di depan semua orang.
Kalimat Maya sederhana.
Tetapi tepat mengenai sasaran.
Bu Rina terdiam.
Maya mengambil satu napas panjang.
— Selama tiga hari terakhir, Ibu mengatakan saya menghabiskan warisan ayah.
Dia melangkah mendekat.
— Padahal justru ayah saya yang selama bertahun-tahun menutup utang dan masalah Ibu supaya keluarga saya tidak hancur.
Bu Rina mulai terisak.
— Saya akan mengganti semuanya.
Pak Gunawan menggeleng.
— Persoalannya tidak sesederhana itu.
Bu Rina menatapnya ketakutan.
Pak Gunawan mengeluarkan amplop terakhir.
— Dua minggu sebelum meninggal, Pak Bambang membuat laporan resmi mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan dan pengambilan dana tanpa izin.
Farhan menutup mata.
Maya terpaku.
— Ayah melapor ke polisi?
— Belum diproses penuh.
Pak Gunawan menghela napas.
— Beliau masih memberi waktu.
Kemudian dia menyerahkan sebuah surat tulisan tangan kepada Maya.
Maya membuka perlahan.
Tulisan ayahnya memenuhi satu halaman.
“Maya,
kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak ada.
Maaf karena Ayah menyembunyikan terlalu banyak hal darimu.
Ayah melakukannya karena Ayah tahu kamu mencintai Farhan, dan Ayah tidak ingin masalah orang tuanya menghancurkan pernikahanmu.
Tapi melindungi seseorang tidak boleh berarti membiarkan orang lain terus menyakitinya.
Kalau Rina berhenti, maafkan jika kamu mampu.
Kalau dia tetap mencoba mengambil milikmu atau merusak namamu, jangan diam hanya demi menjaga keluarga.
Keluarga yang sehat tidak meminta kita menelan ketidakadilan.
Ayah tidak meninggalkan kekayaan supaya kamu menjadi kaya.
Ayah meninggalkannya supaya kamu punya kebebasan untuk memilih hidup tanpa takut kepada siapa pun.”
Pandangan Maya kabur.
Tangannya gemetar memegang surat itu.
Untuk pertama kalinya sejak Bambang meninggal, Maya menangis bukan karena kehilangan.
Melainkan karena baru memahami betapa jauh ayahnya melindunginya tanpa pernah meminta penghargaan.
Nina memeluk bahunya dari samping.
Farhan berdiri beberapa langkah jauhnya.
Matanya merah.
Dia mendekati Maya.
— Maya…
Maya mengangkat tangan.
— Jangan dulu.
Farhan berhenti.
Dia mengangguk.
Lalu berbalik kepada ibunya.
— Selama ini Ibu bilang Maya selalu memanfaatkan keluarga kita.
Bu Rina menangis lebih keras.
— Han, Ibu cuma…
— Dan ternyata justru keluarga Maya yang terus menyelamatkan Ibu.
Suara Farhan pecah.
— Bahkan Pak Bambang tidak pernah mempermalukan Ibu.
Bu Rina mencoba memegang tangan anaknya.
Farhan mundur.
Itu gerakan kecil.
Namun bagi Bu Rina, rasanya lebih menyakitkan daripada seluruh dokumen yang baru saja dibuka.
Pak Gunawan kemudian menatap Maya.
— Ada satu hal lagi mengenai warisan.
Maya mengusap air matanya.
— Apa?
— Pak Bambang memang meninggalkan aset cukup besar.
Ruangan kembali hening.
— Tetapi hampir seluruh aset likuid tidak diwariskan langsung kepada Maya ataupun Nina.
Bu Rina yang sejak tadi menangis mendadak mengangkat kepala.
Maya sendiri terlihat terkejut.
— Lalu kepada siapa?
Pak Gunawan tersenyum tipis untuk pertama kalinya.
— Yayasan.
— Yayasan?
— Yayasan pendidikan yang beliau dirikan diam-diam enam bulan lalu.
Pak Gunawan mengeluarkan akta pendirian.
— Sebagian besar dana akan digunakan untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu di Surabaya.
Maya menutup mulut.
Ayahnya pernah menjadi anak pedagang kecil yang hampir putus sekolah sebelum mendapat bantuan biaya dari gurunya.
Kini Maya memahami mengapa Bambang beberapa bulan terakhir sering berbicara tentang utang yang tidak pernah bisa dibayar dengan uang.
Pak Gunawan melanjutkan.
— Maya dan Nina hanya menerima rumah keluarga, beberapa investasi, serta bagian usaha sesuai wasiat.
Dia berhenti sejenak.
— Dan ada satu ketentuan khusus.
Maya mengangkat alis.
— Ketentuan apa?
— Semua utang pribadi kepada Pak Bambang yang memiliki bukti sah harus ditagih dan dikembalikan ke yayasan.
Tatapan semua orang perlahan beralih kepada Bu Rina.
Pak Gunawan menutup mapnya.
— Termasuk utang Bu Rina.
Bu Rina tampak seolah baru saja kehilangan tenaga untuk berdiri.
Ironinya begitu tajam hingga tidak seorang pun perlu mengatakannya.
Wanita yang beberapa menit lalu menuduh Maya menghabiskan warisan ternyata tidak akan menerima satu rupiah pun dari harta itu.
Sebaliknya, dia justru harus mengembalikan uang kepada warisan tersebut.
Maya memandang kantong-kantong makanan yang berserakan di lantai.
Kemudian dia berjalan mendekati Bu Rina.
Semua orang menunggu.
Namun Maya tidak berteriak.
Dia tidak menghina.
Dia hanya mengambil satu kantong makanan yang masih utuh lalu menyerahkannya.
— Bawa saja.
Bu Rina menatapnya kebingungan.
— Apa?
— Makanannya.
Suara Maya tenang.
— Ayah saya tidak akan keberatan makanan yang tersisa dibawa pulang.
Dia berhenti sebentar.
— Tapi uangnya harus dikembalikan.
Bu Rina menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak Maya mengenalnya, wanita itu tidak memiliki satu pun kalimat untuk membela diri.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Kasus pemalsuan tanda tangan tidak langsung membuat Bu Rina masuk penjara karena proses hukum masih panjang dan beberapa pihak memilih menempuh penyelesaian dengan pengembalian dana terlebih dahulu.
Rumah katering miliknya dijual.
Sebagian aset pribadinya digunakan untuk mencicil kewajiban kepada yayasan.
Farhan memilih keluar dari rumah ibunya dan tinggal sementara di apartemen kecil.
Hubungannya dengan Maya tidak langsung membaik.
Maya belum bisa melupakan bagaimana suaminya diam ketika ibunya mempermalukannya di hari pemakaman.
Namun Farhan tidak memaksa.
Dia mulai belajar bahwa menjadi suami bukan sekadar tidak ikut menyakiti.
Kadang seseorang harus berani berdiri ketika orang yang dicintainya sedang diserang.
Enam bulan kemudian, Yayasan Bambang Salgado memberikan beasiswa pertamanya kepada dua puluh tujuh siswa.
Pada acara sederhana itu, Maya berdiri di belakang ruangan sambil memegang surat terakhir ayahnya.
Di panggung, seorang siswi SMA menceritakan bahwa dia hampir berhenti sekolah karena ayahnya kehilangan pekerjaan.
Maya menunduk sambil tersenyum.
Tiba-tiba dia teringat semua tuduhan di restoran pada hari pemakaman.
Warisan.
Uang.
Kekayaan.
Pencurian.
Saat itu semua orang mengira warisan Bambang adalah rumah, rekening, dan investasi.
Ternyata bukan.
Warisan terbesar lelaki itu adalah pilihan terakhir yang dia buat.
Mengubah uang yang pernah hampir dicuri dari keluarganya menjadi kesempatan bagi orang lain untuk memiliki masa depan.
Dan Maya akhirnya memahami satu hal.
Ayahnya tidak menunggu kematian untuk membalas orang yang menyakitinya.
Dia memilih sesuatu yang jauh lebih kuat.
Dia memastikan bahwa bahkan setelah dirinya pergi, keserakahan seseorang tidak akan menjadi akhir dari ceritanya.
Justru dari uang yang pernah diperebutkan itu, puluhan kehidupan baru mulai berubah.
