SUAMI DIAM-DIAM MENGAMBIL KARTU BANKKU UNTUK MENGAJAK SELINGKUHANNYA BERLIBUR. TAK DISANGKA, SAAT TIBA DI BANDARA, PETUGAS IMIGRASI DENGAN DINGIN MENGUCAPKAN SATU KALIMAT YANG MEMBUAT MEREKA BERDUA TERDIAM KAKU…

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya.

Ardi sudah berpakaian rapi. Kemeja putih, celana hitam, rambut yang ditata lebih hati-hati daripada ketika dia pergi ke kantor. Di samping meja makan, sebuah koper kabin berwarna hitam berdiri tegak.

“Mau ke mana bawa koper?” tanyaku sambil menuangkan susu untuk putra kami.

Ardi bahkan tidak terlihat gugup.

“Ada perjalanan dinas mendadak ke Singapura. Cuma tiga hari. Tadi malam aku lupa bilang.”

Aku menatap wajah pria yang sudah delapan tahun tidur di sampingku.

Dulu aku percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Pagi itu, untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa mudahnya seseorang berbohong ketika dia yakin kita masih mempercayainya.

“Oh,” jawabku pendek. “Hati-hati.”

Ardi tampak lega.

Dia mencium kepala putra kami, mengambil kopernya, lalu berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, dia berbalik.

“Kartu bank yang biasanya di dompetmu aku pinjam sebentar, ya. Kartuku ada masalah.”

Aku hampir tertawa.

Dia bahkan berani mengatakannya langsung.

“Pakai saja,” jawabku tenang.

Ardi tersenyum.

“Terima kasih, Sayang.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Lalu aku mengambil ponsel.

Malam sebelumnya, setelah menemukan percakapannya dengan perempuan bernama Selvi, aku memang sudah melakukan beberapa hal. Pertama, aku memindahkan hampir seluruh uang tabungan pribadiku ke rekening lain yang hanya bisa kuakses sendiri.

Kedua, aku menghubungi bank dan memblokir kartu yang dibawa Ardi.

Tetapi itu belum semuanya.

Dari percakapan mereka, aku mengetahui penerbangan, hotel, dan bahkan nomor kursi yang mereka pesan. Lebih mengejutkan lagi, aku menemukan foto paspor Ardi yang dikirim kepada Selvi.

Saat memperbesar foto itu, aku melihat sesuatu yang membuatku terdiam.

Masa berlaku paspor Ardi tinggal kurang dari lima bulan.

Aku segera memeriksa ketentuan perjalanan yang berlaku untuk tujuan mereka. Dengan kondisi dokumen seperti itu, perjalanan mereka berpotensi bermasalah.

Namun aku tidak ingin bergantung pada kemungkinan.

Ada masalah lain yang jauh lebih serius.

Ketika memeriksa transaksi rekening kami, aku menemukan beberapa transfer yang tidak kukenal. Jumlahnya bukan kecil. Selama hampir setahun, Ardi ternyata memindahkan uang sedikit demi sedikit ke rekening lain.

Totalnya lebih dari dua ratus juta rupiah.

Aku langsung menghubungi bank untuk mengajukan keberatan atas transaksi tertentu yang dilakukan tanpa persetujuanku dan meminta rekening serta kartu yang terkait diamankan sementara untuk pemeriksaan.

Aku juga menghubungi pengacara keluarga yang pernah membantu bisnis orang tuaku.

Namanya Pak Dimas.

Setelah mendengar ceritaku, dia hanya berkata, “Jangan melakukan sesuatu karena marah. Simpan semua bukti. Kalau memang ada penyalahgunaan dana, kita selesaikan secara hukum.”

Itulah yang kulakukan.

Sementara aku mengumpulkan bukti, Ardi sedang menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama Selvi.

Dari percakapan yang sempat kubaca, Selvi berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Ardi.

Mereka sudah menjalin hubungan hampir delapan bulan.

Yang paling menyakitkan bukan hanya perselingkuhan itu.

Ardi pernah mengatakan kepadaku bahwa kami harus menunda renovasi kamar putra kami karena keuangan sedang ketat.

Namun dua minggu setelah mengatakan itu, dia membeli tas mahal untuk Selvi.

Dengan uangku.

Sekitar pukul sembilan pagi, sebuah notifikasi masuk ke ponselku.

Percobaan transaksi sebesar Rp18.750.000 ditolak.

Aku tahu persis siapa yang melakukannya.

Di bandara, Ardi sedang berdiri di depan sebuah butik ketika wajahnya berubah.

“Kenapa?” tanya Selvi.

“Kartunya ditolak.”

“Coba lagi.”

Ardi mencoba sekali lagi.

Ditolak.

Selvi mulai kesal.

“Katanya limit kartumu besar?”

“Mungkin sistem bank sedang bermasalah.”

“Kamu bilang semua biaya perjalanan ini sudah aman.”

“Aman. Hotel sama tiket sudah dibayar.”

Selvi mendengus, lalu menarik kopernya.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju pemeriksaan keberangkatan.

Beberapa menit kemudian, ponselku berdering.

Nama Ardi muncul.

Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.

Dia menelepon lagi.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Halo?”

“Kamu blokir kartu?”

Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan tentang anak kami.

Langsung kartu.

Aku tersenyum pahit.

“Kenapa kamu pakai kartu itu?”

“Aku sudah bilang, kan? Ada perjalanan dinas.”

“Perjalanan dinas bersama Selvi?”

Sunyi.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

“Dari mana kamu tahu nama itu?”

Aku menutup mata.

Bahkan setelah tertangkap, pertanyaan pertamanya bukan permintaan maaf.

Dia hanya ingin tahu bagaimana aku mengetahuinya.

“Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira, Ardi.”

“Dengar dulu penjelasanku.”

“Bukankah kamu sedang buru-buru mengejar penerbangan?”

“Kamu sengaja melakukan ini?”

“Aku cuma mengamankan uangku.”

“Itu uang keluarga!”

“Benarkah?”

Suaraku tetap tenang.

“Kalau itu uang keluarga, kenapa dipakai membayar hotel untuk perempuan yang bukan istrimu?”

Ardi terdiam.

Kemudian suaranya berubah keras.

“Jangan bikin masalah sekarang. Nanti pulang kita bicarakan.”

“Silakan pergi. Aku tidak melarang.”

Aku memutus sambungan.

Tangan yang memegang ponsel sebenarnya gemetar.

Aku bukan perempuan sekuat yang mungkin dibayangkan Ardi.

Setelah telepon berakhir, aku masuk ke kamar mandi dan menangis.

Delapan tahun bukan waktu yang singkat.

Aku masih ingat ketika kami baru menikah dan hanya mampu menyewa rumah kecil. Aku yang mengemas pesanan sampai tengah malam, Ardi yang membantu menempelkan alamat pengiriman.

Aku ingat ketika bisnis pertamaku rugi dan dia memelukku sambil berkata bahwa kami akan memulai lagi.

Aku juga ingat ketika putra kami lahir. Ardi menangis sambil menggenggam tanganku.

Entah sejak kapan pria itu berubah menjadi orang yang sekarang berdiri di bandara bersama perempuan lain menggunakan uang istrinya.

Sekitar setengah jam kemudian, Ardi dan Selvi sampai di pemeriksaan dokumen.

Petugas memeriksa paspor mereka.

Paspor Selvi tidak bermasalah.

Ketika giliran Ardi, petugas memperhatikan layar cukup lama.

“Pak, tunggu sebentar.”

Ardi mulai gelisah.

“Ada masalah?”

Petugas itu memanggil rekannya.

Selvi berdiri beberapa meter di belakang.

“Ada apa, Mas?”

“Entahlah.”

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, petugas mengembalikan dokumennya dan berkata dengan nada datar, “Bapak tidak dapat melanjutkan perjalanan dengan dokumen perjalanan ini.”

Wajah Ardi langsung pucat.

“Apa?”

Petugas menjelaskan persoalan dokumennya dan meminta Ardi menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum dapat melanjutkan perjalanan.

Selvi langsung panik.

“Terus penerbangannya bagaimana?”

Ardi mencoba berdebat, tetapi tidak ada yang berubah.

Mereka tidak berangkat.

Dan ternyata, itulah awal kehancuran rencana mereka.

Selvi mulai menyalahkan Ardi.

“Kamu bilang semuanya sudah kamu urus!”

“Aku juga tidak tahu bakal begini.”

“Hotel kita bagaimana? Tiket bagaimana?”

“Bisa diurus nanti.”

“Terus uang belanja yang kamu janjikan?”

Ardi menatapnya.

“Kartunya diblokir Maya.”

Untuk pertama kalinya, Selvi mengetahui bahwa kartu yang selama ini digunakan Ardi ternyata bukan miliknya.

“Kartu istrimu?”

Ardi tidak menjawab.

Selvi menatapnya seolah baru melihat orang asing.

“Jadi selama ini barang-barang yang kamu belikan buat aku pakai uang istrimu?”

“Jangan bicara keras-keras.”

“Kamu bilang rekening itu rekeningmu!”

Ardi menarik lengannya, tetapi Selvi menepis.

Beberapa orang mulai memperhatikan mereka.

Kemudian sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Ponsel Ardi berbunyi.

Sebuah email masuk dari bagian keuangan perusahaannya.

Subjeknya membuat wajahnya berubah.

Panggilan Klarifikasi Internal.

Ternyata rekening tujuan beberapa transfer yang kutemukan malam sebelumnya memiliki hubungan dengan pembayaran tertentu dari kantornya.

Aku sendiri baru mengetahuinya pagi itu.

Saat Pak Dimas memeriksa bukti-bukti transaksi yang kukirim, dia melihat pola yang janggal. Beberapa dana yang Ardi masukkan ke rekening keluarga ternyata bukan berasal dari gajinya.

Ada transfer dari vendor.

Aku tidak menuduh apa pun karena aku belum tahu konteksnya.

Aku hanya menyerahkan bukti tersebut kepada pihak yang berwenang di perusahaannya untuk diverifikasi.

Perusahaan bergerak lebih cepat daripada perkiraanku.

Ardi meneleponku lagi.

Kali ini suaranya tidak lagi marah.

“Maya, kamu lapor ke kantor?”

“Aku cuma menanyakan asal beberapa transaksi yang masuk ke rekening atas namaku.”

“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?”

“Tidak. Justru aku ingin tahu apa yang sudah kamu lakukan.”

“Maya, tolong.”

Itulah pertama kalinya dia berkata tolong.

“Ada beberapa transaksi yang bisa aku jelaskan.”

“Jelaskan kepada auditor kantormu.”

“Maya…”

“Dan setelah itu, jelaskan kepadaku kenapa selama hampir setahun kamu memindahkan uang keluarga tanpa sepengetahuanku.”

Telepon kembali sunyi.

Selvi rupanya mendengar percakapan itu.

“Transfer apa?” suaranya terdengar dari belakang.

Ardi menjauh.

Namun semuanya sudah terlambat.

Selvi mulai menyadari bahwa lelaki yang menjanjikan liburan mewah kepadanya tidak sekaya yang selama ini dia ceritakan.

Hubungan mereka retak bahkan sebelum meninggalkan bandara.

Siang itu, Ardi pulang sendirian.

Ketika pintu rumah terbuka, aku sedang duduk di ruang tamu bersama Pak Dimas.

Di atas meja terdapat salinan mutasi rekening, bukti pemesanan hotel, transaksi kartu, dan beberapa tangkapan layar percakapannya dengan Selvi.

Ardi berhenti di ambang pintu.

Wajahnya seperti kehilangan seluruh warna.

“Kita bicara berdua saja,” katanya.

Aku menggeleng.

“Pak Dimas akan tetap di sini.”

“Aku suamimu.”

“Justru karena kamu suamiku, kamu seharusnya menjadi orang terakhir yang mengambil uangku diam-diam.”

Ardi duduk.

Untuk beberapa saat, dia tidak berkata apa-apa.

Kemudian dia menangis.

Dia mengatakan hubungannya dengan Selvi awalnya hanya teman kantor. Lalu menjadi tempat bercerita. Kemudian makan bersama. Setelah itu hotel, hadiah, dan kebohongan demi kebohongan.

“Aku khilaf.”

Aku menatapnya.

“Khilaf tidak berlangsung delapan bulan, Ardi.”

Dia menunduk.

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Yang hilang bukan cuma uang.”

Ardi menatapku.

“Kepercayaan tidak punya nomor rekening yang bisa kamu transfer kembali.”

Beberapa minggu setelah kejadian itu, pemeriksaan internal di kantornya selesai.

Sebagian transaksi yang mencurigakan ternyata memang berkaitan dengan pelanggaran kebijakan perusahaan. Ardi kehilangan pekerjaannya dan harus menyelesaikan sejumlah kewajiban kepada perusahaan.

Selvi juga meninggalkannya.

Namun aku tidak merasa menang.

Tidak ada kemenangan ketika sebuah keluarga hancur.

Aku mengajukan gugatan cerai setelah melalui banyak pertimbangan. Bukan semata-mata karena dia berselingkuh, tetapi karena aku menyadari bahwa selama berbulan-bulan dia telah membangun kehidupan lain di atas kebohongan, menggunakan kepercayaan keluarga sebagai modalnya.

Ardi akhirnya keluar dari rumah.

Putra kami tetap bertemu dengannya secara teratur. Apa pun kesalahan Ardi sebagai suami, aku tidak ingin menjadikan anak kami sebagai alat balas dendam.

Tiga bulan kemudian, ketika sedang merapikan dokumen lama, aku menemukan sebuah amplop di antara berkas bisnis.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Ardi.

Ternyata surat itu ditulis enam tahun sebelumnya, ketika bisnis online-ku hampir bangkrut.

Aku membaca satu kalimat yang membuatku menangis.

“Kalau suatu hari usahamu berhasil, jangan pernah biarkan siapa pun mengambil hasil kerja kerasmu hanya karena kamu mencintainya, bahkan kalau orang itu aku.”

Aku duduk lama sambil memegang surat itu.

Ironis.

Pria yang pernah mengingatkanku untuk menjaga diriku sendiri akhirnya menjadi orang yang membuat nasihat itu paling kubutuhkan.

Aku tidak membuang surat tersebut.

Aku menyimpannya.

Bukan karena masih berharap Ardi kembali.

Melainkan agar suatu hari, ketika putraku cukup dewasa untuk memahami kehidupan, aku bisa mengajarkan sesuatu kepadanya.

Bahwa cinta bukan izin untuk mengkhianati kepercayaan.

Bahwa menikah bukan berarti kehilangan hak atas diri sendiri.

Dan bahwa uang yang hilang mungkin bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang sengaja dihancurkan tidak selalu bisa dibangun untuk kedua kalinya.

Enam bulan kemudian, bisnis yang dulu kubangun dari meja makan rumah kecil kami berkembang lebih besar daripada sebelumnya.

Suatu sore, sebuah pesan masuk dari Ardi.

“Aku baru sadar satu hal. Hari itu di bandara aku pikir kamu menghancurkan hidupku. Sekarang aku mengerti, aku sendiri yang menghancurkannya jauh sebelum sampai di sana.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu mematikan layar ponsel.

Di depan rumah, putraku sedang belajar mengendarai sepeda. Dia terjatuh, berdiri lagi, lalu tertawa sambil memanggilku.

“Ibu, lihat! Aku bisa!”

Aku berlari menghampirinya.

Saat itulah aku menyadari bahwa balas dendam terbaik ternyata bukan membuat orang yang menyakitimu menderita.

Balas dendam terbaik adalah memastikan pengkhianatan mereka tidak ikut menghancurkan masa depanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang