PENGUSAHA KAYA MENDENGAR REMAJA MISKIN MENANGIS DI MAKAM ANAKNYA KARENA DITOLAK KELUARGA.

Pintu rumah kontrakan itu terbuka perlahan.

Ratna berdiri membeku di ambang pintu.

Dua petugas ambulans yang tadi ia panggil memang ada di sana, tetapi mereka tidak datang sendirian. Di belakang mereka berdiri beberapa pria berjas hitam. Sebuah sedan mewah berhenti tepat di tepi jalan sempit, membuat beberapa tetangga mulai mengintip dari balik jendela.

Lalu Surya Wijaya turun dari mobil.

Pria berusia 72 tahun itu berjalan mendekat sambil menggenggam sebuah foto lama.

Wajah Ratna langsung pucat.

“Pak Surya?”

Surya berhenti beberapa langkah di depannya.

“Jadi kamu masih mengenali saya.”

Ratna menelan ludah.

“Ada apa malam-malam begini?”

Surya tidak menjawab. Tatapannya justru melewati bahu Ratna dan menemukan Rian yang berdiri ketakutan di sudut ruang tamu.

Di lantai dekat wastafel, sisa surat penerimaan Oxford masih mengepulkan asap tipis.

Surya melihatnya.

Kemudian ia melihat dua petugas ambulans.

“Siapa yang sakit?”

Ratna buru-buru menjawab, “Rian. Keponakan saya mengalami gangguan mental. Dia sedang tidak stabil.”

Rian terperanjat.

“Itu bohong!”

“Diam!”

Bentakan Ratna membuat tubuh Rian refleks menegang.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Surya.

Hendra, pengacara keluarga Wijaya, maju dari belakang.

“Petugas ini datang berdasarkan laporan siapa?”

“Saya walinya,” jawab Ratna cepat. “Saya berhak mengambil keputusan.”

“Tidak malam ini.”

Hendra mengeluarkan beberapa dokumen.

“Kami sudah mengajukan tindakan hukum darurat terkait dugaan penyalahgunaan perwalian dan penggelapan aset milik Rian Wijaya.”

Ratna mundur setengah langkah.

“Penggelapan apa? Kalian tidak bisa datang sembarangan ke rumah saya!”

Surya akhirnya mengangkat foto di tangannya.

“Lima belas tahun lalu anak saya meninggalkan rumah karena saya terlalu sombong untuk menerima perempuan yang dicintainya.”

Suaranya rendah, tetapi setiap katanya terasa berat.

“Saya membiarkan Dimas pergi. Saya membiarkan Arini hidup tanpa dukungan keluarga kami. Bahkan ketika saya tahu mereka mempunyai anak, saya tidak mencari mereka.”

Matanya beralih kepada Rian.

“Kesalahan itu milik saya.”

Rian menatapnya dengan kebingungan.

Surya berjalan mendekat dan menyerahkan foto tersebut.

Rian menerimanya dengan tangan gemetar.

Di sana ada ayahnya, Dimas, sedang menggendong seorang bayi. Di sampingnya berdiri Arini.

Ibunya.

“Foto ini…”

“Kamu menjatuhkannya di makam ayahmu sore tadi.”

Rian mengangkat kepala.

Wajahnya berubah.

“Bapak yang di pemakaman?”

Surya mengangguk.

“Saya ayah Dimas.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Rian memandang Surya cukup lama.

Kemudian bibirnya bergerak pelan.

“Berarti…”

“Saya kakekmu.”

Rian tidak mengatakan apa-apa.

Tidak ada pelukan dramatis. Tidak ada tangisan bahagia.

Yang muncul justru kemarahan.

“Lalu Kakek ke mana selama ini?”

Pertanyaan itu menghantam Surya lebih keras daripada tuduhan apa pun.

Rian menggenggam foto tersebut.

“Saya pernah bertanya kepada Bibi apakah keluarga Ayah masih hidup. Katanya kalian membenci saya.”

Surya menunduk.

“Dia tidak sepenuhnya berbohong.”

Lestari yang sejak tadi berada di dekat mobil akhirnya masuk. Air matanya sudah mengalir.

“Kami melakukan kesalahan besar.”

Rian menatap nenek yang bahkan tidak pernah dikenalnya.

“Kesalahan selama lima belas tahun?”

Tidak ada seorang pun mampu menjawab.

Tiba-tiba Ratna tertawa pendek.

“Bagus sekali.”

Semua mata beralih kepadanya.

“Keluarga kaya datang setelah lima belas tahun, lalu bertingkah seolah menjadi penyelamat.”

“Ratna,” ujar Hendra, “sebaiknya Anda berhati-hati dengan apa yang Anda katakan.”

“Kenapa? Saya yang membesarkan dia!”

Ratna menunjuk Rian.

“Saat dia demam, saya yang membawanya ke dokter. Saat dia lapar, siapa yang memberinya makan? Mereka?”

Ia menunjuk Surya dan Lestari.

“Tidak! Mereka bahkan tidak tahu cucunya sekolah di mana!”

Rian terdiam.

Untuk sesaat, Surya tidak membantah.

“Benar,” katanya.

Ratna tampak terkejut.

“Saya gagal sebagai ayah dan kakek. Tetapi kegagalan saya tidak memberi kamu hak mengambil uang milik Rian.”

Ratna kembali pucat.

Hendra membuka map.

“Dua polis asuransi jiwa atas nama Dimas Wijaya. Dana perwalian. Pendapatan sewa dua ruko. Total dana yang diduga dialihkan mencapai sekitar sebelas miliar rupiah.”

“Itu digunakan untuk biaya hidupnya!”

“Sebelas miliar?”

Suara Rian terdengar nyaris berbisik.

Ia menatap Ratna.

“Selama ini Bibi bilang uang peninggalan Ayah habis untuk utang.”

Ratna tidak menjawab.

“Bibi bilang Ibu tidak meninggalkan apa-apa.”

“Rian, dengarkan Bibi…”

“Sebelas miliar?”

Suara Rian pecah.

“Waktu saya harus memilih makan atau beli buku latihan UTBK, Bibi bilang kita miskin!”

Ratna mendekat.

Namun Rian mundur.

Untuk pertama kalinya, ia tidak takut.

Hendra kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Ratna berhenti bergerak.

“Dan ini bukan perkara paling serius.”

Ia mengeluarkan salinan laporan lama.

“Kami menemukan ketidaksesuaian dalam catatan kematian Arini.”

Wajah Ratna berubah drastis.

Surya memperhatikannya.

“Arini meninggal setelah kecelakaan kendaraan lima belas tahun lalu,” lanjut Hendra. “Tetapi pemeriksaan medis mencatat adanya zat penenang dalam tubuhnya.”

“Itu obat biasa.”

Jawaban Ratna terlalu cepat.

Ruangan mendadak sunyi.

Hendra menatapnya.

“Saya belum mengatakan jenis obatnya.”

Ratna sadar telah melakukan kesalahan.

Rian memandang bibinya.

“Apa hubungannya Bibi dengan kematian Ibu?”

“Tidak ada!”

“Lalu kenapa Bibi tahu soal obat?”

Ratna kehilangan kata-kata.

Hendra melanjutkan.

“Resepnya berasal dari klinik yang sama dengan klinik yang selama bertahun-tahun memberikan obat penenang kepada Rian.”

Salah satu petugas ambulans mulai terlihat gelisah.

Hendra menoleh kepadanya.

“Dokter yang memerintahkan penjemputan malam ini bernama dr. Bagus Santoso, benar?”

Petugas itu memeriksa dokumennya.

“Iya.”

“Orang yang sama yang bekerja di klinik tersebut lima belas tahun lalu.”

Ratna langsung berlari menuju kamar.

Namun salah satu pria berjas segera menghadangnya.

“Jangan sentuh saya!”

Ratna berteriak.

Hendra tidak bergerak dari tempatnya.

“Polisi sedang dalam perjalanan.”

Mendengar kata polisi, kekuatan Ratna seperti hilang.

Ia terduduk di kursi.

Rian menatap perempuan yang telah membesarkannya sejak kecil.

“Bibi melakukan apa kepada Ibu?”

Ratna menutup wajah.

Tidak ada jawaban.

“Jawab!”

Untuk pertama kalinya Surya mendengar Rian berteriak.

Ratna perlahan menurunkan tangannya.

“Aku tidak membunuh ibumu.”

Rian membeku.

“Tapi Bibi tahu sesuatu.”

Ratna menangis.

Lima belas tahun lalu, Arini ternyata datang kepadanya dalam keadaan panik. Dimas baru meninggal beberapa bulan sebelumnya karena serangan jantung mendadak. Arini berniat menemui keluarga Wijaya untuk memperjuangkan hak Rian.

Ia membawa dokumen asuransi, surat kepemilikan ruko, dan bukti dana perwalian.

Ratna mengetahui jumlahnya.

Saat itu Ratna terlilit utang besar.

Ia meminta bantuan kepada Bagus, seorang dokter yang memiliki hubungan dengannya.

Rencana awalnya sederhana.

Membuat Arini tertidur beberapa jam agar Ratna dapat mengambil dokumen dan memindahkan sebagian dana sebelum Arini menemui keluarga Wijaya.

“Tapi dosisnya terlalu tinggi,” kata Ratna sambil terisak.

“Arini tetap memaksakan diri keluar rumah. Dia mengendarai mobil dalam keadaan setengah sadar.”

Rian tidak berkedip.

“Kecelakaan itu…”

Ratna mengangguk lemah.

“Mobilnya menabrak pembatas jalan.”

Lestari menutup mulut.

Surya memejamkan mata.

Rian justru berdiri diam.

Tidak menangis.

Itulah yang membuat suasana semakin menyakitkan.

“Jadi Ibu meninggal karena Bibi?”

“Aku tidak berniat membunuhnya!”

“Tapi Bibi mengambil uangnya setelah dia meninggal.”

Ratna terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

Tak lama kemudian polisi tiba.

Ratna dibawa untuk diperiksa, sementara penyelidikan terhadap Bagus dan pengelolaan aset Rian dibuka kembali.

Sebelum masuk ke mobil polisi, Ratna menoleh kepada Rian.

“Bibi tetap membesarkanmu.”

Rian menatapnya lama.

“Dan karena itu saya akan selalu mengingat Bibi.”

Ratna tampak berharap.

Namun Rian melanjutkan,

“Tapi membesarkan seseorang tidak menghapus kejahatan yang kita lakukan kepadanya.”

Pintu mobil polisi tertutup.

Malam itu Rian tidak ikut Surya ke rumah mewahnya.

Ia menolak.

“Saya belum mengenal Kakek.”

Surya mengangguk.

“Kamu benar.”

“Saya juga belum tahu apakah saya bisa memaafkan keluarga Kakek.”

“Kamu tidak harus memutuskan malam ini.”

Jawaban itu membuat Rian sedikit terkejut.

Surya mengeluarkan kartu namanya.

“Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang boleh mengambil keputusan tentang hidupmu tanpa persetujuanmu.”

Rian menerima kartu tersebut.

“Termasuk Kakek?”

Surya tersenyum pahit.

“Terutama Kakek.”

Beberapa minggu berikutnya mengubah hidup Rian.

Penyelidikan menemukan bahwa sebagian besar aset peninggalan orang tuanya masih dapat dilacak. Rekening dibekukan. Dua ruko dikembalikan ke dalam pengelolaan perwalian yang diawasi pengadilan. Beberapa aset yang dibeli Ratna menggunakan dana tersebut ikut disita untuk proses hukum.

Namun masalah terbesar Rian ternyata bukan uang.

Melainkan Oxford.

Surat penerimaan aslinya telah dibakar.

Rian mengira kesempatan itu hilang.

“Kalau memang tidak bisa, saya akan kuliah di Indonesia,” katanya kepada Surya suatu sore.

Mereka duduk di sebuah warung kopi sederhana dekat sekolah Rian. Surya sengaja datang tanpa pengawal.

“Kamu tidak kecewa?”

“Kecewa.”

“Lalu?”

Rian mengangkat bahu.

“Ayah dan Ibu sudah berjuang supaya saya bisa hidup. Masa saya berhenti gara-gara selembar kertas dibakar?”

Surya terdiam.

Semakin mengenal Rian, semakin ia melihat Dimas di dalam dirinya.

Bukan wajahnya.

Melainkan keberaniannya.

Tiga hari kemudian, sebuah surel masuk ke akun Rian.

Pihak universitas mengonfirmasi kembali status penerimaannya setelah dokumen identitas diverifikasi. Surat fisik yang terbakar tidak membatalkan apa pun karena seluruh data tersimpan secara resmi.

Rian membaca surel itu tiga kali.

Kemudian ia tertawa sambil menangis.

Masalah paspor dan tiket juga terselesaikan.

Surya menawarkan jet pribadi.

Rian langsung menolak.

“Saya cuma butuh tiket ekonomi.”

“Kenapa ekonomi?”

“Karena beasiswa saya tidak berubah jadi lebih hebat hanya karena saya duduk di kelas bisnis.”

Surya tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Beberapa bulan kemudian, hari keberangkatan tiba.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Lestari memeluk Rian sambil menangis.

Surya berdiri sedikit jauh.

Hubungan mereka belum sempurna.

Luka lima belas tahun tidak bisa disembuhkan hanya dengan uang, permintaan maaf, atau hubungan darah.

Namun sebelum masuk ke area imigrasi, Rian menghampirinya.

“Kek.”

Itu pertama kalinya ia memanggil Surya demikian.

Surya langsung menoleh.

Rian menyerahkan sebuah amplop.

“Buka setelah saya berangkat.”

Beberapa jam kemudian, ketika pesawat Rian telah meninggalkan Jakarta, Surya membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat salinan foto lama Dimas, Arini, dan bayi Rian.

Namun ada tulisan baru di bagian belakangnya.

Surya membacanya perlahan.

“Ayah pernah kehilangan keluarganya karena orang-orang dewasa memilih harga diri, uang, dan kebohongan. Saya tidak ingin hidup dengan cara yang sama. Saya belum bisa melupakan semuanya, Kek. Tapi saya mau mencoba mengenal Kakek dan Nenek dari awal.”

Tangan Surya bergetar.

Di bawah tulisan itu terdapat satu kalimat lagi.

“Jangan gunakan sebelas miliar itu untuk membeli kembali masa lalu. Gunakan untuk memastikan anak-anak lain yang kehilangan orang tua tidak kehilangan masa depan juga.”

Surya terdiam cukup lama.

Setahun kemudian, sebuah yayasan pendidikan berdiri di Jakarta.

Namanya bukan Wijaya Foundation.

Surya sengaja tidak menggunakan nama keluarganya.

Yayasan itu diberi nama Arini-Dimas Foundation dan memberikan bantuan pendidikan serta pendampingan hukum kepada anak-anak yatim yang aset warisannya bermasalah.

Tetapi kejutan terakhir muncul ketika penyidik menyelesaikan pemeriksaan seluruh dokumen Dimas.

Ternyata, beberapa bulan sebelum meninggal, Dimas pernah mengirim surat kepada Surya.

Surat itu tidak pernah sampai ke tangannya.

Seorang sekretaris lama keluarga, atas perintah Surya sendiri bertahun-tahun sebelumnya, telah diperintahkan mengembalikan semua korespondensi dari Dimas tanpa membukanya.

Surya meminta surat tersebut dicari.

Arsip lama akhirnya ditemukan.

Di dalamnya hanya ada beberapa kalimat.

“Ayah, aku tidak meminta uang. Aku hanya ingin Ayah tahu bahwa aku sudah menjadi seorang ayah. Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku, jangan hukum anakku karena kesalahan yang menurut Ayah pernah kulakukan.”

Surya membaca kalimat itu sendirian di ruang kerjanya.

Lima belas tahun sebelumnya, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Rian.

Kesempatan itu pernah datang tepat ke depan pintunya.

Dan ia sendiri yang memerintahkan agar pintu tersebut ditutup.

Surya menangis malam itu.

Bukan karena sebelas miliar rupiah yang dicuri.

Bukan karena skandal keluarga yang akhirnya terbongkar.

Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa beberapa tragedi tidak dimulai ketika seseorang melakukan kejahatan besar.

Kadang tragedi dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Kesombongan.

Sebuah telepon yang tidak pernah dilakukan.

Sebuah surat yang tidak pernah dibuka.

Dan keputusan untuk berkata, “Dia bukan lagi bagian dari keluarga kita.”

Di ribuan kilometer dari Jakarta, Rian menyimpan foto ayah dan ibunya di meja kecil kamar asrama.

Di samping foto itu terdapat foto baru.

Dirinya bersama Surya dan Lestari di bandara.

Bukan sebagai bukti bahwa semua luka telah sembuh.

Melainkan sebagai pengingat bahwa masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi seseorang masih bisa memilih apa yang akan dilakukan setelah mengetahui kebenaran.

Dan bagi Rian, itulah warisan terbesar yang akhirnya ia dapatkan.

Bukan sebelas miliar rupiah.

Bukan nama besar keluarga Wijaya.

Melainkan kebebasan untuk menentukan sendiri akan menjadi manusia seperti apa setelah semua orang sebelum dirinya membuat begitu banyak kesalahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang