Maya tidak langsung memutus telepon.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam sambil mendengarkan suara napas Dimas di seberang sana dan suara Keisha yang masih samar-samar terdengar dari dalam apartemen.
“Mas Dimas, handuknya yang warna putih atau abu-abu?”
Lalu terdengar suara langkah.
Dimas menjauhkan ponselnya dari mulut.
“Yang putih aja, Kei.”
Maya menutup mata.
Anehnya, dadanya tidak lagi terasa sesak.
Tidak ada ledakan tangis.
Tidak ada dorongan untuk berteriak.
Yang muncul justru ketenangan aneh yang membuat pikirannya terasa sangat jernih.
“Dimas,” katanya pelan.
“Iya?”
“Besok jangan hubungi aku lagi.”
Dimas terdiam.
“Maksud kamu?”
“Maksudku persis seperti yang kamu dengar.”
“May, jangan kekanak-kanakan. Kamu salah paham.”
Maya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
“Kalau aku salah paham, kenapa Keisha tahu handukmu disimpan di lemari kamar?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa dia punya sandal sendiri?”
Dimas masih diam.
“Kenapa ada sikat giginya di kamar mandi utama?”
“May, dengar dulu.”
“Kenapa selama tiga tahun aku harus membuang sikat gigiku setiap pagi?”
Suara Dimas mulai berubah.
Lebih rendah.
Lebih defensif.
“Itu nggak sesederhana yang kamu pikir.”
“Justru sangat sederhana.”
Maya membuka mata.
Di seberangnya, seorang perawat memanggil nama pasien berikutnya.
Lampu putih klinik membuat segala sesuatu tampak terlalu terang.
Terlalu nyata.
“Selama tiga tahun kamu bilang aku harus menghapus jejak supaya hubungan kita aman.”
Maya menelan ludah.
“Ternyata yang kamu lindungi bukan aku.”
Ia berhenti sejenak.
“Kamu melindungi tempat Keisha di hidupmu.”
“Jangan libatkan Keisha. Dia nggak salah apa-apa.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan terakhir.
Bukan karena Dimas membela Keisha.
Melainkan karena selama tiga tahun, ketika Maya terluka, ragu, atau merasa direndahkan, Dimas tidak pernah sekali pun membelanya seperti itu.
Maya tersenyum pahit.
“Tenang. Aku nggak akan menyalahkan dia.”
Lalu ia memutus sambungan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Maya memblokir nomor Dimas.
Ia juga menghapus akses Dimas dari folder pribadi di laptopnya, mengganti beberapa kata sandi, lalu memindahkan semua dokumen proyek yang berkaitan dengan pekerjaannya ke penyimpanan resmi perusahaan.
Bukan karena ia merencanakan balas dendam.
Maya hanya tiba-tiba sadar bahwa selama ini batas antara urusan pribadi dan profesional mereka terlalu kabur.
Dan jika Dimas mampu berbohong tentang hubungan mereka selama tiga tahun, Maya tidak tahu lagi bagian mana dari hidupnya yang masih aman dipercayakan kepada lelaki itu.
Keesokan paginya, Maya tetap datang ke kantor.
Kakinya dibalut perban baru.
Ia mengenakan sepatu flat longgar dan berjalan sedikit pincang.
Begitu keluar dari lift di lantai dua puluh tujuh, suasana ruang kerja terasa aneh.
Beberapa orang yang biasanya menyapanya pagi-pagi hanya melirik lalu cepat-cepat kembali ke layar komputer.
Maya tahu ada sesuatu.
Ia baru sampai di mejanya ketika Rani dari tim administrasi mendekat sambil membawa kopi.
“May.”
“Hm?”
Rani menatap kanan-kiri sebelum membungkuk sedikit.
“Aku nggak tahu harus ngomong atau nggak.”
Maya menaruh tasnya.
“Ngomong aja.”
Rani menyerahkan ponselnya.
Di layar terbuka unggahan Keisha dari pesta semalam.
Salah satu foto memperlihatkan Dimas berdiri di belakang Keisha sambil memegang kue ulang tahun.
Tidak ada yang terlalu intim.
Namun caption Keisha menimbulkan banyak komentar.
Terima kasih untuk seseorang yang selalu memastikan aku punya tempat pulang, bahkan di hari paling berantakan.
Di bawahnya ada emoji rumah dan hati putih.
Maya membaca komentar-komentar rekan kantor.
Ada yang menulis, “Akhirnya go public juga?”
Ada yang membalas, “Sudah curiga dari lama.”
Ada pula yang menulis, “Pantesan Pak Dimas kalau sama Mbak Keisha beda.”
Maya mengembalikan ponsel itu.
“Terima kasih.”
Rani terlihat khawatir.
“Kamu baik-baik aja?”
“Belum.”
Jawaban Maya jujur.
“Tapi nanti juga.”
Rani memegang lengannya sebentar.
“Kalau butuh apa-apa, bilang.”
Baru pukul sembilan ketika pesan dari sekretaris direktorat masuk.
Pak Dimas meminta Anda datang ke ruangannya.
Maya menatap pesan itu selama beberapa detik.
Kemudian ia berdiri.
Kantor Dimas berada di ujung koridor dengan kaca transparan menghadap gedung-gedung tinggi Jakarta.
Dulu Maya sering masuk ke ruangan itu diam-diam setelah jam kerja.
Kadang hanya untuk membawakan makan malam.
Kadang untuk duduk bersamanya sambil membahas mimpi yang sekarang terasa memalukan untuk diingat.
Pagi itu, Dimas sudah menunggunya.
Keisha tidak ada.
“Maya, tutup pintunya.”
Maya tidak bergerak.
“Kalau soal pekerjaan, pintu terbuka juga nggak masalah.”
Rahang Dimas mengeras.
“Tutup pintunya.”
“Kalau bukan soal pekerjaan, aku balik ke meja.”
Akhirnya Dimas berdiri dan menutup pintu sendiri.
“Kamu blokir aku.”
“Iya.”
“Kamu sadar posisi kita di kantor?”
Maya hampir tertawa.
“Justru sekarang aku sangat sadar.”
Dimas berjalan mendekat.
“Dengar. Hubunganku sama Keisha nggak seperti yang kamu pikir.”
“Kalau begitu seperti apa?”
Dimas tidak langsung menjawab.

“Keisha sudah lama kenal keluargaku. Ibuku nyaman sama dia. Itu rumit.”
Maya menatapnya.
“Tiga tahun, Dimas.”
“Aku tahu.”
“Tiga tahun aku hidup seperti barang selundupan.”
“Maya.”
“Dan sekarang kamu bilang rumit?”
Dimas mengusap wajahnya.
“Aku memang salah nggak cerita dari awal.”
“Cerita apa?”
“Keluargaku berharap aku menikah dengan Keisha.”
Maya merasa sesuatu di dalam dirinya berhenti.
Bukan hancur.
Justru berhenti.
Seperti mesin yang akhirnya dimatikan setelah terlalu lama dipaksa bekerja.
“Sejak kapan?”
Dimas menunduk.
Maya mengulang lebih tegas.
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum kita dekat.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Maya menatap lelaki yang tiga tahun terakhir tidur di sampingnya.
Lelaki yang mengatakan, “Nanti setelah promosi.”
Lelaki yang mengatakan, “Aku melindungimu.”
Lelaki yang mengatakan, “Sabar sebentar lagi.”
Semua janji itu ternyata dibuat ketika ia sudah tahu keluarganya menyiapkan perempuan lain.
“Jadi aku apa?”
Dimas mendekat satu langkah.
“Maya, aku sayang sama kamu.”
“Jangan.”
“Aku serius.”
“Jangan bilang sayang kalau seluruh sistem dalam hidupmu dirancang supaya aku tidak terlihat.”
Dimas kehilangan kesabaran.
“Apa kamu maunya aku melawan seluruh keluarga cuma karena kita belum tahu hubungan ini akan ke mana?”
Maya membeku.
Kalimat itu masuk jauh lebih dalam daripada semua sandal sekali pakai, gelas kertas, dan sikat gigi hotel.
Belum tahu hubungan ini akan ke mana.
Tiga tahun.
Tiga tahun bagi Dimas ternyata belum cukup untuk mengetahui apakah Maya layak diperjuangkan.
Maya mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Dimas mengerutkan kening.
“Buat apa?”
“Karena akhirnya kamu ngomong jujur.”
Maya berbalik.
Sebelum keluar, Dimas memanggilnya.
“Mulai sekarang jangan bawa masalah pribadi ke pekerjaan.”
Maya berhenti.
Lalu menoleh.
“Aku tidak pernah melakukannya.”
Tatapannya tajam.
“Yang harus hati-hati justru kamu.”
Hari-hari berikutnya berjalan lebih buruk dari yang Maya bayangkan.
Dimas tidak menghubunginya secara pribadi lagi.
Namun di kantor, perubahan sikapnya terasa jelas.
Proposal Maya yang biasanya disetujui setelah satu kali review tiba-tiba dikembalikan berkali-kali.
Rapat yang seharusnya dipimpin Maya dialihkan ke orang lain.
Aksesnya ke beberapa file strategis dibatasi.
Bahkan jadwal kunjungan proyek yang sudah ia susun selama dua bulan dipindahkan kepada staf yang lebih junior.
Semua dilakukan dengan alasan profesional.
Tidak ada satu pun yang cukup terang-terangan untuk disebut balas dendam.
Tapi Maya mengenali pola itu.
Dimas sedang membuatnya lelah.
Mendorongnya agar mengundurkan diri tanpa perlu ada konflik resmi.
Yang tidak diketahui Dimas, Maya sudah mengantisipasi kemungkinan itu.
Sejak malam di klinik, ia menyimpan semua komunikasi kerja.
Email.
Revisi proyek.
Penugasan.
Perubahan akses.
Notulen rapat.
Ia tidak mengubah apa pun.
Hanya mendokumentasikan.
Seminggu kemudian, Maya dipanggil oleh HR Business Partner, Nadine.
Di ruangan itu sudah duduk seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun dengan blazer biru tua.
Maya mengenalnya.
Ibu Helena, Direktur Regional Asia Tenggara yang jarang berada di Jakarta.
“Maya, silakan duduk,” kata Nadine.
Maya duduk.
Helena membuka tablet.
“Saya langsung ke inti saja. Selama enam bulan terakhir, kantor regional melakukan evaluasi terhadap proyek integrasi kawasan komersial kita.”
Maya mengangguk.
“Itu proyek yang tim saya kerjakan.”
“Betul.”
Helena menatapnya.
“Dan sebagian besar sistem koordinasi vendor, mitigasi keterlambatan, serta desain alur pelaporan di proyek itu ternyata dikembangkan oleh Anda.”
Maya sedikit bingung.
“Saya bekerja bersama tim.”
“Saya tahu.”
Helena tersenyum tipis.
“Karena itu saya mau tanya langsung. Apakah Anda bersedia dipindahkan ke divisi regional?”
Maya terpaku.
Kata-kata itu seperti datang dari tiga tahun lalu.
Begitu salah satu dari kita dipromosikan ke divisi regional, kita umumkan semuanya.
Suara Dimas kembali terngiang.
Ironis.
Maya menahan napas.
“Posisinya apa, Bu?”
“Regional Project Integration Manager.”
Nadine menambahkan, “Berbasis di Jakarta, tapi laporan langsung ke Singapura. Tidak lagi di bawah direktorat operasional lokal.”
Artinya satu hal.
Dimas tidak lagi menjadi atasannya.
Maya menatap Helena.
“Kenapa saya?”
Helena menyandarkan punggung.
“Karena ketika tiga proyek lain terlambat, proyek Anda justru selesai sebelas hari lebih cepat.”
Ia menggulir layar.
“Dan karena dari evaluasi internal, kami menemukan beberapa keputusan efisiensi yang selama ini tercatat atas nama direktorat ternyata berasal dari rekomendasi Anda.”
Maya menegang.
“Maaf?”
Helena menatapnya lebih serius.
“Ini bagian yang perlu kami klarifikasi.”
Ia memutar tablet.
Beberapa slide muncul.
Maya langsung mengenali dokumen itu.
Template buatannya.
Analisis biaya yang ia susun.
Bahkan kalimat-kalimat di executive summary terasa sangat familier.
Namun nama penyusun di halaman akhir bukan Maya.
Dimas Pratama.
Maya merasa darahnya turun dari wajah.
“Itu dokumen saya.”
“Kami menduga begitu.”
Helena menautkan jari.
“Karena metadata versi awal masih menyimpan ID komputer Anda.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Tiga tahun Maya mengira satu-satunya hal yang disembunyikan Dimas adalah hubungan mereka.
Ternyata bukan.
Dimas juga menggunakan pekerjaan Maya untuk membangun reputasinya sendiri.
“Apakah ini pertama kalinya?” tanya Nadine.
Maya tidak menjawab.
Ia mengingat malam-malam ketika Dimas meminta laptopnya.
“Aku cuma lihat sebentar.”
“Aku butuh angka kasar.”
“File kamu kirim ke aku aja, nanti aku rapihin.”
Dulu semuanya terasa seperti pasangan yang saling membantu.
Sekarang baru terlihat bentuk sebenarnya.
Maya menarik napas.
“Mungkin bukan.”
Investigasi internal dimulai secara diam-diam.
Selama dua minggu, Maya tetap bekerja seperti biasa.
Ia tidak memberi tahu siapa pun.
Bahkan Rani.
Dimas pun tampaknya tidak curiga.
Sampai suatu Senin pagi, seluruh kepala divisi menerima undangan rapat mendadak dari direksi regional.
Maya ikut hadir.
Dimas datang terlambat lima menit bersama Keisha.
Begitu melihat Helena di ujung meja, wajahnya berubah.
Rapat hanya berlangsung dua puluh delapan menit.
Namun bagi Dimas, mungkin terasa berjam-jam.
Helena menampilkan enam dokumen proyek.
Tiga proposal.
Dua kajian biaya.
Satu strategi vendor.
Seluruhnya pernah dipresentasikan Dimas sebagai hasil kerjanya.
Metadata menunjukkan sebagian besar dibuat oleh Maya dan dua manajer lain.
Kemudian muncul catatan revisi email.
Instruksi penghapusan nama penyusun.
Perubahan author.
Pengiriman ulang dengan kop direktorat.
Dimas membantah.
“Itu praktik kolaborasi biasa.”
Helena menggeleng.
“Kolaborasi tidak membutuhkan penghapusan jejak kontributor.”
Kalimat itu membuat Maya menatap meja.
Jejak.
Selama tiga tahun, hidupnya diatur dengan kata yang sama.
Jangan meninggalkan jejak.
Ternyata Dimas bukan hanya menghapus jejak Maya dari apartemennya.
Ia juga mencoba menghapusnya dari pekerjaannya.
Pada akhir rapat, Dimas dinonaktifkan sementara selama proses pemeriksaan.
Keisha pucat.
Semua orang diam.
Maya tidak merasa puas.
Tidak ada kemenangan dramatis.
Yang ada hanya kelelahan.
Ketika orang-orang mulai keluar, Dimas memanggilnya.
“Maya.”
Maya berhenti di pintu.
“Kamu yang laporin?”
Nada suaranya rendah.
Marah.
Maya menatapnya.
“Nggak.”
“Kamu bohong.”
“Aku bahkan baru tahu ada investigasi setelah dipanggil HR.”
Dimas mengepalkan tangan.
“Ini semua gara-gara kamu sakit hati.”
Maya hampir tidak percaya.
Bahkan setelah seluruh bukti ditampilkan, lelaki itu masih melihat dirinya sebagai korban.
Maya mendekat satu langkah.
“Tidak, Dimas.”
Suaranya tenang.
“Ini gara-gara selama bertahun-tahun kamu terlalu terbiasa menghapus nama orang lain, sampai kamu pikir nggak akan ada yang memeriksa siapa yang sebenarnya bekerja.”
Maya pergi.
Tiga minggu kemudian, Dimas resmi dicopot dari posisinya.
Perusahaan tidak mengumumkan alasan detail kepada publik internal, hanya menyebut pelanggaran tata kelola dan integritas profesional.
Keisha mengundurkan diri dua hari sesudahnya.
Orang-orang kantor mulai berbisik.
Ada yang bilang Keisha pergi karena malu.
Ada yang bilang keluarganya meminta.
Ada pula yang yakin Keisha akan menikah dengan Dimas setelah semua masalah selesai.
Maya tidak peduli.
Ia menerima posisi regional.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pekerjaannya dinilai atas namanya sendiri.
Namun kejutan terakhir datang sebulan kemudian.
Sore itu, seorang perempuan mendatangi kantor Maya.
Usianya sekitar akhir lima puluhan.
Berpakaian rapi.
Wajahnya anggun, tetapi lelah.
“Saya ibunya Dimas.”
Maya membeku.
Selama tiga tahun, nama perempuan itu selalu digunakan sebagai alasan.
Ibu sering datang mendadak.
Ibu tidak boleh tahu.
Ibu akan marah kalau ada barang perempuan.
Maya mempersilakannya duduk.
Perempuan itu meletakkan sebuah tas kecil di meja.
“Saya datang bukan untuk membela anak saya.”
Maya diam.
“Saya cuma merasa Anda perlu tahu satu hal.”
Ia mengeluarkan sebuah kotak.
Di dalamnya terdapat sepasang sandal rumah perempuan berwarna krem.
Masih baru.
Maya mengerutkan kening.
“Ibu Dimas membeli ini?”
Perempuan itu mengangguk.
“Tiga tahun lalu.”
Maya merasa jantungnya berdetak lebih keras.
“Untuk siapa?”
“Untuk Anda.”
Maya tidak mampu bicara.
“Saya tahu Dimas punya pacar.”
Perempuan itu menatap Maya langsung.
“Dia pernah menunjukkan foto Anda. Saya bahkan pernah bilang suruh bawa Anda makan ke rumah.”
Maya membeku sepenuhnya.
“Tapi Dimas bilang Anda belum siap dikenalkan.”
Dunia Maya seperti berputar pelan.
Seluruh alasan itu palsu.
Bukan hanya dilebih-lebihkan.
Palsu sejak awal.
“Ibu tidak pernah keberatan?”
“Tidak.”
Perempuan itu menggeleng.
“Saya memang kenal keluarga Keisha. Tapi saya tidak pernah menjodohkan mereka. Justru Dimas sendiri yang dekat dengan Keisha sejak kuliah.”
Maya merasakan ujung jarinya dingin.
“Lalu kenapa dia bilang keluarga berharap mereka menikah?”
Perempuan itu tersenyum getir.
“Karena Dimas selalu begitu. Kalau takut mengambil keputusan, dia menyalahkan keadaan.”
Ia mendorong kotak sandal itu ke arah Maya.
“Saya menyimpan ini karena dulu saya pikir suatu hari Anda akan datang.”
Maya menatap sandal itu lama.
Tiga tahun lalu, di saat dirinya memakai sandal hotel tipis yang harus dibuang, ternyata pernah ada sepasang sandal sungguhan yang dibeli untuknya.
Bukan Dimas yang melarang jejak Maya karena ibunya.
Dimas sendiri yang tidak pernah membiarkan jejak itu ada.
Bukan karena keadaan.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena keluarga.
Melainkan karena sejak awal, ia ingin memiliki dua kehidupan tanpa kehilangan salah satunya.
Maya menutup kotak itu perlahan.
“Terima kasih sudah datang.”
Ibu Dimas berdiri.
Sebelum pergi, ia berkata pelan, “Maaf saya baru tahu Anda diperlakukan seperti itu.”
Maya mengangguk.
Setelah pintu tertutup, ia membawa kotak sandal itu pulang.
Bukan untuk dipakai.
Malam itu, Maya membuka lemari apartemen kecil yang baru disewanya setelah pindah dari tempat lamanya.
Di rak paling bawah terdapat sepasang sandal rumah baru berwarna hijau tua yang ia beli sendiri minggu sebelumnya.
Di kamar mandi, ada gelas keramik dengan sikat giginya.
Di dapur, ada piring kesukaannya.
Semua sederhana.
Tidak ada yang mewah.
Namun semuanya permanen.
Maya membawa kotak dari ibu Dimas ke dekat tempat sampah.
Ia sempat berhenti.
Kemudian tersenyum tipis.
Kotak itu tidak jadi dibuang.
Maya menyimpannya di lemari paling atas.
Bukan sebagai kenangan tentang Dimas.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa selama bertahun-tahun, ia pernah percaya bahwa dicintai berarti bersedia mengecilkan diri agar tidak merepotkan hidup seseorang.
Padahal cinta yang benar tidak pernah meminta seseorang hidup seperti tamu.
Tidak menyuruhnya membuang sikat gigi setiap pagi.
Tidak menyuruhnya memakai sandal sekali pakai.
Tidak menghapus namanya dari pekerjaan.
Dan yang paling penting, tidak membuatnya terus bertanya apakah dirinya cukup layak untuk memiliki tempat.
Beberapa bulan kemudian, saat Maya pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kantor regional, Rani datang membantu membawa kardus.
Ketika membuka lemari sepatu, Rani tertawa.
“May, sandal rumah kamu banyak banget sekarang.”
Maya ikut tertawa.
Ada empat pasang.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk ibunya.
Dua untuk teman yang datang berkunjung.
Tidak ada sandal hotel sekali pakai.
Rani menunjuk rak kosong paling atas.
“Yang itu buat siapa?”
Maya memandang rak tersebut beberapa detik.
Lalu ia mengangkat bahu.
“Belum tahu.”
“Pacar baru?”
Maya tersenyum.
“Mungkin.”
Ia menutup lemari.
“Tapi kalau suatu hari ada orang yang mengisi rak itu, dia harus tahu satu hal.”
“Apa?”
Maya berjalan menuju dapur dan mengambil dua cangkir keramik.
“Di rumahku, nggak ada orang yang harus menghapus jejaknya supaya boleh tinggal.”
