Keesokan paginya, Bagas turun ke ruang makan dengan wajah puas.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak malam sebelumnya, perempuan yang selama ini ia anggap terlalu lembut untuk melawannya sudah berhenti menjadi istri yang hanya diam dan mengalah.
Arini sedang menuangkan susu hangat ketika Bu Endang keluar dari kamar tamu.
“Rin, nanti siang Ibu mau ke salon. Sekalian transfer dua juta, ya. Uang tunai Ibu tinggal sedikit.”
Arini berhenti menuang susu.
Biasanya ia akan mengangguk, mengambil ponsel, lalu mengirim uang tanpa bertanya. Selama tiga bulan Bu Endang tinggal bersama mereka, permintaan seperti itu sudah menjadi kebiasaan.
Namun pagi itu Arini hanya tersenyum.
“Maaf, Bu. Mulai sekarang pengeluaran pribadi ditanggung masing-masing.”
Bu Endang mengernyit.
“Maksudmu?”
Arini melirik Bagas.
“Kan sekarang kami sudah menerapkan sistem 50/50.”
Sendok di tangan Bagas berhenti bergerak.
Arini melanjutkan dengan nada tenang.
“Jadi saya pikir lebih baik semuanya benar-benar jelas. Pengeluaran saya, tanggung jawab saya. Pengeluaran Mas Bagas, tanggung jawab Mas Bagas. Kalau kebutuhan Ibu, mungkin bisa dibicarakan langsung dengan anak Ibu.”
Wajah Bu Endang langsung berubah.
“Bagas, istrimu ngomong apa ini?”
“Sudahlah, Bu.”
Bagas menatap Arini tajam.
“Kamu nggak perlu bersikap kekanak-kanakan cuma gara-gara perjanjian itu.”
Arini hampir tertawa.
Justru Bagas sendiri yang menulis enam halaman aturan tersebut.
Namun ia memilih tidak menjawab.
Ia mengambil tas kerja dan folder biru dari meja.
“Aku berangkat dulu.”
Tatapan Bagas sempat jatuh pada folder itu.
“Apa itu?”
“Dokumen kantor.”
Arini berjalan keluar sebelum suaminya sempat bertanya lagi.
Di dalam mobil, ia menarik napas panjang.
Pertemuan pertamanya pagi itu bukan dengan klien Studio Kriya.
Melainkan dengan Maya.
Pengacara itu sudah menunggu di sebuah kantor notaris di kawasan Kuningan. Di atas meja terdapat salinan mutasi rekening, tangkapan layar percakapan Bagas dengan ibunya, dokumen kepemilikan ruko, dan perjanjian 50/50 yang ditandatangani semalam.
Maya membaca semuanya dengan teliti.
“Bagas melakukan kesalahan besar.”
Arini menatapnya.
“Karena memindahkan uang bersama?”
“Bukan cuma itu.”
Maya mengangkat perjanjian enam halaman tersebut.
“Dia memberikan bukti tertulis bahwa mulai tanggal ini dia sendiri menghendaki pemisahan tanggung jawab finansial. Memang dokumen ini bukan otomatis menjadi perjanjian perkawinan yang mengubah status seluruh harta kalian. Tapi kalau nanti dia mencoba mengklaim semua asetmu sebagai milik bersama, dokumen ini justru membantu menunjukkan pola sikap dan niatnya.”
Arini mengangguk perlahan.
“Lalu soal empat ratus tiga puluh juta?”
“Kita kumpulkan bukti sumber dananya dulu. Jangan bertindak terburu-buru.”
Arini mengeluarkan dokumen dari folder biru.
Sertifikat rumah Tebet.
Dokumen royalti.
Rekening investasi sebelum menikah.
Bukti pembayaran uang muka rumah dari orang tuanya.
Maya memeriksa satu per satu.
Semakin lama, ekspresinya semakin serius.
“Bagas tahu semua ini?”
“Dia tahu rumah ini atas namaku. Tapi dia selalu mengira karena kami sudah menikah, pada akhirnya semuanya bisa dia kuasai.”
“Dan royalti?”
“Dia bahkan tidak tahu jumlahnya.”
Maya menutup folder.
“Bagus. Mulai hari ini, jangan tandatangani dokumen lain tanpa saya periksa.”
Tiga hari berikutnya berjalan aneh.
Arini tetap bekerja.
Tetap pulang tepat waktu.
Tetap berbicara seperlunya.
Justru ketenangan itulah yang mulai membuat Bagas gelisah.
Pada malam keempat, ia masuk ke kamar sambil membawa ponsel.
“Rin.”
“Hm?”
“Ada tagihan cicilan ruko yang jatuh tempo.”
Arini yang sedang membaca buku kehamilan tidak mengangkat kepala.
“Terus?”
“Aku butuh transfer seratus juta dari rekening bersama.”
Arini menutup bukunya.
“Rekening bersama?”
“Iya.”
“Bukannya hampir habis?”
Wajah Bagas menegang.
Untuk pertama kalinya, ia sadar Arini sudah mengetahui sesuatu.
“Siapa bilang?”
“Aku pemilik rekening itu juga, Gas. Aku bisa melihat mutasinya.”
Keheningan langsung memenuhi kamar.

Bagas menatap istrinya beberapa detik.
Kemudian ekspresinya berubah defensif.
“Aku memang pakai sebagian.”
“Empat ratus tiga puluh juta bukan sebagian.”
“Itu investasi keluarga.”
“Keluarga siapa?”
Nada Arini tetap datar.
“Karena nama yang tercantum di ruko itu Endang Suprihatin dan Bagas Pratama. Tidak ada namaku.”
Wajah Bagas memucat.
“Kamu menyelidiki aku?”
Arini tertawa pendek.
“Lucu. Kamu mengambil uang kita diam-diam, lalu ketika aku memeriksa rekening milikku sendiri, kamu menyebutnya menyelidiki?”
Pintu kamar mendadak terbuka.
Bu Endang berdiri di sana.
“Memangnya kenapa kalau Bagas membeli ruko untuk ibunya?”
Arini menatap perempuan itu.
“Tidak ada masalah kalau menggunakan uangnya sendiri.”
“Bagas itu suamimu. Uang istri juga uang suami.”
Kalimat itu membuat Arini diam sesaat.
Kemudian ia mengambil salinan perjanjian 50/50 dari meja.
“Kalau begitu, ini apa?”
Bu Endang terdiam.
Arini menyerahkan dokumen itu kepada Bagas.
“Kalian tidak bisa memilih aturan hanya ketika menguntungkan kalian.”
Bagas meremas kertas tersebut.
“Jangan sok pintar, Rin. Kamu pikir karena gajimu lumayan, kamu bisa hidup tanpa aku?”
Arini menatapnya lama.
Itulah kalimat yang ia tunggu.
Bukan karena menyakitkan.
Melainkan karena akhirnya Bagas mengatakan dengan jelas apa yang selama ini ia yakini.
Bagas benar-benar tidak mengenal istrinya.
“Besok jam sepuluh pagi,” kata Arini. “Datang ke kantor Maya.”
“Untuk apa?”
“Kita selesaikan semuanya.”
Bagas tertawa meremehkan.
“Perceraian?”
Arini tidak menjawab.
Keesokan harinya Bagas datang terlambat dua puluh menit.
Bu Endang ikut bersamanya.
Begitu masuk ke ruang pertemuan, Bagas melihat Arini duduk di samping Maya dan seorang akuntan.
Folder biru tergeletak di meja.
“Apa-apaan ini?”
Maya mempersilakan mereka duduk.
“Kami ingin membicarakan dana bersama yang dialihkan oleh Pak Bagas.”
Bagas langsung bersandar.
“Ini masalah rumah tangga saya.”
“Benar,” jawab Maya. “Dan Ibu Arini adalah bagian dari rumah tangga tersebut.”
Akuntan kemudian meletakkan hasil penelusuran transaksi di atas meja.
Uang Rp430 juta yang dikirim kepada Bu Endang ternyata tidak berhenti di rekening itu.
Sebagian digunakan untuk uang muka ruko.
Sebagian membayar cicilan.
Namun ada satu transaksi lain yang tidak diketahui Arini sebelumnya.
Rp85 juta dikirim kembali dari rekening Bu Endang ke rekening pribadi Bagas.
Arini mengangkat wajah.
“Untuk apa delapan puluh lima juta ini?”
Bagas diam.
“Gas?”
“Biaya pribadi.”
“Biaya apa?”
Bu Endang tiba-tiba menyela.
“Sudahlah. Laki-laki punya kebutuhan sendiri.”
Maya mendorong satu lembar bukti ke tengah meja.
Akuntan keluarga Arini telah menemukan bahwa uang itu digunakan Bagas untuk menutup kerugian dari investasi spekulatif yang dilakukannya secara pribadi.
Lebih buruk lagi, Bagas ternyata memiliki utang hampir Rp600 juta.
Selama setahun terakhir, ia berinvestasi menggunakan fasilitas pinjaman karena yakin akan mendapatkan keuntungan besar.
Ketika investasinya jatuh, ia mulai mengambil uang rumah tangga.
Ruko di Solo bukan sekadar investasi untuk ibunya.
Aset itu sengaja ditempatkan atas nama Bagas dan Bu Endang karena Bagas takut aset pribadinya kelak disita kreditur.
Arini menatap suaminya tanpa berkedip.
“Jadi ini alasan sebenarnya?”
Bagas mengepalkan tangan.
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Dengan uang siapa?”
“Aku cuma butuh waktu.”
“Dengan uang siapa, Gas?”
Bagas tidak menjawab.
Bu Endang mulai meninggikan suara.
“Kamu istrinya! Kalau suami sedang susah, seharusnya kamu membantu!”
Arini menoleh kepadanya.
“Saya sudah membantu selama tiga tahun.”
Ia kemudian menyebut satu demi satu.
Cicilan rumah sebagian besar dibayarnya.
Biaya rumah tangga sering kali ditutup dari penghasilannya.
Kebutuhan Bu Endang selama tinggal di Jakarta juga banyak ia tanggung.
Bahkan sebagian besar uang di rekening bersama berasal dari bonus dan pendapatan Arini.
“Dan ketika saya hamil,” lanjutnya, “anak Ibu menyuruh saya membayar separuh biaya melahirkan karena katanya kehamilan terjadi di tubuh saya.”
Bu Endang kehilangan kata-kata.
Bagas berdiri.
“Cukup!”
Arini tidak bergerak.
“Duduk, Gas.”
Entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat Bagas benar-benar duduk kembali.
Maya membuka folder biru.
Sertifikat rumah diletakkan pertama.
“Rumah Tebet dibeli sebelum sebagian besar pembayaran yang disengketakan ini dan terdapat bukti kontribusi dana keluarga Ibu Arini yang harus diperhitungkan secara hukum.”
Dokumen kedua.
Portofolio investasi Arini sebelum menikah.
Dokumen ketiga.
Kontrak royalti desain.
Dokumen keempat.
Catatan pembayaran cicilan rumah dari rekening Arini.
Bagas memandang semuanya seperti orang yang baru mengenal perempuan di depannya.
“Royalti sebanyak ini?”
Arini tidak menjawab.
Selama ini Bagas mengira pendapatan istrinya hanya berasal dari gaji kantor.
Padahal beberapa koleksi furnitur Arini digunakan jaringan hotel dan restoran di berbagai negara.
Jumlah aset finansial pribadi yang telah ia bangun jauh lebih besar daripada perkiraan Bagas.
Bu Endang tampak paling terkejut.
“Kamu punya uang sebanyak itu dan selama ini membiarkan Bagas susah?”
Arini tersenyum getir.
“Saya punya kemampuan untuk membantu suami saya. Tapi saya tidak punya kewajiban membiayai kebohongannya.”
Kemudian Arini mengeluarkan dokumen terakhir.
Surat permohonan perceraian yang telah disiapkan Maya.
Wajah Bagas berubah.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Kita punya anak.”
Tangan Arini spontan menyentuh perutnya.
“Justru karena aku punya anak.”
Bagas terdiam.
“Aku tidak mau anak kita tumbuh dan belajar bahwa cinta berarti membiarkan seseorang mengambil keuntungan darimu. Aku juga tidak mau kalau anak kita perempuan, suatu hari dia percaya bahwa rasa sakitnya harus dihitung sebagai pengeluaran pribadinya.”
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, Bagas terlihat kehilangan seluruh kesombongannya.
“Rin, kita bisa bicara di rumah.”
“Sudah terlambat.”
Bagas menatap folder biru.
“Apa maumu?”
“Pengembalian bagian dana yang menjadi hakku dan penyelesaian seluruh kewajiban sesuai proses hukum. Setelah itu, kita berpisah.”
“Kalau aku tidak setuju?”
Maya menjawab tenang.
“Pengadilan yang akan menilai bukti-buktinya.”
Bagas membuang pandangan.
Ia tahu permainan itu selesai.
Namun kejutan terbesar baru datang dua minggu kemudian.
Ketika proses audit finansial berjalan lebih jauh, Maya menelepon Arini.
“Rin, kamu harus lihat sesuatu.”
Arini datang ke kantor sore itu.
Di layar laptop terdapat dokumen pengajuan kredit.
Bagas pernah mencoba menggunakan rumah Tebet sebagai bagian dari profil aset untuk mendapatkan fasilitas pinjaman yang lebih besar.
Pengajuan tersebut gagal karena sertifikat asli tidak pernah berada di tangannya.
Arini langsung teringat sesuatu.
Enam bulan sebelumnya, Bagas pernah berkali-kali bertanya di mana sertifikat rumah disimpan.
Saat itu ia mengaku hanya ingin memperbarui data keluarga.
Folder biru yang selama ini dianggap Bagas tidak penting ternyata menjadi satu-satunya alasan rumah tersebut tidak ikut terseret ke dalam utangnya.
Arini menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, air matanya jatuh.
Bukan karena kehilangan Bagas.
Melainkan karena menyadari betapa dekat dirinya dan calon anaknya dengan kehancuran finansial tanpa pernah mengetahuinya.
Empat bulan kemudian, Arini berdiri di depan jendela kamar bayi yang baru selesai direnovasi.
Bagas sudah meninggalkan rumah.
Ruko di Solo akhirnya dijual untuk membantu menyelesaikan kewajiban finansial dan sengketa dana mereka. Bu Endang kembali ke Solo.
Proses perceraian masih berjalan, tetapi Arini tidak lagi merasa takut menghadapi masa depan.
Kehamilannya memasuki trimester ketiga.
Suatu sore, sebuah paket tiba di rumah.
Pengirimnya Bagas.
Di dalamnya terdapat salinan perjanjian 50/50 yang dulu ia buat.
Pada halaman terakhir, Bagas menulis dengan tangan.
“Aku baru mengerti bahwa adil tidak selalu berarti membagi semuanya menjadi dua.”
Arini membaca kalimat itu lama.
Kemudian ia memasukkan kertas tersebut kembali ke dalam folder biru.
Bukan sebagai kenangan tentang pernikahannya.
Melainkan sebagai pelajaran.
Beberapa minggu kemudian, Arini melahirkan seorang bayi perempuan sehat.
Saat perawat meletakkan bayi kecil itu di dadanya, Arini menangis.
Jari mungil putrinya menggenggam telunjuknya begitu kuat.
Arini tersenyum di antara air mata.
“Namamu Kirana,” bisiknya. “Karena kamu datang ketika Mama akhirnya berani melihat semuanya dengan terang.”
Di luar kamar bersalin, Maya menunggu bersama kedua orang tua Arini.
Bagas tidak ada di sana.
Namun untuk pertama kalinya, ketidakhadirannya tidak terasa seperti kehilangan.
Arini menatap wajah putrinya dan akhirnya memahami sesuatu.
Selama berbulan-bulan ia mengira kemenangan terbesar adalah berhasil mempertahankan rumah, tabungan, dan hasil kerja kerasnya.
Ternyata bukan.
Kemenangan terbesarnya adalah berhenti membayar harga untuk sebuah hubungan yang hanya bertahan selama dirinya bersedia mengorbankan lebih banyak.
Folder biru itu kemudian disimpan Arini di lemari kecil dekat meja kerjanya.
Suatu hari nanti, ketika Kirana sudah cukup dewasa, mungkin Arini akan menunjukkan isi folder tersebut kepadanya.
Bukan untuk menceritakan betapa buruk ayahnya.
Bukan pula untuk mengajarkan putrinya agar mencurigai setiap orang yang ia cintai.
Arini hanya ingin Kirana memahami satu hal.
Dalam hubungan yang sehat, uang memang harus dibicarakan dengan jujur. Tanggung jawab harus dibagi. Masa depan harus direncanakan bersama.
Namun cinta bukan laporan laba rugi.
Kehamilan bukan tagihan pribadi seorang perempuan.
Dan keadilan tidak pernah berarti seseorang boleh menikmati separuh kebahagiaan sambil menyerahkan seluruh pengorbanan kepada pasangannya.
Bagas pernah mengira enam halaman perjanjian dan satu tanda tangan telah membuatnya menang.
Ia tidak tahu bahwa pada malam yang sama, Arini membuka folder biru dan menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh aset di dalamnya.
Keberanian untuk menentukan harga dirinya sendiri.
