Maya menatap tanda tangan ibunya sampai huruf-huruf di atas kertas itu mulai terlihat kabur.
Kereta terus melaju meninggalkan Bogor, tetapi pikirannya seolah tertinggal di rumah orang tuanya. Beberapa menit lalu, ia masih menganggap Reza sebagai satu-satunya orang yang harus dicurigai. Sekarang sebuah kemungkinan yang jauh lebih menyakitkan mulai muncul.
Bagaimana jika Ibu Ratna terlibat?
Maya menarik napas panjang, lalu membaca kembali dokumen itu. Tanda tangan miliknya jelas palsu. Namun tanda tangan ibunya terlalu sempurna. Bukan hanya bentuk hurufnya. Ada tekanan khas pada huruf terakhir yang selalu dibuat Ibu Ratna sejak Maya masih kecil.
Ponselnya kembali bergetar.
Reza menelepon.
Maya membiarkannya sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
“Kok tidak dijawab? Masih sama Ayah?”
Maya teringat pesan Pak Darmawan. Jangan telepon Reza. Jangan kirim pesan kepadanya.
Ia memasukkan ponsel ke tas dan turun di Stasiun Manggarai. Alih-alih pulang ke Kemang, Maya berjalan ke sebuah kedai kopi di dalam pusat perbelanjaan dekat stasiun. Ia memilih meja paling belakang, kemudian menghubungi ayahnya melalui aplikasi pesan menggunakan panggilan internet.
Pak Darmawan mengangkat pada dering pertama.
“Kamu sudah buka amplopnya?”
“Ayah tahu tanda tangan Ibu ada di sana?”
Hening.
“Ayah tahu?”
“Ayah baru mengetahuinya tadi siang.”
“Kenapa Ayah tidak bilang langsung?”
“Karena Ayah belum tahu apakah tanda tangan itu asli.”
Maya menutup mata.
“Aku harus bagaimana?”
“Hubungi Bima.”
Pak Darmawan memberikan sebuah nomor.
“Jangan pulang ke apartemen. Bima sudah menunggumu.”
Empat puluh menit kemudian, Maya bertemu Bima di sebuah restoran kecil di Tebet.
Ia mengingat laki-laki itu sebagai remaja kurus berkacamata yang beberapa kali datang bersama ayahnya ketika mereka masih sekolah. Kini Bima berusia pertengahan tiga puluhan, mengenakan kemeja putih dan membawa tas kerja hitam.
Tanpa banyak basa-basi, Bima mengeluarkan sebuah tablet.
“Aku akan menunjukkan sesuatu, tapi kamu harus tenang.”
Maya hampir tertawa mendengarnya.
“Dalam dua jam terakhir aku mengetahui suamiku memalsukan tanda tanganku dan mungkin ibuku membantu dia menggadaikan apartemenku. Menurutmu aku masih bisa tenang?”
Bima tidak menjawab.
Ia memutar sebuah rekaman CCTV.
Gambar itu berasal dari lobi kantor notaris tiga hari sebelumnya.
Reza masuk lebih dulu.
Kemudian seorang perempuan berjalan di belakangnya.
Maya membeku.
Perempuan itu mengenakan masker, tetapi cara berjalan dan bentuk tubuhnya terlalu familiar.
“Ibu…”
Bima menghentikan rekaman.
“Aku tidak mau membuat kesimpulan sebelum kamu melihatnya sendiri.”
Maya merasa tenggorokannya mengering.
“Jadi tanda tangan itu asli.”
“Belum tentu.”
“Aku mengenali ibuku.”
“Yang perlu kita pastikan adalah apa yang dia tandatangani dan dalam kondisi seperti apa.”
Bima menjelaskan bahwa dokumen yang ditemukan Pak Darmawan hanyalah salinan draf. Belum ada pencairan kredit. Hak tanggungan atas apartemen juga belum resmi didaftarkan. Namun prosesnya sudah cukup jauh.
Ada surat kuasa, fotokopi identitas, salinan sertifikat, bahkan dokumen pendukung yang seharusnya berada di lemari pribadi Maya.
“Reza punya akses ke semua itu,” gumam Maya.
Bima mengangguk.
“Dan besok pagi seharusnya ada pertemuan terakhir.”
Maya mengangkat kepala.
“Besok?”
“Kalau tidak dihentikan, mereka akan mencoba menyelesaikan prosesnya.”
Maya langsung berdiri.
“Aku mau pulang.”
“Jangan.”
“Aku harus menghadapi Reza.”
“Itu justru yang dia harapkan kalau dia sadar kamu sudah tahu.”
Maya mengepalkan tangan.
Bima menatapnya serius.
“Kalau kamu pulang dan marah malam ini, dia bisa menghancurkan bukti. Kita biarkan dia berpikir semuanya masih berjalan sesuai rencana.”
Maya tidak pernah membayangkan bahwa untuk menyelamatkan rumahnya sendiri, ia harus berpura-pura tidak tahu bahwa suaminya sedang berusaha mencurinya.
Malam itu ia menginap di rumah sahabatnya, Dina, dengan alasan lembur di klinik. Kepada Reza, ia hanya mengirim satu pesan pendek setelah mendapat persetujuan Bima.
“Aku capek. Menginap di rumah Dina. Besok pagi pulang.”
Balasan Reza datang cepat.
“Oke. Istirahat.”
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada rasa khawatir.
Maya justru semakin yakin.
Keesokan paginya, Bima membawanya ke sebuah kantor hukum di Jakarta Selatan. Pak Darmawan sudah berada di sana bersama seorang pengacara senior bernama Surya.
Maya terkejut melihat ayahnya.
“Ayah seharusnya istirahat.”
Pak Darmawan tersenyum tipis.
“Apartemen itu dibeli ibumu dari hasil kerja keras nenekmu. Ayah tidak akan duduk di rumah ketika seseorang mencoba mengambilnya.”
Maya terdiam.
“Ayah, tentang Ibu…”
Wajah Pak Darmawan berubah.
“Ayah juga belum mengerti.”
Rencana mereka sederhana.
Maya tidak akan menghentikan pertemuan Reza.
Ia justru akan datang.
Sekitar pukul sebelas, mereka tiba di kantor notaris di kawasan Kuningan.
Reza sudah berada di ruang pertemuan.
Ketika Maya membuka pintu, wajah suaminya berubah pucat.
“Maya?”
Di sampingnya duduk seorang pria berjas yang tidak Maya kenal.
Dan di ujung meja…
Ibu Ratna.
Maya merasa sesuatu di dadanya runtuh.
“Ibu?”
Ratna langsung berdiri.
“Maya, dengarkan Ibu dulu.”
“Apa yang harus kudengarkan?”
Suara Maya bergetar.
“Bahwa Ibu membantu suamiku memalsukan tanda tanganku?”
Reza ikut berdiri.
“Kamu salah paham.”

Maya menatapnya.
“Duduk.”
Hanya satu kata.
Namun untuk pertama kalinya selama delapan tahun pernikahan mereka, Reza benar-benar menurut.
Bima dan Surya masuk setelahnya.
Wajah Reza semakin pucat.
Maya meletakkan salinan dokumen di atas meja.
“Rp2,4 miliar.”
Ia menatap suaminya.
“Berapa besar utangmu sebenarnya?”
Reza mengusap wajah.
“Maya, dengar dulu. Aku cuma butuh modal sementara.”
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Dengan menjual apartemenku?”
“Aku tidak akan menjualnya.”
Bima menyela.
“Perjanjian awal jual beli mengatakan sebaliknya.”
Reza terdiam.
Maya kemudian menoleh kepada ibunya.
“Sekarang Ibu.”
Ratna menangis.
“Ibu tidak tahu.”
Maya tertawa getir.
“Tanda tangan Ibu ada di dokumen.”
“Ibu memang tanda tangan.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang Maya bayangkan.
Pak Darmawan yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Ratna.”
Nada suaranya penuh kekecewaan.
Ratna menutup wajah.
“Reza bilang Maya sedang kesulitan.”
Maya membeku.
“Apa?”
“Dia datang dua minggu lalu. Katanya kamu punya utang di klinik karena kesalahan administrasi. Katanya kalau tidak segera dibayar, kamu bisa kehilangan pekerjaan dan bahkan dilaporkan.”
Maya menatap Reza.
Laki-laki itu menghindari tatapannya.
Ratna melanjutkan dengan suara bergetar.
“Dia bilang apartemen itu perlu dijadikan jaminan sementara. Katanya kamu terlalu malu untuk cerita kepada Ayah dan Ibu.”
“Dan Ibu percaya?”
“Dia suamimu.”
Jawaban itu sederhana.
Justru karena itulah rasanya menyakitkan.
Ratna mengeluarkan ponselnya.
“Dia menunjukkan pesan.”
Maya mengambil ponsel tersebut.
Di layar terdapat percakapan dengan nomor yang memakai foto profil Maya.
Pesannya berbunyi seolah-olah Maya sendiri yang meminta ibunya membantu Reza dan merahasiakannya dari Pak Darmawan.
Maya menatap nomor tersebut.
Bukan nomornya.
Reza telah membuat akun lain menggunakan foto Maya.
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Darmawan menatap istrinya.
“Kenapa kamu tidak menelepon Maya?”
Ratna menangis semakin keras.
“Karena di pesan itu Maya bilang jangan menelepon. Katanya Reza sedang stres dan dia takut masalahnya makin besar.”
Maya merasakan kemarahannya berubah arah.
Ibunya memang melakukan kesalahan besar.
Namun orang yang menyusun semuanya tetap sama.
Reza.
Surya meminta semua orang duduk.
“Kita belum selesai.”
Ia mengeluarkan dokumen lain.
“Pak Reza bukan hanya mengajukan kredit dengan jaminan apartemen.”
Maya menatapnya.
“Apa lagi?”
“Dia sudah menerima uang muka dari calon pembeli.”
Bima meletakkan bukti transfer di atas meja.
Rp650 juta.
Masuk ke rekening perusahaan Reza sebelas hari sebelumnya.
Maya hampir tidak bisa berbicara.
“Kamu sudah menerima uang?”
Reza berdiri.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Bisnisku punya utang.”
“Berapa?”
Reza diam.
“Berapa?”
“Sekitar tiga miliar.”
Maya menatapnya tidak percaya.
Selama ini Reza hanya mengatakan bisnisnya sedang sepi.
Tidak pernah tiga miliar.
“Uangnya ke mana?”
Reza kembali diam.
Bima menjawab.
“Sebagian besar bukan utang bisnis.”
Ia membuka beberapa catatan transaksi.
“Ada transfer rutin ke satu rekening pribadi selama hampir dua tahun.”
Nama penerima muncul di layar.
Selvi Anindita.
Maya tidak mengenal nama itu.
Namun ketika Bima memperlihatkan foto berikutnya, Maya langsung mengenali perempuan yang beberapa kali dilihatnya di unggahan media sosial showroom milik Reza.
Manajer pemasaran.
Maya tidak menangis.
Aneh sekali.
Setelah semua kebohongan itu, ia justru merasa sangat tenang.
“Dia siapa?”
Reza menunduk.
“Maya…”
“Dia siapa?”
Reza akhirnya menjawab pelan.
“Selvi.”
“Aku tahu namanya. Aku tanya hubunganmu dengan dia.”
Tidak ada jawaban.
Diamnya sudah cukup.
Ratna memegang dada.
Pak Darmawan memejamkan mata.
Maya hanya mengangguk kecil.
Jadi apartemen neneknya bukan sekadar akan digunakan untuk menyelamatkan bisnis Reza.
Sebagian uang itu akan menutup utang yang tercipta karena kehidupan lain yang dibangun suaminya diam-diam.
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Maya tertawa pelan.
Delapan tahun menikah.
Dua tahun dikhianati.
Dan hampir kehilangan satu-satunya warisan neneknya untuk membayar harga pengkhianatan itu.
Reza mendekatinya.
“Aku salah. Tapi aku melakukan semua ini karena terdesak.”
Maya mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Tidak.”
“Maya, kita sudah delapan tahun bersama.”
“Justru karena delapan tahun itulah aku tahu kapan sesuatu sudah tidak bisa diperbaiki.”
Pertemuan berakhir dengan pembatalan proses transaksi. Pengacara Maya juga mengirimkan pemberitahuan resmi kepada pihak-pihak terkait bahwa seluruh dokumen yang menggunakan tanda tangannya tanpa persetujuan harus dihentikan dan diperiksa.
Reza masih mencoba membujuknya selama beberapa hari.
Ketika bujukan gagal, ia mulai menyalahkan Maya.
Katanya Maya tidak pernah mendukung mimpinya.
Katanya Pak Darmawan selalu memandang rendah dirinya.
Katanya semua ini tidak akan terjadi jika Maya bersedia menjual apartemen sejak awal.
Maya tidak membalas satu pun.
Sebulan kemudian, ia mengajukan gugatan cerai.
Namun kejutan terakhir datang bukan dari Reza.
Melainkan dari Pak Darmawan.
Suatu sore, ketika Maya sedang membereskan barang-barang Reza yang tersisa di apartemen, ayahnya datang membawa map biru.
“Ayah harus mengakui sesuatu.”
Maya menatapnya.
“Apa lagi?”
Pak Darmawan duduk.
“Bima tidak menemukan Reza secara kebetulan.”
Maya berhenti bergerak.
“Apa maksud Ayah?”
“Ayah yang meminta Bima mengawasinya.”
Maya menatap ayahnya lama.
“Sejak kapan?”
“Hampir empat bulan.”
Maya tidak percaya.
“Kenapa?”
Pak Darmawan mengeluarkan selembar kertas lama.
Itu surat dari Nenek Lestari.
Ditulis beberapa bulan sebelum beliau meninggal.
Di dalam surat itu, neneknya mengatakan bahwa apartemen tersebut diberikan kepada Maya bukan semata-mata sebagai harta.
Melainkan sebagai jalan keluar.
Jika suatu hari Maya berada dalam pernikahan yang membuatnya takut, bergantung, atau kehilangan dirinya sendiri, ia harus ingat bahwa ia selalu mempunyai tempat untuk pulang.
Mata Maya mulai panas.
Pak Darmawan berkata pelan,
“Nenekmu pernah hidup bertahun-tahun dengan laki-laki yang mengendalikan seluruh uangnya. Dia tidak ingin cucunya mengalami hal yang sama.”
Maya memegang surat itu dengan tangan gemetar.
“Ayah mulai curiga ketika Reza berkali-kali bertanya tentang sertifikat apartemen. Lalu dia pernah menelepon Ayah dan bertanya apakah properti warisan bisa dijadikan jaminan tanpa persetujuan keluarga.”
“Kenapa Ayah tidak memberitahuku?”
“Karena kalau Ayah hanya mengatakan Reza tidak baik, kamu mungkin akan membelanya.”
Maya tidak bisa menyangkal.
Beberapa bulan lalu, ia mungkin memang akan melakukan itu.
“Ayah ingin kamu melihat sendiri.”
Maya menangis untuk pertama kalinya sejak hari di kantor notaris.
Bukan karena Reza.
Bukan karena Selvi.
Bukan karena uang.
Melainkan karena akhirnya ia memahami mengapa ayahnya berlari setengah blok meski paru-parunya belum pulih hanya untuk menyelipkan amplop ke tangannya.
Enam bulan kemudian, perceraian Maya selesai.
Ia tetap tinggal di apartemen Kemang.
Bukan karena bangunan itu mahal.
Bukan karena lokasinya strategis.
Tetapi karena untuk pertama kalinya ia memahami arti sebenarnya dari warisan Nenek Lestari.
Suatu Minggu pagi, Maya duduk di balkon sambil minum kopi ketika Ibu Ratna datang membawa asinan dari Bogor.
Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih.
Namun mereka sedang belajar.
Ratna duduk di samping putrinya.
“Ibu masih merasa bersalah.”
Maya menatap jalan di bawah.
“Aku juga masih marah.”
Ratna mengangguk.
“Itu wajar.”
Beberapa saat mereka hanya diam.
Kemudian Maya berkata,
“Tapi lain kali kalau ada orang mengirim pesan mengatasnamakan aku, telepon aku.”
Ratna tertawa kecil di sela air matanya.
“Pasti.”
Maya ikut tersenyum.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Bima.
Proses hukum terhadap pemalsuan dokumen Reza memasuki tahap berikutnya. Pemeriksaan transaksi juga menemukan bahwa sebagian besar uang muka Rp650 juta masih dapat dilacak.
Namun ada satu informasi lain.
Selvi telah memberikan keterangan.
Dan menurut keterangannya, ia tidak pernah tahu Reza masih menikah.
Reza mengatakan kepada Selvi bahwa Maya adalah mantan istrinya yang menolak menjual aset bersama.
Maya membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia tertawa.
Ternyata kebohongan Reza bahkan lebih luas daripada yang ia bayangkan.
Ia tidak hanya membangun kehidupan palsu untuk Maya.
Ia juga membangun kehidupan palsu untuk perempuan lain.
Maya mematikan layar ponselnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu mengetahui lebih banyak.
Ada masa ketika ia mengira mengetahui seluruh rahasia Reza akan memberinya ketenangan.
Ternyata bukan begitu.
Ketenangan datang ketika ia berhenti menjadikan kebohongan laki-laki itu sebagai pusat hidupnya.
Maya mengambil surat Nenek Lestari yang kini selalu ia simpan di laci dekat balkon.
Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat yang baru benar-benar ia pahami setelah semuanya berakhir.
Rumah bukanlah tempat yang membuatmu bertahan karena takut kehilangan sesuatu.
Rumah adalah tempat yang tetap menjadi milikmu ketika seseorang mencoba mengambil semuanya.
Maya memandang apartemen yang hampir dirampas darinya.
Kemudian ia teringat amplop kuning di tangan ayahnya.
Hari itu, Pak Darmawan mengira ia sedang menyelamatkan sebuah apartemen.
Padahal tanpa mereka sadari, yang sebenarnya ia selamatkan adalah putrinya.
