Pagi berikutnya, pukul 06.17, Raka Mahendra berdiri di tengah ruang keluarga rumah Pondok Indah yang mendadak terasa asing.
Lemari pakaian di lantai dua hampir kosong. Meja kerja Alya sudah bersih. Tidak ada parfum, buku catatan, atau cangkir kopi yang biasanya dibiarkan di dekat laptop. Bahkan tanaman kecil yang selama tiga tahun dirawat Alya di dekat jendela sudah dibawa pergi.
Yang tersisa hanya sebuah amplop cokelat di atas meja makan.

Raka membukanya dengan tangan kaku.
Di dalamnya ada kunci rumah, kunci mobil, kartu akses apartemen keluarga Mahendra, dan sebuah catatan pendek.
Aku sudah mengembalikan semua yang berasal darimu.
Yang kubawa hanya milikku sendiri.
Raka membaca kalimat itu dua kali.
Entah kenapa, justru bagian terakhir terasa seperti tamparan.
Selama lima tahun, dia selalu percaya Alya tidak akan benar-benar pergi. Menurutnya, perempuan yang pernah datang ke Jakarta dengan koper murah, bekerja sebagai resepsionis hotel, dan tinggal di kamar kos sempit di Tebet pasti akan berpikir seribu kali sebelum melepaskan kehidupan nyaman yang diberikan keluarga Mahendra.
Dia salah.
Pukul tujuh pagi, ponselnya mulai dipenuhi pesan.
Vendor dekorasi meminta konfirmasi desain utama.
Sponsor mempertanyakan perubahan materi presentasi.
Tim produksi gala keluarga Mahendra memberi tahu bahwa mereka tidak memiliki izin untuk menggunakan visual, konsep panggung, dan rancangan interior yang selama ini dipresentasikan sebagai bagian dari proyek perusahaan.
Semuanya ternyata berada di bawah hak penggunaan Studio Arunika.
Studio milik Alya.
Raka meneleponnya tujuh kali.
Tidak ada jawaban.
Telepon kedelapan akhirnya diangkat.
“Alya.”
“Ya?”
Suara Alya terdengar tenang.
Tidak marah. Tidak menangis.
Justru itu yang membuat Raka semakin gelisah.
“Kita harus bicara.”
“Kalau tentang barang-barangmu, semuanya sudah kukembalikan.”
“Bukan itu.”
Raka berjalan menuju jendela.
“Proyek gala.”
“Aku sudah mengundurkan diri.”
“Kamu tidak bisa begitu saja pergi.”
“Aku bisa.”
“Keluargaku sudah membayar proyek itu.”
“Mahendra Group membayar biaya pelaksanaan. Bukan hak kekayaan intelektual atas konsepku.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.
“Kontraknya jelas. Aku memberi izin penggunaan selama Studio Arunika menjadi konsultan kreatif proyek tersebut. Begitu kerja sama dihentikan, materi yang belum dibeli hak penuhnya tidak boleh digunakan.”
“Siapa yang menghentikan kerja sama?”
“Aku.”
Raka mengepalkan tangan.
“Kamu sengaja melakukan ini untuk balas dendam?”
Alya menarik napas.
“Tidak, Raka. Aku hanya berhenti memberikan tenaga, ide, dan hidupku pada orang-orang yang menganggap semuanya milik mereka.”
Telepon terputus.
Dua jam kemudian, ruang rapat lantai tiga puluh dua gedung Mahendra Group dipenuhi wajah tegang.
Surya Mahendra, ayah Raka, melempar beberapa lembar dokumen ke meja.
“Kenapa saya baru tahu sebagian besar konsep gala berasal dari perusahaan Alya?”
Raka menatap dokumen itu.
“Karena dari awal dia memang mengurus kreatif.”
“Bukan itu maksud saya!”
Suara Surya meninggi.
“Kenapa tidak ada satu pun orang internal yang memegang hak final desain?”
Nessa yang duduk di ujung meja menyilangkan tangan.
“Om, Alya memang sengaja bikin semuanya bergantung sama dia. Dari dulu aku sudah bilang dia manipulatif.”
Surya menoleh tajam.
“Kamu diam.”
Nessa langsung pucat.
Seorang direktur pemasaran membuka laptop.
“Pak, masalahnya lebih besar. Tiga sponsor utama menyukai konsep gala karena proposal yang dibangun Studio Arunika. Kalau konsepnya berubah total, mereka berhak meninjau ulang komitmen sponsorship.”
“Nilainya?”
“Sekitar sebelas miliar rupiah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka merasa tengkuknya dingin.
Baru saat itu dia benar-benar memahami sesuatu yang selama ini sengaja tidak dilihatnya.
Alya bukan perempuan yang hidup karena uang keluarga Mahendra.
Selama dua tahun terakhir, justru banyak proyek keluarga Mahendra berjalan mulus karena Alya.
Dia yang menenangkan vendor.
Dia yang menghubungkan keluarga dengan desainer muda.
Dia yang mengubah acara amal tahunan yang sebelumnya dianggap kuno menjadi kampanye sosial yang viral.
Dia pula yang berhasil mendatangkan dua perusahaan multinasional sebagai sponsor.
Tetapi setiap kali seseorang memuji hasilnya, Raka membiarkan orang mengira semua itu hasil tim internal Mahendra.
Pernah sekali Alya protes.
“Namaku bahkan tidak ada di presentasi.”
Raka hanya menjawab, “Kamu akan jadi istriku. Untuk apa kita hitung-hitungan?”
Saat itu Alya diam.
Sekarang Raka baru mengerti.
Diam bukan berarti lupa.
Siang itu, Raka mendatangi kantor Studio Arunika di sebuah bangunan tiga lantai di Kemang.
Dia membayangkan studio kecil dengan beberapa pegawai.
Yang ditemukan justru kantor modern dengan hampir tiga puluh orang bekerja di dalamnya.
Logo Arunika terpasang sederhana di dinding.
Seorang resepsionis menghentikannya.
“Maaf, Pak. Sudah ada janji?”
“Saya Raka Mahendra.”
“Saya tahu.”
Jawaban itu membuatnya tersinggung.
“Saya mau bertemu Alya.”
“Bu Alya sedang rapat.”
“Katakan Raka datang.”
Resepsionis tetap tersenyum profesional.
“Bu Alya sudah meninggalkan instruksi bahwa semua urusan dengan Mahendra Group harus melalui jalur resmi.”
Raka menatap perempuan itu tidak percaya.
“Aku tunangannya.”
Resepsionis berhenti sejenak.
“Setahu kami, sudah bukan.”
Raka tidak pernah menyangka empat kata sederhana bisa terasa begitu memalukan.
Dua puluh menit kemudian, Alya akhirnya muncul dari ruang rapat.
Dia mengenakan kemeja biru muda, celana hitam, rambut diikat sederhana.
Tidak ada pakaian mahal dari Raka.
Tidak ada tas pemberiannya.
Tetapi entah kenapa, Alya terlihat lebih hidup dibandingkan beberapa bulan terakhir.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku mau bicara.”
“Aku sudah bilang urusan proyek melalui pengacara.”
“Bukan cuma proyek.”
Alya memandang jam tangannya.
“Lima menit.”
Mereka masuk ke ruang kecil dekat balkon.
Raka langsung berdiri di depannya.
“Aku akui semalam keterlaluan.”
Alya tidak menjawab.
“Nessa memang suka bercanda.”
“Delapan kali sebelumnya kamu juga menyebutnya bercanda.”
“Aku cuma ingin tahu seberapa serius kamu.”
Alya tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
“Lima tahun, Raka. Berapa kali seseorang harus membuktikan cinta sampai menurutmu cukup?”
Raka terdiam.
“Aku takut.”
Kalimat itu keluar lebih pelan.
“Aku takut kamu seperti orang lain.”
Alya menatapnya cukup lama.
“Aku mengerti ketakutanmu. Itu sebabnya dulu aku bertahan. Tapi luka masa kecilmu bukan izin untuk melukai orang lain.”
Raka mengangkat wajah.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Kalau begitu beri aku kesempatan.”
Alya menggeleng.
“Berubahlah untuk dirimu sendiri. Bukan supaya aku kembali.”
“Jadi benar-benar selesai?”
“Sudah selesai sejak aku berdiri di samping selokan itu dan kamu menyuruhku turun.”
Raka mengepalkan rahang.
“Apa karena kamu sekarang merasa sukses?”
Alya tersenyum tipis.
“Lihat? Bahkan saat meminta maaf, kamu masih mencari alasan untuk merendahkanku.”
Kalimat itu membuat Raka kehilangan jawaban.
Malam harinya, Nessa datang ke apartemen Raka.
Dia membawa dua botol wine dan memasang wajah penuh perhatian.
“Sudahlah. Mungkin memang lebih baik begini.”
Raka duduk di sofa tanpa menjawab.
Nessa menuang minuman.
“Alya dari awal terlalu sensitif.”
“Nessa.”
“Hm?”
“Kenapa kamu benci dia?”
Nessa membeku sesaat.
“Aku tidak benci.”
“Kenapa selalu kamu yang membuat ujian-ujian itu?”
Nessa tertawa kecil.
“Kan kamu yang setuju.”
Jawaban itu menusuk tepat ke tempat yang tidak ingin disentuh Raka.
Memang benar.
Nessa bisa melempar ide seratus kali, tetapi Raka yang membiarkannya terjadi.
Nessa duduk lebih dekat.
“Kita sudah kenal sejak kecil, Rak. Aku cuma tidak mau kamu dimanfaatkan.”
“Dengan melempar cincin ke selokan sembilan kali?”
Wajah Nessa berubah.
“Aku cuma mau lihat batasnya.”
“Kenapa?”
Nessa menatapnya.
Untuk pertama kalinya, topeng polosnya runtuh.
“Karena aku ingin dia pergi.”
Raka menegakkan tubuh.
Nessa menarik napas panjang.
“Aku menunggumu sejak kita masih kuliah. Semua orang tahu kita selalu bersama. Lalu Alya datang, dan tiba-tiba kamu memperlakukannya seperti dia satu-satunya orang yang mengerti kamu.”
“Nessa.”
“Aku lebih mengenalmu daripada dia.”
“Jadi semua itu sengaja?”
Nessa diam.
Raka berdiri.
“Keluar.”
“Rak…”
“Keluar.”
Tiga hari kemudian, skandal kecil pecah di lingkungan sosial keluarga Mahendra.
Video malam pertunangan tersebar.
Seseorang ternyata merekam momen saat Nessa melempar cincin ke selokan dan Raka menyuruh Alya mengambilnya.
Video itu tidak menunjukkan wajah semua orang dengan jelas, tetapi cukup untuk dikenali beberapa tamu.
Komentar mulai bermunculan.
Banyak orang mengecam tindakan tersebut.
Beberapa mitra bisnis bahkan bertanya kepada tim komunikasi Mahendra Group apakah benar keluarga mereka memperlakukan calon menantu seperti itu.
Raka langsung menuduh Alya.
Dia meneleponnya.
“Kamu menyebarkan videonya?”
Alya terdengar heran.
“Video apa?”
“Jangan pura-pura.”
“Raka, sejak pergi dari rumahmu aku tidak pernah mengunggah apa pun tentang keluargamu.”
“Lalu siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Telepon ditutup.
Jawabannya datang malam berikutnya.
Orang yang menyebarkan video itu adalah salah satu teman Nessa sendiri.
Perempuan bernama Celine yang selama bertahun-tahun hadir dalam permainan-permainan mereka.
Dia mengirim rekaman lengkap kepada seorang jurnalis setelah merasa jijik melihat kejadian malam itu.
Bahkan ada delapan video lama.
Satu demi satu.
Cincin dilempar ke kolam dekoratif.
Ke semak basah.
Ke bawah meja pesta.
Ke dekat tempat sampah.
Semua direkam sebagai lelucon.
Dan di setiap video, Alya selalu menjadi orang yang mengambilnya.
Raka menonton video itu sendirian sampai pukul dua pagi.
Untuk pertama kali, dia melihat dirinya dari luar.
Dia melihat Alya jongkok mengambil cincin sambil orang lain tertawa.
Dia melihat dirinya tersenyum.
Dia melihat ekspresi Alya yang berusaha ikut tertawa agar tidak dianggap terlalu sensitif.
Pada video terakhir, tidak ada lagi tawa di wajah Alya.
Hanya ketenangan.
Raka mematikan layar.
Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggalkan rumah bertahun-tahun lalu, Raka menangis.
Sementara itu, Alya pindah ke apartemen kecil di Jakarta Selatan.
Bukan karena dia tidak mampu membeli rumah.
Dia hanya ingin ruang yang benar-benar miliknya.
Studio Arunika mendapat dua proyek baru setelah beberapa orang mengetahui bahwa Alya adalah otak di balik beberapa kampanye sukses Mahendra Group.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui Raka.
Seminggu setelah perpisahan mereka, Alya menerima telepon dari seorang perempuan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disebut di keluarga Mahendra.
Dina Mahendra.
Ibu Raka.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Yogyakarta.
Dina datang mengenakan blus sederhana.
Begitu melihat Alya, matanya langsung berkaca-kaca.
“Maaf,” katanya.
Alya terkejut.
“Kenapa Ibu minta maaf?”
“Karena saya tahu Raka jadi seperti itu sebagian karena apa yang terjadi dalam keluarga kami.”
Alya menggeleng.
“Itu bukan kesalahan Ibu.”
Dina tersenyum pahit.
“Dulu saya pergi karena ayahnya berselingkuh berkali-kali. Raka masih kecil. Tetapi keluarga Mahendra mengatakan kepadanya bahwa saya meninggalkan mereka karena saya tidak tahan hidup susah setelah bisnis keluarga mengalami masalah.”
Alya terdiam.
“Jadi selama ini…”
“Raka tumbuh dengan keyakinan bahwa orang yang mencintainya bisa pergi kalau keadaan tidak menguntungkan.”
Dina membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop lama.
“Beberapa tahun lalu saya mencoba menjelaskan semuanya. Dia tidak mau membaca.”
Alya memegang amplop itu.
“Kenapa Ibu memberikannya kepada saya?”
“Saya tidak memberikannya agar kamu kembali.”
Dina menatapnya lurus.
“Saya justru berharap kamu jangan kembali sebelum dia belajar memperbaiki dirinya.”
Dua bulan berlalu.
Gala Mahendra akhirnya tetap terlaksana, tetapi jauh lebih sederhana.
Studio Arunika tidak terlibat.
Beberapa sponsor mengurangi nilai kerja sama.
Surya Mahendra memindahkan Raka dari posisi direktur pengembangan bisnis dan menyuruhnya menangani cabang kecil perusahaan di Semarang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan nama keluarga.
Sebelum pergi ke Semarang, dia datang sekali lagi menemui Alya.
Kali ini dia tidak membawa bunga.
Tidak membawa hadiah.
Tidak membawa cincin.
Dia hanya membawa amplop dari ibunya.
“Aku sudah membacanya,” katanya.
Mereka berdiri di lobi Studio Arunika.
Alya menatapnya.
Raka terlihat lebih kurus.
“Aku menemui Ibu.”
Alya tidak berkata apa-apa.
“Aku minta maaf padanya.”
“Bagus.”
“Aku juga datang untuk minta maaf padamu.”
Alya mengangguk pelan.
“Maafmu aku terima.”
Mata Raka sedikit berbinar.
“Tapi menerima maaf tidak berarti kembali.”
Harapan itu langsung padam.
Raka tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Dia berbalik, lalu berhenti.
“Alya.”
“Ya?”
“Cincin yang di selokan malam itu ternyata diambil petugas kebersihan.”
Alya mengangkat alis.
“Dia menyerahkannya ke manajemen restoran. Aku baru mengambilnya kemarin.”
Raka mengeluarkan kotak kecil dari saku.
Alya langsung menggeleng.
“Aku tidak mau.”
“Aku tahu.”
Raka tidak membukanya.
“Aku cuma ingin bilang, aku menjualnya.”
Alya terdiam.
“Uangnya aku donasikan ke yayasan pendidikan perempuan di Yogyakarta. Atas nama ibumu.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah, mata Alya berubah.
Raka tidak menunggu jawaban.
Dia hanya mengangguk, lalu berjalan pergi.
Enam bulan kemudian, Alya berdiri di balkon kantor baru Studio Arunika.
Perusahaannya baru saja memenangkan proyek terbesar sejak didirikan.
Di meja kerjanya terdapat sebuah bingkai kecil berisi foto ibunya.
Di sampingnya ada kartu dari Dina.
Tidak ada hadiah mahal.
Hanya satu kalimat.
Terima kasih karena berani melakukan sesuatu yang dulu tidak bisa saya lakukan lebih cepat.
Alya membaca kartu itu lalu tersenyum.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Raka.
Tidak ada permintaan kembali.
Tidak ada kata cinta.
Hanya foto sebuah restoran sederhana di Semarang yang baru direnovasi dengan konsep komunitas untuk usaha kecil.
Di bawah foto itu tertulis satu kalimat.
Untuk pertama kalinya aku membuat sesuatu tanpa mengambil nama orang lain.
Alya menatap pesan itu cukup lama.
Lalu membalas.
Bagus. Teruskan.
Hanya dua kata.
Tidak lebih.
Dia meletakkan ponsel dan berjalan menuju ruang rapat.
Sebelum pintu tertutup, seorang staf muda menghampirinya sambil membawa kotak beludru.
“Bu Alya, ini properti untuk pemotretan produk besok. Cincin sampelnya mau disimpan di mana?”
Alya melihat cincin itu sebentar.
Dulu benda berbentuk lingkaran seperti itu pernah membuatnya percaya bahwa cinta berarti bertahan apa pun yang terjadi.
Sekarang dia tahu sesuatu yang jauh lebih penting.
Cinta bukan tentang seberapa banyak penghinaan yang mampu seseorang tahan.
Bukan tentang berapa kali seseorang bersedia turun ke selokan untuk membuktikan kesetiaan.
Dan bukan pula tentang cincin mahal, rumah besar, atau nama keluarga yang terpampang di gedung pencakar langit.
Kadang, bentuk cinta paling penting justru muncul ketika seseorang akhirnya berhenti memohon agar diperlakukan dengan baik.
Alya tersenyum pada stafnya.
“Simpan di tempat yang aman.”
Kemudian dia masuk ke ruang rapat tanpa menoleh ke belakang.
Kali ini bukan karena dia sedang lari dari keluarga Mahendra.
Melainkan karena akhirnya dia tahu persis ke mana hidupnya akan berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, jalan itu sepenuhnya miliknya sendiri.
