Kamera ponsel itu miring, tepat mengarah kepada mereka berdua.
Bayu berdiri di belakang Maya, lalu membungkuk untuk mengangkat ujung gaun pengantinnya yang menjuntai di lantai.
“Pelan-pelan,” katanya. “Nanti kamu jatuh.”
Nada suaranya begitu lembut.
Maya menoleh sambil tertawa. “Makanya dari tadi aku bilang, jadi pengantin itu repot.”
Aku tidak tahu apakah mereka lupa aku masih berada dalam panggilan atau memang sudah terlalu terbiasa bersikap seperti itu di depanku.
Aku hanya duduk diam di lantai apartemen, dikelilingi kardus yang berisi tujuh tahun hidupku.

“Nia?”
Bayu akhirnya mengambil ponselnya kembali.
“Kok diam?”
Aku menatap wajahnya di layar.
“Capek.”
“Oh.”
Hanya itu.
Dia bahkan tidak bertanya kenapa.
Dari belakang terdengar seseorang memanggil pasangan pengantin untuk sesi foto keluarga.
Maya langsung menarik lengan Bayu.
“Ayo. Mama sudah nunggu.”
Bayu mengangguk, lalu kembali menatapku.
“Nanti aku telepon lagi.”
“Tidak perlu.”
Dia terdiam.
Aku tersenyum tipis.
“Nikmati acaranya.”
Sebelum Bayu sempat menjawab, aku memutus panggilan.
Pagi berikutnya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, aku sudah berada di dalam kereta menuju rumah orang tuaku.
Aku tidak meninggalkan surat.
Tidak ada pesan panjang.
Tidak ada pertengkaran.
Aku hanya meletakkan kunci apartemen di atas meja makan.
Sesampainya di rumah, Mama membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk dua kali.
Dia memandang koper besar di tanganku, lalu wajahku.
Mama tidak bertanya apa-apa.
Dia hanya memelukku.
Dan justru karena dia tidak bertanya, aku menangis lebih keras daripada malam sebelumnya.
Papa muncul dari dapur sambil masih mengenakan celemek.
“Udangnya tetap Papa masak,” katanya pelan.
Aku tertawa di tengah tangis.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku menyadari ada perbedaan besar antara dicintai dan sekadar dianggap selalu ada.
Selama tiga hari berikutnya, Bayu hanya mengirim beberapa pesan singkat.
“Aku sibuk banget di sini.”
“Acara keluarga Maya ternyata panjang.”
“Kamu sudah sampai?”
“Jangan lupa makan.”
Aku tidak membalas satu pun.
Hari keempat, teleponku mulai berdering terus-menerus.
Bayu.
Bayu.
Bayu.
Kemudian pesan masuk.
“Nia, kamu pindahin barang?”
“Nia, angkat telepon.”
“Kenapa sofa ruang tamu hilang?”
“Foto kita ke mana?”
“Nia, ini nggak lucu.”
Lima menit kemudian dia menelepon Mama.
Mama datang ke kamarku sambil membawa ponselnya.
“Bayu.”
“Bilang aku sedang tidur.”
Mama menatapku beberapa detik.
Kemudian, tanpa ragu, dia menolak panggilannya.
Malamnya Bayu mengirim pesan suara.
“Nia, kalau kamu marah soal acara Maya, kita bisa ngomong baik-baik. Jangan bereaksi berlebihan seperti ini.”
Aku mendengarkannya sekali.
Lalu kuhapus.
Besok paginya sebuah foto muncul di grup teman-teman.
Bayu sudah kembali ke apartemen.
Salah seorang teman menulis bahwa dia panik karena tempat itu hampir kosong.
Tak lama kemudian Maya mengirim pesan pribadi kepadaku.
“Nia, kamu bertengkar sama Bayu gara-gara aku?”
Aku tidak menjawab.
Pesan berikutnya masuk.
“Jangan salah paham, ya. Pernikahan kemarin benar-benar cuma pura-pura.”
Lalu satu lagi.
“Kalau aku tahu kamu sesensitif ini, aku nggak akan minta bantu Bayu.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Akhirnya aku membalas.
“Aku tidak marah karena pernikahan palsu.”
Maya langsung mengetik.
“Terus?”
Aku menatap layar beberapa detik.
“Aku cuma akhirnya sadar hubungan yang asli ternyata milik siapa.”
Tidak ada balasan selama hampir satu jam.
Kemudian Bayu menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Nia, maksud pesanmu ke Maya apa?”
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pertanyaan tentang keadaanku.
Hal pertama yang dia pikirkan tetap Maya.
Aku hampir tertawa.
“Persis seperti yang kubilang.”
“Nia, jangan bikin semuanya rumit.”
“Aku sudah lihat cloud-mu.”
Sunyi.
Hanya tiga detik.
Namun tiga detik itu sudah cukup.
“Apa yang kamu lihat?”
“Gaun.”
Dia diam.
“Cincin.”
“Nia, dengar dulu.”
“Catatan alergi Maya.”
“Nia.”
“Siklus menstruasinya.”
“Nia!”
Suaranya meninggi.
Aku justru semakin tenang.
“Dan catatan tentang air putih.”
Kali ini tidak ada suara sama sekali.
Aku bisa mendengar napasnya.
“Kenapa kamu buka barang pribadiku?”
Aku menutup mata.
Lucu sekali.
Setelah semua yang kutemukan, pertanyaan pertamanya adalah kenapa aku melihatnya.
“Tablet itu milik kita bersama. Cloud-mu tersambung sendiri.”
“Itu bukan berarti kamu boleh membaca semuanya.”
“Benar.”
Aku tersenyum pahit.
“Seharusnya aku tidak membaca. Kalau tidak, mungkin aku masih cukup bodoh untuk menikah denganmu.”
“Nia, catatan itu ditulis waktu aku sedang stres.”
“Yang mana? Catatan tentang aku membosankan atau catatan kapan Maya menstruasi?”
“Nggak ada hubungan apa-apa antara aku dan Maya!”
“Kalau begitu bagus.”
Aku menjawab tanpa emosi.
“Sekarang kamu bebas memastikan tetap tidak ada hubungan apa-apa dengannya seumur hidup.”
“Apa maksudmu?”
“Kita selesai.”
Dia langsung terdiam.
Kemudian terdengar tawa pendek yang penuh ketidakpercayaan.
“Kamu mau mengakhiri hubungan tujuh tahun cuma karena catatan?”
“Bukan.”
Aku memandang halaman belakang rumah. Papa sedang menyiram tanaman yang ditanam Mama bertahun-tahun lalu.
“Aku mengakhirinya karena selama tujuh tahun aku terus memilihmu, sementara kamu hanya memilihku ketika Maya tidak membutuhkanmu.”
Bayu mulai menjelaskan.
Katanya semua pengeluaran pernikahan itu sebagian akan diganti keluarga Maya.
Katanya cincin tersebut hanya properti.
Katanya pertunjukan drone diperlukan agar keluarga besar Maya percaya.
Katanya perjalanan kapal pesiar dibeli karena keluarga Maya akan curiga jika pasangan pengantin tidak punya rencana bulan madu.
Semua punya alasan.
Kecuali satu.
“Kenapa kamu ingat semua yang Maya suka, tapi lupa aku alergi mangga?”
Bayu berhenti bicara.
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kamu bisa menghabiskan enam bulan memilih gaunnya, tapi tujuh tahun bersamaku dan selalu bilang belum siap membicarakan pernikahan?”
Sunyi lagi.
“Kenapa?”
“Nia…”
“Jawab.”
Akhirnya dia berkata sangat pelan.
“Karena sama kamu aku nggak pernah merasa harus berusaha keras.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Bayu buru-buru melanjutkan.
“Bukan begitu maksudku. Kamu mandiri. Kamu nggak menuntut. Aku tahu kamu akan selalu mengerti.”
Aku tertawa.
Air mata justru jatuh saat itu.
“Terima kasih.”
“Nia…”
“Sekarang aku mengerti.”
Aku memutus telepon.
Aku pikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua minggu kemudian, sebuah paket dikirim ke rumah orang tuaku.
Pengirimnya Maya.
Di dalamnya ada kotak kecil berisi gelang yang pernah kuberikan kepadanya saat ulang tahunnya lima tahun lalu.
Ada juga sebuah amplop.
Tulisan tangan Maya memenuhi dua lembar kertas.
“Nia, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tahu permintaan maaf tidak cukup. Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Tanganku mulai dingin.
Maya menulis bahwa tujuh tahun lalu, pertama kali dia meminta Bayu berpura-pura menjadi pacarnya, Bayu menolak.
Namun beberapa hari kemudian Bayu justru menghubunginya sendiri.
Bayu mengatakan dia bersedia membantu.
Sejak saat itu, setiap tahun Bayu bahkan selalu mengingatkan Maya lebih dulu.
“Kapan acara keluargamu?”
“Perlu aku datang lagi?”
Maya mengaku awalnya menganggap itu hanya kebiasaan.
Sampai tiga tahun lalu.
Setelah sebuah acara keluarga, Bayu mengantarnya pulang ke hotel.
Di dalam mobil, Bayu pernah berkata,
“Kalau dulu aku kenal kamu lebih dulu, mungkin hidupku beda.”
Maya tidak menjawab.
Dia tahu Bayu adalah pacarku.
Tetapi dia juga tidak menjauh.
Dan itulah kesalahannya.
Aku melanjutkan membaca.
Pada malam pernikahan palsu itu, setelah panggilan video denganku berakhir, Maya menemukan Bayu berdiri sendirian di balkon hotel.
Dia bertanya kenapa Bayu tampak murung.
Bayu menjawab,
“Nia aneh hari ini.”
Maya lalu bertanya apakah Bayu mencintaiku.
Bayu diam lama.
Kemudian berkata,
“Aku nggak tahu apakah itu cinta atau karena aku sudah terlalu terbiasa hidup dengannya.”
Maya menulis bahwa untuk pertama kalinya dia merasa takut.
Bukan karena takut kehilangan Bayu.
Melainkan karena akhirnya dia melihat dengan jelas betapa kejamnya mereka kepadaku.
Di bagian paling bawah surat ada satu kalimat.
“Aku tidak pernah tidur dengan Bayu, Nia. Tapi aku sadar perselingkuhan tidak selalu membutuhkan tempat tidur. Kadang cukup dengan membiarkan seseorang memberikan bagian terbaik dirinya kepadamu, padahal bagian itu seharusnya dia jaga untuk pasangannya.”
Aku menutup surat itu.
Aneh.
Aku tidak marah.
Yang kurasakan justru lega.
Beberapa bulan berlalu.
Aku mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta dengan posisi yang sudah lama kuinginkan tetapi dulu kutolak karena Bayu tidak mau pindah terlalu jauh dari kantornya.
Aku menyewa apartemen kecil.
Tidak semewah tempat kami dulu.
Namun semua barang di dalamnya kupilih sendiri.
Suatu sore, ketika sedang membeli kopi setelah bekerja, aku bertemu salah satu teman lama kami.
Dari dialah aku mengetahui kelanjutan kisah Bayu dan Maya.
Ternyata setelah aku pergi, Bayu benar-benar menyatakan perasaan kepada Maya.
Dia datang membawa cincin berlian yang dipakai dalam pernikahan palsu mereka.
Ironisnya, Maya menolak.
Bukan hanya itu.
Maya juga mengaku kepada keluarganya bahwa selama tujuh tahun Bayu bukan pacarnya.
Semua acara itu hanya kebohongan.
Keluarganya marah besar, tetapi akhirnya Maya memilih pindah dari rumah dan menjalani hidupnya sendiri.
Bayu mencoba mengejarnya selama beberapa bulan.
Tidak berhasil.
Aku pikir itu sudah menjadi akhir yang cukup sempurna.
Namun kejutan sebenarnya datang hampir setahun kemudian.
Pada suatu Sabtu pagi, Mama menelepon.
“Nia, ada paket buat kamu.”
“Dari siapa?”
“Bayu.”
Aku terdiam.
“Buang saja.”
“Kayaknya kamu perlu lihat.”
Sore itu Mama mengirim foto isi paket tersebut.
Di dalamnya ada sebuah buku catatan tua.
Aku mengenal sampulnya.
Itu buku yang dulu digunakan Bayu untuk mencatat pengeluaran saat kami masih hidup pas-pasan.
Halaman pertama penuh angka.
Sewa rumah.
Listrik.
Makan.
Tabungan.
Namun di halaman terakhir ada tulisan baru.
“Nia, aku akhirnya mengerti sesuatu setelah kamu pergi.”
“Aku selalu mengira orang yang membuat jantungku berdebar adalah orang yang paling kucintai.”
“Ternyata aku salah.”
“Debaran bisa datang dari sesuatu yang baru, sesuatu yang sulit didapat, bahkan sesuatu yang tidak seharusnya kita miliki.”
“Tapi rumah adalah tempat kita tidak perlu takut ketika semuanya berhenti berdebar.”
“Aku punya rumah itu selama tujuh tahun.”
“Dan aku menghancurkannya sendiri karena mengira ketenangan berarti kebosanan.”
Aku menatap foto tulisan itu cukup lama.
Dulu mungkin aku akan menangis.
Dulu mungkin aku akan meneleponnya.
Namun sekarang tidak.
Aku hanya mengirim satu pesan kepada Mama.
“Simpan bukunya kalau Mama mau. Aku nggak membutuhkannya.”
Malam itu aku pergi berjalan kaki sendirian.
Di sebuah taman dekat apartemen, banyak orang sedang berkumpul.
Aku baru sadar ada pertunjukan drone.
Ratusan cahaya naik ke langit.
Aku berdiri di antara kerumunan sambil mendongak.
Dulu aku pernah menunggu Bayu dua jam hanya untuk melihat pemandangan seperti ini bersamanya.
Sekarang tidak ada siapa-siapa di sampingku.
Anehnya, aku tidak merasa kesepian.
Drone-drone itu membentuk bunga.
Kemudian burung.
Lalu bintang besar.
Aku tersenyum.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
Bayu.
“Aku dengar malam ini ada pertunjukan drone dekat tempatmu.”
“Aku ingat kamu suka.”
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
“Kalau aku datang sekarang, apa sudah terlambat?”
Aku membaca pertanyaan itu.
Lalu menatap langit.
Untuk pertama kalinya, jawabannya terasa sangat sederhana.
Aku memblokir nomor itu tanpa membalas.
Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang tidak kupahami selama tujuh tahun.
Cinta bukan tentang siapa yang datang kembali setelah kehilanganmu.
Cinta adalah tentang siapa yang menghargaimu ketika dia masih memilikimu.
Dan malam itu, di bawah ratusan cahaya yang menari di langit Jakarta, aku tidak lagi menunggu seseorang menurunkan bintang untukku.
Aku sudah belajar menatapnya sendiri.
