MASAK 23 HIDANGAN MEWAH UNTUK ULANG TAHUN MERTUA, AKU MALAH DIUSIR DAN DISURUH MAKAN SISA…

Pukul 13.27, Dimas menelepon Maya.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tetap tidak diangkat.

Pada panggilan ketiga, Dimas bahkan tidak menunggu sampai nada sambung kedua selesai. Ia langsung memutus panggilan, berbalik ke arah asistennya, lalu berkata dengan suara tegang.

“Batalkan semua jadwal saya sore ini.”

Asistennya terkejut.

“Pak, pukul tiga ada pertemuan dengan investor dari Singapura.”

“Batalkan.”

“Tapi mereka sudah tiba di Jakarta.”

Dimas menatap layar ponselnya sekali lagi.

“Kalau mereka bertanya, bilang ada urusan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan.”

Ia berjalan cepat menuju lift.

Selama enam tahun menikah, Dimas hanya dua kali melihat Maya sampai pada titik di mana perempuan itu berhenti menjelaskan perasaannya.

Pertama ketika ayah Maya meninggal.

Kedua ketika salah satu bisnis keluarganya hampir runtuh akibat pengkhianatan partner lama.

Pada dua kejadian itu, Maya tidak menangis di depan siapa pun.

Ia justru menjadi sangat tenang.

Dan Dimas tahu, ketenangan Maya jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

Di Pondok Indah, Maya sudah memanggil seluruh staf rumah.

Dua petugas keamanan, sopir, asisten rumah tangga yang hari itu sedang libur tetapi tinggal tidak jauh dari kompleks, serta koki cadangan yang sesekali membantu saat ada acara besar.

Mereka berdiri canggung di ruang makan.

Maya menunjuk 23 hidangan di atas meja.

“Tolong bungkus semua makanan ini.”

Salah satu asisten bertanya ragu-ragu.

“Untuk disimpan di kulkas, Bu?”

Maya menggeleng.

“Tidak.”

Ia menatap meja makan yang tadi dipenuhi harapan, sekarang terasa seperti monumen penghinaan.

“Kirim ke rumah singgah yang biasa menerima makanan dari perusahaan.”

Asisten itu langsung mengangguk.

“Baik, Bu.”

“Pastikan dikemas dengan benar. Jangan ada yang terbuang.”

Maya berjalan ke dapur.

Di sana masih ada sisa potongan jeruk nipis, kulit bawang, mangkuk berisi bumbu, dan dua loyang kue yang belum sempat dicuci.

Ia berdiri beberapa detik sambil memandangi semua itu.

Sebelas jam.

Ia menghabiskan sebelas jam untuk orang-orang yang bahkan tidak menganggapnya bagian dari keluarga.

Entah kenapa, baru sekarang Maya menyadari betapa sering ia melakukan hal serupa selama enam tahun.

Mengalah.

Menutupi ucapan kasar dengan senyum.

Membiarkan Ibu Hartini menggunakan kartu kredit miliknya karena Dimas berkata, “Sudahlah, Ma cuma ingin menikmati hidup.”

Membiarkan Sheila tinggal gratis di apartemen milik perusahaan selama kuliah.

Membiarkan Vanya memakai mobil perusahaan berbulan-bulan dengan alasan “cuma sementara”.

Membiarkan semuanya karena ia tidak ingin Dimas terjepit di antara istri dan keluarga.

Maya mengira diam adalah cara menjaga rumah tangga.

Ternyata diam hanya membuat orang lain semakin berani melewati batas.

Pukul 13.51, sebuah Mercedes hitam masuk ke halaman.

Dimas keluar bahkan sebelum sopir sempat membukakan pintu.

Ia berlari kecil menuju rumah.

“Maya!”

Tidak ada jawaban.

Ia menemukan istrinya di ruang kerja lantai dua.

Maya sudah mandi dan mengganti pakaian.

Tidak ada lagi celemek berminyak.

Tidak ada lagi rambut yang diikat asal.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam, duduk di depan laptop sambil memeriksa beberapa dokumen.

Dimas berdiri di ambang pintu.

“Apa yang terjadi?”

Maya mengangkat wajah.

“Kamu sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi.”

“Ibu bilang apa?”

Maya menutup laptop.

“Pertanyaanmu salah.”

Dimas terdiam.

“Harusnya kamu tanya, selama enam tahun ini ibumu sudah bilang apa saja kepadaku.”

Wajah Dimas langsung berubah.

“Maya…”

“Aku tidak mau bertengkar.”

“Aku juga tidak mau.”

“Bagus.”

Maya membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tipis.

Ia meletakkannya di meja.

“Aku mau semuanya selesai dengan jelas.”

Dimas tidak menyentuh map itu.

“Apa ini?”

“Dokumen penghentian fasilitas keluarga.”

Dimas membeku.

Maya menjelaskan dengan nada datar.

Mulai malam itu, kartu kredit tambahan milik Ibu Hartini akan diblokir.

Apartemen yang ditempati Sheila akan dikembalikan ke perusahaan setelah masa pemberitahuan tiga puluh hari.

Mobil yang digunakan Vanya juga harus dikembalikan.

Dan yang paling penting, Ibu Hartini diberi waktu tujuh hari untuk pindah dari rumah Pondok Indah.

Dimas menatap Maya lama sekali.

“Kamu serius?”

“Ya.”

“Ini rumah kita.”

“Benar.”

Maya mengangguk.

“Rumah kita. Bukan rumah ibumu. Bukan rumah adik-adikmu.”

Dimas mengusap wajah.

“Aku tahu mereka salah. Aku tahu. Tapi mengusir Mama dari rumah…”

Maya langsung memotong.

“Aku tidak mengusir ibumu ke jalan.”

Dimas diam.

“Dia punya rumah di Kemang yang selama ini disewakan. Dia punya tabungan. Dia punya dua anak perempuan dewasa. Dia tidak akan menjadi tunawisma.”

Maya menatap suaminya.

“Aku hanya berhenti membiarkan dia tinggal di rumahku sambil memperlakukanku seperti pembantu.”

Kalimat itu membuat Dimas tidak punya jawaban.

Untuk pertama kali, ia melihat situasi bukan sebagai anak yang ingin menjaga ibunya, melainkan sebagai suami yang selama bertahun-tahun membiarkan istrinya berjuang sendirian.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang separah ini?”

Maya tersenyum tipis.

“Aku pernah bilang.”

Dimas mengernyit.

“Kapan?”

“Tiga tahun lalu. Setelah ibumu bilang aku perempuan kampung yang tidak pantas datang ke acara perusahaan.”

Dimas terdiam.

“Dua tahun lalu, setelah Sheila menertawakan ibuku karena membawa oleh-oleh keripik singkong.”

Dimas menunduk.

“Delapan bulan lalu, setelah Vanya bilang aku pasti memakai pelet supaya bisa menikah denganmu.”

Mata Dimas perlahan memerah.

Maya melanjutkan.

“Dan setiap kali aku cerita, kamu selalu bilang hal yang sama.”

Dimas sudah tahu kalimat berikutnya.

Maya tetap mengatakannya.

“Ma memang begitu orangnya. Jangan dimasukkan hati.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas menarik kursi lalu duduk.

Ia tidak membela diri.

Karena tidak ada yang bisa dibela.

Pukul 14.22, ponsel Dimas berdering.

Nama ibunya muncul di layar.

Dimas menatap Maya.

Maya tidak mengatakan apa-apa.

Ia mengangkat telepon.

“Halo, Ma.”

Suara Ibu Hartini langsung terdengar ceria.

“Dimas, kamu di mana? Kami sudah di restoran. Teman-teman Mama sudah datang.”

Dimas menutup mata.

“Ma, tadi Mama meninggalkan Maya di rumah?”

Hening beberapa detik.

Lalu nada suara Ibu Hartini berubah.

“Oh, soal itu?”

“Iya.”

“Dia ngadu?”

Dimas mengepalkan tangan.

“Jawab saja.”

“Ya ampun, Dimas. Jangan dibesar-besarkan. Ini ulang tahun Mama. Mama ingin suasana yang elegan.”

“Terus Maya disuruh makan sisa?”

Ibu Hartini tertawa pendek.

“Itu cuma bercanda.”

Maya yang duduk beberapa meter dari Dimas mendengar semuanya.

Tidak ada perubahan di wajahnya.

Dimas justru semakin pucat.

“Ma, pulang sekarang.”

“Kenapa?”

“Pulang.”

“Dimas, teman-teman Mama sedang—”

“Sekarang.”

Dua puluh lima menit kemudian, Alphard hitam masuk ke halaman rumah.

Pintu depan terbuka dengan kasar.

Ibu Hartini berjalan cepat masuk diikuti Sheila dan Vanya.

“Apa-apaan ini?”

Ia langsung mencari Dimas.

Namun yang berdiri di ruang keluarga justru Maya.

Dimas berada beberapa langkah di belakangnya.

Ibu Hartini menunjuk Maya.

“Kamu sengaja bikin drama di hari ulang tahun saya?”

Maya menjawab tenang.

“Tidak.”

“Lalu kenapa Dimas menyuruh kami pulang?”

“Karena ada hal yang perlu dibicarakan.”

Sheila mendengus.

“Kalau cuma gara-gara makanan, ya ampun, Mbak. Makanan bisa masak lagi.”

Maya menatapnya.

“Benar.”

Ia tersenyum kecil.

“Makanan bisa dimasak lagi.”

Kemudian senyum itu hilang.

“Tapi rasa hormat tidak bisa terus-menerus diminta dari orang yang tidak pernah mau memberi.”

Ibu Hartini tertawa sinis.

“Kamu sekarang berani sekali bicara seperti itu di rumah keluarga saya.”

Maya terdiam dua detik.

Lalu ia berjalan menuju lemari di sudut ruangan.

Ia mengambil sebuah map biru tua.

Dimas langsung mengenalinya.

Maya mengeluarkan satu lembar fotokopi sertifikat.

Ia meletakkannya di atas meja.

“Silakan baca nama pemiliknya.”

Ibu Hartini mengernyit.

Sheila yang paling dulu mengambil dokumen itu.

Matanya bergerak cepat membaca bagian atas.

Kemudian ekspresinya berubah.

“Ini apa?”

Vanya ikut mendekat.

Ibu Hartini merebut kertas tersebut.

Beberapa detik kemudian wajahnya kehilangan warna.

Pada kolom pemegang hak tercetak jelas.

Maya Saraswati.

“Ini tidak mungkin.”

Maya hanya menatapnya.

Ibu Hartini menoleh kepada Dimas.

“Dimas?”

Dimas menghela napas.

“Itu benar, Ma.”

“Rumah ini kamu yang beli!”

“Tidak.”

Dimas menjawab pelan.

“Maya yang beli.”

Ibu Hartini seolah tidak mendengar.

“Perusahaanmu besar. Gajimu puluhan juta.”

Dimas menunduk.

“Ma, perusahaan tempat aku bekerja itu bagian dari Saraswati Group.”

Ruangan mendadak hening.

Vanya mengernyit.

“Saraswati Group?”

Sheila menoleh tajam kepada Maya.

Nama itu bukan nama asing.

Saraswati Group memiliki jaringan logistik, properti, rumah sakit, dan perusahaan pangan di beberapa kota besar Indonesia.

Mereka jarang muncul di media.

Keluarganya dikenal sangat tertutup.

Dimas melanjutkan.

“Ayah Maya yang membangun perusahaan itu dari nol. Setelah beliau meninggal, sebagian besar saham pengendali diwariskan kepada Maya.”

Mulut Sheila terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

Ibu Hartini justru tertawa tidak percaya.

“Kalau memang begitu, kenapa selama ini dia diam saja?”

Maya menjawab.

“Karena aku menikah dengan Dimas, bukan dengan keluarganya.”

Tatapannya tajam tetapi tidak meninggi.

“Aku tidak merasa perlu memperkenalkan diri melalui rekening bank.”

Ibu Hartini memegang tepi meja.

“Jadi kartu kredit yang selama ini…”

“Milik rekening fasilitas keluargaku.”

“Mobil Vanya?”

“Milik perusahaan.”

“Apartemen Sheila?”

“Juga.”

Sheila langsung memotong.

“Tapi Dimas yang kasih!”

Maya menoleh kepada Dimas.

Dimas menjawab sendiri.

“Aku yang mengatur penggunaannya. Tapi asetnya memang bukan milikku.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah ketiga perempuan itu menunjukkan sesuatu yang belum pernah Maya lihat.

Takut.

Namun Maya tidak merasa puas.

Ia justru merasa lelah.

Ibu Hartini mendekatinya.

“Maya, kalau memang selama ini ada salah paham…”

“Salah paham?”

Suara Maya tetap lembut.

“Anda mengatakan saya tidak termasuk keluarga inti.”

Ibu Hartini terdiam.

“Anda menyuruh saya tinggal di rumah untuk membersihkan dapur.”

Tidak ada jawaban.

“Anda juga menyuruh saya makan sisa.”

Wajah Ibu Hartini mulai memerah.

“Itu… saya sedang emosi.”

Maya mengangguk pelan.

“Justru karena itu saya akhirnya mengerti sesuatu.”

Ia mengambil tiga amplop dari atas meja.

Satu diberikan kepada Ibu Hartini.

Satu kepada Sheila.

Satu kepada Vanya.

“Mulai hari ini, semua fasilitas tambahan dihentikan.”

Sheila langsung membuka amplopnya.

“Apa?”

“Kontrak apartemenmu berakhir tiga puluh hari lagi.”

“Mbak, aku tinggal dekat kantor dari sana!”

“Kamu bekerja. Kamu bisa menyewa sendiri.”

Vanya membuka amplopnya.

“Mobil juga?”

“Besok sore dikembalikan.”

Ibu Hartini belum membuka miliknya.

Ia hanya menatap Maya.

“Kalau saya?”

“Tujuh hari.”

Wajah Ibu Hartini berubah keras.

“Kamu mengusir saya?”

“Saya meminta Ibu kembali tinggal di rumah milik Ibu sendiri.”

“Dimas!”

Ibu Hartini menoleh pada putranya.

“Kamu diam saja melihat istrimu memperlakukan Mama seperti ini?”

Semua mata tertuju kepada Dimas.

Enam tahun sebelumnya, Dimas mungkin akan langsung membela ibunya.

Tiga tahun sebelumnya, ia mungkin akan meminta Maya mengalah.

Bahkan pagi tadi, mungkin ia masih berpikir begitu.

Tetapi sekarang ia melihat istrinya berdiri sendirian di tengah ruang keluarga yang selama ini dipenuhi keluarganya.

Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang memalukan.

Maya tidak pernah meminta ia memilih.

Justru karena Maya tidak pernah meminta itulah Dimas terlalu nyaman membiarkannya menanggung semuanya.

Dimas berdiri di samping Maya.

“Ma.”

Ibu Hartini langsung berharap.

Namun Dimas berkata pelan.

“Mama pulang ke Kemang.”

Wajah Ibu Hartini membeku.

“Dimas?”

“Aku tetap anak Mama.”

Dimas menarik napas.

“Tapi aku juga suami Maya. Dan selama ini aku gagal menjalankan itu.”

Tidak ada yang bicara.

Ibu Hartini akhirnya mengambil tasnya.

Ia berjalan menuju tangga tanpa menatap siapa pun.

Sebelum naik, ia berhenti.

“Enam tahun saya tinggal di sini.”

Maya menjawab.

“Saya tahu.”

“Dan kamu bisa menghapus semuanya begitu saja?”

Maya menggeleng.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar berat.

“Saya justru melakukan ini karena saya tidak bisa menghapus enam tahun itu.”

Malamnya, Ibu Hartini tidak makan malam.

Sheila dan Vanya juga mengunci diri di kamar.

Maya tidur di kamar tamu.

Dimas tidak memaksanya kembali ke kamar utama.

Selama tujuh hari berikutnya, rumah itu terasa asing.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada pertengkaran besar.

Justru keheningan yang perlahan memaksa semua orang melihat kenyataan yang selama ini mereka hindari.

Pada hari ketiga, Vanya mengembalikan mobil.

Ia datang ke ruang kerja Maya dengan mata sembap.

“Aku sudah pesan taksi online.”

Maya mengangguk.

Vanya berdiri beberapa detik.

“Mbak.”

Maya menoleh.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tetapi kali ini tidak terdengar seperti upaya menyelamatkan fasilitas.

Maya tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata.

“Belajar hidup tanpa merasa berhak atas milik orang lain.”

Vanya mengangguk.

Hari kelima, Sheila datang membawa kunci apartemen.

Ia tidak meminta perpanjangan.

Hari ketujuh, sebuah truk kecil berhenti di depan rumah.

Ibu Hartini turun membawa dua koper terakhir.

Ia akan kembali ke rumahnya di Kemang.

Sebelum masuk mobil, ia melihat Maya berdiri di teras.

Selama beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.

Kemudian Ibu Hartini mendekat.

“Saya masih sulit menerima semua ini.”

Maya mengangguk.

“Saya juga tidak meminta Ibu menerimanya hari ini.”

Ibu Hartini menunduk.

“Tapi… makanan yang kamu masak waktu itu…”

Maya tidak menyangka kalimat itu akan muncul.

Ibu Hartini menelan ludah.

“Sebenarnya saya mencicipi rendangnya sebelum pergi.”

Maya mengangkat alis.

Ibu Hartini tersenyum sangat tipis.

“Enak.”

Itu mungkin pujian pertama yang pernah ia berikan kepada Maya selama enam tahun.

Namun Maya tidak tersenyum lebar.

Ia hanya berkata.

“Terima kasih.”

Ibu Hartini berjalan ke mobil.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

“Maya.”

“Ya?”

“Selamat ulang tahun saya ternyata benar-benar tidak akan terlupakan.”

Maya menjawab tenang.

“Mungkin itu memang hadiah yang Ibu butuhkan.”

Mobil pergi.

Dimas berdiri di balik pintu.

Ia mendekati Maya setelah gerbang tertutup.

“Apakah kita masih punya kesempatan?”

Maya memandang suaminya.

Pertanyaan itu sudah ia tunggu selama seminggu.

“Aku belum tahu.”

Dimas mengangguk.

Tidak memaksa.

Maya melanjutkan.

“Aku tidak butuh kamu memilih antara aku dan keluargamu.”

“Aku tahu.”

“Aku butuh kamu tahu kapan harus berdiri di sisiku.”

Dimas menatapnya.

“Kali ini aku belajar.”

Maya tersenyum samar.

“Belajar belum tentu berubah.”

Dimas mengangguk lagi.

“Kalau begitu biar aku buktikan.”

Tiga bulan kemudian, rumah Pondok Indah terasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih sedikit orang.

Tetapi untuk pertama kalinya terasa benar-benar seperti rumah.

Hubungan Maya dan Dimas belum sepenuhnya pulih.

Mereka mengikuti konseling pernikahan.

Dimas mulai belajar membuat batas dengan keluarganya.

Sheila pindah ke apartemen yang lebih kecil dan membayar sendiri sewanya.

Vanya membeli mobil bekas dengan cicilan pertamanya.

Sedangkan Ibu Hartini kembali tinggal di Kemang.

Suatu Minggu sore, Maya sedang menyiram tanaman ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Ibu Hartini turun.

Sendirian.

Di tangannya ada sebuah kotak besar.

Maya menatap heran.

Ibu Hartini berjalan masuk tanpa banyak bicara.

Ia meletakkan kotak itu di meja makan.

“Ini apa?”

Ibu Hartini membuka tutupnya.

Di dalamnya ada rendang.

Warnanya terlalu gelap.

Minyaknya berlebihan.

Beberapa potongan daging bahkan hampir hancur.

Maya menatapnya.

Ibu Hartini menarik kursi.

“Saya coba masak dari resep yang kamu tulis di buku dapur.”

Maya hampir tertawa.

“Kenapa?”

Ibu Hartini menghela napas panjang.

“Karena ternyata sebelas jam di dapur itu bukan hal sepele.”

Maya diam.

Ibu Hartini menatap tangannya sendiri.

“Dan karena saya baru sadar, selama enam tahun saya selalu menghitung apa yang diberikan orang kepada saya.”

Ia mengangkat wajah.

“Tapi saya tidak pernah menghitung apa yang saya ambil dari mereka.”

Maya duduk di seberangnya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada air mata dramatis.

Hanya dua perempuan yang akhirnya berbicara tanpa jabatan sebagai mertua dan menantu.

Sore itu mereka mencicipi rendang buatan Ibu Hartini.

Rasanya terlalu asin.

Dagingnya sedikit keras.

Maya memakannya sampai habis.

Ketika Ibu Hartini pulang, Dimas menemukan istrinya sendirian di ruang makan.

Ia melihat piring kosong di depan Maya.

“Mama datang?”

Maya mengangguk.

“Bawa rendang.”

Dimas tertawa kecil.

“Enak?”

Maya memandang pintu tempat ibu mertuanya baru saja pergi.

Kemudian ia tersenyum.

“Belum.”

Dimas mengernyit.

Maya mengambil segelas air.

“Tapi untuk pertama kalinya, rasanya dibuat dengan niat yang benar.”

Dan pada akhirnya, Maya menyadari satu hal.

Rumah tidak menjadi milik seseorang hanya karena namanya tercetak di atas sertifikat.

Rumah menjadi rumah ketika setiap orang yang tinggal di dalamnya tahu bagaimana menghormati batas, menghargai pengorbanan, dan berhenti menganggap kasih sayang sebagai sesuatu yang bisa digunakan tanpa batas.

Hari itu, Maya tidak mendapatkan kembali sebelas jam yang pernah ia habiskan untuk memasak 23 hidangan.

Ia juga tidak bisa menghapus enam tahun penghinaan.

Namun ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Ia mendapatkan kembali suaranya sendiri.

Dan sejak saat itu, tidak seorang pun lagi di rumah tersebut berani menyuruh pemiliknya makan sisa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang