Suamiku Menelepon Dengan Suara Gemetar, Memintaku Mengaku Sebagai Pengemudi Mobil Yang Dirusak Asistennya; Namun Saat Rekaman Dasbor Diputar Di Kantor Polisi, Aku Melihat Blazer Milikku Di Tubuh Perempuan Itu Dan Mendengar Kalimat Yang Membuat Suamiku Seketika Pucat, Sementara Aku Diam-Diam Menghubungi Pengacara Keluargaku

“Malam ini saya akan mengetahui berapa lama suami saya merencanakan penghancuran hidup saya.”

Kalimat itu keluar dari mulutku jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.

Reza menatapku seperti baru pertama kali melihat siapa sebenarnya perempuan yang dinikahinya empat tahun lalu. Selama ini mungkin ia mengenalku sebagai Alya yang selalu menyelesaikan masalah. Alya yang membayar utang tanpa bertanya. Alya yang menelepon investor ketika perusahaannya kekurangan modal. Alya yang memilih diam demi menjaga nama keluarga.

Ia lupa bahwa diam bukan berarti bodoh.

Pak Arif meminta kami tidak meninggalkan ruangan.

Citra langsung panik.

“Pak, saya bisa menjelaskan. Itu cuma bercanda.”

Pak Arif menatapnya datar.

“Merencanakan kecelakaan, menggunakan kendaraan tanpa izin, lalu mencoba memberikan keterangan palsu bukan bahan bercandaan.”

Reza akhirnya menemukan suaranya.

“Alya, dengarkan aku dulu.”

“Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu.”

“Aku tidak tahu Citra akan melakukan ini.”

Aku menunjuk laptop.

“Suara laki-laki dalam rekaman itu terdengar sangat mengenal rencananya.”

“Itu bukan aku.”

“Bagus. Berarti pemeriksaan akan membuktikannya.”

Wajah Reza semakin pucat.

Empat puluh menit kemudian, Pak Surya tiba bersama dua anggota tim hukum keluarga. Pria berusia hampir enam puluh tahun itu sudah mengenalku sejak aku masih duduk di bangku SMA. Ia pernah menjadi penasihat hukum ayahku dan kemudian membantu membangun struktur hukum perusahaan logistik yang kurintis dari nol.

Pak Surya tidak banyak bicara. Ia hanya menyalamiku, meminta salinan rekaman, lalu membuka laptopnya.

“Ada sesuatu yang perlu kamu lihat,” katanya.

Ia menunjukkan beberapa dokumen digital.

Tiga bulan terakhir, tim audit internal menemukan permintaan perubahan struktur kepemilikan saham di salah satu anak perusahaan. Dokumen tersebut tidak pernah selesai diproses karena tanda tanganku belum diverifikasi.

Nama pemohon internalnya adalah Reza Mahendra.

Aku membaca halaman demi halaman.

“Kenapa aku baru tahu?”

“Kami awalnya mengira ini permintaan administratif biasa dari pihakmu. Sampai tanda tangan elektroniknya gagal diverifikasi dua kali.”

Pak Surya memperbesar salah satu dokumen.

Ada tanda tanganku di sana.

Hampir sempurna.

Namun bukan milikku.

Reza berdiri dari kursinya.

“Alya, itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatapnya.

“Kalimat itu selalu muncul tepat sebelum seseorang menjelaskan sesuatu yang memang seperti yang kita pikirkan.”

Pak Surya kemudian mengeluarkan salinan lain.

Ada surat kuasa, rancangan pengalihan saham, dan dokumen yang menyatakan bahwa apabila aku terlibat perkara pidana yang berpotensi merusak perusahaan, hak pengelolaan sementara atas sejumlah aset dapat dialihkan kepada pihak yang telah ditunjuk.

Pihak itu adalah Reza.

Aku akhirnya mengerti.

Kecelakaan malam itu bukan sekadar cara melindungi Citra.

Aku memang harus menjadi pengemudinya.

Jika aku mengaku berada di balik kemudi, laporan kepolisian akan mencatat namaku. Kemudian, dengan sedikit manipulasi tambahan, kasus itu bisa dibuat terlihat lebih serius daripada kecelakaan ringan.

Reputasiku terguncang.

Dewan direksi panik.

Lalu Reza muncul sebagai suami yang siap “menyelamatkan” perusahaan.

“Berapa banyak saham yang ingin kamu ambil?” tanyaku.

Reza menggeleng cepat.

“Aku tidak pernah ingin mengambil perusahaanmu.”

Pak Surya menjawab sebelum aku sempat berkata apa pun.

“Dua puluh tujuh persen pada tahap pertama.”

Ruangan kembali sunyi.

Citra menoleh kepada Reza dengan ekspresi terkejut.

“Katanya cuma sepuluh persen.”

Reza langsung menatapnya tajam.

“Diam!”

Satu kata itu justru menghancurkan pertahanan terakhirnya.

Pak Arif segera mencatat sesuatu.

Aku memandang Citra.

“Jadi kamu tahu?”

Perempuan itu mulai menangis lagi, tetapi kali ini tangisannya berbeda. Tidak ada lagi gaya perempuan rapuh yang membutuhkan perlindungan.

Ia ketakutan.

“Pak Reza bilang Ibu sebenarnya mau menceraikannya dan mengambil semuanya. Dia bilang perusahaan itu dibangun bersama, tapi semua saham sengaja ditaruh atas nama Ibu.”

Aku hampir tidak percaya.

Perusahaan itu berdiri dua tahun sebelum aku mengenal Reza.

Gudang pertama kusewa menggunakan tabunganku sendiri. Selama enam bulan aku bekerja dari meja plastik di sebuah ruangan tanpa pendingin udara.

Ketika perusahaan mendapatkan klien besar pertama, Reza bahkan masih bekerja di perusahaan konsultan tempat kami kemudian bertemu.

Namun rupanya ia telah menulis ulang sejarah kami di depan orang lain.

“Lanjutkan,” kataku.

Citra menelan ludah.

Awalnya ia hanya diminta mengambil foto beberapa dokumen dari ruang kerjaku. Reza kemudian memberinya akses ke beberapa jadwal rapat dan meminta Citra mengamati kapan aku berada di luar kota.

Hubungan mereka berubah tiga bulan kemudian.

Mereka mulai makan malam bersama.

Kemudian menginap bersama ketika Reza mengaku kepadaku sedang melakukan perjalanan bisnis.

Citra menundukkan kepala.

“Dia bilang setelah semuanya selesai, dia akan menceraikan Ibu.”

Reza menghantam meja.

“Cukup!”

Pak Arif berdiri.

“Saudara Reza, tenang.”

Namun sesuatu dalam diriku justru menjadi sangat tenang.

Perselingkuhan itu menyakitkan, tetapi bukan bagian yang paling menghancurkanku.

Yang menghancurkanku adalah menyadari bahwa selama berbulan-bulan, seseorang yang tidur di sampingku setiap malam mempelajari hidupku seperti seorang pencuri mempelajari rumah yang ingin dibobol.

Ia mengetahui jadwalku.

Kata sandiku.

Kebiasaanku.

Hubunganku dengan direksi.

Bahkan pakaian yang kusimpan untuk acara penting.

Dan malam ini, perempuan yang tidur dengannya mengenakan blazerku sambil mengendarai mobilku untuk menjebakku.

Aku mengambil ponsel.

“Pak Surya, bekukan semua akses Reza ke perusahaan.”

Reza menatapku tajam.

“Kamu tidak bisa melakukan itu.”

“Aku pemegang saham pengendali.”

“Aku suamimu.”

“Itu bukan jabatan di perusahaan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang lebih kuat daripada kepanikan di wajahnya.

Kebencian.

“Aku menghabiskan empat tahun mendampingimu,” katanya. “Aku memperkenalkanmu kepada orang-orang. Aku menghadiri acara perusahaanmu. Aku menjaga citramu. Semua orang menganggap kita pasangan sukses karena aku berdiri di sampingmu.”

“Dan karena itu kamu merasa berhak mengambil perusahaanku?”

“Aku pantas mendapatkan bagian!”

“Kalau begitu seharusnya kamu bekerja untuk mendapatkannya.”

Reza tertawa pahit.

“Kamu selalu seperti ini. Selalu merasa paling mampu.”

Aku tidak menjawab.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira Reza merasa terabaikan karena kesibukanku.

Ternyata ia bukan membenci kesibukanku.

Ia membenci keberhasilanku.

Pemeriksaan berlangsung hingga lewat tengah malam.

Polisi menemukan bahwa pengendara motor yang terlibat dalam kecelakaan memang menerima transfer lima juta rupiah dua hari sebelumnya dari rekening seseorang bernama Dimas.

Nama itu tidak kukenal.

Namun Citra mengenalnya.

“Dia teman Pak Reza,” katanya pelan.

Reza kembali menyangkal.

Sampai Pak Surya menerima telepon dari tim forensik digital perusahaan.

“Alya,” katanya setelah menutup telepon, “mereka menemukan sesuatu dari akun kantor Reza.”

Ada percakapan yang telah dihapus tetapi masih tersimpan dalam cadangan server.

Reza dan Dimas telah membicarakan “skenario Cibubur” selama hampir tiga minggu.

Bukan hanya itu.

Mereka juga membicarakan obat.

Dadaku langsung terasa sesak.

“Obat apa?”

Pak Surya terdiam sesaat.

“Dalam salah satu percakapan, Reza bertanya apakah obat penenang tertentu bisa membuat seseorang terlihat tidak fokus ketika diperiksa.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Malam itu sebelum aku berangkat, Reza sempat menyuruh Citra mengirimkan kopi untukku ke kantor.

Aku tidak meminumnya karena sudah dingin.

Gelas itu masih berada di meja kerjaku.

Aku segera menelepon kepala keamanan kantor dan meminta gelas tersebut diamankan.

Reza kehilangan kendali.

“Ini gila! Kalian semua sedang membuat cerita!”

Namun semakin keras ia berteriak, semakin jelas ketakutannya.

Menjelang pukul tiga pagi, ia dan Citra dipisahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum dibawa keluar, Reza menoleh kepadaku.

“Alya.”

Aku tidak menjawab.

“Aku masih suamimu.”

Aku menatap laki-laki yang empat tahun lalu berdiri di depan penghulu dan berjanji akan melindungiku.

“Tidak,” kataku. “Kamu hanya seseorang yang kebetulan belum selesai kuceraikan.”

Tiga minggu berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.

Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan kandungan obat penenang dalam sisa kopi di kantorku. Dosisnya tidak cukup untuk membuatku kehilangan kesadaran, tetapi cukup untuk menurunkan konsentrasi.

Rencana mereka menjadi semakin jelas.

Aku harus meminum kopi itu.

Kemudian mengemudikan mobil.

Citra seharusnya mengambil alih kendaraan di titik tertentu, menciptakan kecelakaan kecil, lalu meninggalkan bukti yang mengarah kepadaku.

Namun aku tidak meminum kopi tersebut.

Karena itulah rencana berubah mendadak.

Reza meneleponku dan memintaku datang serta mengaku sebagai pengemudi.

Kesalahan mereka sederhana.

Mereka mengira aku masih menjadi Alya yang lama.

Perceraian kuajukan minggu berikutnya.

Reza mencoba menghubungiku berkali-kali melalui teman, keluarga, bahkan ibunya. Ia meminta kesempatan menjelaskan.

Aku menolak semuanya.

Citra akhirnya bekerja sama dalam pemeriksaan dan menyerahkan percakapan pribadinya dengan Reza.

Dari situlah muncul kejutan yang bahkan tidak diketahui Citra.

Ia bukan satu-satunya perempuan.

Ada seorang perempuan bernama Nadia yang selama hampir satu tahun berkomunikasi dengan Reza.

Namun Nadia bukan kekasihnya.

Ia bekerja sebagai konsultan hukum perusahaan pesaing terbesar kami.

Ketika tim Pak Surya menelusuri percakapan mereka, ditemukan bahwa Reza telah menjanjikan akses terhadap data ekspansi perusahaan setelah berhasil mendapatkan kendali atas sebagian sahamku.

Aku membaca percakapan itu sendirian di ruang kerja.

Tiba-tiba seluruh potongan yang sebelumnya terasa terpisah menyatu.

Perselingkuhan.

Dokumen palsu.

Kecelakaan.

Saham.

Semuanya bukan sekadar ambisi seorang suami yang iri terhadap istrinya.

Reza sudah berencana menjual perusahaan yang tidak pernah ia bangun.

Namun ada satu pesan terakhir yang membuatku berhenti bernapas selama beberapa detik.

Pesan dari Nadia kepada Reza, dikirim enam bulan sebelumnya.

“Kamu yakin Alya tidak akan curiga? Ayahnya pernah hampir menemukan pola transaksi kita dulu.”

Ayahku meninggal tujuh bulan sebelumnya karena serangan jantung.

Aku langsung menelepon Pak Surya.

Ia terdiam cukup lama setelah membaca pesan itu.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang selama ini disembunyikannya.

Seminggu sebelum meninggal, ayahku pernah meminta tim audit memeriksa Reza secara diam-diam.

Ayah mencurigai ada transaksi tidak wajar.

Namun ia meninggal sebelum hasil pemeriksaan selesai.

Pak Surya kemudian menyerahkan sebuah amplop yang ternyata dititipkan ayah kepadanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat tulisan tangan.

Alya, Ayah berharap kecurigaan Ayah salah. Tetapi kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti kamu akhirnya melihat apa yang Ayah lihat. Jangan pertahankan seseorang hanya karena kamu takut mengakui bahwa pilihanmu pernah salah. Kehilangan orang yang salah bukan kegagalan. Kadang-kadang itu cara hidup mengembalikan kita kepada diri sendiri.

Aku membaca surat itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya sejak malam kecelakaan, aku menangis.

Bukan karena Reza.

Bukan karena Citra.

Bukan karena perusahaan.

Aku menangis karena akhirnya memahami mengapa ayah selalu menatap Reza sedikit lebih lama setiap kali kami makan bersama.

Enam bulan kemudian, hidupku terlihat sangat berbeda.

Proses hukum masih berjalan, tetapi bukti digital, rekaman kamera, dokumen palsu, transaksi keuangan, dan keterangan sejumlah saksi telah membentuk rangkaian yang sulit dibantah.

Aku menjual Porsche yang rusak itu setelah diperbaiki.

Bukan karena takut mengingat kejadian tersebut.

Aku hanya tidak lagi menginginkannya.

Sebagai gantinya, aku membeli mobil yang jauh lebih sederhana.

Pada suatu pagi, setelah rapat ekspansi perusahaan selesai, Pak Surya datang membawa sebuah kotak kecil.

“Ini ditemukan saat rumah lama orang tuamu dibereskan.”

Di dalamnya terdapat kunci mobil tua milik ayah.

Aku tersenyum.

Ayah pernah mengajariku mengemudi menggunakan mobil itu ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Aku masih ingat nasihatnya ketika tanganku gemetar memegang kemudi.

“Kalau kamu takut, jangan menyerahkan setir kepada orang lain. Kurangi kecepatan, lihat jalan baik-baik, lalu tentukan sendiri ke mana kamu mau pergi.”

Dulu kupikir ayah hanya sedang mengajariku mengemudi.

Ternyata kalimat itu jauh lebih besar daripada sebuah pelajaran di jalan raya.

Malam ketika Reza menelepon dan memintaku mengaku sebagai pengemudi, ia yakin aku akan kembali melakukan hal yang sama seperti selama empat tahun pernikahan kami.

Mengambil kesalahannya.

Membersihkan kekacauannya.

Menanggung akibat dari pilihannya.

Ia hanya melakukan satu kesalahan perhitungan.

Untuk pertama kalinya dalam pernikahan kami, aku benar-benar mengambil kemudi.

Dan kali ini, aku tidak berniat menyerahkannya kembali kepada siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang