Aku menemani suamiku berjualan mi di pasar malam saat kami tak punya apa-apa, namun tiga tahun setelah ia menjadi pengusaha kaya, rumah sakit menelepon dan mengatakan tubuhnya tak bisa bergerak di kamar perempuan lain—lalu polisi menemukan namaku dalam rekaman hotel sebagai orang terakhir yang datang sebelum semuanya terjadi

“Itu benar. Akulah yang mengirim amplop tersebut.”

Tatapan dua polisi di ruangan itu langsung berubah. Salah seorang dari mereka, Komisaris Arman, menarik kursi dan duduk tepat di hadapanku.

“Kalau begitu, Ibu Kirana harus menjelaskan semuanya dari awal.”

Aku membuka rekaman suara di ponsel.

Suara Nadia terdengar jelas.

“Aku sudah pindahkan sebagian uangnya. Begitu Raka menandatangani dokumen terakhir, kita bisa pergi. Dia masih berpikir aku mencintainya.”

Lalu terdengar suara laki-laki lain.

“Bagaimana dengan istrinya?”

Nadia tertawa kecil.

“Kirana? Raka bilang perempuan itu terlalu percaya kepadanya. Bahkan kalau semua rekening kosong, dia mungkin baru sadar setelah berbulan-bulan.”

Aku menghentikan rekaman.

Wajah Raka yang terbaring di ranjang berubah pucat.

Tiga hari sebelumnya, rekaman itu dikirim kepadaku oleh seseorang yang tidak kukenal. Awalnya aku mengira itu jebakan. Namun setelah memeriksa transaksi perusahaan, aku menemukan aliran dana ke beberapa rekening yang terhubung dengan Nadia.

Totalnya hampir tiga puluh dua miliar rupiah.

Aku tidak langsung menghadapi Raka.

Aku mengenalnya terlalu baik.

Jika kutanya, ia akan menyangkal, menghapus bukti, lalu membuatku merasa bersalah karena mencurigainya.

Karena itu, aku memilih cara lain.

Aku mengirim rekaman tersebut dalam amplop hitam ke apartemen Nadia. Aku ingin Raka mendengarnya ketika sedang bersama perempuan yang ia percaya.

Aku ingin melihat apa yang akan terjadi ketika seorang pengkhianat mengetahui bahwa dirinya juga sedang dikhianati.

“Tapi saya tidak menyuruh siapa pun menyakitinya,” kataku kepada polisi. “Saya bahkan tidak tahu dia akan berada di apartemen itu sampai kurir memberi konfirmasi pengiriman.”

Komisaris Arman tidak langsung menjawab.

“Kurir mengatakan Ibu meminta amplop diserahkan langsung kepada Bapak Raka.”

“Benar.”

“Bagaimana Ibu tahu alamat apartemennya?”

Aku mengeluarkan salinan transaksi kartu kredit.

“Suami saya membayar sewanya menggunakan kartu perusahaan.”

Arman membaca dokumen itu beberapa saat.

Kemudian ia bertanya, “Mengapa Ibu tidak melaporkan penggelapan dana sejak awal?”

“Karena saya belum tahu siapa saja yang terlibat.”

Untuk pertama kalinya, Raka berhasil mengeluarkan suara.

“Ki… ra…”

Aku menoleh.

Matanya menatapku dengan campuran takut dan memohon.

Dahulu, satu tatapan seperti itu sudah cukup membuatku menyerahkan apa pun kepadanya.

Sekarang aku hanya melihat seorang asing.

Aku berdiri.

“Dok, selamatkan dia semampu Anda. Saya akan menandatangani tindakan medis yang memang diperlukan.”

Raka tampak sedikit lega.

“Tapi biaya pribadi di luar pertanggungan perusahaan dan asuransi harus menggunakan aset atas namanya sendiri.”

Air matanya kembali mengalir.

Aku pergi tanpa menyentuh tangannya.

Malam itu aku tidak pulang ke Alam Sutera.

Aku menginap di hotel dan meminta pengacaraku, Satria, datang membawa seluruh dokumen perusahaan.

Satria adalah teman kuliah kakakku. Ia mengenalku sebelum aku mengenal Raka. Selama bertahun-tahun, ia beberapa kali memperingatkanku agar tidak menyerahkan terlalu banyak kendali perusahaan kepada suamiku.

Aku selalu menganggapnya berlebihan.

Sekarang, di atas meja kamar hotel, terbentang bukti bahwa aku adalah orang bodoh yang sangat setia.

Ada pembelian apartemen.

Perhiasan.

Transfer rutin.

Tiket ke Singapura.

Tagihan restoran.

Bahkan biaya klinik kecantikan Nadia dibayar dari rekening operasional perusahaan.

Namun ada satu dokumen yang membuat Satria berhenti membalik halaman.

“Kirana.”

“Apa?”

Ia menggeser sebuah salinan akta ke arahku.

“Raka sedang mencoba memindahkan kepemilikan perusahaan.”

Aku membacanya dua kali.

Pradana Express dibangun dari gerobak mi ayam kami.

Ketika usaha pengiriman itu dimulai, aku menjual gelang emas peninggalan nenekku untuk membeli dua sepeda motor bekas. Aku yang mencatat pesanan. Aku yang menghubungi pelanggan. Aku yang mengantar paket ketika Raka sakit.

Setelah perusahaan membesar, Raka menjadi wajah utama bisnis.

Aku mundur dari operasional karena ia mengatakan aku pantas beristirahat.

Ternyata selama aku menikmati kehidupan nyaman yang ia berikan, ia perlahan menghapus jejakku dari perusahaan.

“Dokumen ini belum selesai,” kata Satria. “Masih butuh tanda tangan pemegang saham utama.”

Aku mengangkat kepala.

“Siapa?”

Satria menatapku.

“Kamu.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar tertawa.

Raka rupanya melupakan satu hal.

Ketika perusahaan didirikan, ayahku diam-diam menyuntikkan modal melalui perusahaan investasi keluarga. Sebagai syarat, lima puluh satu persen saham ditempatkan atas namaku.

Raka selalu menganggap itu formalitas.

Aku pun demikian.

Sampai malam itu.

Pukul dua dini hari, ponsel Raka yang diberikan polisi kepadaku tiba-tiba berbunyi.

Pesan masuk dari Nadia.

Aku menatap layar.

Jangan percaya Kirana. Dia tahu semuanya. Kalau kamu masih bisa membaca ini, jangan tanda tangan apa pun.

Beberapa detik kemudian pesan itu dihapus.

Terlambat.

Aku sudah mengambil tangkapan layar.

Keesokan paginya, kondisi Raka stabil setelah operasi. Dokter mengatakan kerusakan sarafnya serius, tetapi belum bisa memastikan apakah kelumpuhan itu permanen.

Polisi juga menemukan Nadia.

Ia tidak berada jauh.

Perempuan itu bersembunyi di sebuah hotel di Bekasi bersama dua koper berisi uang tunai, beberapa dokumen perusahaan, dan paspor.

Namun kejutan terbesar datang ketika polisi memeriksa rekaman apartemen lebih detail.

Tidak ada seorang pun yang mendorong Raka.

Setelah mendengar rekaman dalam amplop hitam, Raka mengamuk.

Ia menuduh Nadia hanya memanfaatkannya.

Nadia membalas bahwa Raka juga memanfaatkannya untuk menyembunyikan aset dari istrinya.

Pertengkaran berpindah ke kamar mandi.

Raka mencoba merebut tas Nadia. Kakinya terpeleset di lantai basah dan lehernya menghantam sisi bak mandi.

Nadia panik.

Ia menelepon ambulans, lalu mengambil koper dan melarikan diri.

Aku dibebaskan dari kecurigaan pidana.

Tetapi masalah sebenarnya baru dimulai.

Dua hari kemudian, Nadia meminta berbicara denganku.

Aku menemuinya di kantor polisi bersama Satria.

Aku membayangkan perempuan licik yang akan memohon atau mengancam.

Namun ketika Nadia masuk, ia terlihat jauh berbeda dari foto-foto di ponsel Raka.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada riasan sempurna.

Ia tampak lelah.

“Aku tidak meminta maaf karena berhubungan dengan suamimu,” katanya.

Satria langsung menatap tajam.

Nadia melanjutkan, “Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Ia meletakkan sebuah flashdisk di meja.

“Raka bukan cuma menyembunyikan uang darimu.”

Aku tidak menyentuh flashdisk itu.

“Apa maksudmu?”

“Dia merencanakan kebangkrutan perusahaan.”

Dadaku terasa sesak.

Nadia menjelaskan bahwa Raka membuat beberapa perusahaan cangkang. Dana Pradana Express dialihkan melalui kontrak palsu, lalu dipindahkan ke rekening luar negeri.

Setelah perusahaan utama jatuh, ia berencana membeli kembali asetnya melalui perusahaan baru dengan harga murah.

“Lalu kamu mendapat bagian?”

Nadia mengangguk.

“Awalnya.”

“Kenapa kemudian kamu mau kabur?”

Wajahnya berubah.

“Karena aku menemukan dokumen lain.”

Ia menatapku lurus.

“Setelah perusahaan bangkrut, seluruh utang akan diarahkan kepadamu.”

Aku tidak langsung memahami.

Kemudian Satria mengambil flashdisk itu dan membukanya melalui laptop.

Di dalamnya terdapat draf perjanjian pinjaman, jaminan pribadi, dan surat kuasa.

Beberapa dokumen mencantumkan tanda tanganku.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatanganinya.

Tanda tanganku dipalsukan.

Jika rencana itu berhasil, Raka bisa pergi membawa miliaran rupiah sementara aku menjadi orang yang secara hukum tampak bertanggung jawab atas utang perusahaan.

Tanganku akhirnya gemetar.

Bukan karena uang.

Melainkan karena aku teringat malam-malam di Pasar Lama.

Gerobak mi.

Hujan.

Susu hangat seharga delapan belas ribu.

Aku selalu percaya versi Raka yang hidup susah bersamaku adalah dirinya yang paling asli.

Ternyata mungkin justru aku yang tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Kenapa kamu memberikan ini kepadaku?” tanyaku.

Nadia tersenyum pahit.

“Karena dia juga berencana meninggalkanku.”

Ia menunjukkan sebuah pesan yang ditemukan di laptop Raka.

Setelah seluruh transaksi selesai, Raka berencana melaporkan Nadia sebagai pelaku penggelapan tunggal.

Kami berdua ternyata hanya pion di papan yang sama.

Satu minggu kemudian, penyelidikan terhadap keuangan perusahaan dimulai.

Beberapa rekening dibekukan.

Dua direktur keuangan diperiksa.

Raka masih dirawat di rumah sakit ketika polisi datang membawa surat pemeriksaan.

Aku mengunjunginya untuk terakhir kali.

Tubuhnya masih belum bisa bergerak sempurna. Ia sudah mampu berbicara pelan.

“Kirana… aku salah.”

Aku berdiri di dekat jendela.

“Aku akan kembalikan semuanya.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Aku masih mencintaimu.”

Kalimat itu hampir membuatku tertawa.

Aku mendekati ranjangnya.

“Dulu ketika kita hanya punya dua puluh ribu rupiah, kamu membeli susu delapan belas ribu untukku. Aku pikir itu bukti kamu mencintaiku.”

Raka menangis.

“Itu memang benar.”

“Mungkin.”

Aku mengangguk.

“Tapi setelah punya tiga puluh dua miliar, kamu justru merasa aku terlalu mahal untuk dipertahankan.”

“Kirana, tolong…”

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”

Wajahnya runtuh.

Aku meletakkan sebuah map di meja.

“Dan sebagai pemegang saham mayoritas, aku sudah memberhentikanmu dari seluruh jabatan di perusahaan.”

“Kamu tidak bisa melakukan itu.”

“Aku sudah melakukannya.”

Ia menatapku dengan kebencian yang akhirnya muncul tanpa topeng.

“Kamu tidak akan punya apa-apa tanpa aku!”

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum.

“Itu yang selalu kamu pikirkan, ya?”

Aku berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, aku menoleh.

“Gerobak mi pertama kita dibeli dari gelang nenekku. Dua motor pertama perusahaan dibeli dari uangku. Modal ekspansi pertama berasal dari ayahku. Bahkan rumah yang kita tempati dibeli melalui perusahaan investasi keluargaku.”

Raka membeku.

“Yang kubutuhkan darimu dulu bukan uang, Raka. Aku hanya membutuhkan seseorang yang mau berjuang bersamaku.”

Aku membuka pintu.

“Sayangnya, setelah menang, kamu lupa siapa yang ikut berjuang.”

Enam bulan kemudian, Pradana Express berganti nama.

Aku tidak menggunakan nama keluargaku ataupun nama Raka.

Aku menamainya Dua Puluh Ribu Logistics.

Satria tertawa ketika pertama kali mendengarnya.

“Nama perusahaan sebesar ini Dua Puluh Ribu?”

Aku mengangguk.

“Itu jumlah uang yang pernah kami miliki ketika merasa dunia sudah cukup.”

Perusahaan berhasil diselamatkan setelah restrukturisasi besar. Dana yang masih dapat dilacak dikembalikan. Beberapa aset Raka disita dalam proses hukum.

Nadia menerima hukuman atas keterlibatannya, tetapi kerja samanya dengan penyidik membuat proses hukum mempertimbangkan perannya dalam membongkar skema tersebut.

Aku tidak pernah berteman dengannya.

Namun aku juga berhenti membencinya.

Sebab pada akhirnya, perempuan yang kupikir merebut suamiku justru menjadi orang yang membantuku melihat siapa suamiku sebenarnya.

Suatu malam, hampir setahun setelah telepon dari rumah sakit itu, aku pergi sendirian ke Pasar Lama Tangerang.

Aku menemukan tempat gerobak kami dahulu biasa berdiri.

Sekarang ada pasangan muda berjualan mi di sana.

Sang perempuan sibuk menyiapkan mangkuk sementara laki-laki di sampingnya melayani pelanggan.

Hujan kecil mulai turun.

Laki-laki itu segera mengambil jaket dan menaruhnya di bahu perempuan tersebut.

Aku terpaku.

Pemandangan itu terasa seperti melihat masa lalu melalui kaca.

Aku memesan dua mangkuk.

“Sendirian, Mbak?” tanya perempuan itu.

Aku mengangguk.

“Kenapa pesan dua?”

Aku memandang kursi kosong di depanku.

Dulu aku mengira kehilangan terbesar dalam hidupku adalah kehilangan laki-laki yang menemaniku dari nol.

Ternyata bukan.

Kehilangan terbesar adalah menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku mencintai kenangan tentang seseorang yang sudah lama tidak ada.

Aku tersenyum kepada penjual itu.

“Yang satu bungkus saja.”

Ketika hendak membayar, aku melihat sebuah foto lama yang ditempel di sisi gerobak mereka.

Foto gerobak mi tua.

Gerobak kami.

Aku langsung mengenal goresan kecil berbentuk bulan sabit di bagian pegangan.

“Dari mana kalian mendapatkan gerobak ini?”

Laki-laki itu tersenyum.

“Dari seorang bapak tua. Katanya dulu anak perempuannya pernah jualan mi pakai gerobak ini bersama pacarnya.”

Jantungku berhenti sesaat.

“Apa nama bapak itu?”

“Pak Adiwijaya.”

Ayahku.

Aku menahan napas.

Ayah yang delapan tahun lalu kukira membuangku karena memilih Raka ternyata menyimpan gerobak itu selama bertahun-tahun.

Aku segera meneleponnya.

Ia menjawab pada dering kedua.

“Ayah.”

Hening beberapa detik.

“Kirana?”

“Kenapa Ayah menyimpan gerobak itu?”

Suara ayahku terdengar lebih tua daripada yang kuingat.

“Karena Ayah tahu suatu hari kamu mungkin perlu melihatnya lagi.”

“Untuk apa?”

“Supaya kamu ingat bahwa sebelum ada Raka, sebelum ada perusahaan, sebelum ada semua uang itu, kamu sudah berani bekerja.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan ketika menemukan perselingkuhan.

Bukan ketika melihat rekening rahasia.

Bukan ketika mengetahui tanda tanganku dipalsukan.

Aku menangis di depan gerobak mi tua karena akhirnya memahami sesuatu yang selama ini kulupakan.

Raka memang pernah berjalan bersamaku ketika aku tidak memiliki apa-apa.

Tetapi bukan dia yang menciptakan keberanianku.

Bukan dia yang memberiku kemampuan untuk bangkit.

Dan bukan kepergiannya yang menentukan apakah hidupku selesai.

“Ayah,” kataku sambil menangis dan tertawa bersamaan, “boleh aku pulang?”

Di seberang telepon, ayahku terdiam cukup lama.

Lalu terdengar suara yang selama delapan tahun diam-diam kurindukan.

“Rumah tidak pernah mengusirmu, Nak. Pintunya selalu terbuka.”

Malam itu aku pulang bukan sebagai istri Raka Pradana.

Bukan sebagai pemilik perusahaan bernilai miliaran rupiah.

Aku pulang sebagai Kirana.

Perempuan yang pernah mendorong gerobak mi di tengah hujan, pernah kehilangan hampir segalanya karena terlalu percaya kepada seseorang, tetapi akhirnya menemukan kembali satu hal yang tidak pernah berhasil dicuri siapa pun darinya.

Dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang