“Dimas, saya sudah memperingatkan Anda. Jangan menyentuh sesuatu yang menjadi milik keluarga saya.”
Suara Raka terdengar dari ponsel Nabila di tengah studio yang gelap.
Saya tidak menjawab. Cahaya senter ponsel saya bergetar di atas perut Nabila. Enam wajah yang sebelumnya tertutup kini membuka mata satu demi satu. Tidak serempak, melainkan perlahan, seolah masing-masing baru terbangun dari tidur panjang.
Nabila menjerit.

Saya meraih ponselnya dan memutus panggilan.
“Mas, jangan matikan!” katanya panik.
“Kenapa?”
“Kalau dia tahu teleponnya dimatikan, dia akan datang.”
Belum selesai Nabila bicara, terdengar ketukan dari dalam perutnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Bukan suara dari pintu studio.
Suara itu berasal tepat dari bawah tato.
Saya mundur satu langkah.
“Nabila, obat yang diberikan Raka masih ada?”
Ia mengangguk cepat lalu mengeluarkan botol kecil dari tasnya. Tidak ada nama obat, nomor registrasi, ataupun label apotek. Hanya tujuh garis hitam mengelilingi tutupnya.
Saya membuka botol itu.
Aromanya sama.
Bau herbal, logam, dan tanah lembap yang pernah saya cium dari tinta dua bulan sebelumnya.
Saat itulah saya sadar bahwa apa pun yang terjadi pada tubuh Nabila mungkin bukan sekadar tato.
“Jangan minum lagi.”
Saya memasukkan botol itu ke dalam kantong plastik, mengambil kunci mobil, lalu membantu Nabila berdiri.
“Kita ke rumah sakit.”
“Raka punya orang di rumah sakit keluarga mereka.”
“Bukan rumah sakit keluarganya.”
Saya membawa Nabila keluar melalui pintu belakang studio. Hujan masih turun deras. Kami baru beberapa meter meninggalkan gang ketika sebuah SUV hitam berhenti di depan studio.
Dua pria turun.
Saya mengenali salah satunya. Ia pernah mengantar kotak berisi peralatan tato milik Raka.
Saya mematikan lampu mobil dan membawa Nabila melalui jalan kecil menuju rumah kontrakan Pak Bima.
Rumah itu kosong sejak ia pergi dua bulan lalu. Anehnya, pintu belakang tidak dikunci.
Di dalam, hampir semua barang telah hilang. Hanya lemari kayu, meja tua, dan beberapa kardus kosong yang tersisa.
Saya mencari sesuatu tanpa tahu apa yang sebenarnya saya cari.
Kemudian Nabila berhenti di depan dinding.
“Mas Dimas.”
Ia menunjuk sebuah foto lama yang terselip di belakang lemari.
Dalam foto itu ada Pak Bima yang jauh lebih muda bersama seorang perempuan cantik. Di samping mereka berdiri pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip Raka.
Namun perhatian saya tertuju pada perempuan tersebut.
Gaunnya sedikit terangkat di bagian perut.
Ada tujuh wajah di sana.
“Siapa dia?” bisik Nabila.
Saya membalik foto.
Di belakangnya tertulis dengan tinta pudar.
Ratih Adinata, 1998.
Di bawah nama itu terdapat tulisan tangan Pak Bima.
Korban pertama yang selamat.
Saya segera menghubungi nomor Pak Bima. Kali ini panggilan tersambung.
“Pak, saya menemukan foto Ratih.”
Keheningan panjang terdengar dari seberang.
“Dimas, kamu bersama perempuan itu?”
“Iya.”
Pak Bima mengembuskan napas berat.
“Kalau salah satu wajah sudah membuka mata, waktunya tidak banyak.”
“Semua sudah terbuka.”
Ia terdiam.
“Dengarkan saya baik-baik. Jangan mencoba menghapus tatonya.”
“Kenapa?”
“Karena tinta itu tidak hanya berada di kulit.”
Pak Bima akhirnya menceritakan semuanya.
Dua puluh delapan tahun lalu, ia masih menjadi seniman tato keliling. Ayah Raka, Surya Adinata, datang membawa istrinya, Ratih. Permintaannya sama persis. Tujuh wajah. Peralatan sendiri. Tinta sendiri.
Pak Bima menerima pekerjaan itu karena dibayar mahal.
Beberapa bulan kemudian, Ratih kembali dengan kondisi seperti Nabila.
Perut membesar meskipun tidak hamil.
Suara-suara muncul pada malam hari.
Wajah-wajah mulai membuka mata.
Namun Ratih berhasil melarikan diri sebelum proses terakhir selesai.
“Proses apa?”
Suara Pak Bima mengecil.
“Wajah ketujuh akan mendapatkan mulut.”
Saya menatap tato Nabila.
Wajah ketujuh memang tidak memiliki mulut.
“Kalau mulut itu muncul?”
“Orang yang membawa tato akan kehilangan dirinya sedikit demi sedikit. Keluarga Adinata menyebutnya ikatan tujuh sifat. Mereka percaya tujuh wajah menyerap rasa takut, marah, sedih, bahagia, curiga, kasih, dan kehendak seseorang. Setelah semuanya lengkap, orang itu menjadi mudah dikendalikan.”
Saya merasa tengkuk saya dingin.
“Jadi bukan makhluk gaib?”
“Saya tidak tahu,” jawab Pak Bima. “Tapi saya tahu ada obat, bahan kimia, sugesti, dan ritual psikologis di balik semuanya. Mereka membuat korbannya percaya bahwa tubuhnya dikuasai sesuatu. Ketakutan kemudian melakukan separuh pekerjaan untuk mereka.”
Saya memandang Nabila.
“Lalu kenapa perutnya membesar?”
“Bawa dia ke dokter independen. Sekarang.”
Kami menuju sebuah rumah sakit swasta kecil di Sleman yang tidak memiliki hubungan dengan keluarga Adinata. Seorang dokter bernama Ratna menerima Nabila di unit gawat darurat.
Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam.
Hasil USG membuat saya terdiam.
Tidak ada janin.
Yang ada adalah penumpukan cairan dan peradangan parah pada jaringan abdominal. Dokter Ratna menduga Nabila mengalami reaksi toksik kronis akibat zat yang masuk melalui kulit dan obat yang dikonsumsinya.
“Kalau terlambat beberapa minggu lagi, organ dalamnya bisa ikut terdampak,” katanya.
Nabila menutup wajah sambil menangis.
“Jadi semua ini bukan kutukan?”
Dokter Ratna memandang tato tersebut.
“Saya tidak bisa menjelaskan gambar yang tampak berubah. Tapi pembengkakan tubuh Anda memiliki penjelasan medis.”
Saya langsung teringat sesuatu.
Foto.
Selama dua bulan saya selalu menganggap tujuh wajah itu membesar karena kulit Nabila meregang.
Saya membuka foto tato yang saya ambil setelah pekerjaan selesai.
Kami membandingkannya dengan kondisi sekarang.
Saya hampir menjatuhkan ponsel.
Bentuk wajahnya memang berubah.
Namun bukan matanya yang benar-benar bergerak.
Tinta hitam menyebar mengikuti pola yang telah dibuat sangat halus sejak awal. Garis-garis tersembunyi yang nyaris tak terlihat kini menjadi gelap akibat reaksi kimia di bawah kulit.
Mata itu memang dirancang untuk “terbuka” secara bertahap.
“Mas Dimas,” kata Nabila tiba-tiba.
Ia menunjuk wajah tanpa mulut.
Di bawah hidung wajah tersebut muncul garis tipis kemerahan.
Sebuah mulut mulai terbentuk.
Nabila langsung gemetar hebat.
“Tidak. Tidak. Mereka bilang kalau mulutnya muncul, aku akan hilang.”
Saya memegang bahunya.
“Lihat saya. Ini dibuat agar kamu percaya pada ketakutan itu.”
“Tapi suara yang memanggil nama saya?”
“Obatnya mungkin menyebabkan halusinasi.”
“Lalu suara dari perut saya?”
Dokter Ratna menjelaskan bahwa kontraksi otot dan pergerakan cairan dapat menghasilkan sensasi atau bunyi aneh.
Sedikit demi sedikit, gambaran mengerikan itu mulai mendapatkan penjelasan.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
Mengapa?
Mengapa keluarga sekaya Adinata melakukan semua ini?
Jawabannya datang sebelum fajar.
Raka muncul di rumah sakit.
Ia datang sendirian.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada ancaman.
Ia berdiri di depan kamar Nabila dengan wajah yang untuk pertama kalinya tidak terlihat tenang.
“Nabila, pulang.”
Nabila berdiri di belakang saya.
“Tidak.”
Raka menatapnya lama.
“Kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan.”
“Aku justru baru mengerti.”
Ia menunjukkan hasil pemeriksaan.
“Obat yang kamu berikan meracuni tubuhku.”
Wajah Raka berubah.
“Obat itu diperlukan agar prosesnya berhasil.”
“Proses apa?”
Raka terdiam.
Saya menyalakan perekam suara di ponsel tanpa sepengetahuannya.
Akhirnya ia berkata, “Ayah saya percaya perempuan yang masuk keluarga Adinata harus melewati ujian ini.”
“Ujian?”
Nabila tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.
“Kamu membuatku sakit, mengisolasi aku, melarangku pergi ke dokter, lalu menyebutnya ujian?”
“Kalau kamu mampu melewatinya, kamu tidak akan meninggalkan keluarga ketika keadaan sulit.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Saya baru memahami semuanya.
Ini bukan sekadar tradisi aneh.
Ini adalah sistem kontrol.
Korban dibuat sakit, ditakut-takuti, dijauhkan dari bantuan, lalu hanya diberikan satu sumber keselamatan, yaitu keluarga Adinata sendiri.
Ketergantungan yang dibangun melalui teror.
Nabila menatap Raka seolah sedang melihat orang asing.
“Perempuan-perempuan sebelum aku?”
Raka tidak menjawab.
“Jawab!”
“Mereka gagal.”
“Di mana mereka?”
“Sebagian menjalani perawatan di luar negeri.”
Nabila menggeleng.
“Bukan mereka yang gagal, Raka. Keluargamu yang menghancurkan mereka.”
Raka melangkah maju, tetapi saya berdiri di depannya.
“Percakapan ini sudah direkam.”
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya saya melihat ketakutan di matanya.
Pagi itu polisi datang setelah dokter Ratna melaporkan dugaan pemberian zat berbahaya tanpa informasi yang memadai. Pemeriksaan terhadap botol obat dan sisa tinta yang ternyata masih tersimpan di gudang studio saya menemukan campuran beberapa senyawa yang dapat memicu peradangan, perubahan pigmentasi, gangguan tidur, kecemasan, dan dalam paparan tertentu, halusinasi.
Kasus tersebut kemudian berkembang jauh lebih besar.
Dua mantan kekasih Raka yang sebelumnya dikabarkan “berobat ke luar negeri” berhasil ditemukan. Keduanya memberikan kesaksian serupa.
Pak Bima akhirnya kembali ke Yogyakarta.
Dan perempuan dalam foto itu, Ratih Adinata, ternyata masih hidup.
Ia bukan ibu Raka seperti dugaan saya.
Ia adalah kakak perempuan Surya Adinata yang menghilang dari keluarga sejak 1998.
Ratih menjadi orang pertama yang mencoba membongkar tradisi itu.
Pak Bima membantunya melarikan diri.
Itulah sebabnya ia ketakutan ketika mendengar nama Raka.
Beberapa minggu kemudian, saya menemui Nabila setelah kondisinya membaik. Pembengkakan perutnya sudah jauh berkurang. Dokter melakukan perawatan bertahap terhadap jaringan yang rusak, sedangkan proses penghilangan tato harus menunggu sampai tubuhnya benar-benar pulih.
Kami duduk di teras rumah sakit.
“Mas Dimas.”
“Ya?”
“Kenapa waktu itu Mas tetap mengerjakan tatonya padahal sudah merasa ada yang salah?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan apa pun.
Saya menatap tangan saya.
“Karena seratus juta.”
Nabila tidak berkata apa-apa.
“Saya melihat kamu takut. Saya melihat peralatannya mencurigakan. Saya tahu tinta itu aneh. Tapi saya memilih uang.”
Saya mengembuskan napas panjang.
“Kalau saya menolak hari itu, mungkin semua ini tidak terjadi.”
Nabila menggeleng pelan.
“Kalau Mas menolak, Raka mungkin mencari orang lain.”
“Tetap saja saya ikut membuka pintunya.”
Sejak hari itu, amplop berisi uang dari Raka tidak pernah saya gunakan. Sebagian diserahkan sebagai barang bukti. Sisanya kemudian saya gunakan untuk membantu biaya pemulihan Nabila dan dua korban lain setelah proses hukum mengizinkannya.
Studio saya tetap buka.
Namun ada satu aturan baru yang saya tempel di meja kerja.
Tidak ada uang sebesar apa pun yang cukup mahal untuk membeli persetujuan seseorang yang sedang ketakutan.
Enam bulan kemudian, Nabila datang lagi.
Tubuhnya sudah sehat. Wajahnya lebih berisi dan matanya kembali jernih.
Ia datang bukan untuk menghapus tato.
“Aku ingin mengubahnya.”
“Menjadi apa?”
Ia menyerahkan sebuah sketsa.
Tujuh wajah itu tetap ada, tetapi mata mereka terbuka. Di antara wajah-wajah tersebut tumbuh bunga-bunga kecil, dan di tengah lingkarannya terdapat satu matahari.
“Kenapa tidak dihapus saja?”
Nabila tersenyum.
“Karena aku tidak mau berpura-pura ini tidak pernah terjadi. Aku ingin mengingat bahwa sesuatu yang pernah dipakai untuk mengendalikan kita juga bisa kita ambil kembali maknanya.”
Saya mengerjakan tato itu selama beberapa sesi setelah dokter menyatakan kulitnya aman.
Pada sesi terakhir, saya sedang menyelesaikan bagian wajah ketujuh ketika pintu studio terbuka.
Pak Bima masuk.
Wajahnya pucat.
Ia membawa kotak kayu hitam.
Kotak yang sama seperti milik Raka.
“Saya menemukan ini di rumah Ratih.”
Ia meletakkannya di meja.
Di dalamnya terdapat puluhan foto perempuan.
Sebagian berasal dari tahun 1970-an.
Sebagian bahkan lebih tua.
Semua memiliki tato tujuh wajah.
Namun foto paling bawah membuat saya tidak mampu bergerak.
Foto hitam putih itu memperlihatkan seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah rumah di Yogyakarta sekitar tahun 1960-an.
Di sampingnya berdiri seorang pria.
Saya mengenali pria itu dari foto keluarga lama di rumah ibu.
Itu kakek saya.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
Keluarga Adinata bukan pencipta tujuh wajah.
Penato pertama berasal dari keluarga Dimas.
Tangan saya langsung gemetar.
Saya menatap Pak Bima.
“Apa maksudnya?”
Pak Bima belum sempat menjawab.
Nabila tiba-tiba menarik napas tajam.
Kami berdua menoleh.
Wajah ketujuh pada perutnya, yang selama berbulan-bulan tidak memiliki mulut, kini telah saya tutupi dengan kelopak bunga.
Tetapi perlahan, dari bawah lapisan tinta baru, sebuah garis hitam muncul.
Membentuk bibir.
Nabila menatap saya.
Saya menatapnya kembali.
Kemudian wajah ketujuh itu tersenyum.
Bukan karena tinta menyebar.
Bukan karena kulit meregang.
Saya melihatnya sendiri.
Bibir itu bergerak.
Dan dari tempat yang seharusnya tidak mungkin menghasilkan suara, terdengar bisikan sangat pelan.
“Dimas.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, saya memahami satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada keluarga Adinata.
Mungkin Raka memang berbohong tentang banyak hal.
Mungkin obat dan tinta itu memang dirancang untuk menyiksa serta mengendalikan para korbannya.
Tetapi bukan berarti semua yang mereka takuti hanyalah kebohongan.
Saya memandang kedua tangan saya.
Tangan yang selama delapan tahun telah menggambar ribuan garis pada kulit manusia.
Lalu saya teringat kalimat terakhir kakek sebelum meninggal bertahun-tahun lalu, kalimat yang selama ini saya kira hanya ocehan seorang lelaki tua.
“Kalau suatu hari tujuh wajah kembali kepadamu, jangan selesaikan wajah terakhir.”
Di belakang saya, mesin tato yang sudah saya cabut dari stopkontak tiba-tiba menyala sendiri.
Jarumnya bergerak cepat.
Dan ketujuh wajah di perut Nabila membuka mata secara bersamaan.
