Setelah Melahirkan Dua Anak, Aku Mengambil Rp10 Miliar dan Pergi—Ternyata Itu Bukan Uang Perpisahan

“Kenapa kamu memberi tanda suka?”

Aku menatap pesan dari Aditya cukup lama.

Hanya itu.

Bukan menanyakan keadaan Raka. Bukan menanyakan apakah Naya tidur nyenyak. Bahkan bukan bertanya di mana kami berada.

Aku mengetik singkat.

“Tidak sengaja.”

Tanda mengetik muncul hampir seketika.

Hilang.

Muncul lagi.

Lalu akhirnya sebuah pesan masuk.

“Di mana kalian?”

Aku tersenyum hambar.

“Bukankah kamu menyuruhku pergi?”

Kali ini tidak ada balasan.

Aku meletakkan ponsel di meja dan kembali memperhatikan Raka yang sedang tertawa di kolam. Seharusnya aku merasa lega. Aku sudah bebas, memiliki cukup uang untuk memulai kehidupan baru, dan tidak lagi harus menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapku bagian dari keluarganya.

Namun malam itu, ketika kedua anak sudah tidur, aku justru terbangun berkali-kali.

Setiap kali memejamkan mata, aku teringat dua kata terakhir Aditya.

“Kalau begitu, pergilah.”

Tiga hari berikutnya berlalu tanpa pesan.

Aku mulai mencari rumah kecil di sekitar Denpasar. Bukan vila mewah. Bukan apartemen dengan pemandangan laut. Aku hanya menginginkan rumah dengan tiga kamar, halaman kecil untuk Raka bermain, dan jendela besar agar Naya mendapatkan cukup cahaya pagi.

Pada hari keempat, seorang agen menunjukkan sebuah rumah di kawasan yang tenang.

Raka langsung berlari ke halaman belakang.

“Bunda, ada pohon mangga!”

Aku tertawa.

“Kalau begitu, kita ambil rumah ini?”

Ia mengangguk berkali-kali.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah keputusan terasa benar-benar menjadi milikku.

Aku membayar sewa satu tahun di muka.

Sore harinya, ketika sedang menandatangani kontrak, ponselku berdering.

Bu Ratna.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

“Laras, kamu di mana?”

“Bali.”

“Kenapa membawa cucu-cucuku pergi tanpa bicara denganku?”

Aku menahan napas.

“Pak Hendra mengatakan anak-anak boleh ikut saya.”

“Pak Hendra?”

Nada suaranya berubah.

“Pengacara Aditya.”

“Aku tahu siapa Hendra!”

Ia terdiam beberapa detik.

“Siapa yang menyuruh Hendra datang kepadamu?”

Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti bergerak.

“Aditya.”

“Aditya?”

Suara Bu Ratna terdengar seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

“Laras, jangan bohong.”

“Apa untungnya saya berbohong?”

Telepon mendadak terputus.

Aku menatap layar dengan bingung.

Dua puluh menit kemudian, Pak Hendra menelepon.

Aku mengangkatnya.

“Bu Laras, apakah Ibu sempat membaca dokumen yang Ibu tandatangani?”

“Tidak.”

Di ujung sana terdengar helaan napas panjang.

“Sepertinya ada kesalahpahaman yang cukup besar.”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

“Kesalahpahaman apa?”

“Dana Rp10 miliar itu bukan kompensasi perpisahan.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Lalu apa?”

Pak Hendra terdiam.

“Saya rasa sebaiknya Pak Aditya yang menjelaskan.”

“Tidak. Anda yang membawa dokumen itu. Anda yang meminta saya menandatangani. Jadi sekarang Anda yang menjelaskan.”

Suara Pak Hendra terdengar semakin tidak nyaman.

“Dana tersebut adalah dana pribadi yang dialihkan Pak Aditya kepada Ibu untuk membeli saham milik salah satu anggota keluarga Pranata.”

Aku berdiri.

“Apa?”

“Pak Aditya sedang melakukan restrukturisasi kepemilikan perusahaan. Ia ingin menempatkan sebagian aset atas nama Ibu dan kedua anak.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Lalu kenapa Anda mengatakan saya harus meninggalkan rumah?”

“Saya tidak mengatakan Ibu harus meninggalkan rumah.”

Aku mengingat percakapan kami.

Dalam waktu tiga hari, Ibu perlu meninggalkan rumah ini dan menandatangani perjanjian kerahasiaan.

“Apa maksud Anda?”

Pak Hendra menarik napas.

“Saya mengatakan dalam tiga hari Ibu perlu meninggalkan rumah itu sementara karena properti tersebut akan dialihkan ke perusahaan dan direnovasi. Pak Aditya sudah menyiapkan rumah lain.”

Aku terduduk perlahan.

“Dan perjanjian kerahasiaan?”

“Terkait restrukturisasi perusahaan.”

Tanganku mulai dingin.

“Tapi Aditya bilang kalau jumlahnya belum cukup…”

“Karena harga saham yang hendak dibeli bisa berubah. Pak Aditya meminta saya menanyakan apakah dana Rp10 miliar cukup sebagai pembayaran awal.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Tiba-tiba semua kalimat yang kudengar hari itu memiliki arti berbeda.

“Mengenai pengasuhan anak?”

“Pak Aditya sedang mempertimbangkan untuk mengurangi pekerjaannya dan meminta saya menyusun jadwal agar ia bisa menghabiskan waktu setidaknya satu hari penuh setiap bulan bersama anak-anak.”

Aku menutup mata.

“Kenapa Anda tidak menjelaskan semua itu?”

“Saya mencoba, Bu Laras.”

Aku teringat berkali-kali memotong ucapannya.

Tidak perlu.

Cukup.

Saya membawa mereka.

Aku menekan pelipis.

“Tapi dia sendiri mengatakan, ‘Kalau begitu, pergilah.’”

Kali ini Pak Hendra benar-benar diam.

“Untuk bagian itu,” katanya akhirnya, “saya tidak tahu.”

Telepon berakhir.

Aku duduk sendirian hampir sepuluh menit.

Lalu terdengar suara Raka dari halaman.

“Bunda! Lihat!”

Aku menoleh.

Ia sedang memegang sebuah mangga kecil yang jatuh dari pohon, wajahnya penuh kebanggaan.

Aku memaksakan senyum.

“Bagus sekali.”

Apa pun yang terjadi, satu hal tidak berubah.

Selama tiga tahun, Aditya tidak pernah memperlakukanku sebagai pasangan.

Kesalahpahaman tentang Rp10 miliar tidak bisa menghapus tiga tahun kesepian.

Aku memutuskan tidak kembali.

Seminggu kemudian, kami pindah ke rumah baru.

Aku membeli furnitur sederhana, mendaftarkan Raka ke kelompok bermain, dan mulai mencari pekerjaan yang bisa kulakukan dari rumah.

Aku bahkan membuka kembali laptop lama yang sudah tiga tahun tidak kusentuh.

Sebelum mengenal Aditya, aku pernah bercita-cita bekerja di bidang pemasaran digital.

Kini, dengan dua anak dan uang Rp10 miliar di rekening, aku justru ingin membuktikan bahwa aku masih mampu menghasilkan uang sendiri.

Pada malam pertama di rumah baru, bel berbunyi.

Aku membuka pintu.

Aditya berdiri di sana.

Kemeja putihnya kusut. Wajahnya terlihat lebih kurus. Tidak ada sopir, tidak ada asisten.

Hanya sebuah koper kecil di samping kakinya.

Aku menatapnya.

“Bagaimana kamu tahu alamat ini?”

“Raka menelepon Bagas.”

Aku menoleh.

Dari ruang tengah, Raka bersembunyi di belakang sofa.

Anak itu rupanya lebih pintar menggunakan tablet daripada yang kukira.

Aditya melihat ke arah putranya.

“Papa boleh masuk?”

Raka langsung berlari memeluk kakinya.

Aku ingin marah, tetapi tidak sanggup melakukannya di depan anak-anak.

“Sepuluh menit.”

Aditya masuk.

Begitu melihat Naya di kereta bayi, langkahnya terhenti.

Ia berjongkok.

Tangannya terulur, tetapi berhenti beberapa sentimeter dari pipi Naya.

“Dia sudah besar.”

Aku hampir tertawa karena kesal.

“Tentu. Bayi memang tumbuh.”

Ia menunduk.

“Boleh kugendong?”

Pertanyaan itu terasa aneh datang dari ayah kandungnya sendiri.

Aku mengangkat Naya dan menyerahkannya.

Aditya memeluk putrinya dengan kaku.

Beberapa detik kemudian, Naya menarik kerah bajunya.

Aditya tersenyum.

Aku tertegun.

Selama tiga tahun, aku hampir tidak pernah melihat senyum seperti itu.

Raka memanjat sofa.

“Papa tidur di sini?”

“Tidak,” jawabku cepat.

Aditya menatapku.

“Kita perlu bicara.”

Setelah anak-anak tidur, kami duduk berhadapan di meja makan.

“Aku salah,” katanya.

Aku menunggu.

“Aku seharusnya datang sendiri hari itu.”

“Bukan cuma hari itu.”

Ia mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya tajam.

“Tidak, kamu tidak tahu. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya melahirkan Naya sendirian. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya setiap kali keluargamu memperkenalkan Raka sebagai cucu Pranata tetapi tidak pernah menyebut siapa ibunya. Kamu bahkan tidak tahu makanan kesukaanku.”

“Sup iga.”

Aku terdiam.

“Kamu tidak suka daun bawang. Kalau sedang stres, kamu minum kopi tanpa gula. Kamu selalu mematikan AC setelah jam dua pagi karena gampang kedinginan.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu tahu semua itu, kenapa kamu bertingkah seperti aku tidak ada?”

Rahangnya mengeras.

Lama sekali ia tidak menjawab.

“Ayahku menghancurkan hidup ibuku.”

Aku tidak menyangka itu jawabannya.

“Dia menikah karena keluarga. Setelah punya anak, mereka saling membenci. Sejak kecil aku berpikir satu-satunya cara agar tidak menyakiti seseorang adalah tidak membuatnya berharap.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Jadi solusimu adalah membuatku merasa tidak berarti?”

“Aku tidak mengatakan itu keputusan yang pintar.”

“Jelas tidak.”

“Aku pikir selama semua kebutuhanmu terpenuhi, kamu akan baik-baik saja.”

“Manusia bukan laporan keuangan, Aditya.”

“Aku tahu sekarang.”

Ia menatap meja.

“Ketika Raka lahir, aku ingin masuk ke kamar rumah sakit. Aku berdiri di luar hampir dua jam.”

Aku membeku.

“Kenapa tidak masuk?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Menjadi seperti ayahku.”

Ia mengusap wajah.

“Ketika Naya lahir, aku bahkan tidak datang. Kupikir menjaga jarak adalah cara paling aman.”

Aku merasakan kemarahan yang selama ini kusimpan perlahan berubah bentuk.

Bukan hilang.

Hanya menjadi lebih rumit.

“Lalu Rp10 miliar?”

Aditya mengeluarkan sebuah map dari kopernya.

Ia meletakkannya di depanku.

Aku membuka halaman pertama.

Namaku tercetak jelas.

Laras Maheswari.

Di bawahnya terdapat dokumen kepemilikan saham.

Aku membaca angka yang tercantum, lalu menatapnya.

“Dua puluh persen?”

“Dari perusahaan holding keluarga.”

Aku hampir menjatuhkan dokumen itu.

“Kenapa?”

“Karena Nenek ingin menyerahkan sahamnya kepada Raka.”

“Lalu?”

“Aku menolak.”

Aku semakin bingung.

“Aku bilang kalau keluarga ini ingin mengakui anak-anak sebagai penerus, mereka harus mengakui ibunya lebih dulu.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi aku membeli sebagian saham Nenek. Sepuluh miliar itu uang muka melalui rekeningmu. Sahamnya atas namamu.”

Aku menatap dokumen itu lama.

“Kenapa tidak bilang langsung?”

“Karena aku bodoh.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa membantah.

“Lalu pesanmu?”

“Pesan apa?”

“Kalau begitu, pergilah.”

Wajah Aditya berubah.

“Aku sedang di ruang rapat ketika kamu bilang uangnya sudah masuk. Kupikir kamu sedang menuju rumah baru yang kusiapkan.”

Ia membuka ponselnya, mencari percakapan lama.

Lalu menunjukkannya kepadaku.

Ada satu pesan yang tidak pernah kuterima.

Dikirim beberapa menit setelah pesan terakhirnya.

“Bagas akan menjemput kalian di rumah baru. Aku menyusul malam ini.”

Di samping pesan itu terdapat tanda seru merah.

Gagal terkirim.

Aku menutup mata.

Rasanya seperti ingin tertawa dan menangis sekaligus.

Tiga tahun hubungan kami ternyata dipenuhi dua orang yang sama-sama tidak pernah benar-benar berbicara.

“Aku tidak akan kembali,” kataku akhirnya.

Aditya mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak akan mengembalikan uangnya.”

“Itu memang milikmu.”

“Dan saham ini?”

“Milikmu.”

“Kamu datang jauh-jauh ke Bali hanya untuk mengatakan itu?”

“Tidak.”

Ia berdiri.

“Aku datang untuk belajar menjadi ayah.”

Aku menatap koper kecilnya.

“Jangan bilang kamu mau tinggal di sini.”

“Aku sudah menyewa rumah dua gang dari sini.”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

Aditya tersenyum tipis.

“Aku tidak meminta kamu menerimaku kembali, Laras. Aku cuma meminta kesempatan agar anak-anak mengenal ayah mereka.”

Aku tidak memberikan jawaban malam itu.

Namun Aditya benar-benar tinggal di Bali.

Ia mulai dari hal-hal kecil.

Mengantar Raka ke sekolah.

Belajar mengganti popok Naya.

Datang ketika anak-anak demam.

Dan, yang paling mengejutkan, ia mulai pulang dari kantor sebelum matahari terbenam.

Enam bulan kemudian, aku menggunakan sebagian uangku untuk mendirikan agensi pemasaran digital kecil.

Aditya tidak ikut campur.

Ketika perusahaan pertamaku mendapatkan klien besar, ia hanya mengirim bunga dengan sebuah kartu.

“Aku tahu kamu bisa.”

Tidak ada nama.

Tidak perlu.

Setahun setelah aku meninggalkan Jakarta, Bu Ratna datang ke Bali.

Ia duduk di ruang tamuku sambil memandangi Raka dan Naya bermain.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak beludru tua.

“Ada sesuatu yang seharusnya kuberikan kepadamu sejak lama.”

Di dalamnya terdapat gelang milik keluarga Pranata.

Aku menggeleng.

“Saya tidak membutuhkan pengakuan seperti ini lagi.”

Bu Ratna tersenyum sedih.

“Aku tahu. Justru karena itu aku datang.”

Ia meletakkan kotak tersebut di meja.

“Dulu aku mengira melahirkan penerus sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi bagian keluarga. Aku salah.”

Aku tidak mengambil gelang itu.

Namun untuk pertama kalinya, aku memanggilnya untuk makan malam.

Malam itu, setelah semua orang pulang, aku duduk di teras.

Aditya muncul membawa dua cangkir kopi.

Ia meletakkan satu di depanku.

Tanpa gula.

“Besok aku kembali ke Jakarta tiga hari,” katanya.

“Rapat?”

“Ya.”

“Raka pasti mencari.”

“Aku sudah janji video call.”

Kami terdiam.

Setelah beberapa saat, Aditya berkata pelan, “Aku masih mencintaimu.”

Aku menoleh.

Itu pertama kalinya selama empat tahun aku mendengar kata itu keluar dari mulutnya.

Anehnya, jantungku tidak berdebar seperti yang kubayangkan.

Aku hanya merasa tenang.

“Dulu aku mungkin akan memberikan apa saja untuk mendengar kalimat itu.”

“Aku tahu.”

“Sekarang tidak cukup.”

“Aku juga tahu.”

Ia tersenyum kecil.

Aku menatap halaman rumah yang dulu kupilih hanya karena Raka menyukai pohon mangga di belakangnya.

“Aku tidak tahu apakah kita akan menikah.”

“Aku tidak meminta jawaban.”

“Aku juga tidak tahu apakah aku bisa memaafkan semuanya.”

“Aku bisa menunggu.”

Aku menatapnya.

“Jangan menunggu. Berubah saja.”

Aditya terdiam, kemudian mengangguk.

Dua tahun kemudian, aku akhirnya menikah dengannya.

Bukan di ballroom hotel milik keluarga Pranata.

Bukan dengan ratusan tamu.

Kami menikah sederhana di halaman rumah di Bali, di bawah pohon mangga yang sama.

Raka membawa cincin.

Naya menaburkan bunga sambil berjalan ke arah yang salah.

Dan ketika penghulu bertanya apakah Aditya siap menerima tanggung jawab sebagai suami, aku melihat matanya berkaca-kaca.

Malam setelah pernikahan, Aditya menyerahkan sebuah amplop.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat bukti transfer Rp10 miliar.

Aku mengernyit.

“Untuk apa lagi ini?”

Ia tertawa.

“Lihat tanggalnya.”

Aku melihatnya.

Tanggal transfer itu adalah hari ketika aku meninggalkannya tiga tahun lalu.

“Uang itu tidak pernah menjadi harga untuk melepaskanmu,” katanya.

“Lalu apa?”

Aditya menggenggam tanganku.

“Hari itu aku berencana meminta kamu menjadi pemilik sebagian perusahaan, pindah bersamaku ke rumah baru, lalu menikah.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu bahkan sudah menyiapkan cincin?”

Ia menunjuk lemari.

Aku membukanya.

Di bagian paling belakang terdapat kotak kecil yang tampak sudah tua.

Di dalamnya ada sebuah cincin.

Tiga tahun terlambat.

Aku tertawa sampai menangis.

Selama ini aku mengira Rp10 miliar adalah harga yang diberikan seorang pria agar aku pergi dari hidupnya.

Ternyata justru sebaliknya.

Itu adalah rencana seorang pria yang tidak tahu bagaimana mengatakan, “Tinggallah.”

Namun hidup mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting daripada kesalahpahaman itu.

Cinta yang tidak pernah diucapkan bisa terdengar seperti ketidakpedulian.

Perhatian yang tidak pernah ditunjukkan bisa terasa seperti penolakan.

Dan sebesar apa pun uang yang diberikan seseorang, tidak ada angka yang mampu menggantikan satu percakapan yang seharusnya dilakukan dengan jujur.

Aku tidak kembali kepada Aditya karena Rp10 miliar.

Aku kembali setelah ia akhirnya belajar melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa ia lakukan.

Hadir.

Bukan sebagai pewaris keluarga Pranata.

Bukan sebagai pemilik perusahaan.

Bukan sebagai pria yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan uang.

Tetapi sebagai ayah bagi anak-anak kami.

Dan sebagai lelaki yang akhirnya berani berdiri di hadapanku, tanpa pengacara, tanpa kontrak, tanpa transfer bank, lalu mengatakan kalimat paling sederhana yang terlambat bertahun-tahun.

“Aku ingin pulang ke tempat di mana kamu berada.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang