MERTUAKU MENAMPARKU DI DEPAN PULUHAN TAMU KARENA MENGANGGAPKU MANDUL.

Danu menatap ayahnya cukup lama.

Perlahan, ia melepaskan satu tangannya dari bahu Maya.

Kemudian ia maju dan berdiri tepat di antara istrinya dan ayahnya sendiri.

Tidak ada bentakan.

Justru suara Danu terdengar sangat rendah.

Namun ketenangan itu terasa jauh lebih tajam daripada kemarahan apa pun.

“Kalau Maya tidak sedang hamil…”

Danu berhenti sesaat.

Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah ayahnya.

“…apa Papa pikir menampar istri saya seperti tadi adalah sesuatu yang wajar?”

Pak Surya membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab.

Beberapa tamu mulai saling berbisik.

Tari bergegas mendekati Maya.

“Kak, duduk dulu.”

Maya menggeleng.

Rasa nyeri di perutnya belum hilang sepenuhnya.

Justru kini ada sensasi kram yang datang bergelombang.

Danu menyadarinya.

Wajahnya langsung berubah.

“Kita ke rumah sakit.”

“Aku masih bisa jalan.”

“Nggak usah dipaksa.”

Danu tidak memedulikan siapa pun lagi.

Ia mengambil tas Maya dari kursi, lalu memapah istrinya menuju pintu samping rumah.

Pak Surya mencoba mengejar.

“Danu, Papa ikut.”

Danu berhenti.

Ia menoleh.

“Jangan.”

Hanya satu kata.

Namun Pak Surya langsung terdiam.

Tari kemudian berdiri menghadang ayahnya.

“Papa tetap di sini.”

“Kamu menyuruh Papa diam setelah perempuan itu mempermalukan Papa di depan keluarga?”

Tari menatap ayahnya dengan ekspresi yang tidak pernah Pak Surya lihat sebelumnya.

Muak.

“Yang mempermalukan keluarga ini Papa sendiri.”

Pak Surya tertegun.

Sementara itu Danu membawa Maya masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit di kawasan Pondok Indah, Maya tidak banyak bicara.

Tangan kanannya menggenggam sabuk pengaman.

Tangan kirinya terus berada di atas perut.

Danu beberapa kali meliriknya.

“Masih sakit?”

“Sedikit.”

“Ada darah?”

Maya menggeleng.

Namun ketakutan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

Delapan bulan lalu, perjalanan ke rumah sakit terasa hampir sama.

Jalanan Jakarta tetap ramai.

Lampu merah tetap berganti warna.

Orang-orang tetap berjalan di trotoar seolah dunia tidak sedang runtuh.

Maya menutup matanya.

“Aku takut, Nu.”

Danu langsung menggenggam tangannya.

“Kali ini kita cek dulu. Jangan pikir yang lain.”

“Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan lagi.”

Danu menelan ludah.

Ia sendiri takut.

Namun ia tidak ingin ketakutannya membuat Maya semakin panik.

“Kamu nggak sendirian.”

Empat puluh menit kemudian, Maya sudah berbaring di ruang pemeriksaan.

Dokter yang menangani kehamilannya, dr. Helena, kebetulan masih berada di rumah sakit.

Setelah pemeriksaan fisik dan ultrasonografi dilakukan, Maya menahan napas ketika layar monitor dinyalakan.

Beberapa detik terasa seperti satu jam.

Lalu suara itu terdengar.

Cepat.

Teratur.

Detak jantung kecil yang begitu mereka kenal.

Maya langsung menutup mulut dengan kedua tangan.

Air matanya jatuh.

Danu mengembuskan napas panjang sambil menundukkan kepala.

Dokter Helena tersenyum tipis.

“Detak jantung janinnya bagus.”

Maya menangis tanpa suara.

“Benarkah, Dok?”

“Iya. Untuk sementara tidak terlihat tanda perdarahan di sekitar kantung kehamilan. Tapi karena tadi ada benturan dan kram, saya minta Ibu Maya istirahat total beberapa hari.”

Danu mengangguk cepat.

“Apa perlu rawat inap?”

“Kita observasi beberapa jam dulu. Kalau kramnya berkurang dan tidak ada perdarahan, boleh pulang.”

Maya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak tamparan itu terjadi, ia merasa bisa bernapas.

Namun ketenangan tersebut tidak bertahan lama.

Sekitar satu jam kemudian, Tari datang ke rumah sakit.

Wajahnya terlihat tegang.

Ia membawa tas kecil Maya yang tertinggal di rumah.

Danu sedang keluar membeli minuman ketika Tari masuk ke ruang observasi.

“Kak.”

Maya menatapnya.

“Kamu nggak perlu datang.”

“Aku perlu.”

Tari menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Beberapa detik ia hanya memandangi tangan kakak iparnya.

Lalu berkata pelan,

“Ada sesuatu yang harus Kak Maya tahu.”

Nada suaranya membuat Maya mengernyit.

“Tentang Papa?”

Tari mengangguk.

“Sebenarnya aku sudah curiga lama.”

“Curiga apa?”

Tari menatap pintu, memastikan tidak ada orang lain.

“Kak Maya ingat waktu dua tahun lalu Papa terus memaksa kalian datang ke dokter yang katanya kenalan dia?”

Maya mengingatnya.

Pak Surya memang pernah berkali-kali menyarankan seorang dokter kandungan di klinik swasta kawasan Kebayoran.

Namun Maya dan Danu tidak pernah pergi karena mereka sudah memiliki dokter sendiri.

“Ingat.”

“Papa sebenarnya pernah datang ke klinik itu sendiri.”

Maya menatap Tari.

“Buat apa?”

Tari menarik napas panjang.

“Aku nggak tahu pasti. Tapi beberapa bulan lalu, aku pernah lihat Papa transfer uang ke seseorang bernama Dr. Rendra.”

Maya tidak langsung bereaksi.

“Terus?”

“Awalnya aku pikir itu dokter Papa. Tapi tiga minggu lalu, waktu aku pulang ke rumah Papa, aku dengar dia telepon seseorang.”

Tari membuka ponselnya.

“Aku merekam.”

Jantung Maya berdetak lebih cepat.

“Kamu merekam percakapan Papa?”

“Aku nggak sengaja dengar dulu. Setelah beberapa kalimat, aku baru nyalakan perekam.”

Tari ragu beberapa detik sebelum menyerahkan ponselnya.

“Semalam aku belum berani kasih ke Danu karena aku belum yakin maksudnya apa.”

Maya menekan tombol putar.

Suara Pak Surya terdengar dari rekaman.

“Yang penting Danu tetap yakin masalahnya ada di Maya.”

Maya membeku.

Lalu terdengar suara laki-laki lain, lebih pelan.

“Saya sudah bilang, Pak, saya tidak bisa membuat laporan medis palsu. Itu melanggar hukum.”

Pak Surya menjawab,

“Saya tidak minta laporan resmi. Cukup bilang hasil tes anak saya normal. Jangan sampai dia tahu hasil pemeriksaan tahun lalu.”

Maya merasa tengkuknya dingin.

Suara dokter itu kembali terdengar.

“Pak Surya, hasil analisis sperma Danu menunjukkan masalah motilitas. Kondisi itu masih bisa ditangani. Kenapa harus disembunyikan?”

“Karena kalau Danu tahu, dia akan terus mempertahankan Maya.”

Maya menghentikan rekaman.

Tangannya gemetar.

Tari menunduk.

“Kak…”

Maya tidak mampu bicara selama beberapa detik.

Tiba-tiba semua penghinaan Pak Surya selama dua tahun terakhir terasa jauh lebih kejam.

Bukan karena ia salah paham.

Bukan karena ia tidak tahu.

Pak Surya tahu bahwa putranya pernah memiliki masalah kesuburan.

Namun ia sengaja membiarkan seluruh keluarga menganggap Maya sebagai penyebab mereka belum memiliki anak.

“Kenapa?” suara Maya akhirnya keluar.

Tari menggeleng pelan.

“Aku juga baru tahu alasannya dari bagian rekaman berikutnya.”

Maya menyalakan kembali.

Suara Pak Surya terdengar lebih jelas.

“Saya sudah siapkan semuanya. Danu seharusnya menikah dengan Clarissa dari keluarga Wijaya. Kalau dia berpisah dari Maya, hubungan bisnis dengan keluarga Wijaya bisa dibuka lagi. Anak itu terlalu keras kepala.”

Maya menutup matanya.

Clarissa.

Nama itu tidak asing.

Perempuan tersebut adalah putri rekan bisnis lama Pak Surya.

Dulu, sebelum Danu mengenal Maya, keluarga mereka memang pernah mencoba menjodohkan Danu dengan Clarissa.

Danu menolak.

Setelah itu masalah tersebut tidak pernah dibicarakan lagi.

Setidaknya begitulah yang Maya kira.

Pintu ruang observasi terbuka.

Danu masuk membawa dua botol air mineral.

Ia langsung menyadari ekspresi Maya.

“Ada apa?”

Tari berdiri.

“Mas, kamu harus dengar ini.”

Beberapa menit berikutnya terasa begitu sunyi.

Danu mendengarkan rekaman sampai selesai tanpa menyela.

Tidak ada perubahan besar di wajahnya.

Justru ketenangannya membuat Tari semakin cemas.

Setelah rekaman selesai, Danu bertanya,

“Kapan ini direkam?”

“Tiga minggu lalu.”

“Kamu punya salinan?”

“Ada.”

“Kirim ke aku.”

Tari segera mengirimkannya.

Danu memasukkan ponsel ke saku.

Maya memegang pergelangan tangannya.

“Nu.”

Danu menatapnya.

“Jangan lakukan sesuatu karena emosi.”

“Aku nggak akan melakukan apa-apa karena emosi.”

Jawabannya terlalu tenang.

Malam itu, setelah dokter mengizinkan Maya pulang, mereka tidak langsung menuju rumah.

Danu membawa Maya kembali ke rumah Tari.

Maya terkejut.

“Kenapa kita balik?”

“Karena masalah ini harus selesai malam ini.”

Halaman belakang sudah sepi.

Sebagian besar tamu telah pulang.

Namun keluarga inti Kusuma masih berada di ruang tengah.

Pak Surya duduk di sofa.

Di sampingnya ada Bu Ratih, ibu Danu dan Tari, yang sejak sore hampir tidak berbicara karena syok.

Begitu Danu masuk sambil menggandeng Maya, Pak Surya berdiri.

“Maya bagaimana?”

Danu membantu istrinya duduk.

“Bayinya masih baik.”

Wajah Bu Ratih langsung menunjukkan kelegaan.

“Alhamdulillah.”

Pak Surya menghela napas.

“Syukurlah. Papa tadi memang terpancing emosi. Soal tamparan itu, Papa…”

Danu mengangkat tangan.

“Belum.”

Pak Surya mengernyit.

“Belum apa?”

“Papa belum tahu masalah yang sebenarnya.”

Danu mengeluarkan ponselnya.

Lalu meletakkannya di atas meja.

Ia menekan tombol putar.

Suara Pak Surya terdengar memenuhi ruang keluarga.

“Yang penting Danu tetap yakin masalahnya ada di Maya.”

Wajah Pak Surya seketika berubah.

Bu Ratih menoleh cepat ke arah suaminya.

“Apa ini?”

Tidak ada jawaban.

Rekaman terus berjalan.

Tentang hasil analisis sperma Danu.

Tentang dokter yang menolak membuat laporan palsu.

Tentang rencana memisahkan Maya dan Danu.

Tentang Clarissa.

Setiap kalimat membuat wajah Bu Ratih semakin pucat.

Ketika rekaman selesai, tidak ada seorang pun berbicara.

Danu akhirnya berkata,

“Jadi selama dua tahun Papa tahu.”

Pak Surya berdiri kaku.

“Danu, dengarkan Papa dulu.”

“Papa tahu saya pernah punya masalah motilitas.”

“Itu cuma sementara.”

“Tapi Papa biarkan Maya dihina.”

Pak Surya mencoba mendekat.

“Papa cuma ingin yang terbaik.”

Danu tertawa kecil.

Namun tidak ada humor di dalamnya.

“Yang terbaik buat siapa?”

Pak Surya menunjuk Maya.

“Perempuan itu tidak pernah cocok dengan keluarga kita.”

Maya tidak membalas.

Danu justru maju satu langkah.

“Papa menampar istri saya yang sedang hamil karena rencana bisnis Papa gagal?”

“Bukan begitu.”

“Papa membayar dokter supaya saya tidak tahu kondisi medis saya sendiri.”

“Itu demi masa depanmu!”

“Demi masa depan saya atau perusahaan Papa?”

Suara Danu mulai meninggi.

Bu Ratih tiba-tiba berdiri.

“Surya.”

Semua orang menoleh.

Air mata menggenang di mata perempuan itu.

“Jawab aku satu hal.”

Pak Surya menatap istrinya.

“Selama ini kamu juga sengaja membuat aku menyalahkan Maya?”

Pak Surya tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Bu Ratih menutup mulut.

Selama ini ia memang tidak sekeras suaminya.

Namun ia pernah bertanya kepada Maya soal pengobatan.

Pernah menyarankan terapi.

Pernah mengatakan bahwa keluarga Kusuma membutuhkan penerus.

Kini ia sadar semua itu berdiri di atas kebohongan.

Bu Ratih mendekati Maya.

“Maya…”

Maya mengangkat wajah.

Bu Ratih menangis.

“Ibu minta maaf.”

Maya tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil.

Pak Surya terlihat semakin terpojok.

“Semua orang sekarang menyalahkan Papa seolah Papa penjahat.”

Tari langsung berkata,

“Papa menampar perempuan hamil dan memanipulasi hasil pemeriksaan anak sendiri. Papa berharap kami menyebutnya apa?”

Pak Surya menatap anak perempuannya tajam.

Namun Tari tidak mundur.

Danu mengambil ponselnya dari meja.

“Mulai malam ini, saya dan Maya tidak akan datang ke rumah Papa.”

Pak Surya terlihat terpukul.

“Kamu mau memutus hubungan dengan orang tua hanya karena perempuan?”

Danu menatap ayahnya.

“Bukan karena perempuan.”

Ia meraih tangan Maya.

“Karena istri saya.”

Danu berhenti sebentar.

“Dan karena saya akhirnya sadar, keluarga bukan tempat seseorang boleh menyakiti orang lain lalu meminta dimaafkan hanya karena punya hubungan darah.”

Pak Surya mengepalkan tangan.

“Kamu akan menyesal.”

Danu menggeleng.

“Yang saya sesali cuma satu.”

“Apa?”

“Saya terlalu lama membiarkan Maya menghadapi Papa sendirian.”

Maya menatap suaminya.

Ada sesuatu yang selama tiga tahun tidak pernah ia katakan dengan jelas.

Bahwa setiap kali Danu memilih diam untuk menjaga keharmonisan keluarga, Maya sebenarnya merasa sedikit ditinggalkan.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Danu benar-benar berdiri di sisinya tanpa menyisakan ruang untuk kompromi.

Mereka pergi.

Tiga bulan berikutnya berjalan berbeda.

Maya tidak lagi menghadiri acara keluarga besar Kusuma.

Danu juga menghentikan semua keterlibatannya dalam urusan bisnis ayahnya.

Pak Surya beberapa kali mencoba menghubungi Danu.

Tidak pernah dibalas.

Hingga suatu pagi, sebuah surat datang ke rumah mereka.

Bukan dari Pak Surya.

Dari dokter Rendra.

Ia meminta bertemu.

Danu sempat menolak.

Namun Maya meminta mendengarkan.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Dokter Rendra datang membawa map cokelat.

“Saya datang untuk meminta maaf.”

Danu tidak berkata apa-apa.

Dokter itu melanjutkan.

“Pak Surya memang meminta saya menyembunyikan informasi pemeriksaan Anda. Saya menolak memberikan data palsu, tapi saya melakukan kesalahan karena tidak langsung menghubungi Anda.”

Ia mendorong map itu ke arah Danu.

“Ini hasil asli pemeriksaan Anda tahun lalu.”

Danu membukanya.

Dokter Rendra menatap Maya.

“Ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui.”

Maya mengangkat kepala.

“Hasil pemeriksaan Pak Danu waktu itu sebenarnya bukan infertilitas permanen. Angkanya memang rendah, tetapi masih sangat mungkin terjadi kehamilan alami.”

Danu mengangguk.

“Kami tahu sekarang.”

Dokter itu terdiam sebentar.

“Pak Surya tahu itu sejak awal.”

Maya mengernyit.

“Lalu kenapa dia begitu yakin menyalahkan saya?”

Dokter Rendra menjawab pelan,

“Karena dia pernah mengatakan bahwa kalau suatu hari Anda hamil, dia akan melakukan tes DNA setelah bayi lahir.”

Maya membeku.

Danu menatap dokter itu tajam.

“Dia mengatakan itu?”

“Iya.”

Maya tiba-tiba tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya ia benar-benar mengerti.

Tidak ada batas yang bisa menghentikan prasangka seseorang yang sudah memutuskan membenci orang lain.

Enam bulan kemudian, Maya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat.

Mereka memberinya nama Arka.

Pak Surya tidak berada di rumah sakit.

Tidak ada satu pun anggota keluarga yang mengundangnya.

Namun sore setelah kelahiran Arka, Bu Ratih datang bersama Tari.

Bu Ratih menggendong cucunya sambil menangis.

“Mirip Danu waktu bayi.”

Maya tersenyum.

Danu berdiri di samping ranjang.

Tari kemudian mengeluarkan ponselnya.

“Ada pesan dari Papa.”

Danu tidak tertarik.

“Nggak perlu dibaca.”

Tari menatap Maya.

“Papa minta tes DNA.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Ratih menutup mata.

“Dari dulu kepala dia memang keras.”

Danu mengambil napas.

“Aku akan blok nomornya.”

Namun Maya justru berkata,

“Jangan.”

Danu menoleh.

Maya tersenyum tipis.

“Biar aku jawab sekali.”

Ia mengambil ponsel Tari.

Lalu mengetik sebuah pesan pendek.

Saya tidak akan melakukan tes DNA untuk membuktikan apa pun kepada Papa.

Anak saya tidak lahir untuk membersihkan nama ibunya dari tuduhan orang lain.

Dan kalau suatu hari Arka bertanya kenapa kakeknya tidak pernah hadir dalam hidupnya, saya tidak akan berbohong.

Saya akan mengatakan bahwa keluarganya pernah diberi kesempatan untuk memilih antara gengsi dan kasih sayang.

Lalu kakeknya memilih gengsi.

Maya mengirim pesan itu.

Kemudian ia meletakkan ponsel di meja.

Danu menggenggam tangannya.

Di luar jendela kamar rumah sakit, langit Jakarta mulai berubah jingga.

Arka bergerak kecil di pelukan Bu Ratih.

Semua orang tersenyum.

Maya menatap putranya.

Dulu ia pernah mengira kemenangan terbesar dalam hidupnya adalah membuktikan bahwa ia mampu hamil.

Ternyata bukan.

Kehamilan itu bukan pembuktian.

Anaknya bukan alat untuk membalas penghinaan.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika Maya akhirnya berhenti merasa harus mendapatkan penerimaan dari seseorang yang sejak awal tidak pernah berniat menerimanya.

Dan malam ketika Pak Surya menamparnya di depan puluhan orang ternyata tidak menghancurkan keluarganya.

Justru malam itulah yang membuka kebohongan bertahun-tahun dan menyelamatkan keluarga kecil Maya dari hidup di bawah kendali seorang lelaki yang mengira darah memberi dirinya hak untuk menyakiti siapa saja.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Maya tidak merasa sedang melarikan diri dari keluarga Kusuma.

Ia hanya sedang berjalan pulang.

Menuju keluarganya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang