BARU PULANG DARI RUMAH SAKIT MEMBAWA BAYI PEREMPUAN, SUAMIKU SUDAH MENATA 5 KOPER DI DEPAN PINTU.

“Kalau kamu tidak pergi sekarang, aku yang akan memanggil keamanan kompleks.”

Suara Dimas terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Namun Maya tidak bergerak.

Empat hari setelah operasi caesar, berdiri terlalu lama saja sudah membuat bagian bawah perutnya terasa seperti ditarik dari dalam. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Meski begitu, dia tetap berdiri sambil menggendong Raya.

“Silakan,” jawab Maya tenang. “Panggil keamanan. Sekalian panggil ketua RT kalau perlu.”

Dimas terdiam.

Maya menunjuk lima koper di dekat pintu.

“Tapi pastikan kamu menjelaskan kepada mereka kenapa kamu mengusir pemilik rumah bersama bayi berusia empat hari.”

Ibu Ratna mendecakkan lidah.

“Jangan merasa menang hanya karena sertifikat rumah atas namamu. Dalam perceraian, semuanya bisa dibicarakan.”

“Benar,” sahut Maya. “Makanya kita bicarakan di pengadilan.”

Wajah Ibu Ratna memerah.

Dimas mengambil ponselnya, lalu berjalan ke arah dapur. Maya memperhatikan suaminya mengetik sesuatu dengan cepat.

Beberapa detik kemudian ponsel Dimas berdering.

Dia langsung mengangkatnya.

“Halo?”

Suara perempuan terdengar samar dari seberang.

Dimas buru-buru menjauh.

Namun sebelum dia sempat masuk ke dapur, Maya mendengar satu kalimat.

“Mas, agen rumahnya telepon aku lagi.”

Langkah Dimas berhenti.

Maya menatap punggung suaminya.

Jadi benar.

Perempuan itu bukan sekadar rekan kantor.

“Suruh dia tunggu,” bisik Dimas.

Maya mendekat.

“Kenapa harus menunggu?”

Dimas menutup telepon.

“Bukan urusanmu.”

“Kalau DP rumahnya mau dibayar dari hasil penjualan rumahku, itu jelas urusanku.”

Dimas menatap Maya tajam.

Untuk sesaat, Maya melihat sisi lain dari pria yang selama sebelas tahun tidur di sebelahnya.

Bukan suami.

Bukan ayah.

Melainkan seseorang yang panik karena rencananya mulai runtuh.

“Berikan ponselmu,” kata Maya.

“Jangan gila.”

“Siapa perempuan itu?”

“Rekan kerja.”

“Rekan kerja yang akan tinggal di rumah yang kamu beli setelah menceraikanku?”

Dimas tidak menjawab.

Maya tersenyum pahit.

“Namanya siapa?”

Ibu Ratna tiba-tiba menyela.

“Sudahlah. Mau siapa pun dia, pernikahan kalian memang sudah tidak bisa dipertahankan.”

Maya menoleh.

Kalimat itu membuat sesuatu dalam pikirannya tersambung.

“Ibu tahu?”

Ibu Ratna membuang muka.

“Ibu tahu tentang perempuan itu?”

“Jangan menyeret Ibu.”

“Jadi Ibu tahu.”

Dimas membanting ponselnya ke meja.

“Cukup!”

Raya terbangun.

Tangis bayi itu langsung memenuhi ruang tamu.

Maya refleks memeluknya lebih erat.

“Jangan membentak di dekat anakku.”

“Anakku juga!”

Maya menatap Dimas.

“Empat hari lalu kamu bahkan tidak mau menggendongnya.”

Kalimat itu membuat Dimas diam.

Maya membawa Raya ke sofa dan duduk perlahan. Luka operasinya terasa semakin nyeri.

Saat itulah dia melihat sesuatu di bawah meja.

Sebuah amplop cokelat.

Mungkin terjatuh bersama dokumen-dokumen tadi.

Maya mengambilnya.

Dimas langsung berubah.

“Jangan buka itu.”

Reaksi tersebut justru membuat Maya semakin yakin.

Dia membuka amplop.

Di dalamnya ada fotokopi KTP-nya.

Fotokopi NPWP.

Fotokopi kartu keluarga.

Dan beberapa formulir bank.

Maya membaca lembar pertama.

Kemudian lembar kedua.

Napasnya tertahan.

“Apa ini?”

Dimas melangkah mendekat.

“Berikan.”

Maya berdiri.

“Kenapa ada pengajuan kredit atas namaku?”

Ibu Ratna langsung pucat.

Maya membaca nominalnya.

Delapan ratus lima puluh juta rupiah.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan.

Tanda tangan yang dibuat menyerupai miliknya.

Namun Maya tahu itu bukan tanda tangannya.

Tangannya mulai gemetar.

Bukan karena takut.

Karena marah.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Belum ada yang cair.”

“Jawab aku!”

Dimas merampas kertas itu, tetapi Maya sudah sempat memotretnya dengan ponsel.

“Ini cuma pengajuan awal.”

“Dengan dokumen pribadiku?”

“Aku suamimu!”

“Suami tidak punya hak memalsukan tanda tangan istrinya.”

Dimas terdiam.

Maya membuka kamera dan mulai memotret seluruh dokumen yang masih berserakan di lantai.

Rencana mengusirnya.

Perkiraan harga rumah.

Dokumen rumah Gading Serpong.

Formulir kredit.

Semuanya.

Dimas mencoba merebut ponselnya.

Maya mundur.

“Sentuh aku sekali lagi, aku telepon polisi.”

Mungkin karena melihat wajah Maya yang benar-benar serius, Dimas berhenti.

Lalu bel rumah berbunyi.

Semua orang menoleh.

Dimas terlihat semakin panik.

“Siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Bel berbunyi lagi.

Maya berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Usianya sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya sebahu. Dia mengenakan blus krem dan celana hitam.

Di tangannya ada tas bermerek dan map properti.

Begitu melihat Maya menggendong bayi, wajahnya berubah.

“Maaf… saya mencari Mas Dimas.”

Maya tidak perlu bertanya siapa dia.

Dimas muncul dari belakang.

“Selina?”

Perempuan itu tampak bingung.

“Kamu bilang rumah sudah kosong.”

Maya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Selina memandang lima koper di dekat pintu.

Kemudian kembali menatap Maya.

“Mas, ini siapa?”

Tidak ada jawaban.

Maya menjawab sendiri.

“Saya istrinya.”

Wajah Selina seketika kehilangan warna.

“Katanya kalian sudah resmi bercerai.”

Maya tertawa kecil.

“Gugatan cerainya bahkan masih tergeletak di meja.”

Selina menatap Dimas.

“Kamu bilang prosesnya sudah selesai enam bulan lalu.”

“Selina, dengarkan aku dulu.”

“Enam bulan?”

Maya menangkap satu kata itu.

Enam bulan lalu dia sedang hamil Raya.

Selina mundur.

“Aku datang karena agen meminta dokumen tambahan. Kamu bilang hari ini istrimu sudah pindah.”

Maya menatap Dimas.

Rupanya jadwal kepulangannya dari rumah sakit memang sengaja dipilih sebagai hari eksekusi.

Dimas merencanakan semuanya sampai ke detail terkecil.

Hanya satu hal yang tidak dia perhitungkan.

Rumah itu bukan miliknya.

Selina membuka map yang dibawanya.

“Aku tidak mau ikut campur kalau ternyata kamu bohong. Ini semua dokumen yang kamu titipkan.”

Dia meletakkan map di meja.

Dimas berusaha mengambilnya, tetapi Maya lebih cepat.

Di dalam map terdapat percakapan yang dicetak, rincian pembayaran, dan beberapa bukti transfer.

Maya membaca nama rekening pengirim.

Dimas Prasetya.

Nominalnya membuat jantung Maya berdegup keras.

Seratus juta.

Tujuh puluh lima juta.

Lima puluh juta.

Tiga puluh juta.

Transaksi itu terjadi selama hampir setahun.

“Dari mana uang ini?”

Dimas diam.

Maya mengenali nomor rekening tujuan.

Agen properti.

Interior.

Perhiasan.

Bahkan biaya liburan ke Bali.

“Dari mana uangnya, Dimas?”

“Tabunganku.”

Maya langsung membuka aplikasi mobile banking.

Mereka memang memiliki rekening bersama untuk kebutuhan keluarga.

Selama ini Dimas yang mengurus pembayaran beberapa investasi karena Maya sibuk mengelola bisnis katering peninggalan ibunya.

Maya membuka mutasi rekening.

Lalu tubuhnya terasa dingin.

Ada transfer berkala ke rekening lain.

Nominal kecil pada awalnya.

Lima juta.

Sepuluh juta.

Lalu meningkat menjadi puluhan juta.

Selama berbulan-bulan Maya tidak menyadarinya karena transaksi tersebut diberi keterangan biaya investasi dan cicilan asuransi.

“Ini uang pendidikan anak-anak.”

Dimas menunduk.

Maya menatapnya tak percaya.

“Kamu mengambil uang pendidikan Cinta, Tari, dan Nisa?”

“Aku akan mengembalikannya setelah rumah ini terjual.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan.

Maya tidak menangis.

Dia hanya memandang pria itu lama sekali.

“Kamu bukan cuma ingin membuang anak-anakmu karena mereka perempuan.”

Dimas mengangkat wajah.

“Kamu bahkan mengambil masa depan mereka.”

Ibu Ratna mendekat.

“Dimas pasti punya alasan.”

Maya menatapnya tajam.

“Alasan apa yang cukup untuk mengambil uang sekolah cucu Ibu?”

Ibu Ratna terdiam.

Selina yang sejak tadi berdiri di dekat pintu perlahan melepaskan cincin dari jarinya.

Dia meletakkannya di meja.

“Aku tidak tahu soal uang anak-anak.”

Dimas langsung mendekatinya.

“Selina, jangan percaya semua omongannya.”

“Aku percaya bukti transfer.”

“Dengar dulu.”

“Jangan sentuh aku.”

Selina mundur.

Matanya berkaca-kaca.

“Kamu bilang istrimu yang meninggalkanmu. Kamu bilang anak-anak tinggal bersamanya karena kamu tetap membiayai semuanya. Kamu bilang rumah ini milikmu dan akan dijual setelah perceraian.”

Maya menutup mata sejenak.

Kebohongan Dimas ternyata dibangun dengan sangat rapi.

Bukan hanya Maya yang ditipu.

Selina pun hidup di dalam cerita palsu.

“Aku pergi,” kata Selina.

Dimas mencoba menghalangi.

“Selina!”

Perempuan itu berhenti di pintu.

“Jangan pernah hubungi aku lagi.”

Pintu tertutup.

Dimas berdiri membeku.

Untuk pertama kalinya hari itu, Maya melihat pria itu benar-benar kehilangan kendali.

Dia menendang salah satu koper.

“Kamu puas sekarang?”

Maya menatapnya.

“Yang berselingkuh kamu. Yang mengambil uang anak-anak kamu. Yang memalsukan tanda tanganku juga kamu. Tapi kamu bertanya apakah aku puas?”

“Semua ini terjadi karena kamu!”

Ibu Ratna langsung memegang lengan anaknya.

“Dimas.”

Namun Dimas sudah terlalu marah.

“Sebelas tahun aku hidup seperti orang menumpang di rumah istri sendiri! Semua orang pikir aku sukses, padahal rumah ini dari keluargamu. Bisnis katering itu punya keluargamu. Bahkan tabungan terbesar kita berasal dari penghasilanmu!”

Akhirnya.

Kebenaran sebenarnya keluar.

Bukan soal anak laki-laki.

Bukan soal penerus keluarga.

Harga diri Dimas terluka karena selama bertahun-tahun dia merasa hidup di bawah bayang-bayang istrinya.

Maya menatapnya dengan rasa asing.

“Aku tidak pernah sekalipun merendahkanmu karena penghasilanku lebih besar.”

“Tapi aku tahu!”

“Itu masalahmu, Dimas. Bukan kesalahanku.”

Dimas tidak mampu menjawab.

Maya kemudian menghubungi kakaknya, Arif, dan meminta dia datang bersama pengacara keluarga.

Empat puluh menit kemudian, Arif tiba.

Begitu melihat kondisi adiknya yang baru selesai operasi berdiri menghadapi Dimas, wajahnya langsung mengeras.

Namun Maya menahannya.

“Jangan buat keributan.”

Pengacara keluarga, Bu Nadine, memeriksa dokumen satu per satu.

Setelah hampir setengah jam, dia menatap Maya.

“Semua dokumen ini kita amankan. Jangan tanda tangani apa pun. Besok kita blokir kemungkinan transaksi yang menggunakan identitas Mbak Maya dan kita audit rekening bersama.”

Dimas tertawa sinis.

“Kalian tidak bisa mengusirku begitu saja.”

Bu Nadine menjawab tenang.

“Tidak ada yang akan melakukan sesuatu secara sembarangan. Semuanya akan melalui prosedur hukum.”

Kemudian dia menatap dokumen pengajuan kredit.

“Tapi kalau tanda tangan ini memang dipalsukan, masalah Pak Dimas mungkin tidak berhenti pada perceraian.”

Wajah Dimas berubah.

Ibu Ratna langsung duduk.

Malam itu Dimas akhirnya pergi membawa tiga dari lima koper.

Dua koper lainnya ternyata berisi barang milik Maya dan anak-anak.

Ibu Ratna ikut pergi bersamanya.

Sebelum keluar, wanita itu sempat menatap Raya.

Untuk pertama kalinya sejak Maya pulang.

Namun Maya tidak melihat kasih sayang di sana.

Hanya kekalahan.

Pukul empat lewat tiga puluh, Cinta, Tari, dan Nisa pulang sekolah.

Mereka terkejut melihat koper berserakan.

Cinta yang sudah berusia sepuluh tahun langsung memahami ada sesuatu yang tidak beres.

“Ayah pergi?”

Maya mengangguk.

“Untuk sementara.”

“Karena Raya perempuan?”

Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu di dalam hati Maya.

Dia memeluk ketiga putrinya.

“Dengarkan Mama.”

Mereka mendekat.

“Tidak ada satu pun dari kalian yang kurang hanya karena kalian perempuan. Tidak pernah.”

Cinta mulai menangis.

Tari ikut memeluk ibunya.

Nisa menyentuh pipi Raya yang sedang tidur.

Maya menahan air mata.

Dia baru menyadari betapa lama anak-anaknya hidup dengan perasaan bahwa mereka adalah kekecewaan bagi ayah mereka.

Dua bulan berikutnya menjadi masa paling berat dalam hidup Maya.

Audit rekening menemukan bahwa Dimas telah memindahkan lebih dari enam ratus juta rupiah selama hampir dua tahun.

Sebagian uang berhasil dilacak.

Sebagian lagi sudah habis.

Pengajuan kredit menggunakan identitas Maya belum sempat dicairkan sehingga bisa dihentikan.

Proses perceraian berjalan.

Dimas mencoba menuntut bagian rumah, tetapi bukti asal-usul dana pembelian rumah membuat posisinya jauh lebih lemah daripada yang dia bayangkan.

Namun kejutan terbesar datang tiga bulan kemudian.

Suatu sore, Bu Nadine menghubungi Maya.

“Ada seseorang yang ingin bertemu.”

“Siapa?”

“Selina.”

Maya hampir menolak.

Namun akhirnya dia setuju.

Mereka bertemu di sebuah kafe di Alam Sutera.

Selina datang membawa sebuah flashdisk.

“Aku menemukan ini di laptop lama yang pernah Dimas tinggalkan di apartemenku.”

Maya menatap benda kecil itu.

“Apa isinya?”

“Rekaman percakapan.”

Malam itu Maya mendengarkannya bersama Bu Nadine.

Suara Dimas terdengar jelas.

Namun suara kedua membuat Maya membeku.

Ibu Ratna.

“Kalau Maya sudah keluar, kita jual rumahnya cepat. Jangan kasih dia waktu berpikir. Kamu bilang saja itu harta bersama.”

Kemudian suara Dimas menjawab.

“Kalau dia cek sertifikat?”

“Dia baru melahirkan. Kondisinya pasti lemah. Tekan saja sampai dia tanda tangan.”

Maya menghentikan rekaman.

Tangannya gemetar.

Jadi Ibu Ratna bukan sekadar mengetahui rencana itu.

Dia ikut merancangnya.

Maya menatap Raya yang sedang tidur di sampingnya.

Aneh sekali.

Kelahiran bayi yang dianggap Dimas sebagai kegagalan justru menjadi alasan rencana mereka gagal.

Mereka memilih hari kepulangan Maya karena mengira seorang perempuan empat hari setelah melahirkan akan terlalu lemah untuk melawan.

Mereka salah.

Enam bulan kemudian, perceraian Maya dan Dimas resmi diputus.

Maya tetap tinggal di rumah BSD bersama keempat putrinya.

Dana pendidikan anak-anak perlahan dipulihkan melalui penyelesaian aset dan proses hukum yang berjalan.

Dimas kehilangan rumah yang tidak pernah menjadi miliknya.

Selina tidak pernah kembali kepadanya.

Sementara hubungan Maya dengan Ibu Ratna berhenti sepenuhnya.

Suatu malam, Maya duduk di teras belakang.

Raya yang kini sudah mulai bisa duduk berada di pangkuannya.

Cinta mengerjakan tugas sekolah.

Tari dan Nisa bertengkar kecil soal pensil warna.

Rumah itu berisik.

Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Maya merasa damai.

Cinta tiba-tiba bertanya.

“Ma, Mama sedih nggak karena kita nggak punya saudara laki-laki?”

Maya tersenyum.

Dia memandang empat anak perempuannya.

Dulu pertanyaan itu mungkin akan membuat dadanya sesak.

Sekarang tidak lagi.

“Mama justru sedih karena dulu Mama pernah berpikir keluarga kita kurang lengkap.”

“Sekarang?”

Maya mencium kepala Raya.

“Sekarang Mama tahu sesuatu.”

“Apa?”

Maya memandang rumah yang hampir direbut dari mereka.

Lima koper yang pernah berjajar di dekat pintu sudah lama tidak ada.

Namun Maya masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Hari ketika seseorang mencoba mengusirnya dari rumahnya sendiri.

Hari ketika suaminya menganggap kelahiran anak perempuan sebagai akhir dari keluarga mereka.

Padahal tanpa mereka sadari, hari itu justru menjadi awal.

Maya tersenyum kepada Cinta.

“Rumah tidak membutuhkan anak laki-laki supaya punya penerus.”

Cinta mengerutkan kening.

“Terus?”

“Rumah cuma membutuhkan orang-orang yang tahu cara saling menjaga.”

Cinta tersenyum.

Di dalam rumah, Tari memanggil ibunya karena Nisa mengambil pensil warnanya.

Maya tertawa kecil dan berdiri sambil menggendong Raya.

Sebelum masuk, dia menoleh sekali lagi ke arah pintu depan.

Dimas pernah menaruh lima koper di sana karena mengira Maya akan pergi tanpa melawan.

Dia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang baru pulang dari rumah sakit itu justru akan menjadi orang yang membongkar seluruh kebohongannya.

Dan Dimas juga tidak pernah memahami satu ironi terakhir.

Empat anak perempuan yang selama bertahun-tahun dianggapnya tidak mampu meneruskan nama keluarga justru menjadi satu-satunya bagian dari dirinya yang masih akan dikenang dengan kasih.

Sementara nama Dimas sendiri, perlahan-lahan, hanya menjadi cerita tentang seorang ayah yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depannya karena terlalu sibuk mengejar seorang penerus yang sebenarnya sudah berdiri di hadapannya sejak sebelas tahun lalu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang