Di Pinggir Jalan Tol Jagorawi Dengan Kaki Terkilir Dan Hujan Deras, Aku Kira Hidupku Selesai, Sampai Mobil Alphard Hitam Berhenti, Seorang Pria Paruh Baya Menatapku Dan Berkata, Mau Jadi Anak Angkat Om Saja, Tapi Aku Tidak Tahu Rumah Mewah Itu Menyimpan Enam Kakak Yang Membenciku Dan Adik Angkat Yang Ingin Menghancurkanku.

Hujan di bahu Tol Jagorawi malam itu terasa seperti ingin menghapus seluruh jejak hidupku.

Namaku Kirana. Umurku dua puluh dua tahun. Tiga hari sebelumnya aku masih seorang mahasiswi desain perhiasan dengan sederet prestasi, kamar yang bisa kusebut rumah, dan keluarga yang meski tak pernah benar-benar hangat, setidaknya masih kupanggil Mama dan Papa.

Lalu semuanya hilang karena satu unggahan.

Naya, adik angkat keluargaku, mengunggah desain tugas akhir yang kubuat selama berbulan-bulan ke media sosial dua jam sebelum aku menyerahkannya kepada dosen. Ketika aku menunjukkan sketsa awal dan file proses sebagai bukti, tak seorang pun mau mendengar.

Di kampus aku disebut plagiator.

Di rumah aku disebut pembohong.

Papa menunjuk pintu.

“Keluar. Anggap saja kami tidak pernah punya anak sepertimu.”

Aku pergi hanya membawa tas dan laptop. Dalam keadaan kacau, aku berjalan terlalu dekat ke jalan ketika sebuah motor menyerempetku. Pergelangan kakiku terkilir dan tubuhku jatuh di aspal basah.

Saat itulah sebuah Alphard hitam berhenti.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun turun membawa payung.

“Nak, kamu bisa berdiri?”

Aku menggeleng sambil menahan sakit.

“Tidak punya siapa-siapa?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada kakiku.

“Sudah tidak punya.”

Dia membawaku ke rumah sakit. Namanya Budi Hartono, seorang pengusaha properti dan pertambangan. Aku mengira pertolongan itu selesai setelah biaya rumah sakit dibayar.

Ternyata tidak.

“Om sudah lama ingin punya anak perempuan,” katanya. “Kalau kamu tidak keberatan, tinggal dulu di rumah Om. Soal menjadi keluarga, kita tidak perlu memutuskan malam ini.”

Aku menerima karena memang tidak punya tempat lain.

Rumahnya di Pondok Indah membuatku merasa masuk ke dunia yang salah. Di ruang keluarga, enam putranya sudah menunggu.

Bima, anak tertua sekaligus CEO Hartono Group, langsung menatapku penuh kecurigaan.

“Papa tahu latar belakang dia?”

Pak Budi mengangguk.

“Sudah Papa cari tahu.”

“Orang bisa berpura-pura.”

Axel, putra termuda, bahkan lebih terang-terangan.

“Aku tahu dia. Kakaknya Naya, kan? Di internet katanya dia plagiator.”

Aku menggigit bibir.

Pak Budi menatap keenam putranya.

“Kalian boleh curiga. Tapi jangan menghina orang yang belum kalian kenal.”

Malam pertama aku tidur di kamar yang lebih besar daripada apartemen lamaku. Di meja ada kalung kecil berliontin kucing dan kartu bertuliskan, Selamat datang di rumah.

Aku menangis sampai tertidur.

Dua hari kemudian, aku menemukan tetesan cairan di bawah Land Cruiser yang biasa digunakan Bima. Bau khasnya membuatku teringat masa magang ketika aku sering membantu dosen yang mengoleksi mobil tua.

Aku berlari ke ruang makan.

“Kak Bima, jangan pakai mobil itu.”

Bima menghentikan sarapannya.

“Kenapa?”

“Sepertinya minyak rem bocor.”

Axel tertawa.

“Mulai cari perhatian.”

Bima ikut kesal. “Mobil itu baru diservis.”

Belum sempat aku menjawab, manajer garasi masuk tergesa-gesa.

“Pak Bima, mobilnya jangan digunakan. Selang rem rusak.”

Wajah Bima berubah.

“Rusak?”

Manajer itu menelan ludah.

“Sepertinya bukan kerusakan biasa. Ada bekas sayatan.”

Semua orang terdiam.

Sejak pagi itu, tatapan Bima kepadaku berubah. Belum hangat, tetapi tidak lagi penuh kebencian.

Perubahan sesungguhnya terjadi ketika Naya mempermalukanku di kampus.

Dia menuduhku mencoba merebut Haris Mahendra, tunangannya. Riko, kakak kandungku sendiri, bahkan mengangkat tangan hendak menamparku di depan puluhan mahasiswa.

Sebelum tangannya menyentuh wajahku, suara berat terdengar dari ujung koridor.

“Berhenti.”

Bima datang bersama dua staf keamanan.

Dia berdiri di depanku.

“Kamu siapa sampai berani menyentuh adik saya?”

Aku membeku mendengar dua kata terakhir.

Adik saya.

Bima tidak mengatakan anak angkat Papa. Tidak mengatakan perempuan yang tinggal di rumah kami.

Dia menyebutku adiknya.

Riko mundur.

Haris yang baru datang justru mencibir. “Jadi sekarang berlindung di belakang Hartono?”

Bima mengeluarkan ponselnya.

“Pak Thomas, hentikan pembahasan investasi dengan Mahendra Retail.”

Wajah Haris langsung pucat.

Malam berikutnya giliran Axel.

Dia mengikuti final nasional e-sports di Istora Senayan. Sebelum pertandingan, Naya memberinya keyboard custom yang katanya dipesan dari Jepang seharga tiga puluh juta rupiah.

Aku memperhatikan keyboard itu.

Ada sesuatu yang salah.

Kabelnya terlalu tipis. Finishing tombolnya kasar. Tombol Flash sedikit miring.

“Axel, pakai keyboard cadangan saja.”

Dia mendengus.

“Kak, jangan mulai.”

Naya tersenyum tipis. “Mungkin Kak Kirana takut kamu menang.”

Aku memilih diam.

Pertandingan dimulai. Tim Axel unggul hingga momen penentuan ketika ia menekan tombol Flash.

Tidak merespons.

Sekali.

Dua kali.

Tetap tidak berfungsi.

Tim lawan langsung menyerang balik.

Aku berteriak dari pinggir panggung.

“Axel, pindahkan Flash ke tombol samping mouse!”

Dia menoleh sekilas.

Kemudian menurutiku.

Beberapa detik berikutnya Istora meledak oleh sorakan. Axel berhasil membalikkan keadaan dan membawa timnya menjadi juara.

Begitu turun panggung, dia langsung memelukku.

“Kak, benar. Tombolnya rusak.”

Malam itu netizen menemukan keyboard tersebut bukan produk Jepang. Barang itu dijual di marketplace dengan harga kurang dari seratus ribu rupiah.

Untuk pertama kalinya Axel masuk ke kamarku membawa dua gelas boba.

“Maaf.”

“Hanya itu?”

Dia nyengir.

“Kalau mau, aku tambah kentang goreng.”

Aku tertawa.

Tapi ketenangan itu hanya bertahan sampai Reza, putra kedua Pak Budi yang bekerja sebagai penyidik kepolisian, mengetuk pintuku keesokan harinya.

“Kirana, kamu kenal Haris?”

“Tidak dekat.”

“Ada mahasiswi yang melaporkannya atas dugaan pelecehan. Kami punya beberapa bukti awal, tapi dia diduga akan meninggalkan Indonesia.”

Saat itu pesan dari Naya masuk.

Kak, tolong Haris. Kalau dia ditangkap, keluarga kita bisa bangkrut. Papa investasi delapan puluh miliar di perusahaannya.

Tanganku gemetar.

Keluarga yang membuangku sedang meminta pertolongan.

Aku menatap Reza.

“Apa yang bisa kubantu?”

Malam itu aku ikut Reza menemui Haris di sebuah bar di kawasan SCBD. Haris tertawa saat melihatku.

“Kangen?”

Reza menunjukkan identitasnya.

“Anda perlu ikut kami untuk pemeriksaan.”

Haris menyangkal semuanya. Namun seorang temannya yang panik justru mengatakan sesuatu yang menguatkan keterangan korban dan bukti yang sudah dikumpulkan penyidik.

Haris akhirnya dibawa untuk diperiksa.

Naya datang terlambat dan berteriak kepadaku.

“Kamu menghancurkan keluarga sendiri!”

Aku menatapnya lama.

“Bukan aku yang membuat pilihan-pilihan itu, Naya.”

Tiga hari setelahnya, hidup kami kembali bertabrakan dalam Piala Nusantara Jewelry Design.

Namaku dan Naya sama-sama masuk final.

Setiap finalis harus membuat karya dari batu yang dipilih pada hari itu. Naya mendapat ruby sempurna. Aku mendapat sapphire biru dengan retakan besar di tengahnya.

Dia tersenyum mengejek.

“Selalu dapat sisa ya, Kak.”

Aku memandangi retakan itu.

Entah kenapa aku justru melihat diriku sendiri.

Selama bertahun-tahun aku berusaha menyembunyikan luka agar dianggap sempurna. Padahal mungkin beberapa luka tidak perlu disembunyikan.

Aku menjadikan retakan sapphire itu pusat desain. Garis pecahnya kubentuk seperti aliran sungai, lalu sebuah berlian kecil kutempatkan di ujungnya seperti matahari yang muncul setelah badai.

Ketika penjurian selesai, Cecile, ketua juri internasional, berdiri di depan karyaku cukup lama.

“Kamu tidak menyembunyikan ketidaksempurnaan batu ini.”

“Karena kalau saya menghapus retakannya, saya juga menghapus ceritanya.”

Dia tersenyum.

Namaku diumumkan sebagai pemenang.

Naya langsung berdiri.

“Dia plagiat! Desain seperti ini pasti dicuri dari Liora!”

Ruangan gaduh.

Liora adalah nama samaran desainer perhiasan daring yang selama beberapa tahun terakhir karyanya dibeli kolektor luar negeri. Tidak banyak orang tahu identitasnya.

Cecile justru tersenyum.

“Menarik.”

Layar besar di belakang panggung menyala.

Muncul arsip karya, kontrak digital, dokumentasi proses desain, serta identitas kreator.

Kirana.

Aku adalah Liora.

Selama tiga tahun aku menjual desain dengan nama itu untuk membayar kebutuhan kuliah ketika keluarga Tan semakin memusatkan semuanya kepada Naya.

Wajah Naya kehilangan warna.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Pak Budi.

Dia naik ke panggung membawa sebuah map tua.

“Ada satu hal yang Papa belum ceritakan kepadamu.”

Aku menatapnya bingung.

Pak Budi membuka map tersebut. Di dalamnya ada foto seorang perempuan muda sedang memegang sketsa kalung.

Aku mengenal wajah itu.

Itu ibu kandungku yang meninggal ketika aku masih kecil.

“Papa kenal Ibu?”

Pak Budi mengangguk perlahan.

“Ibumu, Laras, pernah menjadi desainer pertama di perusahaan perhiasan kecil yang Papa bangun bersama sahabat Papa. Dia orang yang menyelamatkan perusahaan itu ketika hampir bangkrut.”

Dadaku sesak.

“Jadi Papa sudah tahu siapa aku sejak di tol?”

“Tidak.”

Pak Budi menggeleng.

“Papa baru sadar setelah melihat liontin kecil yang selalu kamu bawa di tas. Itu desain Laras. Hanya dibuat dua buah.”

Aku teringat liontin tua peninggalan ibu yang selama ini kusimpan.

Pak Budi mengeluarkan liontin yang sama dari sakunya.

“Yang satu dia berikan kepada Papa.”

Ruangan mendadak terasa jauh.

“Kenapa?”

Pak Budi menarik napas panjang.

“Karena sebelum meninggal, Laras pernah meminta Papa satu hal. Kalau suatu hari anaknya kehilangan tempat pulang, jangan biarkan dia sendirian.”

Air mataku jatuh.

Jadi pertemuan di Jagorawi memang kebetulan.

Tetapi alasan Pak Budi mempertahankanku setelah mengetahui siapa aku ternyata bukan.

Riko datang mendekat dengan mata merah.

“Kirana, Papa sakit. Pulanglah. Kami salah.”

Aku memandang kakak yang dulu selalu kuikuti sejak kecil.

Ada masa ketika aku rela memberikan apa pun hanya untuk mendengar kalimat itu.

Sekarang rasanya berbeda.

“Aku sudah memaafkan kalian,” kataku. “Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali ke tempat yang membuatku kehilangan diriku sendiri.”

Riko menunduk.

Ketika aku berbalik, Bima, Reza, Axel, dan tiga kakakku yang lain sudah menunggu.

Axel mengangkat kunci mobil.

“Ayo pulang.”

Bima langsung mengambil kunci itu.

“Kamu jangan nyetir.”

“Kenapa?”

“Terakhir kamu parkir, spion mobil Papa hampir hilang.”

“Itu tiangnya yang salah posisi.”

Untuk pertama kalinya aku tertawa sampai menangis.

Malam itu kami makan bersama di rumah Pondok Indah. Bima bahkan membatalkan satu rapat. Axel melepas headset. Reza berhenti membahas kasus. Pak Budi sendiri membawa rendang dari dapur dan meletakkannya di depanku.

“Papa sebenarnya mau bicara soal satu hal.”

Semua langsung diam.

Pak Budi menyerahkan sebuah dokumen.

Aku membacanya perlahan.

Bukan surat adopsi.

Bukan pula surat warisan.

Itu dokumen pendirian sebuah yayasan pendidikan desain atas nama Laras.

“Aset ini bukan hadiah untukmu,” katanya. “Papa ingin kamu mengelolanya. Cari anak-anak yang berbakat tetapi kehilangan kesempatan hanya karena tidak punya uang atau keluarga yang mendukung.”

Aku menatap foto ibuku yang tercetak di halaman pertama.

Barulah aku memahami sesuatu.

Malam di Jagorawi itu aku mengira seorang lelaki kaya telah menyelamatkanku.

Ternyata bukan itu yang terjadi.

Pak Budi hanya memberiku sebuah pintu.

Bima memberiku perlindungan.

Reza memberiku kepercayaan.

Axel memberiku kesempatan untuk menjadi kakak.

Dan pada akhirnya, aku sendirilah yang memilih berjalan melewati pintu itu.

Beberapa bulan kemudian, mahasiswa pertama penerima beasiswa Yayasan Laras datang ke studio desain kami.

Dia seorang gadis dari Bogor yang membawa sapphire kecil dengan retakan di tengah.

“Mbak Kirana,” katanya gugup, “batunya jelek ya?”

Aku mengambil batu itu dan tersenyum.

“Siapa bilang?”

Aku meletakkannya kembali di telapak tangannya.

“Kadang bagian yang retak justru membuat sesuatu tidak bisa ditiru oleh siapa pun.”

Dari jendela studio, aku melihat sebuah Alphard hitam berhenti.

Pak Budi turun. Axel melambaikan tangan dari belakang. Bima terlihat kesal karena mereka terlambat tujuh menit dari jadwal.

Aku tertawa kecil.

Dulu aku pernah duduk sendirian di pinggir jalan, basah kuyup, dengan kaki terkilir, percaya bahwa hidupku sudah berakhir.

Ternyata beberapa akhir hanyalah tempat hidup memaksa kita berhenti agar kita bisa melihat jalan lain.

Dan rumah, akhirnya kupahami, bukan selalu tempat kita dilahirkan.

Kadang rumah adalah orang-orang yang melihat semua retakan kita, mengetahui kita tidak sempurna, lalu tetap membuka pintu dan berkata,

“Pulang, Kirana. Kami menunggumu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang