SAYA PULANG LEBIH AWAL DAN MENEMUKAN IBU KETAKUTAN KARENA SURAT DARI BANK! ISTRIKU MEMBAWA MOBIL DEMI ACARA ARISAN DAN BERKATA, “DIA IBUMU, BUKAN TANGGUNG JAWABKU!”

Pesan itu membuat tangan Riko mendadak dingin.

Kalau ingin rumah tangga anakmu tetap utuh, berhenti mengutak-atik rekening bank.

Riko membaca kalimat itu dua kali. Kemudian tiga kali.

“Ibu pernah menerima pesan seperti ini sebelumnya?”

Bu Rahmi menggeleng. Wajahnya yang tadi sudah pucat kini semakin kehilangan warna.

“Belum pernah.”

“Nomor siapa?”

“Tidak tahu.”

Riko langsung menelepon nomor tersebut.

Tidak aktif.

Dia mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Di tengah koridor rumah sakit yang ramai oleh suara langkah kaki dan panggilan perawat, Riko merasa seperti sedang berdiri sendirian di ruangan sempit tanpa pintu keluar.

Selama ini dia mengira masalah terbesar dalam rumah tangganya hanyalah sikap Karin yang semakin egois terhadap ibunya.

Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih gelap.

“Besok kita tetap temui Pak Farhan,” kata Riko.

Bu Rahmi menggenggam tangannya.

“Jangan bilang Karin dulu.”

Riko menatap ibunya.

“Kenapa?”

“Karena Ibu belum tahu seberapa jauh dia terlibat.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Riko sampai mereka pulang.

Sekitar pukul lima sore, Honda CR-V milik keluarga sudah terparkir di garasi.

Karin sedang duduk di ruang keluarga dengan beberapa kantong belanja bermerek di samping sofa.

Dia bahkan tidak bertanya bagaimana hasil pemeriksaan Bu Rahmi.

“Mobil Pak Santo bau minyak kayu putih,” komentarnya begitu melihat Riko masuk.

Riko tidak menjawab.

Karin memperhatikannya sebentar.

“Kamu kenapa?”

“Hasil pemeriksaan Ibu baik.”

“Oh.”

Hanya itu.

Karin kembali menatap ponsel.

Riko hampir tertawa karena tidak percaya.

Perempuan yang dua tahun lalu menerima Rp180 juta dari ibunya tanpa banyak bicara kini bahkan tidak mampu bertanya apakah perempuan tua itu baik-baik saja.

Namun Riko menahan semuanya.

Malam itu dia tidur membelakangi Karin.

Sekitar pukul dua dini hari, Riko terbangun karena mendengar suara pintu kamar mandi.

Karin tidak ada di sebelahnya.

Dari balik pintu, terdengar suara pelan.

“Aku sudah bilang jangan kirim pesan ke perempuan tua itu.”

Riko membeku.

Suara Karin terdengar lagi.

“Dia mulai curiga.”

Ada jeda.

“Tidak. Riko belum tahu apa-apa.”

Jantung Riko berdegup keras.

Dia ingin membuka pintu saat itu juga, tetapi teringat pesan ibunya.

Jangan bilang Karin dulu.

Riko kembali ke tempat tidur dan berpura-pura tidur.

Beberapa menit kemudian Karin keluar.

Dia berdiri di sisi ranjang cukup lama, seolah memastikan Riko benar-benar terlelap.

Keesokan paginya, Riko mengatakan ada rapat mendadak di kantor.

Karin tampak tidak peduli.

Bu Rahmi sudah menunggu di rumah Pak Farhan.

Pengacara keluarga mereka itu berusia hampir 60 tahun. Dia mengenal ayah Riko sejak puluhan tahun lalu.

Begitu semua pintu ruang kerjanya ditutup, Pak Farhan mengeluarkan satu map cokelat tebal.

“Bu Rahmi datang kepada saya dua minggu lalu.”

Riko menoleh kepada ibunya.

“Dua minggu?”

Bu Rahmi mengangguk.

“Ibu belum berani cerita.”

Pak Farhan kemudian mendorong beberapa dokumen ke arah Riko.

Ada salinan perjanjian kredit.

Surat kuasa.

Dokumen pinjaman usaha.

Dan tanda tangan.

Nama yang tercetak di sana adalah Riko Prasetya.

Tetapi Riko sama sekali tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

“Apa ini?”

Pak Farhan menjawab dengan suara tenang.

“Selama hampir tiga tahun, seseorang menggunakan identitas Anda sebagai penjamin sejumlah pinjaman yang berkaitan dengan CV Gemilang Moda.”

Dunia Riko seperti berhenti.

“Bisnis Karin?”

“Benar.”

Jumlah total kewajiban yang tertera hampir mencapai Rp1,4 miliar.

Riko berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Saya tidak pernah mengambil pinjaman ini.”

“Saya tahu.”

“Lalu bagaimana bisa lolos?”

Pak Farhan membuka dokumen lain.

“Seseorang memiliki salinan KTP, NPWP, tanda tangan digital, akses terhadap rekening keluarga, bahkan data pekerjaan Anda.”

Riko langsung teringat sesuatu.

Dua tahun sebelumnya, Karin pernah meminta semua dokumen pribadinya dengan alasan memperbarui data asuransi keluarga.

Saat itu Riko tidak pernah curiga.

Namun ada hal lain yang lebih mengejutkan.

Pak Farhan menunjukkan bukti aliran dana dari rekening Bu Rahmi.

Tiga transaksi sebesar Rp98 juta, Rp125 juta, dan Rp170 juta ternyata bukan transfer biasa.

Semuanya dilakukan melalui surat kuasa digital yang mencantumkan nama Riko sebagai pihak yang membantu pengelolaan rekening ibunya.

“Saya tidak pernah mendapat surat kuasa seperti ini.”

Bu Rahmi menahan air mata.

“Itulah yang membuat Ibu takut.”

Pak Farhan mengangguk.

“Kalau kasus ini hanya tentang Karin memalsukan tanda tangan, sebenarnya cukup sederhana. Tapi saya menemukan nama lain.”

Dia membalik satu halaman.

Tertulis nama Dimas Adiputra.

Riko mengenalnya.

Dimas adalah kepala keuangan butik Karin.

Selama bertahun-tahun Karin menyebut Dimas hanya sebagai karyawan kepercayaan.

Pak Farhan melanjutkan.

“Sebagian uang dari pinjaman tidak masuk ke bisnis. Dana itu berpindah ke rekening pribadi atas nama Dimas.”

Riko terdiam.

“Berapa?”

“Hampir enam ratus juta.”

Bu Rahmi memejamkan mata.

Pak Farhan kemudian memutar layar laptopnya.

Ada foto-foto yang dikumpulkan penyelidik swasta atas permintaan Bu Rahmi.

Karin dan Dimas di sebuah restoran.

Karin dan Dimas memasuki apartemen di kawasan Kuningan.

Karin dan Dimas duduk berdua di dalam mobil pada malam hari.

Riko merasa napasnya semakin berat.

Tetapi foto terakhir jauh lebih menghancurkan.

Karin mencium Dimas di lobi apartemen.

Riko tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.

Bu Rahmi menyentuh lengannya.

“Maaf.”

Riko menggeleng.

“Ibu tidak perlu minta maaf.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menyadari bahwa kedamaian yang selama ini dia pertahankan sebenarnya hanyalah ketakutannya sendiri untuk menghadapi kebenaran.

Sore itu Riko tidak langsung pulang.

Bersama Pak Farhan, dia mendatangi bank.

Akses terhadap rekening Bu Rahmi dibekukan sementara.

Semua otorisasi digital dicabut.

Mereka juga mengajukan laporan resmi terkait dugaan pemalsuan identitas dan penyalahgunaan data.

Namun Riko sengaja tidak menyentuh rekening keluarga yang biasa digunakan Karin.

Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan istrinya.

Jawabannya datang kurang dari empat jam kemudian.

Pukul tujuh malam, Karin menelepon.

“Riko, kamu di mana?”

Nada suaranya berbeda.

Tidak lagi santai.

“Masih kerja.”

“Kamu melakukan sesuatu terhadap rekening ibumu?”

Riko tersenyum hambar.

“Kenapa tanya begitu?”

“Dimas bilang ada transfer yang gagal.”

Riko terdiam.

Karin langsung menyadari kesalahannya.

“Dimas?”

“Dia sedang mengurus pembayaran supplier.”

“Oh.”

“Bukannya rekening Ibu tidak ada hubungannya dengan butik?”

Karin berhenti beberapa detik.

“Ya memang tidak.”

“Kalau begitu kenapa transfer yang gagal membuat Dimas tahu rekening Ibu dibekukan?”

Telepon langsung terputus.

Riko menatap layar ponselnya.

Tidak lama kemudian Pak Farhan mengirim pesan.

Jangan pulang sendirian. Kami baru menerima informasi bahwa seseorang mencoba menarik Rp240 juta dari rekening Bu Rahmi melalui fasilitas transfer terjadwal.

Nama penerima adalah Dimas.

Riko akhirnya pulang sekitar pukul sembilan malam ditemani Pak Santo.

Rumah gelap.

Honda CR-V sudah tidak ada.

Karin juga tidak ada.

Di meja makan terdapat amplop putih.

Riko membukanya.

Aku butuh waktu. Jangan cari aku.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada penjelasan.

Hanya enam kata.

Dua hari kemudian polisi menemukan CR-V terparkir di sebuah hotel kecil di Bandung.

Namun Karin dan Dimas tidak ada di sana.

Mereka rupanya meninggalkan mobil kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan lain.

Seminggu berlalu.

Kasus pemalsuan dokumen berkembang.

Bank menemukan bahwa tanda tangan digital Riko digunakan berulang kali dari perangkat yang terdaftar atas nama Karin.

Beberapa dokumen juga menggunakan alamat email palsu yang sangat mirip dengan email Riko.

Satu huruf berbeda.

Skemanya dilakukan dengan hati-hati.

Namun keserakahan membuat mereka meninggalkan terlalu banyak jejak.

Pada hari kesembilan, Karin tiba-tiba datang ke rumah Bu Rahmi.

Sendirian.

Wajahnya pucat.

Pakaiannya kusut.

Dia langsung berlutut di depan mertuanya.

“Ibu, tolong saya.”

Bu Rahmi tidak menjawab.

Riko berdiri beberapa meter di belakang ibunya.

Karin mulai menangis.

“Dimas membawa semua uang.”

Riko nyaris tidak percaya.

“Apa?”

“Dia meninggalkan aku.”

Karin mengeluarkan ponsel.

Rekening bersama yang mereka gunakan untuk menyimpan sebagian dana hasil pinjaman sudah kosong.

Dimas membawa hampir seluruh uang dan menghilang.

Karin menangis semakin keras.

“Aku bodoh.”

Riko menatap perempuan yang selama lima tahun dia panggil istri.

“Apa yang kamu harapkan? Aku merasa kasihan?”

“Aku salah.”

“Kamu mengambil uang ibuku.”

“Aku berniat mengembalikannya.”

“Kamu memalsukan namaku.”

“Aku terdesak.”

“Kamu tidur dengan Dimas.”

Karin terdiam.

Bu Rahmi memalingkan wajah.

Riko melanjutkan.

“Dan kemarin pagi, ketika Ibu perlu ke rumah sakit, kamu memilih brunch.”

Karin menangis.

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Justru itu yang paling berhubungan.”

Riko berjalan mendekat.

“Uang bisa dicari kembali. Dokumen bisa diproses secara hukum. Tapi cara kamu memperlakukan Ibu menunjukkan siapa dirimu bahkan sebelum semua kebohongan ini terbongkar.”

Karin tiba-tiba menggenggam kaki Bu Rahmi.

“Ibu, saya mohon. Kalau Ibu mencabut laporan, mungkin saya tidak akan dipenjara.”

Bu Rahmi menatapnya lama.

Tidak ada kebencian di wajah perempuan tua itu.

Hanya kelelahan.

“Karin.”

“Iya, Bu?”

“Dua tahun lalu ketika usahamu hampir tutup, kenapa kamu pikir Ibu memberikan uang?”

Karin terisak.

“Karena Ibu sayang sama saya.”

“Benar.”

Air mata Bu Rahmi mulai jatuh.

“Bukan karena kamu istri Riko. Ibu membantu karena Ibu menganggapmu anak.”

Karin tertunduk.

“Tapi ternyata di matamu, Ibu bahkan bukan tanggung jawab siapa pun.”

Karin menangis semakin keras.

Bu Rahmi perlahan menarik kakinya.

“Ibu tidak membalas dendam. Ibu cuma tidak akan lagi melindungimu dari akibat perbuatanmu sendiri.”

Dua puluh menit kemudian polisi datang.

Karin dibawa untuk menjalani pemeriksaan.

Dimas akhirnya tertangkap tiga minggu kemudian di Surabaya saat mencoba menggunakan identitas palsu untuk menyewa apartemen.

Penyelidikan menemukan bahwa sebagian besar uang sudah dipindahkan ke berbagai rekening dan digunakan untuk investasi spekulatif.

Sebagian berhasil dibekukan.

Sebagian lainnya hilang.

Riko kemudian mengajukan perceraian.

Prosesnya panjang, tetapi untuk pertama kalinya dia tidak merasa sedang kehilangan sebuah keluarga.

Dia justru merasa sedang menyelamatkan keluarganya yang tersisa.

Tiga bulan setelah kejadian itu, Bu Rahmi kembali menjalani pemeriksaan jantung.

Kali ini Honda CR-V sudah dijual untuk membantu menutup sebagian kewajiban hukum yang melekat pada aset bersama.

Riko datang menjemput ibunya menggunakan mobil bekas sederhana yang baru dibelinya.

Saat mereka hendak berangkat, Bu Rahmi berdiri di depan pagar sambil membawa kotak kecil.

“Apa itu?”

“Bolu pandan.”

Riko tertawa.

“Untuk siapa?”

“Ibu buat untuk perawat di rumah sakit.”

Riko membuka pintu mobil untuk ibunya.

Sebelum masuk, Bu Rahmi menatap rumah anaknya di seberang jalan.

“Ada satu hal yang Ibu belum pernah ceritakan.”

Riko berhenti.

“Apa?”

Bu Rahmi tersenyum tipis.

“Pesan ancaman pertama itu sebenarnya bukan satu-satunya alasan Ibu menemui Pak Farhan.”

Riko mengernyit.

Bu Rahmi mengeluarkan selembar surat dari tasnya.

Itu adalah surat bank lama bertanggal hampir setahun sebelumnya.

Ternyata pihak bank sudah pernah menghubunginya tentang transaksi mencurigakan.

“Kenapa Ibu tidak cerita sejak dulu?”

“Karena Ibu berharap Karin berhenti sendiri.”

Riko tercengang.

“Ibu sudah tahu?”

“Belum semuanya.”

Bu Rahmi melihat kotak bolu di tangannya.

“Ibu hanya tahu ada uang yang hilang. Ibu diam karena takut kalau semuanya dibongkar, rumah tanggamu hancur.”

Riko tidak sanggup menjawab.

Perempuan yang disebut Karin sebagai bukan tanggung jawabnya ternyata selama hampir satu tahun diam-diam menanggung ketakutan sendirian justru untuk menjaga pernikahan anaknya.

Bu Rahmi menyentuh bahu Riko.

“Ibu salah karena terlalu lama diam.”

Riko menggenggam tangan ibunya.

“Tidak, Bu.”

Bu Rahmi tersenyum.

“Mungkin kita berdua melakukan kesalahan yang sama.”

“Apa?”

“Kita terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang kita sebut keluarga, sampai lupa bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat orang merasa aman.”

Riko terdiam.

Lalu dia membantu ibunya masuk ke mobil.

Pagi itu mereka berangkat ke rumah sakit tanpa tergesa-gesa.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kunci mobil yang diperebutkan.

Tidak ada seorang pun yang merasa dirinya menjadi beban.

Di lampu merah dekat persimpangan, Bu Rahmi membuka kotak bolunya dan menyodorkan satu potong kepada Riko.

“Coba.”

Riko menggigit sedikit.

“Enak.”

“Jangan bohong.”

Riko tertawa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Dan pada saat itulah dia akhirnya memahami sesuatu.

Rumah tangganya memang telah berakhir.

Sebagian uang memang tidak pernah kembali.

Nama baik yang dibangun bertahun-tahun sempat hancur hanya karena satu orang yang salah dipercaya.

Namun sesuatu yang lebih berharga berhasil diselamatkan.

Ibunya tidak lagi merasa sebagai beban.

Dan Riko tidak lagi mengira bahwa diam demi menghindari konflik adalah bentuk cinta.

Kadang-kadang, keluarga tidak hancur ketika seseorang memilih pergi.

Keluarga justru hancur ketika orang yang seharusnya saling menjaga mulai menghitung siapa yang menjadi tanggung jawab siapa.

Dan terkadang, satu-satunya cara menyelamatkannya adalah berani membuka pintu bagi kebenaran, meskipun orang yang harus keluar dari pintu itu adalah seseorang yang pernah kita cintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang