AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR PADA MALAM TAHUN BARU AGAR AKHIRNYA BISA BERTEMU DENGAN ANAKKU YANG BARU LAHIR. NAMUN, YANG KUTEMUKAN JUSTRU ISTRIKU YANG BARU SELESAI OPERASI, KELAPARAN DAN GEMETAR DI SAMPING BAYI KAMI, DI DALAM APARTEMEN YANG HAMPIR KOSONG. IBU DAN ADIK PEREMPUANKU MENGHILANG BERSAMA UANG YANG KUTINGGALKAN UNTUK MERAWAT MEREKA. AKU TIDAK BERTERIAK. AKU HANYA MEMERIKSA REKAMAN KAMERA KEAMANAN… DAN MENEMUKAN SEBUAH PENGKHIANATAN YANG JAUH LEBIH MENGERIKAN.

Dokter jaga bahkan belum selesai memeriksa luka operasi Rani ketika wajahnya berubah tegang.

“Pak Raka, istri Anda mengalami infeksi pada luka operasi, dehidrasi, dan anemia. Tekanan darahnya juga terlalu rendah.”

Aku berdiri di samping ranjang sambil menggendong Arka, yang kini tertidur setelah seorang perawat memberinya susu.

“Seberapa serius?”

“Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih buruk.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.

Beberapa jam.

Aku terus memikirkan dua kata itu.

Bagaimana kalau penerbanganku ditunda?

Bagaimana kalau aku memutuskan pulang besok pagi?

Bagaimana kalau aku tetap berada di Surabaya seperti jadwal semula?

Aku menatap Rani yang terbaring pucat dengan infus di tangannya.

Selama ini aku merasa telah menjadi suami yang bertanggung jawab karena bekerja keras dan mengirim banyak uang.

Ternyata uang tidak berarti apa-apa jika aku menitipkan orang yang paling kucintai kepada orang yang salah.

Sekitar pukul dua dini hari, Rani akhirnya tertidur setelah mendapat antibiotik dan obat penurun demam.

Aku duduk di kursi dekat jendela sambil menggendong Arka.

Ponselku bergetar.

Siska.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Apa?” tanyaku.

Suara musik terdengar keras dari seberang.

“Kak, kartu aku kenapa nggak bisa dipakai? Kita lagi mau bayar tambahan kamar. Mama juga kartunya ditolak.”

Aku memandang Rani.

“Siska, sekarang kalian ada di mana?”

“Ya di Bali. Mama kan sudah bilang. Kenapa?”

“Pakai uang siapa?”

Hening sebentar.

Lalu Siska tertawa kecil.

“Ya ampun, Kak. Jangan perhitungan begitu. Kita keluarga.”

Aku menutup telepon.

Tidak sampai satu menit, ibuku menelepon.

Aku tidak mengangkatnya.

Ia menelepon lagi.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Kemudian pesan masuk.

Raka, jangan mempermalukan Ibu di depan orang banyak. Aktifkan kembali kartunya. Nanti kita bicara kalau sudah pulang.

Aku membaca pesan itu tanpa emosi.

Lalu kubalas satu kalimat.

Rani sedang dirawat di rumah sakit.

Tiga titik muncul.

Menghilang.

Muncul lagi.

Beberapa menit kemudian balasannya datang.

Jangan lebay. Perempuan habis melahirkan memang lemah. Ibu dulu melahirkan kamu tiga hari sudah bisa masak.

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Bukan rasa sayang.

Mungkin rasa hormat.

Pagi harinya, setelah dokter mengatakan kondisi Rani mulai stabil, aku meminta sahabatku, Andi, datang ke rumah sakit.

Andi bekerja sebagai pengacara perusahaan dan sudah mengenalku sejak kuliah.

Begitu melihat wajahku, dia tidak bertanya banyak.

“Apa yang terjadi?”

Aku menyerahkan ponsel berisi foto kondisi apartemen, catatan ibuku, riwayat transaksi, dan percakapan kami.

Andi membacanya perlahan.

“Kamu mau lapor polisi?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau cuma penggunaan kartu dan uang, kita harus lihat status rekening dan izin aksesnya. Tapi kalau ada penelantaran terhadap orang dalam kondisi medis, apalagi bayi baru lahir, situasinya bisa berbeda.”

Aku mengangguk.

“Tapi ada hal lain.”

“Apa?”

“Kamera apartemen.”

Apartemen kami memiliki kamera keamanan di ruang tamu dan pintu masuk. Awalnya dipasang karena beberapa bulan sebelumnya pernah terjadi pencurian di lantai lain.

Aku membuka aplikasi kamera.

Rekaman tersimpan otomatis di cloud selama tiga puluh hari.

Aku mulai dari tanggal Rani pulang dari rumah sakit.

Hari pertama terlihat normal.

Ibuku datang membawa makanan.

Siska membantu mengganti popok Arka.

Dimas beberapa kali membawa barang dari supermarket.

Aku hampir merasa bersalah telah berpikir buruk.

Sampai rekaman hari ketiga.

Pukul 10.13 pagi.

Rani sedang tidur di kamar.

Ibuku dan Siska duduk di ruang tamu.

Suara mereka tertangkap jelas.

“Dua ratus lima puluh juta terlalu banyak buat ngurus orang habis melahirkan,” kata Siska.

Ibuku tertawa.

“Raka memang begitu kalau soal istrinya. Takut sekali perempuan itu kenapa-kenapa.”

“Berarti hotel Bali jadi?”

“Jadi. Pakai uang itu saja dulu. Toh Rani nggak akan tahu.”

Tanganku membeku.

Andi yang duduk di sampingku tidak berkata apa-apa.

Kami melanjutkan rekaman.

Pada hari kelima, Siska membawa beberapa kantong besar keluar apartemen.

Isinya makanan dan susu yang kubeli untuk Rani.

Pada hari keenam, Dimas datang dengan mobil dan mengambil dua kardus.

Aku memperbesar gambar.

Itu susu formula khusus Arka.

Merek yang direkomendasikan dokter karena Arka lahir prematur.

“Kenapa mereka ambil susu bayi?” Andi bertanya.

Aku tidak menjawab.

Kami mempercepat rekaman.

Kemudian muncul kejadian yang membuat darahku benar-benar terasa dingin.

Hari kedelapan.

Rani duduk di sofa sambil menggendong Arka.

Ibuku berdiri di depannya.

“Aku butuh susu Arka, Bu. Yang ini tinggal sedikit.”

“Nanti beli sendiri.”

“Raka sudah mengirim uang untuk kebutuhan kami.”

Wajah ibuku berubah.

“Jangan merasa berhak atas semua uang anakku cuma karena kamu melahirkan cucu.”

Rani terdiam.

“Ibu, saya nggak pernah bilang begitu.”

“Sejak menikah dengan kamu, Raka berubah. Dulu kalau dapat bonus, dia kasih ke keluarga. Sekarang semuanya untuk kamu.”

“Ibu…”

“Aku tahu perempuan seperti kamu. Pelan-pelan menjauhkan anak laki-laki dari ibunya.”

Lalu ibuku mengambil dompet Rani dari meja.

Rani langsung berdiri.

“Bu, itu kartu saya.”

Ibuku menarik satu kartu ATM.

“Kamu nggak butuh ini dulu.”

“Itu rekening pribadi saya.”

“Kalau kamu macam-macam, aku bilang ke Raka kamu nggak sanggup mengurus bayi.”

Aku merasa sulit bernapas.

Andi menghentikan video.

“Raka.”

“Putar lagi.”

“Tenang dulu.”

“Putar.”

Rekaman selanjutnya bahkan lebih buruk.

Siska memesan barang-barang mahal menggunakan laptop Rani.

Dimas beberapa kali menerima kurir lalu menyembunyikan paket ke dalam koper.

Ibuku mengambil uang tunai dari laci kamar.

Tetapi pengkhianatan terbesar muncul dalam rekaman tanggal 29 Desember.

Dimas datang sendirian sekitar pukul sembilan malam.

Dia membawa sebuah map.

Rani berada di kamar.

Dimas menelepon seseorang.

“Aman. Besok kita berangkat.”

Suara dari ponselnya tidak jelas.

Kemudian dia melanjutkan.

“Suratnya tinggal tanda tangan Raka.”

Aku memperbesar video.

Dimas membuka map.

Di bagian atas dokumen terlihat logo perusahaan tempatku bekerja.

Aku langsung mengenalinya.

Itu perusahaan milik keluarga Pak Surya, tempat aku menjabat direktur operasional.

Andi menatapku.

“Dokumen apa itu?”

“Aku nggak tahu.”

Dimas kemudian memotret beberapa halaman menggunakan ponselnya.

Setelah itu dia berkata, “Kalau proyek Surabaya berhasil, posisi Raka makin kuat. Kita harus selesaikan sebelum dia pulang.”

Tubuhku menegang.

Ini bukan lagi soal uang liburan.

Aku menelepon sekretarisku.

Meskipun saat itu hari libur Tahun Baru, dia menjawab setelah tiga kali dering.

“Mbak Nita, ada dokumen perusahaan yang pernah saya bawa pulang bulan ini?”

“Ada, Pak. Draft kerja sama pembelian lahan untuk ekspansi gudang Bekasi. Bapak minta saya taruh di map hitam.”

Jantungku jatuh.

“Nilainya?”

“Sekitar delapan puluh miliar.”

Aku menutup mata.

“Siapa yang tahu?”

“Hanya tim direksi dan legal.”

Aku melihat video lagi.

Map di tangan Dimas berwarna hitam.

Aku meminta Nita mengecek sistem dokumen.

Lima belas menit kemudian dia menelepon kembali.

“Pak, ada yang aneh.”

“Apa?”

“Dua minggu lalu seseorang mencoba mengakses email perusahaan Bapak dari perangkat baru. Sistem memblokirnya karena autentikasi dua langkah.”

“Lokasi?”

“Jakarta.”

Aku menatap Andi.

Dimas.

Adik iparku yang selama ini mengaku bisnisnya sedang berkembang ternyata sudah berbulan-bulan mengalami masalah keuangan.

Aku tahu dia pernah meminjam uang, tapi tidak pernah membayangkan dia berani menyentuh urusan perusahaanku.

Andi langsung berdiri.

“Kita perlu salin semua rekaman sekarang.”

Kami menyimpan seluruh rekaman ke beberapa perangkat dan cloud berbeda.

Siang harinya aku kembali ke apartemen bersama Andi dan petugas keamanan gedung.

Kami menemukan map hitam itu di bawah tumpukan majalah.

Beberapa halaman dokumen hilang.

Di kamar tamu, kami menemukan printer kecil yang bukan milikku.

Di tempat sampah ada beberapa lembar percobaan tanda tanganku.

Tanda tangan palsu.

Aku menatap lembaran itu lama.

Mereka bukan sekadar mengambil uangku.

Mereka sedang mencoba menggunakan identitasku.

Sore itu aku membuat laporan resmi.

Bersamaan dengan itu, tim legal perusahaan mulai melakukan investigasi internal.

Hasilnya keluar lebih cepat dari perkiraanku.

Dimas ternyata telah berkomunikasi dengan seorang perantara properti yang ingin mendapatkan informasi mengenai rencana pembelian lahan perusahaan.

Jika transaksi bocor sebelum pembelian selesai, pihak tertentu bisa membeli lahan tersebut terlebih dahulu lalu menjualnya kembali kepada perusahaan dengan harga jauh lebih tinggi.

Nilai keuntungan potensialnya miliaran rupiah.

Dan Dimas dijanjikan komisi besar.

Bagian yang paling menyakitkan bukanlah keterlibatan Dimas.

Melainkan fakta bahwa ibuku tahu.

Dalam sebuah rekaman, terdengar jelas Siska berkata, “Kalau Kak Raka tahu, habis kita.”

Ibuku menjawab dengan tenang.

“Dia tidak akan tega melaporkan keluarganya sendiri.”

Itulah keyakinan mereka.

Bahwa cintaku kepada keluarga adalah kelemahanku.

Mereka salah.

Dua hari kemudian, mereka pulang dari Bali lebih cepat.

Kartu diblokir, hotel meminta pembayaran, dan beberapa transaksi ditolak.

Ibuku langsung datang ke rumah sakit.

Dia berjalan cepat menuju kamar Rani, tetapi berhenti ketika melihat dua petugas keamanan berdiri di depan pintu.

“Raka!”

Aku keluar.

“Kamu keterlaluan!” katanya. “Ibu membesarkan kamu sendirian setelah ayahmu meninggal, sekarang kamu memperlakukan Ibu seperti pencuri?”

Aku menatap perempuan yang telah membesarkanku.

Dulu kalimat itu selalu berhasil.

Setiap kali dia mengingatkan pengorbanannya, aku merasa menjadi anak durhaka jika menolak permintaannya.

Namun kali ini aku hanya bertanya satu hal.

“Kenapa Ibu mengambil susu Arka?”

Wajahnya berubah.

“Apa?”

“Kenapa Ibu mengambil makanan Rani?”

“Dengar dulu…”

“Kenapa Ibu mengambil kartu ATM Rani?”

Dia mulai gelisah.

“Kamu dengar dari siapa? Dari perempuan itu?”

“Dari kamera.”

Wajahnya langsung pucat.

Siska yang berdiri beberapa langkah di belakangnya memegang lengan Dimas.

Aku memperhatikan wajah mereka satu per satu.

“Ibu benar tentang satu hal,” kataku.

“Apa?”

“Aku memang tidak akan melaporkan keluargaku sendiri.”

Ibuku menghela napas lega.

Lalu aku melanjutkan.

“Tapi orang yang membiarkan istri dan anakku kelaparan, mencuri uang mereka, memalsukan tanda tanganku, dan menjual informasi perusahaan bukan lagi keluarga yang bisa kupercaya.”

Dimas mundur.

“Raka, soal dokumen itu bisa dijelaskan.”

Andi muncul dari ujung lorong bersama dua orang dari tim legal perusahaan.

“Bagus,” katanya. “Jelaskan nanti dalam pemeriksaan.”

Dimas langsung menatap Siska.

Siska mulai menangis.

Ibuku justru menunjuk Rani yang terlihat dari balik pintu kamar.

“Ini semua gara-gara dia! Sejak perempuan itu masuk, kamu berubah!”

Untuk pertama kalinya, Rani menjawab.

Dengan tubuh masih lemah, ia berdiri di ambang pintu sambil memegang tiang infus.

“Bu Ratna,” katanya pelan, “saya tidak pernah meminta Raka memilih antara saya dan keluarganya.”

Ibuku terdiam.

“Saya hanya berharap ketika saya tidak bisa berdiri setelah operasi, keluarga suami saya tidak mengambil makanan dari kulkas dan meninggalkan saya sendirian dengan bayi.”

Lorong itu menjadi sunyi.

Tidak ada satu pun orang yang mampu menjawabnya.

Beberapa bulan kemudian, kasus Dimas memasuki proses hukum terkait pemalsuan dokumen dan upaya penyalahgunaan informasi perusahaan.

Siska akhirnya mengembalikan sebagian uang yang digunakan untuk liburan setelah menjual mobilnya.

Aku tidak memenjarakan ibuku karena persoalan uang.

Namun sejak hari itu, semua aksesnya terhadap rekening, rumah, dan urusan keuangan kami dihentikan.

Aku juga meminta seluruh komunikasi dilakukan melalui aku, bukan Rani.

Ibuku tidak berbicara denganku selama berbulan-bulan.

Pada awalnya itu menyakitkan.

Kemudian aku menyadari bahwa rasa bersalah tidak selalu berarti kita melakukan sesuatu yang salah.

Kadang rasa bersalah hanyalah bekas dari bertahun-tahun hidup dengan keyakinan bahwa mengatakan tidak kepada keluarga adalah sebuah dosa.

Rani pulih perlahan.

Aku mengambil cuti panjang dan untuk pertama kalinya belajar hal-hal yang sebelumnya selalu kupikir bisa diserahkan kepada orang lain.

Mengganti popok.

Membuat susu pukul tiga pagi.

Menggendong Arka selama berjam-jam ketika ia sulit tidur.

Mengantar Rani kontrol.

Memasak sup yang rasanya terlalu asin.

Suatu malam, sekitar tiga bulan setelah kejadian itu, aku sedang duduk di ruang tamu sambil menggendong Arka ketika Rani datang membawa sebuah amplop.

“Apa ini?” tanyaku.

“Aku menemukannya di tas rumah sakit lama.”

Di dalam amplop itu terdapat selembar surat.

Tulisan tangan ibuku.

Aku sempat berpikir itu surat permintaan maaf.

Ternyata bukan.

Surat itu ditulis sebelum mereka pergi ke Bali.

Isinya sebuah pesan kepada Rani.

Jika kamu benar-benar mencintai Raka, tinggalkan dia. Sejak menikah denganmu, dia tidak lagi memikirkan keluarganya. Setelah kamu sembuh, bawa anakmu dan pergi. Jangan menunggu sampai kami yang membuat Raka sadar bahwa menikahimu adalah kesalahan.

Tanganku bergetar.

Namun di bawah tulisan itu ada sesuatu yang belum pernah kulihat.

Tulisan Rani.

Hanya satu kalimat.

Saya tidak akan pergi, Bu, karena saya tidak sedang merebut anak Ibu. Saya sedang membangun keluarga bersama suami saya.

Aku memandang Rani.

“Kenapa kamu nggak pernah kasih tahu aku?”

Ia duduk di sampingku.

“Karena waktu itu aku masih berharap ibumu suatu hari akan menerima aku.”

“Dan sekarang?”

Rani menatap Arka yang tertidur di dadaku.

“Sekarang aku cuma berharap kita tidak mengajarkan Arka bahwa mencintai keluarga berarti membiarkan mereka menyakiti kita.”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku hanya menggenggam tangannya.

Malam Tahun Baru itu awalnya kupikir adalah malam ketika keluargaku hancur.

Aku salah.

Justru malam itulah aku akhirnya memahami arti keluarga.

Keluarga bukan orang yang merasa berhak atas hidupmu hanya karena memiliki hubungan darah.

Keluarga adalah orang yang tetap menjaga tubuhmu ketika kamu lemah, melindungi anakmu ketika kamu tidak mampu, menghormati batasmu, dan tidak menggunakan kasih sayangmu sebagai senjata.

Setahun kemudian, tepat pukul sebelas malam tanggal 31 Desember, aku berdiri di balkon apartemen sambil menggendong Arka.

Jakarta kembali dipenuhi cahaya kembang api.

Rani berdiri di sampingku.

Apartemen kami hangat.

Kulkas penuh.

Di meja makan ada sup ayam buatan sendiri yang kali ini tidak terlalu asin.

Ketika kembang api pertama meledak di langit, Arka terbangun dan tertawa.

Aku menatap wajah istriku.

“Selamat Tahun Baru.”

Rani tersenyum.

“Selamat Tahun Baru.”

Aku pernah mengira kejutan terbesar dalam hidupku adalah menemukan pengkhianatan keluargaku melalui sebuah kamera keamanan.

Ternyata bukan.

Kejutan terbesar adalah menyadari bahwa kehilangan orang-orang yang terus menyakitimu tidak selalu berarti kehilangan keluarga.

Kadang itulah cara hidup memberimu kesempatan untuk menyelamatkan keluarga yang benar-benar kamu miliki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang