INSPEKTUR ITU MENUTUP MISI GIGI GRATIS DAN MEMAKSAKU MEMBAYAR Rp30 JUTA, SAMPAI SEBUAH PELAT LOGAM MISTERIUS JATUH DARI KURSI PASIEN DI DEPANKU.

“Ambil ponsel dokter itu. Sekarang.”

Dua petugas yang sejak tadi berdiri di dekat pintu bergerak hampir bersamaan.

Aku mundur satu langkah dan menggenggam ponselku erat.

“Jangan sentuh saya.”

Suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada detak jantungku.

Rendra menatapku dengan wajah yang sudah kehilangan senyum tipisnya.

“Dokter Naya, jangan membuat masalah yang sebenarnya bisa selesai dengan mudah.”

“Dengan transfer tiga puluh juta ke rekening pribadi?”

Rahangnya mengeras.

Belasan warga masih berada di dalam balai desa. Sebagian besar adalah lansia yang sejak pagi menunggu pemeriksaan. Seorang ibu memeluk pipinya yang bengkak. Pak Wiryo, lelaki berusia hampir tujuh puluh tahun yang tadi hendak menjalani pencabutan gigi, berdiri perlahan dari kursinya.

“Pak Inspektur,” katanya, “dokter-dokter ini datang membantu kami. Kenapa malah diperlakukan seperti penjahat?”

“Bapak jangan ikut campur!”

Bentakan Rendra membuat ruangan kembali sunyi.

Irfan mendekat kepadaku.

“Dok, semua sudah terkirim.”

Aku mengangguk kecil.

Itulah satu-satunya hal yang kubutuhkan.

Rendra boleh mengambil ponselku. Dia bahkan boleh membawa laptop itu. Tetapi foto pelat inventaris, kontrak sewa CV Mandala Medika, formulir pungutan tiga puluh juta, dan salinan daftar aset sudah berada di server yayasan.

Salah satu petugas mencoba meraih tanganku.

Aku mengangkat ponsel tinggi-tinggi.

“Kalau Bapak mengambil barang pribadi saya tanpa surat penyitaan, saya akan catat itu sebagai tindakan berikutnya.”

Petugas itu berhenti.

Rendra tertawa pendek.

“Kamu pikir satu foto bisa menjatuhkan saya?”

“Tidak.”

Aku menatap langsung matanya.

“Tapi satu nomor seri bisa membuka pintu ke banyak dokumen.”

Wajahnya berubah lagi.

Kali ini lebih jelas.

Aku tahu aku mengenai titik yang tepat.

Rendra berjalan cepat ke arah kursi dental portabel dan membalik rangkanya.

Pelat logam tadi masih tergeletak di lantai.

Dia menginjaknya.

“Barang bekas bisa punya stiker apa saja.”

“Benar,” jawabku. “Tapi nomor BWI-DKS-24-071 tercatat sebagai aset Dinas Kesehatan yang dimusnahkan enam bulan lalu.”

Ruangan langsung dipenuhi bisikan.

Aku melanjutkan.

“Dan berita acara pemeriksaannya ditandatangani oleh Bapak.”

Rendra menatapku tajam.

“Diam.”

“Yang lebih menarik, barang yang katanya musnah itu sekarang disewakan kepada yayasan kami oleh CV Mandala Medika.”

“Diam!”

“Direkturnya Fajar Sasmita.”

Aku berhenti sesaat.

“Adik kandung Bapak.”

Rendra menendang pelat logam itu ke bawah meja.

Lalu dia menunjuk pintu belakang.

“Keluarkan semua warga. Kegiatan dibatalkan.”

Tidak seorang pun bergerak.

Justru Pak Wiryo mengeluarkan ponselnya.

“Aku dari tadi merekam.”

Rendra membeku.

Ternyata bukan hanya dia.

Seorang pemuda di sudut ruangan juga mengangkat ponsel. Dua ibu yang sedang menunggu giliran melakukan hal yang sama.

Aku baru menyadari sesuatu.

Rendra datang dengan keyakinan bahwa warga desa akan takut pada seragam dan jabatan.

Dia tidak memperhitungkan bahwa hampir setiap orang sekarang membawa kamera di sakunya.

“Matikan semua!” bentaknya.

Terlambat.

Sebuah video sudah dikirim ke grup WhatsApp warga.

Lalu ke grup kecamatan.

Lalu entah ke mana lagi.

Rendra meraih ponselnya sendiri dan berjalan ke sudut ruangan.

Aku mendengar suaranya berbisik cepat.

“Fajar, angkut semua barang di gudang. Sekarang. Jangan tunggu malam.”

Aku dan Irfan saling berpandangan.

Gudang.

Berarti bukan hanya satu kursi.

Aku segera mengirim pesan singkat kepada Sari, staf hukum yayasan.

Periksa alamat gudang CV Mandala Medika. Jangan hubungi siapa pun dari dinas. Simpan semua bukti.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Sudah. Kami juga sedang menghubungi inspektorat dan aparat.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Rendra kembali mendekat.

“Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.”

“Justru sekarang saya mulai tahu.”

Dia berdiri hanya beberapa langkah dariku.

“Yayasan kecil seperti kalian hidup dari izin. Satu rekomendasi dari saya cukup untuk membuat semua kegiatan kalian berhenti di kabupaten ini.”

Ancaman itu membuat dadaku sesak.

Yayasan kami bukan organisasi besar. Kami membangun program kesehatan keliling selama empat tahun dari donasi, kerja sukarela, dan kepercayaan masyarakat. Jika izin kami dipersulit, puluhan kegiatan bisa terhenti.

Rendra tahu itu.

Dan dia menggunakannya.

Aku hampir mengatakan sesuatu ketika terdengar suara motor berhenti berturut-turut di halaman.

Pintu balai desa dibuka dari luar.

Kepala Desa Sumberarum masuk bersama beberapa perangkat desa.

Wajahnya tegang.

“Pak Rendra, kenapa balai desa dikunci?”

“Pemeriksaan resmi.”

“Pemeriksaan resmi kok warga dilarang keluar?”

Rendra tidak menjawab.

Kepala desa menatapku.

Aku menunjukkan foto formulir yang sempat kuambil.

“Pak, apakah pemerintah desa menerima pemberitahuan tentang biaya tiga puluh juta ini?”

Kepala desa membaca layar ponselku.

Wajahnya langsung berubah.

“Tidak pernah.”

Rendra mencoba mengambil alih pembicaraan.

“Ini prosedur dinas.”

“Kalau prosedur dinas,” kepala desa menjawab, “kenapa rekening pembayaran akan dikirim pribadi?”

Suasana semakin panas.

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di halaman.

Aku mengira orang yang datang adalah atasan Rendra.

Ternyata seorang perempuan berkemeja putih turun bersama dua orang membawa tas dokumen.

Dia memperkenalkan diri sebagai Ratih Prameswari dari inspektorat kabupaten.

Rendra langsung pucat.

“Bu Ratih, ini salah paham.”

Ratih tidak menanggapinya.

Dia mendatangiku.

“Dokter Naya?”

“Ya.”

“Kami menerima laporan disertai dokumen dan foto. Saya perlu melihat barang yang memiliki nomor inventaris itu.”

Aku menunjuk ke bawah meja.

Pelat logam masih berada di sana.

Ratih mengambilnya menggunakan sarung tangan.

Begitu melihat kode yang tercetak, ekspresinya berubah.

Dia meminta petugasnya memotret kursi, rangka, nomor seri, autoklaf, dan kardus-kardus peralatan.

Kemudian dia membuka sebuah tablet.

“BWI-DKS-24-071.”

Dia membaca beberapa detik.

“Benar. Status musnah.”

Rendra langsung menyela.

“Data lama, Bu. Sistem belum diperbarui.”

Ratih mengangkat kepala.

“Kalau sistem belum diperbarui, kenapa nomor aset yang sama tercantum dalam berita acara pemusnahan?”

Rendra terdiam.

Ratih belum selesai.

“Dan kenapa ada sembilan belas aset lain dari daftar pemusnahan yang nomor serinya muncul dalam dokumen penyewaan CV Mandala Medika?”

Aku menatapnya.

Sembilan belas?

Jadi dugaan kami benar.

Ini jauh lebih besar daripada satu kursi.

Ratih memutar layar tabletnya.

Ada daftar panjang.

Kursi dental portabel.

Autoklaf.

Kompresor.

Monitor pasien.

Generator.

Unit pemeriksaan mata.

Semua pernah tercatat sebagai aset pemerintah.

Semua dinyatakan rusak berat atau musnah.

Dan sebagian ternyata muncul kembali dalam katalog penyewaan perusahaan milik Fajar Sasmita.

Rendra mulai berkeringat.

“Bu, saya bisa jelaskan.”

“Silakan nanti dalam pemeriksaan resmi.”

Tiba-tiba ponsel Ratih berdering.

Dia menjawab, mendengarkan beberapa detik, lalu memandang Rendra.

“Gudang Mandala Medika sedang dikosongkan.”

Rendra langsung menoleh ke pintu.

Ratih memberi isyarat kepada dua petugasnya.

“Jangan biarkan Pak Rendra meninggalkan lokasi.”

“Bu Ratih, saya pejabat dinas!”

“Justru karena itu.”

Rendra mencoba menelepon seseorang, tetapi tangannya gemetar.

Aku berdiri diam sambil merasakan campuran lega dan takut.

Kupikir semuanya hampir selesai.

Ternyata aku salah.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Irfan menerima sebuah foto dari staf yayasan yang mengikuti proses pemeriksaan gudang.

“Dok.”

Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

Gudang CV Mandala Medika penuh dengan peralatan medis.

Beberapa masih memiliki stiker inventaris pemerintah yang dicat ulang.

Namun bukan itu yang membuatku tercekat.

Di sudut foto terlihat tumpukan kardus berlogo yayasan kami.

Aku memperbesar gambar.

Itu adalah logo lama Yayasan Senyum Nusantara.

“Kok barang kita ada di sana?”

Irfan pucat.

Tiga bulan sebelumnya, gudang kecil yayasan kami mengalami korsleting. Sejumlah peralatan dinyatakan rusak dan dikirim ke vendor untuk diperbaiki.

Vendor yang merekomendasikan tempat servis adalah CV Mandala Medika.

Aku merasa seluruh potongan teka-teki tiba-tiba menyatu.

“Peralatan kita bukan sedang diperbaiki,” bisikku.

Irfan menatapku.

“Mereka menyewakannya?”

Kemungkinan itu jauh lebih buruk.

Aku membuka daftar inventaris yayasan.

Ada enam alat yang selama berbulan-bulan disebut menunggu suku cadang.

Salah satunya autoklaf portabel dengan goresan berbentuk bulan sabit di sisi kanan.

Aku menoleh ke autoklaf yang tadi hendak diangkut petugas Rendra.

Ada goresan bulan sabit di sana.

Aku mendekatinya.

Di bagian bawah, stiker merek baru ditempel tidak rapi.

Kutarik perlahan.

Di baliknya muncul tulisan yang sangat kukenal.

SENYUM NUSANTARA 03.

Aku tidak bisa berkata-kata.

Kami membayar sewa untuk menggunakan barang milik kami sendiri.

Ratih berdiri di sampingku.

“Dokter?”

Aku menunjuk tulisan itu.

“Ini aset yayasan kami.”

Ratih menatap Rendra.

Kali ini ekspresinya benar-benar dingin.

Rendra duduk di kursi plastik.

Semua kesombongan yang sejak pagi memenuhi wajahnya hilang.

Namun dia masih mencoba bertahan.

“Saya tidak mengurus operasional perusahaan adik saya.”

Ratih bertanya, “Lalu pungutan tiga puluh juta?”

“Itu biaya administrasi.”

“Dasar hukumnya?”

Rendra tidak menjawab.

“Rekening tujuan?”

Diam.

Ratih menutup tabletnya.

“Baik. Semua akan diperiksa.”

Sore itu, kegiatan pelayanan memang tidak bisa dilanjutkan.

Tetapi warga tidak pulang.

Mereka membantu kami membereskan meja, membawa kardus, dan menyimpan obat-obatan.

Ibu yang sejak pagi memegang pipinya mendekat kepadaku.

“Dok, besok masih jadi periksa?”

Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat daripada seluruh kejadian hari itu.

Aku melihat kursi yang kini menjadi barang bukti.

“Kami belum punya alat.”

Dia tersenyum kecil.

“Kalau begitu kami tunggu.”

Keesokan paginya aku datang ke balai desa pukul tujuh.

Aku tidak berharap melihat siapa pun.

Namun halaman sudah penuh.

Di tengah ruangan berdiri tiga kursi dental portabel baru.

Aku menatap Irfan.

“Dari mana?”

Seorang pria tua keluar dari belakang.

Aku mengenalinya.

Pak Wiryo.

Dia tersenyum lebar meski giginya tinggal beberapa.

“Bukan punya saya, Dok.”

Ternyata video yang direkam warga menyebar luas semalam. Sebuah asosiasi dokter gigi di Surabaya melihatnya dan mengirim peralatan pinjaman. Beberapa dokter bahkan datang secara sukarela.

Hari itu kami tidak melayani seratus dua puluh orang.

Kami melayani dua ratus tiga puluh tujuh.

Tiga minggu kemudian, pemeriksaan resmi menemukan puluhan aset kesehatan pemerintah yang diduga dialihkan melalui skema pemusnahan fiktif, lelang bermasalah, dan perusahaan-perusahaan yang saling terhubung.

CV Mandala Medika dibekukan selama proses hukum.

Rendra dicopot sementara dari jabatannya.

Fajar diperiksa.

Enam alat milik yayasan kami akhirnya kembali.

Namun kejutan terbesar datang dua bulan kemudian.

Aku menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada fotokopi satu dokumen lama dan secarik kertas.

Dokumen itu adalah laporan audit internal dari dua tahun sebelumnya.

Di halaman terakhir terdapat catatan tentang ketidaksesuaian nomor inventaris.

Artinya seseorang sebenarnya sudah mengetahui permainan itu jauh sebelum aku menemukan pelat logam di balai desa.

Di secarik kertas tertulis satu kalimat.

Dokter Naya, Anda tidak menemukan kasus ini secara kebetulan. Kursi nomor 071 sengaja dikirim ke Sumberarum.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Dokter Naya?”

Suara seorang perempuan tua terdengar pelan.

“Siapa ini?”

“Saya dulu staf bagian aset Dinas Kesehatan.”

Aku berdiri dari kursi.

“Apakah Ibu yang mengirim dokumen ini?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Sebaliknya, dia berkata sesuatu yang membuat seluruh kejadian di Sumberarum terlihat berbeda.

“Saya yang memastikan kursi 071 masuk ke pesanan yayasan Anda.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Karena selama dua tahun saya melapor, tidak ada yang berani membuka kasus itu. Laporan saya selalu hilang. Saya butuh seseorang dari luar sistem yang menemukan barang tersebut di tempat umum, di depan saksi, dan memiliki alasan untuk mempertanyakan asalnya.”

Aku menatap pelat logam BWI-DKS-24-071 yang fotonya masih tersimpan di layar laptopku.

“Bagaimana Ibu tahu saya akan menyadarinya?”

Perempuan itu tertawa lirih.

“Saya membaca laporan kegiatan yayasan Anda. Dokter yang pernah mempertanyakan selisih harga sarung tangan dua ribu rupiah pasti akan mempertanyakan kursi pemerintah yang disewakan perusahaan swasta.”

Aku hampir tertawa, tetapi mataku justru terasa panas.

“Siapa nama Ibu?”

Telepon sunyi beberapa detik.

“Nama saya tidak penting.”

“Bagi saya penting.”

“Tidak, Dokter. Yang penting adalah setelah ini, jangan berhenti bertanya hanya karena orang yang menyuruh Anda diam punya jabatan lebih tinggi.”

Sambungan terputus.

Aku mencoba menelepon kembali.

Nomornya sudah tidak aktif.

Beberapa bulan kemudian, kami kembali ke Sumberarum.

Bukan karena penyelidikan.

Bukan karena Rendra.

Bukan pula karena kursi nomor 071.

Kami datang untuk membuka program pemeriksaan gigi rutin bagi anak sekolah, pekerja kebun, dan lansia di desa-desa sekitar Banyuwangi.

Di hari pertama, Pak Wiryo datang membawa sebungkus pisang goreng.

Giginya yang dulu sakit sudah dicabut dan gigi tiruannya membuat senyumnya tampak jauh lebih penuh.

Dia duduk di kursi pemeriksaan lalu menunjuk rangkanya.

“Yang ini aman, kan, Dok?”

Aku tertawa.

“Aman, Pak. Sudah saya cek nomor serinya tiga kali.”

Semua orang di ruangan ikut tertawa.

Aku memasang sarung tangan dan menyalakan lampu pemeriksaan.

Di dinding balai desa tergantung sebuah bingkai kecil yang dibuat warga.

Di dalamnya bukan foto pejabat, bukan piagam, dan bukan pula ucapan terima kasih.

Hanya salinan foto sebuah pelat logam kusam.

BWI-DKS-24-071.

Di bawahnya tertulis satu kalimat sederhana.

Kadang-kadang, kebenaran tidak datang melalui pintu utama.

Kadang-kadang, ia hanya jatuh dari bawah sebuah kursi dan menunggu seseorang cukup berani untuk memungutnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang