MEREKA MENGUSIRKU SAAT AKU MENGGENDONG ISTRIKU YANG LUMPUH DARI BUKIT, LALU SATU PATOK MERAH MEMBUKA RENCANA YANG JAUH LEBIH BERBAHAYA.

Mereka mengusirku saat aku menggendong istriku yang lumpuh dari bukit. Kupikir kami hanya kehilangan tempat untuk melihat matahari terbit. Ternyata, satu patok merah di tanah membuka rencana yang bisa merenggut nyawa banyak orang.

“Pak, mulai besok jalur ini ditutup. Bapak dan Ibu tidak boleh naik lagi.”

Aku berhenti dengan Ratih di punggungku.

Setiap subuh selama enam tahun, aku membawanya ke sebuah punggung bukit kecil di lereng Menoreh, Kulon Progo. Sejak kecelakaan mobil membuat tubuhnya lumpuh dari pinggang ke bawah dan tangan kirinya melemah, tempat itu menjadi satu-satunya lokasi yang membuatnya mau meninggalkan rumah.

Di depan kami berdiri Surya, kepala proyek wisata baru. Nada suaranya sopan, tetapi dua pekerja di belakangnya sudah mulai memasang pagar seng.

“Untuk apa ditutup?” tanyaku.

“Sky lounge dan dek kaca. Area ini akan menjadi zona premium.”

Ratih mencengkeram bahuku.

“Kami hanya duduk tiga puluh menit saat matahari terbit.”

“Saya paham, Pak Bima. Tapi alat berat masuk besok. Ini soal keselamatan.”

Aku tidak berdebat.

Namun sebelum turun, aku melihat sebuah patok merah dekat batu tempat kami biasa duduk.

BH-03.

Di bawahnya terdapat lingkaran cat putih.

Ratih menepuk bahuku dua kali.

Aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Malamnya, setelah melihat foto patok itu, Ratih mengetik dua kata di ponselnya.

“BOR TANAH.”

Aku kembali ke lokasi setelah magrib, tetapi tidak memasuki area proyek. Dari jalan umum, aku hanya memotret papan informasi yang berdiri di dekat gerbang.

Nilai proyeknya Rp38 miliar.

Ketika foto itu kubawa pulang, Ratih meminta laptop lamanya.

Hampir satu jam ia mencari di antara ratusan folder sampai akhirnya membuka sebuah PDF bertanggal sebelas tahun lalu.

Aku membaca judulnya.

Kajian Geoteknik Lereng Timur Menoreh.

Nomor dokumennya hampir sama dengan nomor laporan pada papan proyek.

Ratih pernah menjadi bagian dari tim yang meneliti lokasi tersebut.

Kesimpulan laporannya membuat tengkukku dingin.

Lokasi tidak direkomendasikan untuk struktur berat karena terdapat rongga bekas saluran air bawah tanah, lapisan lempung bergerak, serta potensi pergeseran lereng pada musim hujan.

“Kalau begitu bagaimana mereka bisa mendapat izin?” tanyaku.

Ratih mengetik.

“CARI LAMPIRAN IZIN.”

Pagi berikutnya aku mendatangi kantor kalurahan dan meminta salinan dokumen konsultasi publik yang memang boleh diakses masyarakat.

Aku membalik halaman demi halaman.

Lalu tanganku berhenti.

Dalam lampiran teknis tertulis bahwa lokasi aman untuk struktur permanen bertingkat.

Di bawahnya terdapat tanda tangan ahli penanggung jawab.

Ir. Ratih Wulandari.

Istriku.

Dokumen itu diterbitkan tiga bulan lalu.

Padahal Ratih sudah enam tahun berhenti bekerja.

Registrasi profesinya pun sudah lama tidak aktif.

Ketika kutunjukkan dokumen itu kepadanya, wajah Ratih berubah pucat.

Tangannya gemetar hebat saat mengetik.

“BUKAN TANDA TANGANKU.”

Aku menatapnya.

“Kamu yakin?”

Ratih menatapku tajam.

Lalu mengetik lagi.

“AKU SELALU TANDA TANGAN DENGAN TINTA BIRU.”

Dokumen di tanganku menggunakan tanda tangan hitam hasil pemindaian.

Malam itu kami memeriksa arsip lama Ratih.

Ada satu hal lain yang membuat keadaan semakin aneh.

Nomor laporan lama milik Ratih adalah GTM-11-043.

Laporan baru yang dipakai proyek bernomor GTM-24-043R.

Bukan hanya kesimpulannya yang diubah. Struktur tabel, gambar penampang tanah, bahkan beberapa kalimat penjelasannya identik dengan laporan sebelas tahun lalu.

Seseorang telah mengambil laporan lama Ratih, mengubah kesimpulannya, lalu menggunakan namanya untuk mengesahkan proyek.

“Kenapa harus kamu?” tanyaku.

Ratih lama tidak menjawab.

Kemudian ia membuka folder lain.

Di sana terdapat foto-foto proyek lama dan sebuah daftar nama.

Salah satunya kukenal.

Surya.

Ternyata sebelas tahun lalu Surya adalah staf lapangan junior pada perusahaan kontraktor yang ikut melakukan pengeboran.

Aku merasa dada semakin sesak.

“Dia tahu laporan ini?”

Ratih mengangguk.

Besoknya aku menemui Surya di gerbang proyek.

“Ada yang ingin saya tanyakan.”

Dia tersenyum. “Soal jalur bukit lagi?”

Aku mengeluarkan salinan dokumen.

Senyumnya hilang.

“Kenapa tanda tangan istri saya ada di sini?”

Surya hanya diam beberapa detik sebelum berkata, “Saya bukan bagian administrasi, Pak Bima.”

“Tapi Anda mengenal Ratih sejak proyek sebelas tahun lalu.”

Tatapannya berubah.

“Bapak sebaiknya pulang.”

“Kenapa?”

“Karena tidak semua hal yang terlihat salah benar-benar salah.”

Aku tertawa pendek.

“Dan tidak semua bukit yang terlihat kokoh benar-benar aman.”

Wajahnya mengeras.

Dua petugas keamanan mulai mendekat.

Aku memilih pergi.

Malam itu seseorang melempar batu ke jendela rumah kami.

Tidak ada pesan.

Tidak ada ancaman tertulis.

Hanya sebuah batu yang memecahkan kaca ruang tamu.

Ratih menatap pecahan kaca di lantai, lalu kepadaku.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, aku melihat ketakutan yang sama seperti malam ketika dokter mengatakan ia mungkin tidak akan pernah berjalan lagi.

Aku menggenggam tangannya.

“Kita berhenti?”

Ratih menatapku lama.

Lalu menggeleng.

Ia mengetik perlahan.

“KALAU DEK ITU DIBANGUN, ORANG BISA MATI.”

Kalimat itu membuatku sadar bahwa ini tidak lagi hanya soal nama Ratih yang dipalsukan.

Kami mulai mengumpulkan bukti dengan cara yang sah.

Ratih membandingkan laporan lama dengan dokumen proyek yang tersedia untuk publik. Aku menghubungi mantan koleganya, seorang ahli geologi bernama Damar.

Begitu melihat data lama Ratih, Damar langsung mengerutkan kening.

“Ini bukan cuma soal lempung bergerak, Bim.”

“Apa maksudmu?”

Ia menunjuk penampang tanah.

“Lihat rongga ini. Dulu kami menduga ada saluran air bawah tanah. Kalau mereka memasang fondasi berat tanpa pemetaan ulang, beban bisa mengubah jalur rembesan air.”

“Akibatnya?”

“Tanah bisa kehilangan kestabilan dari bawah.”

Aku terdiam.

“Longsor?”

“Bisa. Tapi yang lebih berbahaya, permukaannya mungkin terlihat normal sampai mendekati kegagalan.”

Aku pulang membawa satu pertanyaan.

Kalau perusahaan itu tahu kondisi tanah lama, mengapa mereka tetap membangun?

Jawabannya datang dari Ratih.

Ia memperbesar foto papan proyek yang kuambil.

“BIMA.”

“Apa?”

Ia menunjuk satu baris kecil.

Target penyelesaian: Desember.

Kemudian ia membuka berita daring mengenai kawasan wisata tersebut.

Investor utama dijadwalkan melakukan peluncuran besar menjelang libur akhir tahun. Ratusan tamu diproyeksikan datang. Tiket presale bahkan sudah dipasarkan.

Proyek itu terlambat hampir lima bulan.

Melakukan kajian geoteknik baru bisa berarti perubahan desain, penundaan, dan biaya besar.

Seseorang memilih jalan yang lebih murah.

Mengubah laporan lama.

Tiga hari kemudian hujan deras turun sejak sore.

Sekitar pukul sebelas malam, Ratih membangunkanku.

Ia menunjukkan layar ponselnya.

Ada pesan dari nomor tidak dikenal.

“Kalau ingin tahu kenapa BH-03 dipasang, datang ke warung kosong dekat pertigaan sebelum jam enam pagi. Sendiri.”

Aku hampir menghapusnya.

Ratih justru mengetik.

“PERGI.”

Pagi buta aku datang.

Seorang pria kurus dengan jaket proyek menungguku. Namanya Arif, teknisi pengeboran.

“Saya yang pasang BH-03,” katanya.

“Kenapa menghubungi saya?”

“Karena mereka menyuruh kami tutup lubangnya.”

Ia menyerahkan sebuah kartu memori.

“Dua minggu lalu kami melakukan pengeboran tambahan karena fondasi sisi timur turun beberapa milimeter. Di BH-03 kami menemukan rongga besar di bawah lapisan lempung.”

“Seberapa besar?”

“Saya tidak tahu pasti. Bor kami kehilangan tekanan di kedalaman sekitar delapan meter. Air pembilas hilang semua.”

“Sudah dilaporkan?”

Arif tertawa pahit.

“Sudah.”

“Lalu?”

“Kami diperintahkan menulis hasilnya sebagai kehilangan fluida biasa.”

Aku menggenggam kartu memori itu.

“Kenapa kamu membocorkannya?”

Ia menunduk.

“Adik saya bekerja sebagai pemandu wisata di sana. Kalau dek itu dibuka, dia mungkin berdiri di atasnya setiap hari.”

Sebelum pergi, Arif mengatakan sesuatu yang membuat darahku serasa berhenti mengalir.

“Besok pagi mereka mulai pengecoran fondasi sisi timur.”

Aku langsung pulang.

Kami menyerahkan seluruh bukti kepada dinas terkait dan aparat melalui kanal pengaduan resmi. Damar bersedia membuat pendapat teknis tertulis berdasarkan data yang ada, sambil menegaskan perlunya pemeriksaan independen.

Namun proyek tidak langsung berhenti.

Pagi berikutnya truk molen tetap naik.

Aku berdiri di luar pagar bersama beberapa warga.

Surya datang dengan wajah merah.

“Pak Bima, jangan membuat keributan.”

“Saya tidak masuk area proyek.”

“Anda menyebarkan informasi yang belum terbukti.”

“Kalau belum terbukti, hentikan pekerjaan dua hari dan lakukan pemeriksaan.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena Anda tidak mengerti proyek.”

Tiba-tiba terdengar suara logam dari atas.

Krak.

Semua orang menoleh.

Salah satu pekerja berteriak.

Permukaan tanah di dekat BH-03 retak memanjang.

Retakan itu awalnya hanya selebar jari.

Kemudian air keruh mulai keluar dari sela tanah.

“Matikan pompa!” teriak seseorang.

Para pekerja berhamburan.

Surya pucat.

Dalam hitungan menit, sebagian tanah dekat titik pengeboran turun beberapa sentimeter.

Tidak terjadi longsor besar.

Tidak ada bangunan runtuh.

Namun itu cukup.

Pekerjaan dihentikan.

Siang harinya tim pemeriksa datang.

Area dikosongkan.

Hasil investigasi berikutnya jauh lebih buruk daripada dugaan kami.

Data pengeboran baru memang menunjukkan anomali bawah tanah. Dokumen teknis proyek ternyata menggunakan bagian besar laporan lama Ratih tanpa izin. Tanda tangannya dipalsukan untuk memberikan legitimasi profesional.

Tetapi Surya bukan dalang utamanya.

Ia hanya orang yang disuruh memastikan proyek selesai tepat waktu.

Nama yang muncul dari korespondensi internal justru membuat Ratih menjatuhkan ponselnya.

Ir. Hendra Wibisana.

Mantan direktur perusahaan tempat Ratih bekerja.

Sekaligus mentor yang dulu membimbingnya menjadi insinyur geoteknik.

Aku ingat lelaki itu.

Ia pernah datang ke rumah sakit setelah kecelakaan Ratih.

Membawa bunga.

Mengatakan bahwa perusahaan akan selalu membantu kami.

Ternyata dialah yang menyimpan seluruh arsip digital Ratih.

Ia pula yang memiliki akses ke tanda tangan dan laporan lama.

Ketika diperiksa, terungkap alasan sebenarnya jauh lebih gelap daripada sekadar mengejar jadwal proyek.

Hendra merupakan konsultan tidak langsung dari kelompok investor. Jika desain fondasi harus diubah, biaya proyek bisa membengkak miliaran rupiah dan kontraknya terancam diputus.

Ia tahu laporan Ratih adalah masalah.

Maka laporan itu tidak dihilangkan.

Justru dibalik.

Kesimpulan “tidak direkomendasikan” diubah menjadi “direkomendasikan dengan penguatan”.

Nama Ratih dipertahankan karena reputasinya masih dikenal di kalangan teknis lokal.

Namun ada satu pertanyaan yang terus menggangguku.

Mengapa Ratih selama enam tahun selalu meminta dibawa ke titik yang sama?

Suatu pagi, beberapa minggu setelah proyek dihentikan, aku kembali membawanya ke lereng itu.

Pagar seng sudah dibuka sebagian. Proyek sedang menjalani evaluasi menyeluruh.

Kami duduk dekat batu lama.

Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan.

Aku bertanya, “Kamu sebenarnya sudah tahu, kan?”

Ratih tidak langsung menjawab.

Ia membuka ponsel.

“Aku curiga.”

“Sejak kapan?”

“Sejak tiga tahun lalu.”

Aku menatapnya kaget.

Ia menunjukkan puluhan foto tanah yang selama ini diambilnya.

Ternyata bukan foto sembarangan.

Setiap gambar memiliki tanggal dan posisi yang hampir sama.

Retakan kecil.

Perubahan arah rembesan air.

Rumput yang mati membentuk garis.

Batu yang bergeser beberapa sentimeter.

Ratih telah mendokumentasikan perubahan lereng sedikit demi sedikit.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

Tangannya berhenti cukup lama di atas layar.

Lalu ia mengetik.

“Karena aku takut kamu mengira aku belum bisa melepaskan hidup lamaku.”

Dadaku terasa sesak.

Selama ini aku mengira bukit itu adalah tempat Ratih datang untuk melupakan bahwa dirinya pernah menjadi insinyur.

Ternyata justru di sanalah ia masih menjadi dirinya sendiri.

Aku jongkok di hadapannya.

“Kamu tidak pernah berhenti menjadi insinyur, Tih.”

Matanya berkaca-kaca.

Ia tersenyum.

Namun kemudian ia mengetik sesuatu lagi.

“Masih ada satu hal.”

“Apa?”

Ratih menunjuk batu tempat kami biasa duduk.

“Lihat bawahnya.”

Aku menggeser beberapa daun kering.

Di sisi batu terdapat sebuah pelat logam kecil yang hampir tertutup lumut.

Aku membersihkannya.

Tulisan di sana sudah pudar.

Titik Pantau GTM-03.

Aku menoleh kepadanya.

Ratih tersenyum tipis.

Barulah aku mengerti.

Sebelas tahun lalu, Ratih sendiri yang memilih titik itu sebagai titik pemantauan permanen.

Setelah kecelakaan merenggut kemampuan berjalan dan karier yang sangat dicintainya, ia terus kembali ke sana bukan karena ingin dikasihani.

Ia sedang menjaga sesuatu.

Enam tahun aku menggendong Ratih naik ke bukit karena kupikir aku sedang menyelamatkan istriku dari kesepian.

Ternyata selama enam tahun itu, diam-diam istrikulah yang sedang menjaga bukit tersebut dari manusia yang merasa uang bisa mengubah kenyataan.

Beberapa bulan kemudian, desain proyek dibatalkan dan dialihkan ke lokasi lain setelah kajian independen menyatakan area itu tidak sesuai untuk struktur berat seperti rancangan awal.

Nama Ratih dibersihkan.

Kasus pemalsuan dokumen diproses sesuai hukum.

Suatu pagi, kami kembali melihat matahari terbit.

Tidak ada alat berat.

Tidak ada pagar seng.

Hanya kabut tipis dan suara burung dari pepohonan.

Aku menurunkan Ratih perlahan ke kursi lipat.

“Enam tahun aku kira aku yang membawamu ke sini,” kataku.

Ratih mengangkat alis.

“Memangnya bukan?”

Aku tertawa.

“Bukan.”

Ia menunggu.

Aku menggenggam tangannya.

“Kamu yang membawa aku sampai sejauh ini.”

Ratih tersenyum, lalu memandang matahari yang mulai muncul.

Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi.

Ia mengetik satu kalimat dan menunjukkannya kepadaku.

“Tanah tidak pernah berbohong. Manusia yang sering memaksanya mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian menatap patok merah BH-03 yang masih berdiri beberapa meter dari kami.

Dulu aku menganggapnya sekadar sepotong besi bercat merah.

Sekarang aku tahu, terkadang tanda paling kecil di tanah dapat menyimpan peringatan yang jauh lebih besar daripada gedung, uang, dan tanda tangan orang-orang berkuasa.

Dan terkadang seseorang yang dianggap sudah kehilangan segalanya justru menjadi satu-satunya orang yang masih cukup kuat untuk mencegah orang lain kehilangan nyawa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang