AKU MENANGKAP PRIA YANG MEMBAWA KOTAK OBAT CURIAN, NAMUN SUARANYA DAN SATU NOMOR BATCH MEMBUKA PENGKHIANATAN DARI DALAM KEPOLISIAN TEMPATKU BERTUGAS.

Aku mematikan rekaman itu sebelum suara Surya terdengar untuk kedua kalinya.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang bicara.

Suara kendaraan dari jalan utama terdengar jauh. Air dari talang bocor menetes ke aspal. Di ujung gang, warga yang tadi menonton mulai berbisik.

Radio di bahuku kembali berbunyi.

“Bripka Laras, konfirmasi.”

Aku menatap Hendra.

Keringat mengalir dari pelipisnya meskipun udara sore cukup dingin.

“Laras.”

Suara Surya terdengar lagi.

“Bawa Damar dan barang bukti ke kantor. Sekarang.”

Aku menekan tombol radio.

“Siap, Pak.”

Damar menatapku tidak percaya.

Aku tidak menjelaskan apa pun.

Aku memasukkan ponselnya ke kantong barang bukti, mengambil buku pengiriman, lalu mengunci kotak pendingin.

“Hendra ikut ke kantor.”

Wajah Hendra berubah.

“Saya?”

“Sebagai pelapor.”

“Tapi saya harus menjaga apotek.”

“Pegawai Anda bisa menjaganya.”

Dia hendak membantah, tetapi aku sudah menggiring Damar menuju mobil patroli.

Saat kami berjalan, aku berbisik tanpa menoleh.

“Kalau kau masih punya sesuatu yang belum kau ceritakan, sekarang waktunya.”

Damar tertawa pendek tanpa humor.

“Aku punya terlalu banyak.”

Aku memasukkannya ke kursi belakang.

Hendra duduk di sampingnya.

Sebelum menyalakan mesin, aku mengambil ponsel dinas dan mengirim seluruh foto barang bukti ke Inspektur Maya Rahman dari Propam Polda Sulsel.

Aku pernah bekerja dengannya dalam pemeriksaan internal tahun sebelumnya.

Pesanku hanya satu kalimat.

Jika dalam satu jam saya tidak menghubungi Ibu, buka semua file ini dan cari AKP Surya.

Kemudian aku menghapus pesan itu dari layar utama.

Perjalanan ke kantor hanya membutuhkan sekitar lima belas menit.

Namun hari itu aku tidak menuju ke sana.

Di persimpangan Jalan Boulevard, aku membelokkan mobil ke kanan.

Hendra langsung panik.

“Kantor polisi bukan lewat sini.”

“Ada kecelakaan di depan.”

“Itu bohong,” katanya.

Aku menatapnya melalui kaca tengah.

“Bapak banyak tahu jalan rupanya.”

Dia terdiam.

Damar menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyum tipis.

Aku membawa mereka ke sebuah klinik pemerintah kecil yang memiliki ruang penyimpanan vaksin dengan pendingin medis.

Aku mengenal dokter jaga di sana.

Kotak insulin itu harus tetap dingin, dan yang lebih penting, barang bukti tidak boleh masuk ke gudang kantor sebelum aku tahu siapa saja yang terlibat.

Dokter memasukkan seluruh insulin ke pendingin dan menandatangani formulir serah terima darurat.

Aku memintanya membuat salinan.

Satu untukku.

Satu dimasukkan ke amplop tertutup.

Hendra menatapku seperti ingin menerkam.

“Kau akan menyesal.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Bukan lagi suara korban pencurian.

Aku mendekat.

“Kenapa?”

Dia baru sadar telah salah bicara.

“Karena kau mempersulit kasus sederhana.”

“Dua belas pena insulin, catatan distribusi palsu, rekaman percakapan dengan atasanku, dan nomor batch yang sama dengan obat milik ayahku bukan kasus sederhana.”

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Damar mengangkat kepala.

“Ayahmu?”

Aku tidak menjawab.

Namun reaksinya justru aneh.

Bukan terkejut.

Melainkan seperti seseorang yang mendengar sesuatu yang sudah ia takutkan.

“Laras,” katanya perlahan, “kita harus bicara berdua.”

Aku membawa Damar ke ruang pemeriksaan klinik yang kosong.

Aku tetap memborgol satu tangannya ke rangka besi tempat tidur.

“Mulai.”

Damar menghela napas panjang.

“Sembilan tahun lalu aku tidak pergi karena ingin meninggalkanmu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Aku tidak peduli tentang itu sekarang.”

“Kau akan peduli setelah mendengar semuanya.”

Dia menatapku lurus.

“Ayahmu yang menyuruhku pergi.”

Dadaku mengeras.

“Jangan bawa ayahku ke dalam ini.”

“Pak Rahman menemukan sesuatu waktu aku bekerja sebagai sopir gudang farmasi.”

Ayahku memang pernah menjadi petugas administrasi logistik di sebuah perusahaan distributor obat sebelum pensiun.

Damar melanjutkan.

“Awalnya cuma selisih stok. Beberapa kotak insulin tercatat dikirim ke rumah sakit, tetapi nomor batch yang sama muncul lagi dalam pengiriman lain. Ayahmu curiga ada barang asli yang dialihkan.”

“Kenapa dia tidak melapor?”

“Dia melapor.”

Damar tertawa pahit.

“Kepada polisi.”

Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum dia mengatakannya.

“Surya?”

“Waktu itu dia belum jadi AKP. Dia penyidik yang menangani laporan ayahmu.”

Aku merasakan sesuatu seperti es merambat di sepanjang punggung.

Damar mengatakan bahwa penyelidikan tidak pernah berjalan.

Sebaliknya, beberapa hari setelah laporan dibuat, rumah ayahku dibobol.

Tidak ada uang yang hilang.

Hanya berkas.

Ayah lalu meminta Damar menghilang dari Makassar karena Damar adalah orang yang membantu menyalin catatan distribusi.

“Kenapa tidak pernah ada yang memberitahuku?”

“Karena kau sedang daftar akademi kepolisian.”

Dia menatapku dengan mata merah.

“Ayahmu bilang kalau kau tahu, kau pasti ikut campur. Dia takut kariermu dihancurkan sebelum dimulai.”

Aku menjauh dari ranjang.

Selama bertahun-tahun aku mengira Damar meninggalkanku begitu saja.

Aku bahkan pernah membencinya.

“Apa hubungannya dengan sekarang?”

“Jaringan itu tidak berhenti.”

Damar menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun mereka memperluas operasi. Insulin, obat kanker, vaksin, bahkan obat yang harus disimpan dalam rantai dingin dialihkan dari jalur resmi. Kemasan asli diisi kembali dengan produk ilegal berkualitas rendah atau obat yang sudah rusak karena penyimpanan buruk.

Hendra hanyalah salah satu penghubung.

“Dan Surya?”

“Dia memastikan laporan hilang, saksi takut, dan pemeriksaan mendadak selalu bocor sebelum petugas datang.”

Aku teringat terlalu banyak hal sekaligus.

Gudang obat yang selalu bersih ketika kami razia.

Laporan masyarakat yang mendadak dicabut.

Seorang saksi yang pindah tanpa alamat.

Dan ayah.

Dua bulan lalu.

Aku pernah menemukan beliau pingsan di kamar.

Gula darahnya turun drastis meskipun dosis insulinnya tidak berubah.

Aku sendiri yang membawanya ke rumah sakit.

Tiga hari kemudian beliau meninggal.

“BS-0417,” bisikku.

Damar mengangguk.

“Itu salah satu batch yang kutelusuri.”

Dadaku terasa sesak.

“Apa ayahku dibunuh?”

“Aku tidak tahu.”

Jawaban itu justru lebih menyakitkan.

“Tapi sebelum meninggal, beliau menghubungiku.”

Aku menatap Damar.

“Kapan?”

“Empat hari sebelum beliau masuk rumah sakit.”

Damar merogoh sakunya dengan tangan bebas.

“Dompetku.”

Aku mengambil dompet cokelat yang tadi kusita.

Di balik kuitansi lama, terdapat secarik kertas yang sudah dilipat berkali-kali.

Tulisan di sana membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.

Itu tulisan tangan ayahku.

Damar, jika terjadi sesuatu padaku, jangan percaya polisi yang datang lebih dulu. Laras mungkin satu-satunya orang yang masih bisa menyelesaikan ini, tetapi jangan libatkan dia sampai kau punya bukti.

Di bawahnya ada enam angka.

“Apa ini?”

“Dulu aku juga tidak tahu.”

Damar menunjuk buku pengiriman.

“Kemarin aku akhirnya mengerti.”

Aku membuka halaman terakhir.

Enam kolom nomor batch tercatat di sana.

BS-0417 muncul berulang kali.

Aku memperhatikan angka terakhir yang ditulis ayah.

Empat digit pertama sama dengan batch.

Dua angka terakhir tampak seperti kode.

Damar mengeluarkan ponsel lamanya.

“Ada folder terkunci. Kodenya enam digit.”

Aku mencoba angka itu.

Folder terbuka.

Di dalamnya terdapat puluhan foto dokumen.

Daftar pengiriman.

Rekening pembayaran.

Nama rumah sakit.

Nama apotek.

Dan sebuah video.

Aku menekannya.

Gambar yang muncul sedikit gelap.

Ayahku duduk di meja makan rumah kami.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding yang kuingat.

“Kalau Laras yang melihat video ini,” katanya, “berarti aku gagal menyelesaikannya sendiri.”

Aku menutup mulut.

Suara ayah bergetar.

“Jangan cari pembalasan. Cari bukti.”

Aku tidak sadar air mata sudah mengalir.

Kemudian ayah memperlihatkan beberapa dokumen di depan kamera.

“Surya bukan pemimpinnya. Dia hanya orang yang menjaga jalur kepolisian tetap aman.”

Aku menahan napas.

Ayah menyebut satu nama.

Kompol Haris Kurniawan.

Mantan kepala unit kami.

Orang yang dahulu memberikan rekomendasi ketika aku pertama kali ditempatkan di Makassar.

Orang yang datang ke pemakaman ayah.

Orang yang memelukku dan berkata bahwa polisi adalah keluarga keduaku.

Aku merasa mual.

Saat itulah teleponku bergetar.

Surya.

Aku tidak mengangkat.

Pesan masuk.

Kau di mana?

Kemudian pesan kedua.

Jangan lakukan hal bodoh.

Pesan ketiga membuat darahku membeku.

Kami tahu Damar masih hidup.

Dari lorong klinik terdengar suara benda jatuh.

Aku membuka pintu.

Hendra sudah tidak berada di kursi.

Jendela kecil di ujung lorong terbuka.

“Damar!”

Aku berlari keluar.

Namun sebelum mencapai pintu belakang, suara tembakan terdengar.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Orang-orang berteriak.

Aku mencabut pistol.

Di halaman parkir, Hendra berlari menuju sebuah mobil hitam.

Seorang pria keluar dari sisi pengemudi.

Aku mengenalinya.

Briptu Rian.

Anggota unitku sendiri.

“Rian!”

Dia mengangkat senjata.

Aku berlindung di balik ambulans saat peluru menghantam bodi logam.

Jadi bukan hanya Surya.

Aku membalas satu tembakan ke arah ban mobil.

Ban depan pecah.

Rian masuk ke kendaraan dan mencoba melaju, tetapi mobil kehilangan kendali lalu menabrak pembatas beton.

Hendra jatuh ketika berusaha kabur.

Petugas keamanan klinik menahannya.

Rian keluar dari mobil sambil membawa pistol.

Sebelum dia sempat membidikku lagi, suara sirene memenuhi jalan.

Tiga mobil Propam memasuki halaman.

Inspektur Maya turun bersama belasan petugas.

“Jatuhkan senjata!”

Rian melihat ke kiri dan kanan.

Tidak ada jalan keluar.

Pistolnya jatuh ke tanah.

Aku akhirnya mengembuskan napas.

Kupikir semuanya selesai.

Ternyata belum.

Surya menghilang sebelum Propam tiba di kantor.

Haris juga tidak berada di rumah.

Malam itu, berdasarkan dokumen Damar dan video ayah, tim gabungan menggeledah tiga gudang.

Mereka menemukan ribuan kemasan obat, alat pengisi ulang, label palsu, serta catatan pembayaran selama lebih dari delapan tahun.

Nilainya mencapai miliaran rupiah.

Surya ditangkap keesokan paginya di Pelabuhan Soekarno Hatta ketika mencoba naik kapal menggunakan identitas palsu.

Haris ditemukan dua hari kemudian di sebuah vila di Malino.

Aku hadir ketika Surya diperiksa.

Dia tidak berani menatapku.

“Kau tahu insulin ayahku bermasalah?”

Dia diam.

Aku menghantam meja dengan telapak tangan.

“Jawab!”

“Aku tidak menyuruh siapa pun membunuh ayahmu.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Wajahnya menegang.

Akhirnya dia berkata, “Dia menemukan terlalu banyak.”

Aku merasa ingin menerjangnya.

Namun suara ayah kembali terngiang.

Jangan cari pembalasan. Cari bukti.

Aku duduk kembali.

Pemeriksaan laboratorium kemudian memastikan pena insulin milik ayah mengandung konsentrasi yang tidak sesuai standar.

Namun penyelidikan menemukan sesuatu yang tidak kami duga.

Obat itu ternyata tidak sengaja diberikan khusus kepada ayah.

Batch palsu tersebut sudah tersebar kepada sedikitnya tiga puluh tujuh pasien.

Empat orang mengalami kondisi kritis.

Dua meninggal.

Ayah adalah salah satunya.

Kenyataan itu anehnya tidak membuat sakitku lebih ringan.

Namun itu memberiku jawaban.

Ayah tidak dibunuh karena siapa dirinya.

Dia menjadi korban kejahatan yang selama bertahun-tahun berusaha dia hentikan.

Tiga minggu setelah semua penangkapan selesai, aku bertemu Damar di sebuah warung kopi kecil dekat Pantai Losari.

Tangannya sudah tidak diborgol.

Semua tuduhan pencurian terhadapnya dibatalkan.

Dia bahkan menjadi saksi utama.

Kami duduk berhadapan dalam diam cukup lama.

“Aku minta maaf,” katanya.

“Untuk apa?”

“Pergi sembilan tahun.”

Aku mengaduk kopi.

“Aku membencimu.”

“Aku tahu.”

“Lalu setelah melihat surat ayah, aku semakin kesal.”

Damar mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena ternyata dua lelaki dalam hidupku sama-sama menganggap aku harus dilindungi dengan cara tidak memberitahuku apa-apa.”

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, Damar tertawa.

Aku juga.

Namun tawa itu tidak bertahan lama.

Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah foto lama.

Aku, Damar, dan ayah berdiri di depan rumah ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Di belakang foto ada tulisan tangan ayah.

Kalau dua anak keras kepala ini suatu hari bertemu lagi, semoga mereka sudah cukup dewasa untuk tidak saling meninggalkan tanpa penjelasan.

Aku tertawa sambil menangis.

“Ayah memang menyebalkan.”

“Dia sudah tahu semuanya.”

Aku menatap mata Damar.

“Mungkin.”

Dia lalu berdiri.

Kupikir dia akan pergi.

Namun sebelum melangkah, dia berhenti.

“Ada satu hal yang belum kuberitahu.”

Aku menghela napas.

“Masih ada lagi?”

Dia mengangguk.

“Nomor 041792 itu bukan cuma kata sandi.”

Aku menatapnya.

“Dua angka terakhir bukan kode acak.”

“Lalu?”

“Tanggal.”

Aku berpikir beberapa detik.

17 April 1992.

Aku membeku.

Itu tanggal kelahiranku.

Damar tersenyum kecil.

“Ayahmu memilih nomor batch pertama yang dia selidiki karena kebetulan sama dengan tanggal lahirmu. Setelah itu dia menjadikannya kode untuk semua arsip rahasianya.”

Aku menatap laut di kejauhan.

Selama hidup, aku selalu mengira ayah tidak pernah memahami kenapa aku memilih menjadi polisi.

Beliau jarang memuji.

Jarang bertanya tentang pekerjaanku.

Bahkan sering menyuruhku berhati-hati sampai membuatku kesal.

Sekarang baru kusadari.

Bukan karena beliau tidak percaya kepadaku.

Justru karena beliau terlalu percaya.

Aku memegang foto itu erat.

Sembilan tahun lalu, ayah menyembunyikan kebenaran agar aku bisa memakai seragam polisi.

Sembilan tahun kemudian, kebenaran yang sama hampir membuatku kehilangan seragam itu.

Namun untuk pertama kalinya, aku memahami apa sebenarnya arti menjadi polisi.

Bukan mematuhi orang yang memiliki pangkat lebih tinggi.

Bukan melindungi institusi dari rasa malu.

Dan bukan menganggap seragam membuat seseorang otomatis berada di pihak yang benar.

Menjadi polisi berarti ketika orang yang berdiri di sebelahmu memilih menutup mata, kau tetap berani melihat.

Ketika orang yang kau hormati meminta diam, kau tetap bertanya.

Dan ketika kebenaran ternyata menghancurkan tempat yang selama ini kau sebut keluarga, kau tetap memilih kebenaran.

Aku berdiri dan memasukkan foto ayah ke dompetku.

Damar berjalan beberapa langkah di depanku.

“Laras.”

“Hm?”

“Kalau kali ini aku tidak menghilang, kau keberatan?”

Aku memandangnya cukup lama.

Kemudian berjalan melewatinya.

“Mulai saja dengan membayar kopi.”

Dia tertawa dan menyusulku.

Di belakang kami, matahari turun perlahan di atas laut Makassar.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ayah, aku tidak merasa sedang meninggalkan seseorang.

Aku merasa sedang melanjutkan sesuatu yang belum sempat beliau selesaikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang