Aku menatap tulisan di amplop itu sekali lagi.
Untuk Raka. Soal kapal baru yang sudah kau tabung selama tiga tahun.
Tanganku terasa dingin.
Selama ini aku tidak pernah menceritakan rencana membeli kapal baru kepada Nadia. Bahkan Fikri baru tahu setahun terakhir karena dia ikut memeriksa beberapa kapal bekas yang hendak kujadikan pilihan.
“Nadia, dari mana kamu tahu?”

Nadia mengalihkan pandangan ke jendela.
“Buka saja.”
“Nad.”
“Raka, aku baru selesai operasi jantung. Jangan interogasi pasien.”
Biasanya aku akan tertawa.
Kali ini tidak.
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya ada selembar surat dan sebuah bukti transfer bank yang dicetak.
Aku membaca angka di sana.
Lalu membacanya sekali lagi.
Tiga ratus lima puluh juta rupiah.
Aku menatap Nadia.
“Apa ini?”
“Uang.”
“Aku tahu itu uang.”
“Syukurlah. Berarti kemampuan berhitungmu masih baik.”
“Nadia.”
Dia akhirnya berhenti bercanda.
“Itu untuk kapalmu.”
Aku langsung meletakkan kertas tersebut.
“Tidak.”
“Raka.”
“Tidak mungkin.”
“Dengar dulu.”
“Aku bahkan tidak pernah memberitahumu soal kapal.”
“Itulah yang sebenarnya ingin kujelaskan.”
Nadia menarik napas perlahan. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya sudah jauh lebih tenang.
“Tahun lalu museum mengadakan pameran tentang kehidupan masyarakat pesisir Makassar. Aku harus mewawancarai nelayan, pemilik kapal, pedagang ikan, dan orang-orang yang bekerja di sekitar Paotere.”
Aku mulai memahami ke mana arah ceritanya.
“Aku bertemu Fikri.”
Aku memejamkan mata.
“Tentu saja.”
“Jangan salahkan dia. Aku yang banyak bertanya.”
“Dan dia memberi tahu semuanya?”
“Tidak semuanya.”
Nadia tersenyum kecil.
“Dia cuma bilang ada seorang pemilik kapal keras kepala yang sudah bertahun-tahun menabung untuk membeli kapal lebih besar supaya usahanya bisa berkembang.”
Aku bersandar di kursi.
“Kenapa kamu peduli?”
Pertanyaan itu membuat senyumnya menghilang.
Nadia memandangku lama.
“Karena pemilik kapal keras kepala itu selalu meninggalkan makanan di depan rumahku kalau tahu aku pulang terlalu malam.”
Aku diam.
“Karena dia mengganti lampu terasku tanpa diminta.”
“Itu cuma lampu.”
“Karena ketika aku demam tahun lalu, dia tiga kali mengetuk pintu hanya untuk memastikan aku masih hidup.”
“Aku takut kamu pingsan.”
“Karena dia hafal aku tidak suka kopi terlalu manis.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Nadia melanjutkan lebih pelan.
“Dan karena selama tiga tahun aku menunggu dia mengajakku makan malam, tapi rupanya dia lebih berani menghadapi ombak daripada mengajak perempuan berkencan.”
Aku menatapnya.
“Nad…”
“Sekarang kamu tahu.”
Suasana kamar mendadak terasa terlalu sunyi.
Aku pernah menyukai Nadia.
Sebenarnya, kata menyukai terlalu kecil.
Aku sudah jatuh cinta kepadanya entah sejak kapan.
Mungkin ketika dia pertama kali menungguku pulang dari laut hanya untuk memberikan paket yang dititipkan kurir.
Mungkin ketika dia memasak sup setelah tanganku terluka terkena kail.
Atau mungkin sejak suatu malam dua tahun lalu ketika listrik di kompleks padam dan kami duduk di teras sampai pukul satu pagi membicarakan segala hal yang tidak pernah kami ceritakan kepada orang lain.
Tapi Nadia berasal dari dunia yang menurutku terlalu jauh.
Dia berpendidikan tinggi, bekerja di museum, mengenal banyak akademisi dan orang penting.
Sedangkan aku pulang membawa bau laut hampir setiap hari.
Aku tidak pernah yakin bahwa kedekatan kami berarti hal yang sama baginya.
“Aku tidak bisa menerima uang ini,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena itu uangmu.”
“Dan uangmu yang membayar operasiku.”
Aku terdiam.
Wajah Nadia berubah.
“Berapa banyak yang kamu pakai?”
“Tidak penting.”
“Raka.”
“Tidak penting.”
“Berapa?”
Aku tidak menjawab.
Dia mencoba bangun.
“Nadia, jangan bergerak.”
“Kalau kamu tidak jawab, aku panggil perawat.”
Aku akhirnya menyebut jumlahnya.
Nadia menatapku seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Itu hampir seluruh tabunganmu.”
“Bisa dicari lagi.”
“Tiga tahun, Raka.”
“Aku masih punya kapal.”
“Tapi kapal itu sering rusak.”
“Bisa diperbaiki.”
“Mesinnya bahkan pernah mati di tengah laut.”
“Sekali.”
“Dua kali.”
Aku mengernyit.
“Fikri lagi?”
“Dia informan yang sangat berguna.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi itu aku tertawa.
Namun tawa Nadia berubah menjadi batuk kecil. Aku langsung berdiri.
Dia mengangkat tangan.
“Aku baik-baik saja.”
Aku membantunya minum.
Saat itulah pintu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk bersama seorang perempuan.
Nadia langsung menegang.
Aku mengenali pria itu dari foto lama di rumahnya.
Arif.
Kakak Nadia.
“Akhirnya kamu datang,” kata Nadia datar.
Arif tidak menjawab. Matanya justru tertuju kepadaku.
“Kamu siapa?”
“Raka.”
“Tetangga,” kata Nadia.
Aku hampir tersedak.
Arif mengernyit.
“Rumah sakit menelepon dan bilang suamimu yang mendampingi.”
Nadia menunjukku dengan dagunya.
“Dia juga suamiku kalau administrasi rumah sakit sedang membutuhkan jawaban sederhana.”
Perempuan di samping Arif tertawa kecil.
Arif tidak.
“Kita perlu bicara.”
“Kalau soal rumah, tidak.”
Wajah Arif berubah.
Aku memandang Nadia.
Rumah?
“Ayah dan Ibu sudah meninggal,” kata Arif. “Rumah itu terlalu besar untuk kamu sendiri.”
“Itu rumahku.”
“Itu rumah keluarga.”
“Surat waris mengatakan rumah itu milikku.”
Arif menatapku lagi.
“Ini urusan keluarga.”
Aku berdiri.
“Aku bisa keluar.”
Tangan Nadia langsung menangkap pergelangan tanganku.
“Tidak.”
Suaranya tegas.
“Dia tinggal.”
Arif mendengus.
“Kamu bahkan tidak tahu siapa orang ini.”
“Aku tahu lebih banyak tentang dia daripada yang kamu kira.”
“Orang bisa bersikap baik kalau melihat sesuatu yang bisa mereka dapatkan.”
Aku merasakan rahangku menegang.
Nadia justru tersenyum dingin.
“Menarik. Orang yang datang setelah operasi selesai justru sedang mengajari orang yang menunggu lima jam di depan ruang operasi tentang ketulusan.”
Arif terdiam.
Beberapa detik kemudian dia meletakkan sebuah map di meja.
“Kalau kamu tetap tidak mau menjual rumah, tanda tangani pelepasan bagian tanah belakang. Ada investor yang tertarik.”
“Keluar.”
“Nadia.”
“Keluar.”
Arif akhirnya pergi.
Setelah pintu tertutup, aku melihat Nadia memejamkan mata.
Tangannya gemetar.
Aku duduk kembali.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
“Apa?”
“Soal kakakmu.”
Nadia membuka mata.
“Karena setiap orang sudah punya masalah sendiri.”
“Itu jawaban buruk.”
“Aku belajar dari tetanggaku.”
Aku menghela napas.
Lalu mataku kembali pada amplop.
“Uang tiga ratus lima puluh juta ini dari mana?”
Nadia terdiam.
Terlalu lama.
Aku langsung tahu ada sesuatu yang belum dia ceritakan.
“Nadia.”
“Aku menjual sesuatu.”
“Apa?”
“Sebidang tanah.”
“Tanah mana?”
Dia tidak menjawab.
Aku tiba-tiba teringat ucapan Arif.
Tanah belakang.
“Nad…”
“Bukan tanah rumah.”
“Lalu?”
Nadia menatap langit-langit.
“Ayah meninggalkan sebidang tanah kecil di Maros atas namaku. Aku menjualnya dua bulan lalu.”
“Dua bulan?”
“Iya.”
“Berarti kamu menyiapkan uang ini sebelum operasi.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Kali ini dia tidak bisa bersembunyi di balik candaan.
Matanya mulai basah.
“Karena dokter sudah mengatakan sejak tiga bulan lalu bahwa kemungkinan besar aku membutuhkan operasi.”
Aku merasa dada seperti dihantam sesuatu.
“Kamu sudah tahu?”
Nadia mengangguk.
“Kenapa tidak bilang?”
“Aku takut.”
“Takut operasi?”
Dia menggeleng.
“Takut tidak bangun.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Dan kalau itu terjadi, aku ingin meninggalkan sesuatu untuk seseorang yang selama tiga tahun membuatku merasa aku tidak benar-benar sendirian.”
Aku berdiri dan berjalan ke jendela.
Aku marah.
Bukan karena uang.
Karena selama berbulan-bulan Nadia mengetahui kondisinya memburuk dan tetap tersenyum setiap kali kami bertemu.
“Kamu seharusnya memberitahuku.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa menemanimu.”
“Aku tahu.”
“Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendiri.”
“Aku tahu.”
Aku berbalik.
“Berhenti bilang kamu tahu.”
Nadia menatapku.
Kemudian berkata pelan.
“Kalau aku memberitahumu, aku takut kamu akan melakukan persis seperti yang kamu lakukan semalam.”
“Apa?”
“Mengorbankan semuanya.”
Aku tidak mampu menjawab.
Hari-hari berikutnya, aku hampir selalu berada di rumah sakit.
Fikri mengurus Harapan.
Setiap pagi dia mengirim foto kapal dan laporan singkat.
Hari keempat, kondisi Nadia membaik cukup cepat sehingga dokter mulai membicarakan kepulangan.
Sore itu, Fikri datang membawa buah.
Begitu melihat Nadia, dia tersenyum lebar.
“Wah, calon istri bos.”
“Fikri.”
“Apa?”
“Keluar.”
Nadia malah tertawa.
“Biarkan.”
Fikri duduk.
“Ngomong-ngomong, penjual kapal menelepon.”
Aku menggeleng.
“Sudah kubilang batal.”
“Belum tentu.”
Dia mengeluarkan telepon.
“Orang yang mau beli setelah kamu ternyata mundur.”
“Terus?”
“Harganya turun.”
Aku menatap Nadia.
Dia langsung mengangkat kedua tangan.
“Jangan lihat aku.”
Fikri menatap kami bergantian.
“Aku merasa masuk ke ruangan yang salah.”
Aku mengambil teleponnya.
Harga kapal itu turun cukup banyak.
Tetap saja aku tidak punya uang.
“Aku tidak bisa.”
Nadia menunjuk amplop yang masih kusimpan di laci.
“Ada uang.”
“Tidak.”
“Anggap pinjaman.”
“Tidak.”
“Investasi.”
Aku menatapnya.
Nadia tampak berpikir.
“Baik. Aku beli saham.”
“Saham apa?”
“Usahamu.”
Fikri langsung tertarik.
“Nah, ini bagus.”
“Kamu diam.”
Nadia tersenyum.
“Aku investasikan uang itu. Sebagai gantinya aku mendapat persentase keuntungan sampai modal kembali.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu begitu ingin aku membeli kapal itu?”
Jawabannya sederhana.
“Karena aku tidak ingin hidup yang diselamatkan oleh mimpimu menjadi alasan mimpi itu mati.”
Aku tidak bisa membantah lagi.
Dua bulan kemudian, kapal baru itu tiba di Paotere.
Kami menamainya Harapan Dua.
Nadia sudah bisa berjalan cukup jauh meskipun belum boleh melakukan aktivitas berat.
Hari pertama kapal beroperasi, aku mengajaknya melihat matahari terbit dari dermaga.
Kami berdiri berdampingan saat langit Makassar berubah keemasan.
“Aku masih punya satu masalah,” kataku.
“Apa?”
“Status administrasi kita.”
Nadia mengangkat alis.
“Status administrasi?”
“Rumah sakit mencatat aku sebagai suamimu.”
“Itu kesalahan sistem.”
“Aku ingin memperbaikinya.”
“Bagaimana?”
Aku mengeluarkan sesuatu dari saku.
Bukan cincin.
Sebuah tiket makan malam.
Nadia menatapnya lalu tertawa.
“Kamu serius?”
“Aku pikir sebelum menjadi suami sungguhan, minimal aku harus berhasil melewati tahap pacaran.”
“Tiga tahun untuk mengajak makan malam?”
“Aku orang laut. Navigasi daratku buruk.”
Nadia mengambil tiket itu.
“Baik.”
“Baik apa?”
“Aku mau berkencan denganmu.”
Aku tersenyum.
Tapi kisah kami ternyata belum selesai memberikan kejutan.
Enam bulan kemudian, saat aku sedang mempersiapkan perjalanan pagi, sebuah mobil berhenti di dermaga.
Arif turun.
Aku langsung waspada.
Namun kali ini dia tidak datang membawa map.
Dia membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Nadia ada?”
“Di museum.”
Arif menyerahkan kotak itu kepadaku.
“Aku menemukan ini saat membersihkan barang-barang Ayah.”
Di dalamnya ada foto lama.
Aku mengenali seorang pria muda berdiri di samping kapal kayu.
Itu ayahku.
Di sebelahnya berdiri ayah Nadia.
Aku menatap Arif.
“Mereka saling kenal?”
“Lebih dari itu.”
Ternyata hampir tiga puluh tahun lalu, ayah Nadia pernah mengalami kecelakaan saat melakukan penelitian di sebuah pulau kecil. Kapal yang ditumpanginya rusak diterjang cuaca buruk.
Ayahku yang menemukannya.
Dia membawa ayah Nadia kembali ke Makassar.
Tanpa meminta bayaran.
Di belakang foto itu ada tulisan tangan.
Kalau suatu hari keluarga Pak Rahman membutuhkan pertolongan, jangan pernah berpikir dua kali.
Aku membawa foto itu kepada Nadia malam harinya.
Dia membacanya lama.
Lalu menatapku.
“Jadi ayahmu pernah menyelamatkan ayahku.”
Aku mengangguk.
“Dan kamu menyelamatkanku.”
“Dokter yang menyelamatkanmu.”
“Kamu yang membawaku ke sana.”
Kami terdiam.
Kemudian Nadia tertawa pelan.
“Berarti keluarga kita memang punya kebiasaan aneh.”
“Apa?”
“Saling menyelamatkan lalu pura-pura itu bukan masalah besar.”
Setahun setelah operasi, kami kembali ke rumah sakit yang sama.
Bukan karena Nadia sakit.
Kami datang ke bagian administrasi.
Perawat yang dulu merawat Nadia kebetulan masih bekerja di sana.
Begitu melihat kami, dia langsung mengenalinya.
“Pak Raka!”
Dia melihat Nadia, lalu melihatku.
“Wah, suaminya masih setia menemani.”
Nadia tersenyum.
Aku mengeluarkan sebuah kartu kecil dari dompet.
Perawat itu melihatnya.
Undangan pernikahan.
Dia membeku.
“Jadi waktu itu…”
“Belum,” jawabku.
Perawat menutup mulut menahan tawa.
Nadia menggenggam tanganku.
“Tapi sekarang benar.”
Kami menikah sederhana di halaman rumah yang selama bertahun-tahun memisahkan kami hanya dengan satu pagar.
Fikri menjadi orang paling berisik sepanjang acara.
Arif datang paling awal dan membantu menata kursi.
Di meja dekat pintu masuk, Nadia meletakkan foto dua ayah kami berdiri di samping kapal puluhan tahun lalu.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira keberanian adalah kemampuan membawa kapal menghadapi laut yang tidak bisa diprediksi.
Ternyata aku salah.
Keberanian terbesar dalam hidupku bukan ketika menghadapi ombak.
Melainkan ketika akhirnya mengakui bahwa seseorang sudah menjadi rumah bagiku jauh sebelum aku berani mengetuk pintunya.
Malam setelah semua tamu pulang, Nadia dan aku duduk di teras.
Pagar antara rumah kami sudah dibongkar.
Dia menyandarkan kepala di bahuku.
“Raka?”
“Hm?”
“Kamu ingat pagi setelah operasi?”
“Ingat.”
“Ketika perawat bilang kamu suamiku?”
Aku tertawa.
“Sulit dilupakan.”
“Dan aku bilang, aku tahu.”
“Iya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Sebenarnya kenapa kamu bilang begitu?”
Nadia diam beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Karena saat itu aku baru sadar dari operasi. Aku takut membuka mata dan ternyata kamu sudah pergi.”
Tangannya menggenggam tanganku.
“Tapi ketika mendengar perawat bilang suamiku tertidur di kursi, entah kenapa rasanya benar.”
Aku menatapnya.
“Padahal kita belum pernah berkencan.”
“Aku tahu.”
“Belum pernah berciuman.”
“Aku tahu.”
“Bahkan aku belum pernah bilang aku mencintaimu.”
Nadia mengangkat wajah.
“Tapi kamu sudah menghabiskan tiga tahun menunjukkan semuanya.”
Aku tidak menjawab.
Karena akhirnya aku memahami satu hal yang mungkin sudah dipahami Nadia jauh lebih dulu.
Ada orang yang masuk ke hidup kita lewat sebuah perkenalan.
Ada yang datang lewat sebuah janji.
Dan ada yang perlahan menjadi bagian dari hidup kita melalui hal-hal kecil, sampai suatu hari kita tersadar bahwa tanpa pernah diminta, kita sudah memilih mereka berkali-kali.
Aku memilih Nadia ketika membawakan kardusnya.
Ketika menunggu ambulans.
Ketika duduk lima jam di depan ruang operasi.
Ketika melepaskan kapal yang sudah tiga tahun kuimpikan.
Dan Nadia rupanya sudah memilihku jauh sebelum aku mengetahui bahwa dia tahu tentang kapal itu.
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Kalau begitu perawat itu cuma terlalu cepat setahun.”
Nadia tertawa.
“Tidak.”
Dia menatap rumah kami, lalu kapal yang lampunya terlihat samar dari kejauhan.
“Menurutku dia tepat waktu.”
Dan kali ini, ketika Nadia berkata dia tahu, aku akhirnya tahu persis apa yang dia maksud.
