Ibu Kepala Biara itu berdiri tepat di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat tenang di depan perutnya.
Dokter Arif tidak langsung menjawab.
Tatapannya tanpa sadar jatuh pada salib perak di dada perempuan itu, lalu kembali pada wajahnya.
“Suster Maria baru tiba kurang dari satu jam lalu,” kata Arif akhirnya. “Bagaimana Ibu tahu jenazahnya sudah berada di sini?”
Senyum perempuan itu tidak berubah.
“Kami mendapat kabar dari rumah sakit.”
“Dari siapa?”
Untuk pertama kalinya, ada jeda.

Sangat singkat, tetapi cukup membuat Arif merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Pengurus biara yang mengantar jenazahnya.”
Arif melirik Raka.
Tidak ada pengurus biara yang datang bersama jenazah Maria. Ambulans hanya membawa dua petugas rumah sakit dan sebuah surat pengantar medis.
“Maaf,” ujar Arif. “Untuk sementara tidak ada yang boleh melihat jenazah sebelum prosedur selesai.”
Perempuan itu menghela napas.
“Saya hanya ingin berdoa untuknya.”
“Besok pagi.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Dokter, Suster Maria adalah keluarga kami.”
“Dan sekarang dia adalah pasien forensik rumah sakit.”
Keheningan membentang beberapa detik.
Kemudian perempuan itu mengangguk.
“Baiklah.”
Ia berbalik dan berjalan menyusuri lorong.
Namun sebelum menghilang di tikungan, ia berhenti.
Tanpa menoleh, perempuan itu berkata, “Ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan terkubur bersama orang mati.”
Lalu ia pergi.
Raka segera menutup pintu.
“Dok, dia tahu.”
Arif tidak menjawab. Ia kembali ke komputer dan memeriksa isi flashdisk.
Ada tujuh belas folder.
Sebagian besar diberi nama tanggal.
Folder terakhir dibuat tiga hari sebelumnya.
Arif membukanya.
Puluhan foto muncul.
Foto pertama memperlihatkan sebuah ruangan bawah tanah dengan dinding lembap.
Foto kedua memperlihatkan rak berisi botol obat tanpa label.
Foto berikutnya membuat Raka menutup mulutnya.
Ada beberapa perempuan terbaring di ranjang sederhana. Sebagian mengenakan pakaian pasien, sebagian masih mengenakan jubah biarawati.
Mereka tampak lemah.
Di tangan mereka terpasang infus.
“Apa ini?” bisik Raka.
Arif memperbesar salah satu foto.
Di dinding belakang terlihat sebuah papan putih.
Ada nama, tanggal, dosis obat, dan kode angka.
Salah satu nama membuat Arif tercekat.
Maria.
Di samping namanya tertulis angka 47.
Kemudian ia melihat nama lain.
Elisa.
Theresia.
Marta.
Anna.
Semua diikuti nomor berbeda.
Arif membuka folder berikutnya.
Kali ini berisi hasil pemeriksaan darah.
Ia membaca beberapa halaman sebelum wajahnya berubah.
“Dok?”
“Ini hasil uji obat.”
“Obat apa?”
Arif menatap layar.
“Sedatif. Imunosupresan. Beberapa senyawa eksperimental.”
Raka pucat.
“Mereka melakukan percobaan pada manusia?”
“Belum tentu.”
Tetapi suara Arif sendiri terdengar tidak yakin.
Tiba-tiba layar komputer berkedip.
Satu folder baru terbuka otomatis.
Ada sebuah file teks.
Arif yakin ia tidak mengkliknya.
Di dalamnya hanya tertulis satu kalimat.
Jika Ibu Kepala Biara datang sebelum dua jam berlalu, jangan biarkan dia membawa tubuh saya.
Raka mundur.
“Dok, kita telepon polisi sekarang.”
Kali ini Arif tidak membantah.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seorang penyidik yang pernah beberapa kali bekerja sama dengannya, Komisaris Dimas Wicaksono.
Arif menjelaskan semuanya dengan cepat.
Dimas tidak tertawa.
Tidak pula menganggapnya sebagai lelucon.
“Simpan semua bukti. Jangan sentuh apa pun yang tidak perlu. Saya berangkat sekarang.”
“Berapa lama?”
“Sekitar tiga puluh menit.”
Telepon ditutup.
Arif melihat jam.
Masih ada satu jam dua belas menit sebelum waktu dua jam yang disebut Maria dalam pesannya habis.
Mereka kembali ke ruang jenazah.
Tubuh Maria masih berada di tempat yang sama.
Namun sesuatu telah berubah.
Raka yang pertama menyadarinya.
“Dok.”
“Apa?”
“Tangannya.”
Tangan kanan Maria yang sebelumnya terletak lurus di samping tubuh kini sedikit menekuk.
Arif mendekat.
Ia memeriksa denyut karotis.
Tidak ada.
Kemudian pupil.
Tidak ada respons.
Suhu tubuh tetap rendah.
“Mungkin tadi bergeser saat kita memiringkan tubuhnya.”
Raka tidak menjawab.
Arif memeriksa telapak tangan Maria.
Ada sesuatu di antara jari-jarinya.
Selembar kertas kecil yang dilipat.
Arif membukanya.
Tulisan tangan yang sama.
Saya tidak mati karena penyakit.
Arif merasakan tengkuknya dingin.
Tiba-tiba lampu ruangan padam.
Raka memaki pelan.
Lampu darurat menyala beberapa detik kemudian, membuat seluruh kamar jenazah berubah menjadi remang-remang.
Dari lorong terdengar suara pintu terbuka.
Kemudian langkah kaki.
Bukan satu orang.
Beberapa orang.
Arif segera mengunci pintu.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Gagang pintu bergerak perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Dokter Arif.”
Suara Ibu Kepala Biara.
“Kami hanya ingin membawa pulang Suster Maria.”
Arif menatap Raka.
“Kami?”
Suara dari luar menjawab dengan tenang.
“Dia tidak seharusnya berada di sini.”
Arif mendekati pintu.
“Polisi sedang menuju kemari.”
Hening.
Lalu terdengar tawa kecil.
“Kalau begitu, mereka akan terlambat.”
Mendadak pintu dihantam dari luar.
Raka tersentak.
Benturan kedua jauh lebih keras.
Arif menarik troli logam dan mendorongnya ke depan pintu.
“Ada pintu keluar lain?”
“Gudang belakang. Tapi menuju koridor servis.”
“Buka.”
Raka berlari.
Saat itulah Arif melihat jam dinding.
Tiga puluh delapan menit tersisa.
Mengapa Maria meminta mereka menunggu dua jam?
Apa yang akan terjadi setelah dua jam?
Arif menatap tubuh perempuan itu.
Kemudian matanya tertuju pada bekas tusukan kecil di lengan kirinya.
Ia mengambil senter.
Ada lebih dari satu.
Tiga bekas jarum.
Arif mengambil sampel darah menggunakan prosedur minimal tanpa melakukan autopsi penuh.
Darah yang keluar sangat lambat.
Namun warnanya membuat Arif terdiam.
“Raka.”
Pemuda itu mendekat.
“Apa?”
“Dia mungkin belum mati ketika dikirim ke sini.”
Raka menatapnya tidak percaya.
Arif mulai memahami.
Maria tidak meminta mereka menunggu karena alasan mistis.
Ia tahu obat apa yang diberikan kepadanya.
Ada beberapa zat yang dapat menekan fungsi tubuh secara ekstrem, membuat denyut dan pernapasan sangat sulit dideteksi tanpa pemeriksaan tertentu.
Maria tahu dirinya akan tampak mati.
Dua jam mungkin adalah perkiraan waktu efek obat mulai berkurang.
“Ambil monitor jantung portabel. Sekarang.”
Raka berlari.
Benturan di pintu semakin keras.
Arif memasang elektroda.
Garis monitor tampak hampir datar.
Kemudian muncul satu gelombang kecil.
Arif membeku.
Lima belas detik kemudian muncul lagi.
“Ya Tuhan.”
Maria hidup.
Sangat lemah.
Tetapi hidup.
“Raka, panggil IGD. Kita butuh tim resusitasi sekarang.”
Pada saat yang sama, pintu terbuka dengan keras.
Troli bergeser.
Tiga orang masuk.
Ibu Kepala Biara berada di depan.
Di belakangnya berdiri dua pria berpakaian sipil.
Wajah perempuan itu berubah saat melihat monitor.
“Matikan alat itu.”
Arif berdiri di depan Maria.
“Dia masih hidup.”
“Saya tahu.”
Jawaban itu membuat ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Raka menatap perempuan itu dengan ngeri.
Ibu Kepala Biara melangkah masuk.
“Maria membuat kesalahan besar.”
“Dengan membongkar apa yang kalian lakukan?”
“Kalian tidak memahami apa pun.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Perempuan itu menatap Maria.
“Biara kami terlilit utang selama bertahun-tahun. Tanah akan disita. Puluhan anak asuh, lansia, dan perempuan yang kami lindungi akan kehilangan tempat tinggal.”
“Jadi kalian menjual mereka untuk eksperimen obat?”
Wajah perempuan itu menegang.
“Awalnya hanya sukarelawan.”
“Lalu?”
Ia tidak menjawab.
Arif sudah tahu jawabannya.
Ketika uang mulai datang, batas moral perlahan bergeser.
Sukarelawan berubah menjadi orang yang ditekan.
Kemudian orang yang tidak diberi tahu.
Maria menemukan semuanya.
“Siapa perusahaan yang membayar kalian?”
Sebelum perempuan itu menjawab, terdengar suara dari koridor.
“Polisi! Jangan bergerak!”
Dimas datang bersama empat petugas.
Dua pria di belakang Ibu Kepala Biara langsung mencoba melarikan diri, tetapi koridor telah ditutup.
Perempuan itu sendiri tidak bergerak.
Ia hanya menatap Maria dengan ekspresi aneh.
Bukan marah.
Melainkan kalah.
Tim medis segera membawa Maria ke ruang perawatan intensif.
Dalam beberapa jam berikutnya, polisi menggeledah biara.
Apa yang mereka temukan jauh lebih buruk daripada foto-foto dalam flashdisk.
Di balik ruang penyimpanan tua terdapat tangga menuju ruang bawah tanah.
Di sana ditemukan catatan medis, obat-obatan tanpa izin, alat laboratorium, dan dokumen pembayaran dari sebuah perusahaan farmasi bayangan yang menggunakan yayasan kesehatan sebagai kedok.
Tetapi temuan paling mengejutkan adalah tujuh perempuan yang masih hidup.
Mereka ditemukan dalam kondisi lemah di ruangan tersembunyi.
Sebagian sudah dianggap “pindah biara” oleh keluarga mereka.
Salah satunya bahkan telah dilaporkan meninggal dua tahun sebelumnya.
Kasus itu meledak di seluruh Indonesia.
Namun bagi Arif, bagian paling aneh baru terjadi tiga hari kemudian.
Maria sadar.
Arif datang menemuinya di ICU.
Perempuan itu tampak jauh lebih muda tanpa jubah hitamnya.
“Mengapa Anda menulis pesan di punggung sendiri?” tanya Arif.
Maria tersenyum lemah.
“Saya tidak bisa menyembunyikan kertas. Mereka selalu memeriksa kamar saya.”
“Bagaimana Anda tahu mereka akan membuat Anda terlihat mati?”
“Saya menemukan protokol obat mereka.”
“Dan flashdisk?”
“Saya tahu mereka tidak akan berani memeriksa tubuh saya terlalu lama setelah saya dianggap meninggal. Dalam keyakinan mereka sendiri, menyentuh tubuh orang mati membawa risiko meninggalkan bukti.”
Arif terdiam.
“Ada satu hal lagi.”
Maria menatapnya.
“Apa?”
“Video Anda terputus ketika seseorang mengetuk pintu. Siapa yang datang malam itu?”
Maria tidak langsung menjawab.
Wajahnya berubah.
“Ibu Kepala Biara.”
Arif mengangguk.
Namun Maria melanjutkan.
“Dia datang untuk memperingatkan saya.”
Arif mengerutkan kening.
“Apa?”
“Ibu Kepala Biara memang terlibat. Dia menerima uang. Dia menutup mata selama bertahun-tahun. Tapi ketika mengetahui mereka akan membunuh saya sungguhan, dia mencoba menghentikannya.”
“Lalu mengapa dia datang ke kamar jenazah?”
Maria menatap keluar jendela.
“Karena perusahaan itu mengancam akan membunuh semua perempuan yang masih berada di ruang bawah tanah kalau tubuh saya sampai diperiksa polisi. Dia ingin membawa saya kembali dan berpura-pura menguburkan saya agar mereka percaya bukti sudah hilang.”
Arif terdiam lama.
Berarti perempuan itu bukan sepenuhnya monster.
Tetapi juga bukan korban.
Ia adalah seseorang yang membuat satu kompromi kecil demi menyelamatkan biara, lalu kompromi berikutnya, sampai akhirnya tidak lagi mampu membedakan antara menyelamatkan orang dan mengorbankan mereka.
“Jadi siapa yang menyuntik Anda?”
Maria menatap Arif.
“Dokter mereka.”
“Siapa namanya?”
Maria menyebut sebuah nama.
Wajah Arif langsung kehilangan warna.
Ia mengenal nama itu.
Bahkan sangat mengenalnya.
Profesor Hendra Pranoto.
Kakak kandungnya sendiri.
Enam bulan kemudian, persidangan terbesar terkait uji obat ilegal di wilayah itu dimulai.
Belasan orang menjadi terdakwa.
Profesor Hendra dijatuhi hukuman berat. Ibu Kepala Biara juga dihukum karena keterlibatannya, meskipun kesaksiannya membantu menyelamatkan para korban dan membongkar jaringan yang lebih besar.
Biara ditutup sementara lalu diambil alih oleh yayasan baru.
Maria tidak pernah kembali menjadi biarawati.
Ia memilih bekerja bersama organisasi perlindungan korban eksperimen medis ilegal.
Suatu sore, hampir setahun setelah malam itu, ia kembali ke rumah sakit menemui Arif.
Mereka berdiri di depan kamar jenazah yang sama.
Maria tersenyum.
“Dokter masih ingat tulisan di punggung saya?”
“Tentu saja.”
“Jangan lakukan autopsi.”
Arif tertawa kecil.
“Pesan paling aneh yang pernah saya terima dari pasien.”
Maria menatap pintu kamar jenazah.
“Kalau malam itu Anda menganggapnya sebagai mukjizat, mungkin saya sudah dikuburkan hidup-hidup.”
Arif mengangguk.
Itulah bagian yang tidak pernah diberitakan media.
Orang-orang sempat menyebut kasus Maria sebagai keajaiban.
Biarawati yang bangkit dari kematian.
Tetapi Maria selalu membantahnya.
Tidak ada mukjizat di kamar jenazah malam itu.
Yang ada hanyalah seorang perempuan ketakutan yang menggunakan sisa waktunya untuk meninggalkan bukti, seorang dokter yang memilih memeriksa sebelum percaya, dan sebuah rahasia yang hampir terkubur karena terlalu banyak orang merasa tujuan baik dapat membenarkan satu kebohongan kecil.
Padahal kehancuran terbesar sering kali tidak dimulai dari kejahatan besar.
Ia dimulai ketika seseorang berkata pada dirinya sendiri bahwa untuk kali ini saja, melakukan hal yang salah demi alasan yang dianggap benar tidak akan menyakiti siapa pun.
