Ayah terbaring di atas kasur tipis yang langsung diletakkan di lantai.
Tubuhnya begitu kurus sampai aku nyaris tidak mengenalinya. Kaus yang dikenakannya kusam, menempel pada bahu yang tinggal tulang. Di dekat kepalanya ada mangkuk plastik berisi bubur yang sudah mengering dan sebuah gelas kosong yang tergeletak miring.
Tidak ada tempat tidur medis. Tidak ada alat bantu. Tidak ada seorang perawat pun.
Hanya Ayah, sendirian dalam ruangan pengap, sementara beberapa meter dari tempatnya terbaring, orang-orang tertawa menikmati pesta.
“Ayah…”

Suara itu keluar dari mulutku seperti suara orang lain.
Aku berlutut di sampingnya. Matanya bergerak perlahan mengikuti cahaya ponselku, lalu berhenti di wajahku.
Bibirnya bergetar.
“Car… lo?”
Aku menggenggam tangannya. Dingin dan begitu ringan.
“Iya, Yah. Aku pulang.”
Ayah menatapku lama, seolah takut aku hanya bagian dari mimpi. Kemudian air matanya mengalir melewati pelipis.
“Jangan… marahi…”
Ia kesulitan menyelesaikan kalimatnya.
Aku mendekatkan telinga.
“Stella… nanti… marah…”
Dadaku terasa diremas.
Bahkan dalam keadaan seperti itu, Ayah masih ketakutan.
Aku segera menelepon ambulans, menyebutkan alamat rumah dan kondisi Ayah dengan suara yang berkali-kali patah. Petugas meminta agar aku tetap menemaninya dan mengikuti arahan mereka sambil menunggu bantuan.
Pembantu tadi muncul di ambang pintu.
“Mbak, tolong buka gerbang. Ambulans sedang menuju ke sini.”
Perempuan itu mengangguk cepat, tetapi sebelum berbalik, ia berbisik, “Maaf, Pak.”
Aku menatapnya.
“Siapa nama Mbak?”
“Rina.”
“Sudah berapa lama Ayah di sini?”
Ia menunduk.
“Saya baru kerja enam hari, Pak. Waktu saya datang, Bapak sudah di sini. Saya pernah mencoba menyuapi beliau lebih lama, tapi Bu Stella melarang. Katanya semua sudah diatur dan saya tidak boleh ikut campur.”
Air mata menggenang di matanya.
“Tadi sore saya diam-diam mengganti bajunya.”
Aku ingin bertanya lebih banyak, tetapi Ayah bergerak lemah di sampingku.
“Buka gerbang dulu, Mbak. Tolong.”
Rina berlari.
Tak lama kemudian, terdengar langkah tergesa di belakangku.
“Kak Carlo?”
Stella berdiri di depan pintu dengan gelas masih di tangannya. Senyumnya lenyap ketika melihat gembok yang pecah di lantai.
“Kok pulang nggak bilang-bilang?”
Aku tidak menjawab.
Mataku turun ke gelang emas di pergelangan tangannya, lalu kembali ke wajah Ayah.
“Kak, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan sambil menunggu ambulans.”
“Ambulans?” Suaranya meninggi. “Kenapa harus ambulans? Ayah memang begitu sejak stroke!”
Aku berdiri perlahan.
“Kenapa dia dikunci?”
Stella melirik ke arah rumah. Beberapa tamunya mulai berkumpul di ujung lorong.
“Supaya aman.”
“Aman dari apa? Dia bahkan tidak bisa bangun sendiri.”
“Kakak nggak tahu rasanya mengurus orang sakit setiap hari.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Benar. Karena setiap kali aku bertanya, kamu bilang ada perawat. Kamu bilang terapi berjalan. Kamu mengirim foto obat.”
Stella membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Aku kirim tiga puluh juta setiap bulan. Di mana perawatnya?”
“Perawatnya berhenti.”
“Sejak kapan?”
Ia diam.
“Sejak kapan, Stella?”
“Beberapa bulan lalu.”
Aku menoleh ke Ayah. Matanya terpejam, tetapi jemarinya masih mencengkeram ujung celanaku.
Aku merendahkan suara.
“Mundur dari pintu. Ayah butuh udara.”
“Kak, jangan bikin aku malu di depan teman-temanku.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku akhirnya patah.
“Ayah ada di lantai gudang,” kataku. “Dan yang kamu pikirkan adalah teman-temanmu?”
Tak seorang pun di belakang Stella bersuara.
Ketika petugas datang, aku kembali berlutut dan melepaskan genggaman Ayah dengan hati-hati agar mereka bisa memeriksanya. Salah seorang petugas bertanya kapan terakhir Ayah makan, obat apa yang diminum, dan berapa lama kondisinya memburuk.
Aku tidak tahu.
Aku, anak yang merasa sudah melakukan segala hal dengan benar, tidak mampu menjawab pertanyaan paling sederhana tentang ayahku sendiri.
Di rumah sakit, dokter menjelaskan bahwa Ayah mengalami dehidrasi, kekurangan gizi, serta luka tekan yang memerlukan perawatan. Mereka masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menilai seluruh kondisinya.
“Bapak perlu dirawat,” katanya.
Aku mengangguk.
Di kursi lorong rumah sakit, aku membuka percakapan dengan Stella.
Terapi Ayah lancar, Kak.
Aku baru beli susu khusus.
Perawatnya minta tambahan jadwal malam.
Pesan-pesan itu masih ada. Begitu pula bukti transferku, tersusun rapi setiap awal bulan.
Aku menelepon nomor perawat yang pernah diberikan Stella.
Seorang perempuan bernama Yuni menjawab.
“Pak Carlo? Saya sudah lama mencoba menghubungi Bapak.”
Aku menegakkan tubuh.
“Mencoba menghubungi saya?”
“Iya. Nomor Bapak yang diberikan kepada saya tidak tersambung. Saya berhenti hampir empat bulan lalu karena pembayaran tertunggak. Setelah itu saya sempat datang lagi, tetapi tidak diizinkan masuk.”
Aku menutup mata.
“Sebelum berhenti, bagaimana keadaan Ayah?”
“Beliau masih bisa duduk dengan bantuan. Nafsu makannya cukup baik. Kami sedang melatih gerakan tangan dan kemampuan bicaranya.”
Aku memandang pintu ruang perawatan.
Empat bulan.
Selama empat bulan, aku mengira Ayah sedang belajar pulih.
Padahal ia perlahan kehilangan kekuatannya di balik pintu terkunci.
“Bu Yuni,” kataku setelah berhasil menguasai suara, “apakah Ibu masih menyimpan catatan kunjungan dan pesan dengan adik saya?”
“Masih, Pak.”
“Tolong jangan dihapus.”
Stella datang ke rumah sakit menjelang subuh.
Ia sudah mengganti gaunnya dengan blus sederhana. Perhiasannya tidak lagi terlihat.
“Kak, kita bicara baik-baik.”
Aku meletakkan ponsel di pangkuan.
“Duduk.”
Ia duduk di ujung kursi.
“Aku kewalahan,” katanya. “Awalnya aku benar-benar mengurus Ayah. Tapi setiap malam dia memanggil. Kadang aku baru tidur sebentar, dia sudah minta dibantu lagi.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Aku takut Kakak menganggap aku nggak becus.”
“Aku mengirim uang untuk membayar bantuan, Stella.”
Wajahnya menegang.
“Ada pengeluaran lain.”
“Pengeluaran apa?”
Ia mulai menangis.
Sedikit demi sedikit, penjelasannya keluar. Cicilan barang bermerek. Tagihan kartu kredit. Modal usaha daring yang tidak pernah berjalan. Lalu uang bulan berikutnya dipakai untuk menutup pengeluaran bulan sebelumnya.
Ketika uang tetap tidak cukup, ia menghentikan jasa perawat.
Ketika teman-temannya mulai sering datang, ia memindahkan Ayah ke gudang.
“Cuma sementara,” bisiknya.
“Berapa lama?”
Ia mengusap wajah.
“Sekitar dua bulan.”
Aku berpaling. Rasanya aku tidak sanggup melihatnya.
“Mobil-mobil di halaman?” tanyaku.
“Milik teman-temanku.”
“Pestanya?”
Stella terdiam sebelum menjawab, “Ulang tahunku.”
Aku mengangguk pelan.
Aku ingat. Seminggu sebelumnya ia meminta tambahan uang karena, katanya, dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan.
Dan aku mengirimkannya.
“Aku akan mengembalikan uangnya,” katanya cepat. “Aku jual tas, perhiasan, semuanya. Tapi jangan sampai orang luar tahu. Kita bisa selesaikan sendiri.”
Aku menatapnya.
“Ini tidak selesai hanya dengan mengembalikan uang.”
“Kak, aku adikmu.”
“Iya,” jawabku. “Dan dia ayah kita.”
Pagi itu, aku meminta bantuan untuk mendokumentasikan kondisi Ayah dan mencari pendampingan hukum. Setelahnya, aku melaporkan apa yang kutemukan kepada polisi.
Aku menyerahkan bukti transfer, percakapan kami, serta foto kondisi gudang yang kuambil setelah bantuan dipanggil. Rina bersedia memberikan keterangan tentang apa yang ia lihat selama bekerja. Yuni menyerahkan catatan perawatan dan pesan mengenai tagihan yang tidak dibayar.
Aku tidak perlu menambah-nambahkan apa pun.
Kenyataan sudah cukup buruk.
Beberapa kerabat menelepon setelah mendengar kabarnya.
“Pikirkan nama baik keluarga.”
“Bagaimanapun Stella tetap saudaramu.”
Aku mendengarkan sampai mereka selesai, kemudian bertanya, “Siapa yang bersedia datang ke rumah sakit dan melihat keadaan Ayah?”
Tidak semua menjawab.
Seorang bibi akhirnya datang. Ia berdiri lama di samping ranjang, memandang lengan Ayah yang kurus. Saat keluar, ia memelukku tanpa mengulangi permintaannya agar laporan itu dicabut.
Pada hari kelima, kondisi Ayah mulai lebih stabil.
Aku sedang duduk di samping ranjang ketika ia mengangkat tangannya sedikit. Aku segera mendekat.
“Kerja… kamu?”
“Sudah selesai, Yah. Aku bisa di sini dulu.”
Ia mengernyit.
“Jangan… karena Ayah…”
Aku menggenggam tangannya.
“Waktu aku kuliah, Ayah pernah menjual motor supaya uang semesternya cukup. Ayah ingat?”
Sudut bibirnya bergerak tipis.
“Motor… tua.”
Aku tertawa, tetapi air mataku jatuh.
“Buat Ayah, semuanya selalu kecil kalau itu untuk kami.”
Ia diam beberapa saat.
Kemudian, dengan susah payah, ia bertanya, “Stella?”
Aku sudah menduga pertanyaan itu akan datang.
“Dia harus menjelaskan apa yang dia lakukan, Yah.”
Air mata menggenang di mata Ayah.
“Ayah… salah?”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Didik…”
“Tidak, Yah.” Aku mendekat agar ia bisa melihat wajahku dengan jelas. “Ini bukan salah Ayah. Ayah tidak salah karena sakit. Ayah tidak salah karena membutuhkan bantuan.”
Bibirnya bergetar.
Aku memeluknya dengan hati-hati, dan untuk pertama kali sejak malam itu, Ayah menangis tanpa mencoba meminta maaf.
Pemulihan berjalan lambat.
Ada hari ketika Ayah mampu duduk lebih lama dan makan dengan lahap. Ada pula hari ketika ia terlalu lelah untuk menjalani latihan sampai selesai.
Aku belajar dari perawat cara mendampinginya dengan benar. Aku mencatat jadwal obat, datang saat sesi terapi, dan bertanya setiap kali tidak mengerti.
Rasa bersalah masih sering muncul.
