Pukul enam pagi, Arjuna menerima telepon yang mengubah seluruh hidupnya dalam sekejap.
“Pak, ada masalah. Empat bayi di kamar perawatan tidak ada!”
Arjuna yang baru saja terbangun di apartemen Dewi langsung terduduk. Wajahnya pucat, sementara Dewi yang berada di sampingnya buru-buru mengenakan pakaian.
“Apa maksudmu tidak ada? Bukankah ada empat pengasuh dan beberapa perawat yang berjaga?” bentaknya.
“Kami sudah memeriksa seluruh ruangan, Pak. Tempat tidur bayi kosong. Bu Sari juga tidak ditemukan di kamar rawatnya.”
Arjuna terdiam beberapa detik.
Kemudian ia melompat dari tempat tidur, meraih kunci mobil, dan bergegas keluar tanpa memedulikan Dewi yang memanggilnya dari belakang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk. Sari baru saja menjalani operasi. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa membawa empat bayi sekaligus tanpa sepengetahuannya?
Ketika tiba di rumah sakit, ibunya, Ratna, sudah berdiri di depan ruang perawatan dengan wajah penuh kemarahan.
“Arjuna, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa cucu-cucuku hilang?”
“Aku juga sedang mencari tahu, Bu!”
Ratna menampar lengan putranya dengan kesal.
“Kamu sendiri yang mengatakan semuanya sudah diatur! Kamu bilang Sari akan pergi dan anak-anak tetap tinggal bersama keluarga kita!”
Arjuna tidak menjawab.
Ia langsung menghampiri kepala perawat dan meminta penjelasan. Setelah memeriksa rekaman kamera pengawas, mereka menemukan bahwa Sari memang meninggalkan rumah sakit pada pagi hari. Namun, ia tidak pergi sendirian.

Sebuah mobil keluarga yang dilengkapi empat kursi bayi membawa Sari dan keempat anaknya keluar dari area rumah sakit dengan persetujuan tim medis.
Di layar, terlihat Sari duduk di kursi belakang, wajahnya pucat, tetapi kedua tangannya menggenggam erat selimut bayi.
Tidak ada kepanikan di wajahnya.
Tidak ada keraguan.
Perempuan yang kemarin masih terbaring lemah itu ternyata sudah mempersiapkan kepergiannya dengan sangat matang.
Arjuna mengepalkan tangan.
“Cari dia sekarang juga!”
Namun, kepala perawat justru menyerahkan selembar dokumen kepadanya.
“Pak, sebelum pergi, Bu Sari meminta kami menyimpan salinan dokumen ini. Beliau juga meninggalkan instruksi agar anak-anak hanya dipindahkan sesuai rekomendasi dokter.”
Arjuna merebut dokumen tersebut.
Isinya bukan surat penyerahan hak asuh, melainkan catatan medis dan daftar persetujuan pemindahan bayi. Tidak ada satu pun bagian yang menyatakan bahwa Sari telah melepaskan haknya sebagai ibu.
Wajah Arjuna semakin gelap.
Ia baru menyadari bahwa tanda tangan Sari pada surat perceraian semalam sama sekali tidak berarti ia telah memenangkan segalanya.
Sementara itu, Sari sudah tiba di sebuah rumah sewaan yang tenang di pinggiran Jakarta. Ayu membantunya masuk ke kamar yang telah disiapkan khusus untuk dirinya dan keempat bayi mereka.
Dokter telah memastikan bahwa kondisi bayi cukup stabil untuk dipindahkan. Meski demikian, Sari tetap mengikuti semua petunjuk medis dan meminta seorang perawat mendampinginya selama masa pemulihan.
Ketika akhirnya bisa duduk dengan nyaman, ia memandang keempat wajah kecil yang tertidur di dalam tempat tidur mereka.
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Maafkan Ibu,” bisiknya. “Ibu tidak bisa memilih ayah seperti apa yang kalian dapatkan. Tapi Ibu akan berusaha memastikan kalian tumbuh tanpa harus merasa tidak diinginkan.”
Ayu duduk di sampingnya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf, Sar. Kamu baru saja melahirkan empat bayi. Sekarang tugasmu adalah pulih dan menjaga mereka.”
Sari mengangguk, lalu mengusap pipinya.
“Aku tidak ingin membesarkan mereka hanya dengan kemarahan. Aku ingin mereka tahu bahwa pergi dari tempat yang menyakiti kita bukan berarti kita kalah.”
Ayu menggenggam tangannya.
“Dan soal uang itu?”
Senyum Sari menghilang.
Ia mengambil laptop dan membuka berkas yang dikirimkan mantan staf keuangan perusahaan Arjuna. Transfer demi transfer tercatat selama hampir setahun. Jumlahnya terus bertambah, sementara keterangan transaksi dibuat seolah-olah dana tersebut digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Ayu telah mengumpulkan salinan mutasi rekening bersama, dokumen pembelian rumah Dewi, serta beberapa pesan yang menunjukkan keterlibatan Arjuna.
Namun, ada sesuatu yang belum mereka pahami.
Mengapa Arjuna menggunakan rekening bersama untuk memindahkan uang, padahal ia tahu Sari bisa melihat sebagian transaksi?
Sari memperhatikan tanggal-tanggal pada dokumen tersebut. Lalu ia menyadari bahwa sebagian besar transfer dilakukan setelah ia menyerahkan pengelolaan keuangan rumah tangga kepada Arjuna, dengan alasan suaminya lebih memahami investasi.
“Aku terlalu percaya kepadanya,” gumamnya.
“Memercayai suami bukan kejahatan,” jawab Ayu. “Yang salah adalah orang yang memanfaatkan kepercayaan itu.”
Kalimat sederhana tersebut membuat Sari terdiam cukup lama.
Selama tiga tahun, ia selalu berusaha menjadi istri yang baik. Ia menahan kesepian, memaklumi ketidakhadiran Arjuna, dan berulang kali meyakinkan dirinya bahwa setiap keluarga memiliki masalah.
Kini ia tahu, sebagian dari kesabaran itu justru membuatnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di belakangnya.
Pukul sembilan pagi, teleponnya berdering.
Nama Arjuna muncul di layar.
Sari membiarkannya berdering sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Kamu membawa anak-anakku tanpa izin. Kembali sekarang juga, atau kamu akan menyesal.
Sari membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi.
Kemudian ia membalas singkat.
Anak-anak sedang dalam perawatan yang sesuai rekomendasi dokter. Semua dokumen pemindahan tersedia. Jika kamu memiliki keberatan, sampaikan melalui kuasa hukum.
Arjuna menelepon lagi, kali ini berkali-kali.
Sari akhirnya mematikan ponselnya.
Ia tidak lagi ingin menghabiskan tenaga untuk berdebat dengan seseorang yang bahkan tidak bersedia menunggu sampai istrinya pulih sebelum menjatuhkan talak dalam bentuk surat perceraian.
Namun, ia belum mengetahui bahwa Arjuna sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada hilangnya empat bayi itu.
Di rumah keluarga Arjuna, Ratna mondar-mandir dengan gelisah. Ia menelepon kerabat, meminta sopir mencari Sari, bahkan menyuruh beberapa orang mendatangi rumah sakit lain.
“Bagaimana kalau dia membawa cucu-cucuku ke luar negeri?” katanya panik.
Arjuna membanting ponselnya ke sofa.
“Dia tidak mungkin berani melakukan itu.”
“Berhenti meremehkannya!” bentak Ratna. “Selama ini kamu selalu mengatakan Sari tidak akan mampu hidup tanpamu. Sekarang lihat akibatnya!”
Sebelum Arjuna sempat menjawab, Dewi datang dengan wajah tegang.
“Ada masalah,” katanya.
Arjuna menoleh.
“Apa lagi?”
Dewi menyerahkan ponselnya. Di layar terdapat pesan dari pihak bank yang meminta klarifikasi atas sejumlah transaksi terkait pembelian rumahnya.
Arjuna membaca pesan itu dua kali.
“Kenapa bank menghubungimu?”
“Aku tidak tahu! Mereka bilang ada transaksi yang sedang diperiksa dan mereka membutuhkan dokumen sumber dana.”
Arjuna merasakan tengkuknya menegang.
“Jangan jawab apa pun dulu.”
Dewi menatapnya tajam.
“Kamu bilang semua uang itu aman. Kamu bilang setelah perceraian selesai, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita.”
“Aku sedang mengurusnya!”
“Jangan bicara seolah-olah ini bukan urusanku. Rumah itu atas namaku!”
Pertengkaran mereka terhenti ketika ponsel Arjuna berdering. Kali ini yang menelepon adalah direktur keuangan perusahaannya.
“Pak Arjuna, kami perlu bertemu sekarang. Ada pemeriksaan internal atas beberapa transaksi perusahaan.”
Arjuna menutup mata.
Ia tahu seseorang telah mulai membuka pintu yang selama ini susah payah ia tutup.
Siang harinya, Arjuna mendatangi kantor pengacaranya. Ia menuntut agar Sari segera dipaksa kembali, tetapi pengacara itu justru mengingatkannya bahwa persoalan hak asuh tidak dapat diselesaikan hanya dengan ancaman.
“Pak Arjuna, anak-anak Anda masih bayi. Ibu mereka baru menjalani operasi. Kita perlu melihat dokumen medis, keadaan kedua orang tua, serta ketentuan hukum yang berlaku. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa Anda akan langsung mendapatkan hak asuh.”
Arjuna memukul meja.
“Lalu untuk apa saya membayar Anda?”
“Untuk memberi nasihat hukum, bukan menjamin bahwa semua keinginan Anda akan terpenuhi.”
Untuk pertama kalinya, Arjuna menyadari bahwa uang dan nama keluarganya tidak selalu bisa membuat orang lain tunduk.
Ketika ia keluar dari kantor pengacara, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Jika ingin tahu siapa yang membantu Sari pergi, periksa ruang penyimpanan di rumah ibumu.
Arjuna langsung pulang.
Di ruang penyimpanan yang jarang digunakan, ia menemukan sebuah kotak berisi dokumen lama. Di antara kuitansi dan berkas keluarga, terdapat salinan perjanjian yang membuatnya terpaku.
Perjanjian itu ditandatangani beberapa tahun sebelumnya oleh ayahnya, sebelum meninggal dunia.
Isinya menjelaskan bahwa sebagian aset keluarga yang diwariskan kepada Arjuna ditempatkan dalam suatu pengaturan hukum dengan ketentuan khusus untuk kepentingan anak-anaknya di masa depan. Pengelolaannya tidak boleh dialihkan secara sepihak, dan setiap dugaan penyalahgunaan dana dapat memicu pemeriksaan oleh pihak yang ditunjuk dalam perjanjian tersebut.
Di halaman terakhir terdapat nama seorang pengacara independen.
Nama yang sama muncul dalam surat elektronik lama di laptop Arjuna.
Arjuna segera menghubunginya.
Namun, orang di seberang telepon hanya berkata, “Saya sudah menerima pemberitahuan mengenai transaksi yang dipersoalkan. Jika memang ada dana yang dialihkan tanpa dasar yang sah, semuanya akan diperiksa sesuai prosedur.”
Sambungan terputus.
Arjuna duduk membeku.
Selama ini ia mengira Sari hanyalah perempuan biasa yang tidak memahami urusan keuangan keluarga. Ia tidak pernah menyangka bahwa bukti-bukti yang dikumpulkan istrinya dapat membuka pemeriksaan atas transaksi yang selama ini ia sembunyikan.
Malam itu, Arjuna mendatangi rumah sewaan Sari bersama pengacaranya. Ia tidak diizinkan masuk begitu saja. Ayu meminta mereka menunggu di teras sementara seorang pendamping hukum memastikan tidak ada pelanggaran terhadap privasi dan keselamatan Sari.
Ketika akhirnya Sari bersedia berbicara dari ruang tamu, Arjuna terlihat jauh berbeda dari lelaki yang kemarin berdiri angkuh di samping ranjang rumah sakitnya.
Wajahnya kusut. Matanya merah karena kurang tidur.
“Sari, kita perlu bicara.”
“Kita bisa berbicara melalui pengacara.”
“Aku ingin melihat anak-anak.”
Sari terdiam sejenak.
“Mereka sedang tidur. Dokter juga menyarankan agar mereka tidak terlalu sering dipindahkan atau diganggu selama masa pemulihan.”
“Aku ayah mereka!”
“Benar,” jawab Sari tenang. “Tetapi menjadi ayah bukan hanya soal menuntut hak. Itu juga soal tanggung jawab.”
Arjuna menunduk, lalu berkata dengan suara lebih pelan, “Aku bisa membatalkan perceraian ini. Uang lima ratus juta itu tetap untukmu. Kita mulai lagi.”
Sari menatapnya lama.
“Mulai lagi sebagai apa, Arjuna? Sebagai istri yang harus berpura-pura tidak tahu tentang Dewi? Sebagai ibu yang harus menyerahkan anak-anaknya kepada orang-orang yang menganggapnya tidak diperlukan?”
Arjuna tidak menjawab.
“Aku tidak pergi karena kamu memberiku surat cerai,” lanjut Sari. “Aku pergi karena kamu menunjukkan bahwa aku dan anak-anak tidak pernah menjadi prioritasmu.”
Ia menyerahkan sebuah amplop kepada pengacara Arjuna. Di dalamnya terdapat daftar transaksi dan salinan dokumen yang akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditinjau.
“Ini bukan ancaman. Aku ingin semuanya diperiksa secara sah. Jika ada uang yang memang bukan hakmu untuk dialihkan, kamu harus bertanggung jawab.”
Arjuna memandang amplop itu dengan tangan gemetar.
“Sari, kamu benar-benar ingin menghancurkan hidupku?”
Sari menggeleng.
“Aku tidak perlu menghancurkan hidupmu. Aku hanya berhenti membiarkanmu menghancurkan hidupku.”
Pintu ditutup setelah pembicaraan selesai.
Arjuna berdiri di teras dalam keheningan, menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia anggap terlalu lemah untuk melawannya kini tidak lagi membutuhkan persetujuannya untuk menentukan masa depan.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan terhadap transaksi keuangan masih berlangsung. Arjuna harus memberikan penjelasan atas sejumlah pengalihan dana, sementara status rumah Dewi dan sumber pembeliannya ikut diperiksa. Tidak semua dugaan langsung terbukti, tetapi cukup banyak ketidaksesuaian yang membuatnya tidak bisa lagi mengabaikan persoalan tersebut.
Dewi mulai menjauh ketika mengetahui bahwa hubungannya dengan Arjuna tidak akan memberinya kehidupan nyaman seperti yang dijanjikan. Ia bahkan menyewa pengacara sendiri untuk melindungi kepentingannya.
Ratna akhirnya datang menemui Sari tanpa rombongan dan tanpa kemarahan.
Ia berdiri di depan pintu sambil membawa empat pasang pakaian bayi.
“Aku ingin melihat cucu-cucuku,” katanya lirih. “Aku juga ingin meminta maaf.”
Sari tidak langsung menjawab.
Ia tahu Ratna pun telah menyakitinya, terutama ketika lebih memilih mempercayai putranya daripada mendengarkan keluhannya selama kehamilan.
Namun, ia juga tahu bahwa keempat anaknya kelak berhak mengenal keluarga mereka, selama hubungan itu aman dan sehat.
“Untuk sekarang, kita mulai dengan pertemuan singkat yang sudah disepakati bersama pendamping. Tidak ada yang boleh membawa anak-anak pergi tanpa persetujuan. Dan saya tidak ingin mendengar siapa pun mengatakan bahwa mereka milik keluarga tertentu.”
Ratna menunduk.
“Baik.”
Beberapa bulan berlalu. Sari perlahan pulih dan mulai membangun kehidupan baru bersama keempat anaknya. Ia menyewa rumah yang lebih nyaman, melanjutkan pekerjaannya dari rumah, dan menjalani proses hukum dengan bantuan penasihat yang dipercaya.
Suatu sore, ketika keempat bayinya tertidur berdampingan, Sari menerima sepucuk surat dari Arjuna.
Isinya singkat. Untuk pertama kalinya, lelaki itu tidak meminta uang kembali, tidak mengancam, dan tidak menyuruhnya pulang. Ia hanya mengakui bahwa selama ini ia lebih mementingkan kekuasaan daripada keluarga, lalu meminta kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan anak-anak secara bertanggung jawab.
Sari melipat surat itu dan menyimpannya.
Ia belum memaafkan Arjuna sepenuhnya. Kepercayaan bukan benda yang bisa dibeli kembali dengan cek lima ratus juta, apalagi setelah bertahun-tahun dikhianati.
Namun, ia tidak lagi merasa perlu membalas setiap luka dengan luka baru.
Di atas meja, empat gelang identitas bayi tersusun rapi. Di sampingnya terletak surat perceraian yang telah ditandatangani pada malam ketika hidupnya terasa runtuh.
Sari menatap kedua benda itu, lalu tersenyum tipis.
Arjuna pernah mengira uang bisa membuatnya pergi tanpa perlawanan. Ia juga mengira keempat anaknya akan otomatis menjadi milik keluarga yang memiliki rumah besar dan nama terkenal.
Ia salah dalam kedua hal itu.
Sebab keluarga bukan ditentukan oleh siapa yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling keras berbicara.
Keluarga adalah tentang siapa yang tetap hadir ketika keadaan menjadi sulit, siapa yang bersedia bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, dan siapa yang tidak menjadikan cinta sebagai alat untuk mengendalikan orang lain.
Sari mengangkat salah satu bayinya dengan hati-hati, lalu mengecup kening mungilnya.
Di luar, matahari perlahan tenggelam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak takut menghadapi hari esok.
Ia tidak tahu apakah Arjuna akan benar-benar berubah. Ia juga tidak tahu seperti apa masa depan keempat anaknya kelak.
Namun, satu hal kini ia yakini.
Malam ketika suaminya memberikan cek lima ratus juta dan surat cerai bukanlah akhir hidupnya.
Itu adalah malam ketika ia akhirnya berhenti menjual kebahagiaannya sendiri demi mempertahankan sebuah pernikahan yang hanya ia perjuangkan seorang diri.
