Tiga hari setelah menerima akta cerai, aku menjual rumah yang selama ini kutanggung untuk ibu mertuaku dan menghentikan seluruh transfer bulanan kepada keluarga mantan suamiku. Namun, Dimas baru menyadari bahwa hidupnya sedang runtuh ketika ia sedang menikmati liburan romantis bersama selingkuhannya di Bali.
Pagi itu, ponselku berdering tanpa henti.
Nama Dimas muncul di layar.
Aku sedang duduk di ruang makan bersama Alya, putri kami yang berusia empat belas tahun. Di hadapanku ada dua gelas teh hangat dan setumpuk dokumen yang sudah kutandatangani sejak kemarin.
Aku membiarkan telepon itu berdering.
Lalu sebuah pesan masuk.
“Rat, kenapa kartu kreditku ditolak? Kamu mengubah sesuatu?”
Aku tersenyum tipis.
Akhirnya, dia mulai menyadari akibat dari perbuatannya sendiri.
Selama lima belas tahun pernikahan kami, aku selalu menjadi orang yang menyelesaikan masalah. Ketika ayahnya sakit, aku membayar biaya pengobatan. Ketika adiknya menganggur, aku mengirim delapan juta rupiah setiap bulan. Ketika ibunya membutuhkan rumah, aku menggunakan tabungan dan mengambil pinjaman atas namaku.

Sementara itu, Dimas menghabiskan uang kami untuk perempuan lain.
Aku membuka pesan darinya, kemudian membalas singkat.
“Mulai sekarang, urus hidupmu sendiri.”
Belum sempat meletakkan ponsel, panggilannya masuk lagi.
“Kamu bercanda, kan? Transferan Fajar juga berhenti! Ibu meneleponku, katanya rumahnya mau dijual. Apa maksudmu?”
Aku menyesap teh sebelum menjawab.
“Rumah itu atas namaku, Dimas. Aku sudah menyelesaikan semua urusan hukumnya. Pembeli sudah menandatangani perjanjian, dan proses pengosongan rumah dilakukan sesuai kesepakatan.”
“Kamu gila? Itu rumah ibuku!”
“Kalau begitu, seharusnya kamu yang membelikannya rumah.”
Dia terdiam.
Aku bisa membayangkan wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan tangannya mencengkeram ponsel. Selama ini, Dimas terbiasa menganggap penghasilanku sebagai milik bersama ketika dia membutuhkan sesuatu, tetapi menganggap penghasilannya sebagai hak pribadi ketika ingin bersenang-senang.
“Rat, kita masih bisa bicara baik-baik. Jangan mempermalukan keluarga.”
Aku hampir tertawa.
“Kamu memikirkan keluarga ketika mentransfer dua ratus tujuh puluh lima juta rupiah untuk membeli apartemen bersama Keisya?”
Sambungan mendadak sunyi.
Aku melanjutkan, “Aku punya salinan dokumennya. Aku juga punya bukti transfer, tagihan hotel, dan pesan-pesan kalian. Jangan berpura-pura menjadi korban.”
“Siapa yang memberitahumu?”
“Kesalahanmu sendiri.”
Aku mengakhiri panggilan.
Sebenarnya, menjual rumah itu bukan keputusan yang kuambil karena marah. Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara, memeriksa status kepemilikan, dan memastikan transaksi dilakukan sesuai hukum. Rumah tersebut tercatat atas namaku, dan aku berhak mengambil keputusan atas aset itu sesuai ketentuan yang berlaku.
Aku tidak ingin membalas pengkhianatan dengan tindakan gegabah. Aku hanya ingin menghentikan kebiasaan membiayai orang-orang yang tidak pernah menghargai pengorbananku.
Namun, ternyata Dimas belum selesai membuat keributan.
Sore harinya, ibu mertuaku menelepon.
“Ratri, tega sekali kamu melakukan ini kepada Ibu!” suaranya bergetar. “Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri.”
Aku memejamkan mata.
“Bu, selama bertahun-tahun saya membayar kebutuhan rumah itu. Saya tidak pernah meminta Ibu mengembalikan uang saya.”
“Kalau begitu, kenapa sekarang kamu mengambil rumahnya?”
“Karena saya tidak bisa terus membiayai kehidupan keluarga ini setelah bercerai dari Dimas.”
“Tapi Dimas anak Ibu!”
“Benar, Bu. Dan dia juga ayah Alya. Namun, ketika dia memilih menghabiskan uang kami untuk perempuan lain, dia tidak memikirkan anaknya sendiri.”
Ibu mertua menangis. Dahulu, suara tangisnya selalu membuatku mengalah. Kali ini, aku membiarkannya menangis tanpa mengubah keputusanku.
Setelah telepon berakhir, Alya menghampiriku.
“Ibu merasa bersalah?”
Aku menggeleng perlahan.
“Ibu sedih karena semuanya berakhir seperti ini. Tapi Ibu tidak menyesal berhenti membiarkan orang lain memanfaatkan Ibu.”
Alya menggenggam tanganku.
“Kalau begitu, kita mulai lagi, ya?”
Aku memeluknya erat.
“Ya, Sayang. Kita mulai lagi.”
Sementara itu, di Bali, Dimas menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.
Keisya sedang duduk di tepi kolam renang hotel ketika Dimas menghampirinya dengan wajah pucat.
“Ada masalah apa lagi?” tanyanya kesal.
“Kartu kreditku diblokir. Rekening bersama juga bermasalah.”
Keisya langsung berdiri.
“Apa maksudmu?”
“Ratri tahu tentang apartemen kita.”
Wajah Keisya berubah.
“Katamu istrimu tidak akan tahu!”
“Dia sudah bukan istriku. Kami sudah resmi bercerai.”
“Kalau begitu, kenapa uangnya tidak bisa kamu ambil?”
Dimas tidak menjawab.
Selama ini, Keisya percaya Dimas memiliki bisnis yang berkembang pesat, investasi di beberapa tempat, dan tabungan yang cukup untuk memulai hidup baru bersamanya.
Dimas memang sering bercerita tentang kekayaannya. Dia hanya tidak pernah menjelaskan bahwa sebagian besar kenyamanan hidupnya berasal dari uang Ratri.
Ketika Keisya meminta melihat dokumen pembelian apartemen, Dimas mencoba menghindar.
Namun, perempuan itu tidak menyerah.
“Katamu kamu sudah menyiapkan semuanya. Kamu bilang setelah perceraian selesai, kita bisa hidup tanpa sembunyi-sembunyi.”
“Aku akan menyelesaikannya.”
“Dengan uang siapa?”
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada semua telepon dari mantan istrinya.
Malam itu, Keisya meminta Dimas menunjukkan rekening pribadinya. Saldo yang tersisa jauh lebih sedikit daripada yang dijanjikannya. Sebagian besar uang yang dipindahkan ke perusahaan properti ternyata tidak dapat dikembalikan begitu saja karena transaksi pembelian sudah memasuki tahap yang mengikat secara kontraktual.
Lebih buruk lagi, dokumen pembelian itu sedang diperiksa setelah muncul persoalan mengenai sumber dana dan kewajiban pembayaran.
Keisya merasa dibohongi.
“Kamu bilang uang itu hasil bisnismu!”
Dimas menunduk.
“Sebagian memang dari rekening keluarga.”
“Sebagian? Kamu menggunakan uang istrimu untuk membelikanku apartemen?”
“Kei, dengarkan aku dulu.”
Keisya mengambil tasnya.
“Aku tidak mau menghabiskan hidup bersama laki-laki yang bahkan tidak bisa membedakan uangnya sendiri dengan uang orang lain.”
Dia pergi malam itu, meninggalkan Dimas sendirian di hotel.
Keesokan paginya, Dimas kembali ke Jakarta lebih awal.
Dia datang ke apartemenku tanpa memberi kabar. Namun, pintu tidak terbuka untuknya. Aku sudah pindah bersama Alya ke tempat tinggal baru yang tidak diketahuinya.
Dia meneleponku berkali-kali sampai akhirnya aku mengangkatnya.
“Aku mau bertemu Alya,” katanya.
“Kamu bisa mengatur pertemuan dengannya melalui cara yang sudah disepakati dalam proses perceraian.”
“Aku ayahnya!”
“Dan aku tidak pernah melarangmu menjadi ayahnya. Tapi jangan gunakan Alya sebagai alasan untuk masuk kembali ke hidupku.”
Suaranya melemah.
“Rat, aku tahu aku salah.”
Aku terdiam sesaat. Dahulu, kalimat itu mungkin cukup untuk membuatku memaafkannya.
“Aku kehilangan semuanya,” lanjutnya. “Ibu tidak mau bicara denganku. Fajar marah karena uang bulanannya berhenti. Keisya meninggalkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Kamu masih punya kesempatan untuk bertanggung jawab atas hidupmu sendiri.”
“Bisakah kita kembali seperti dulu?”
Aku menatap Alya yang sedang belajar di meja dekat jendela.
“Tidak, Dimas. Aku tidak ingin kembali menjadi perempuan yang dulu.”
Aku memutus panggilan.
Beberapa bulan berlalu. Rumah di Bantul telah berpindah tangan, hasil penjualannya kugunakan untuk melunasi kewajiban yang terkait dengan properti itu dan menata kembali keuangan kami. Aku juga memastikan hak Alya terlindungi melalui proses yang sesuai hukum.
Aku kembali bekerja dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku bisa pulang tanpa memikirkan transfer delapan juta rupiah, tagihan keluarga Dimas, atau alasan baru yang harus kuterima.
Lalu, suatu sore, sebuah amplop tiba di kantorku.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan dari Dimas.
Dia mengakui bahwa selama ini dia menganggap pengorbananku sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia. Dia menulis bahwa dia baru memahami arti kehilangan setelah tidak ada lagi orang yang membereskan kekacauan yang dibuatnya.
Di bagian akhir surat, ada satu kalimat yang membuatku berhenti membaca.
“Aku baru sadar, Rat, bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar membangun rumah. Aku hanya tinggal di dalam kehidupan yang kamu bangun untukku.”
Aku melipat surat itu dan menyimpannya di laci.
Bukan karena aku ingin kembali, melainkan karena untuk pertama kalinya Dimas mengatakan sesuatu yang benar tanpa meminta uang, bantuan, atau kesempatan kedua.
Malamnya, Alya bertanya apakah aku masih mencintai ayahnya.
Aku berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Dulu, Ibu sangat mencintainya. Tapi cinta tidak berarti Ibu harus terus menerima perlakuan yang menyakiti Ibu.”
Alya mengangguk, lalu memelukku.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar bahwa Dimas mulai bekerja lagi dan menyewa rumah sederhana untuk ibunya. Fajar juga akhirnya mencari pekerjaan tetap setelah tidak ada lagi uang bulanan yang bisa diandalkan.
Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar berubah. Itu bukan lagi tanggung jawabku.
Yang kutahu, pada usia empat puluh tahun, aku akhirnya belajar bahwa kebaikan tanpa batas bisa membuat orang lain lupa menghargai kita, dan pengorbanan yang terus dipaksakan bukanlah bukti cinta.
Aku pernah mengira perceraian adalah akhir dari keluargaku.
Ternyata, justru pada hari akta cerai itu kuterima, aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rumah, uang, atau seorang suami.
Aku mendapatkan kembali diriku sendiri.
