Nganterin jen4zah tanggung jawabnya besar. Resiko diganggu jin atau makhluk halus pernah dialami sebagian orang. Itulah kenapa jenaz4h harus segera dimakamkan.

Bu RT yang masih memegang pakaian Ranti tiba-tiba terdiam. Wajahnya pucat ketika melihat bercak kecokelatan di kain tersebut. Ia mencoba berpikir positif, tetapi ada sesuatu yang membuat tengkuknya meremang.

“Bu Ningsih, coba lihat ini,” panggilnya pelan.

Namun, Bu Ningsih belum juga sadar. Beberapa perempuan yang sedang menyiapkan air untuk memandikan jenazah segera mendekat.

“Itu darah, Bu?” tanya salah seorang warga.

Bu RT mengangguk ragu. “Sepertinya begitu. Tapi, kenapa ada di sini?”

Windu yang sejak tadi duduk di sudut ruangan langsung mengangkat kepala. Matanya yang sembap tertuju pada pakaian kakaknya.

“Jangan dibuang, Bu,” katanya tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

“Itu baju Mbak Ranti. Tolong jangan dibuang.”

Bu RT mengangguk dan meletakkan pakaian itu di wadah terpisah. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan pertanyaan yang belum tentu memiliki jawaban.

Tak lama kemudian, Bu Ningsih siuman. Begitu melihat tubuh Ranti terbujur di atas meja, perempuan itu langsung merangkak mendekati putrinya sambil menangis sesenggukan.

“Ranti, Le… tangi, Nduk. Ibu wis masak panganan kesukaanmu. Kowe janji arep mulih, kok malah turu terus ngene?”

Ranti tidak menjawab.

Tangisan Bu Ningsih membuat orang-orang di ruangan itu ikut terisak. Bahkan Pak Diman, yang sejak perjalanan berusaha terlihat tegar, menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya.

Ketika warga mulai mempersiapkan pemandian jenazah, Windu mendadak berdiri.

“Tunggu! Aku mau bicara sama Mbak Ranti dulu.”

“Windu, Nak, jangan begitu,” bujuk ibunya sambil meraih tangannya.

“Aku cuma sebentar, Bu.”

Windu mendekati tubuh kakaknya. Ia menggenggam tangan Ranti yang sudah dingin, lalu membisikkan sesuatu di dekat telinganya.

“Mbak, aku sudah pulang. Aku sudah mengantarmu pulang seperti yang Mbak minta. Sekarang bangun, Mbak. Jangan bikin aku sendirian.”

Tak seorang pun mengetahui bahwa sebelum berangkat dari kota, Windu sempat mendengar pesan terakhir Ranti. Saat itu, kakaknya hanya berkata, “Kalau nanti aku kenapa-kenapa, jangan biarkan orang-orang mengambil barang di tas cokelatku.”

Windu mengira kakaknya hanya sedang bercanda. Namun, sesaat sebelum Ranti meninggal, perempuan itu kembali menyebut tas tersebut dengan suara lemah.

Kini, tas cokelat itu berada di dalam mobil Pak Diman.

Windu bergegas keluar rumah dan mengambilnya. Ketika kembali, ia mendapati beberapa warga sedang membicarakan bercak darah di pakaian Ranti.

“Windu, kamu tahu sesuatu tentang ini?” tanya Bu RT dengan hati-hati.

Windu menggeleng. “Aku nggak tahu, Bu. Tapi aku harus memeriksa barang-barang Mbak Ranti.”

Ia membuka tas itu di hadapan ibunya dan Pak Diman. Di dalamnya terdapat dompet, beberapa lembar pakaian, ponsel yang sudah mati, serta sebuah amplop putih dengan tulisan tangan Ranti.

Untuk Ibu dan Windu.

Tangan Windu gemetar saat membuka amplop tersebut.

Di dalamnya ada sepucuk surat dan sebuah kuitansi pembayaran rumah sakit. Windu membaca surat itu dalam diam. Semakin jauh matanya menyusuri tulisan kakaknya, semakin sulit ia mengatur napas.

“Mbak Ranti sakit?” tanya Bu Ningsih lirih.

Windu tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan surat itu kepada ibunya.

Ranti ternyata telah lama mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit serius. Ia sengaja merahasiakannya agar ibunya tidak khawatir dan Windu tetap bisa melanjutkan pekerjaannya di kota. Sebagian besar uang yang selama ini dikirim Ranti ke kampung ternyata berasal dari tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja.

Di bagian akhir surat, Ranti menulis bahwa ia ingin pulang sebelum Lebaran, duduk bersama keluarganya, dan makan masakan ibunya sekali lagi.

Bu Ningsih menutup mulutnya, menahan tangis yang kembali pecah.

“Anakku… kenapa kamu simpan semuanya sendiri?”

Windu memeluk ibunya. Kini ia mengerti mengapa kakaknya sering terlihat kelelahan, mengapa Ranti beberapa kali menolak makan, dan mengapa perempuan itu begitu bersikeras mengajaknya pulang.

Namun, masih ada satu hal yang belum terjawab.

Bercak darah pada pakaian Ranti.

Ketika Pak Diman memeriksa kuitansi rumah sakit, ia menemukan selembar kertas kecil terselip di baliknya. Kertas itu bukan surat dokter, melainkan catatan dengan nomor telepon dan sebuah kalimat pendek.

Jika sesuatu terjadi padaku, hubungi Pak Harun.

Pak Diman mengenali nama itu. Harun adalah orang yang dahulu merekrut Ranti dan Windu untuk bekerja di kota.

“Windu, kamu tahu siapa Pak Harun?” tanyanya.

Windu mengangguk. Wajahnya berubah tegang.

“Dia yang mengurus pekerjaan kami. Tapi kenapa Mbak Ranti menyimpan nomornya?”

Belum sempat mereka mencari jawaban, ponsel Pak Diman berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.

Ia mengangkatnya.

“Assalamualaikum. Ini keluarga Ranti?”

“Betul. Ini siapa?”

“Saya Harun. Saya dengar Ranti sudah dibawa pulang. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Tolong jangan langsung menguburkan dia sebelum keluarga memeriksa semua barangnya.”

Pak Diman menatap Windu.

“Maksud Bapak apa?”

Suara di seberang terdengar berat. “Ranti bukan meninggal seperti yang kalian kira. Sebelum meninggal, dia sempat menghubungi saya. Dia bilang ada orang yang mengancamnya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Windu merebut ponsel itu. “Pak, siapa yang mengancam Mbak Ranti?”

“Saya belum bisa memastikan. Tapi saya punya rekaman percakapan terakhirnya. Saya sedang menuju rumah kalian.”

Sambungan terputus.

Beberapa menit kemudian, suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk dengan napas terengah-engah. Ia memperkenalkan diri sebagai Harun, lalu menunjukkan rekaman suara di ponselnya.

Suara Ranti terdengar lemah.

“Pak, saya takut. Mereka tahu saya menyimpan bukti itu. Kalau saya tidak pulang, tolong beri tahu Ibu saya bahwa saya minta maaf.”

Lalu terdengar suara seorang laki-laki yang tidak dikenal.

“Kamu pikir ada yang bakal percaya sama kamu?”

Rekaman berakhir.

Windu merasa lututnya kehilangan tenaga. Selama ini, ia mengira kakaknya hanya kelelahan bekerja. Ternyata Ranti menyimpan ketakutan yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada adiknya sendiri.

Harun kemudian menjelaskan bahwa Ranti pernah menemukan dugaan penyelewengan upah para pekerja di tempat mereka bekerja. Ia mengumpulkan bukti berupa catatan pembayaran dan pesan-pesan yang berkaitan dengan persoalan itu. Sejak saat itu, Ranti mengaku mendapat tekanan agar berhenti mencari tahu.

“Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya,” kata Harun. “Tapi bukti yang dia simpan mungkin bisa membantu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Pak Diman segera menghubungi polisi. Atas saran petugas, keluarga tidak mengubah atau membuang barang-barang Ranti. Pakaian yang bercak darahnya ditemukan Bu RT juga disimpan untuk diperiksa lebih lanjut.

Malam itu, pemakaman yang semula direncanakan berlangsung sesegera mungkin harus menunggu pemeriksaan awal sesuai arahan petugas. Warga bergantian menemani keluarga, sementara Windu duduk di samping ibunya, menggenggam surat kakaknya.

Menjelang tengah malam, ponsel Ranti yang sejak tadi mati akhirnya menyala setelah diisi daya.

Sebuah pesan masuk.

Pesan itu dikirim beberapa jam sebelum Ranti meninggal.

Isinya hanya satu kalimat.

“Kalau kamu sudah sampai rumah, jangan percaya kepada orang yang mengantarmu pulang.”

Windu membaca kalimat itu berulang kali. Wajahnya mendadak pucat.

Ia menoleh ke arah Pak Diman, sopir yang telah mengantarkan mereka melintasi perjalanan panjang dari kota ke kampung.

Pak Diman melihat layar ponsel tersebut. Ia terdiam lama, lalu menarik napas berat.

“Windu,” katanya pelan, “ada sesuatu yang belum Bapak ceritakan.”

Semua orang menatapnya.

Pak Diman akhirnya mengaku bahwa di sebuah pom bensin, sebelum melanjutkan perjalanan, ia pernah mendengar suara perempuan memanggil namanya dari dalam toilet. Ketika ia memeriksa tempat itu, tidak ada siapa-siapa. Namun, di cermin, ia melihat tulisan yang seolah baru dibuat dengan jari.

Jangan biarkan mereka menguburkannya sebelum kebenaran ditemukan.

Ia tidak menceritakan kejadian itu karena takut dianggap mengada-ada.

Windu kembali menatap kakaknya. Kali ini, ia tidak tahu apakah rasa dingin yang menjalar di tubuhnya berasal dari ketakutan, kesedihan, atau sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Pagi harinya, polisi menemukan bukti penting dalam barang-barang Ranti. Penyelidikan berlanjut, dan keluarga akhirnya mengetahui bahwa kematian Ranti berkaitan dengan persoalan yang selama ini disembunyikan di tempat kerjanya.

Namun, ketika semua urusan selesai dan jenazah Ranti akhirnya dimakamkan, Windu menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam.

Di dalam saku kecil tas cokelat kakaknya, terselip secarik kertas yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Tulisan di atasnya sangat singkat.

“Windu, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah pulang. Jangan salahkan dirimu karena tidak bisa menyelamatkanku. Kamu sudah melakukan hal terakhir yang kuminta. Kamu membawaku pulang.”

Windu memeluk kertas itu sambil menangis.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan panjang tersebut, ia merasa bisa menarik napas tanpa dihantui penyesalan.

Ia akhirnya memahami bahwa mengantarkan seseorang pulang bukan hanya tentang membawa tubuhnya kembali ke kampung halaman. Terkadang, itu juga berarti membawa pulang kebenaran yang selama ini terpendam.

Dan bagi Ranti, kepulangan terakhir itu bukan sekadar akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari terbukanya rahasia yang selama ini tak seorang pun berani ungkapkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang