Sendok di tangan Bu Ratih jatuh dan menghantam lantai. Tak seorang pun bergerak untuk mengambilnya.
Arga menatapku seolah baru pertama kali melihat perempuan yang telah dinikahinya selama tiga tahun.
“Pemilik baru?” suaranya bergetar. “Maksud Bapak, Nadira?”
Pak Surya mengangguk tenang. “Betul. Ibu Nadira Prameswari adalah pemegang saham mayoritas yang baru. Proses pengalihan saham sudah diselesaikan sesuai perjanjian. Hari ini kami hanya membutuhkan tanda tangan terakhir untuk pengesahan administrasi.”
Rian langsung berdiri dari sofa. Wajahnya yang semula penuh percaya diri kini terlihat pucat.
“Jadi, Kak Nadira punya saham perusahaan sebesar apa?”
Papa meletakkan map kulitnya di atas meja.
“Lebih dari cukup untuk menentukan siapa yang layak memimpin perusahaan itu.”
Bu Ratih buru-buru merapikan rambutnya, kemudian tersenyum canggung kepadaku.
“Nadira, Nak, kenapa selama ini tidak pernah cerita? Ibu benar-benar tidak tahu kalau keluarga kamu ternyata orang berada.”
Aku memandangnya tanpa senyum.
“Bukankah kemarin Ibu bilang aku harus hidup sesuai kemampuan suamiku?”
Wajahnya memerah.
“Itu karena Ibu tidak tahu keadaan sebenarnya.”
“Kalau Ibu tahu siapa ayahku sejak awal, apakah Ibu akan memperlakukanku berbeda?”
Bu Ratih membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Aku tidak membutuhkan jawabannya. Sikapnya pagi itu sudah menjelaskan semuanya.
Papa kemudian menoleh kepada Arga.
“Duduklah. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”
Arga duduk perlahan. Tangannya saling menggenggam di atas lutut.
Pak Surya membuka koper yang dibawanya. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen perusahaan, laporan keuangan, dan satu map merah yang diberi label khusus.
“Selama enam bulan terakhir, dewan komisaris menemukan sejumlah transaksi yang tidak sesuai dengan prosedur,” katanya. “Ada pengadaan fiktif, pembayaran kepada perusahaan perantara, dan penggunaan dana operasional untuk kepentingan pribadi.”
Arga menggeleng cepat.
“Pak, saya tidak tahu apa-apa soal itu.”
Pak Surya mengeluarkan selembar laporan.
“Nama Anda muncul dalam beberapa persetujuan pembayaran.”
“Itu kewenangan atasan saya!”
“Benar. Namun, ada satu transaksi yang membuat kami meminta audit lebih lanjut.”

Ia mendorong dokumen itu ke hadapan Arga.
Nilainya Rp3,2 miliar.
Penerimanya adalah sebuah perusahaan katering milik Rian.
Aku menatap adik iparku. Ia langsung berdiri.
“Itu bukan urusan saya! Perusahaan saya memang memasok makanan untuk beberapa proyek!”
Pak Surya tidak terpancing.
“Perusahaan Anda baru berdiri dua bulan sebelum kontrak ditandatangani. Alamat kantornya ternyata rumah kosong. Tidak ada catatan pengiriman yang sesuai dengan nilai tagihan.”
Arga memandang Rian dengan mata membelalak.
“Kamu bilang kontrak itu sudah diperiksa bagian pengadaan!”
Rian terdiam.
Bu Ratih mulai menangis.
“Ini pasti salah paham. Anak-anak saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”
Papa menjawab dengan suara dingin, “Karena itulah audit independen dilakukan. Tidak seorang pun akan dihukum hanya berdasarkan dugaan. Tetapi bukti-bukti ini harus diperiksa sampai tuntas.”
Aku memeluk Alya lebih erat.
Ternyata, penghinaan di meja makan hanyalah bagian kecil dari persoalan yang jauh lebih besar. Selama ini aku sengaja tidak mencampuri urusan kantor Arga. Aku ingin suamiku membangun kariernya sendiri tanpa merasa dibantu oleh keluargaku.
Aku bahkan meminta Papa agar tidak mengungkap kepemilikanku atas perusahaan tempat Arga bekerja.
Namun, rupanya ada orang yang mengira kesederhanaanku berarti aku tidak memiliki kuasa.
“Nadira,” Arga memanggilku pelan. “Kamu tahu soal semua ini?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu tidak pernah bilang bahwa keluargamu bisa membantu perusahaan?”
Aku menatapnya lama.
“Karena aku ingin kamu mencintaiku tanpa menghitung apa yang bisa kudapatkan untukmu.”
Ia menunduk.
“Bukankah selama ini aku sudah bekerja keras untuk keluarga kita?”
“Ya. Dan aku menghargai itu. Tapi bekerja keras bukan alasan untuk membiarkan istrimu dihina, apalagi ketika dia baru menjalani operasi dan masih kesakitan.”
Arga tidak menjawab.
Papa meminta semua orang memberi ruang agar aku bisa beristirahat. Namun, sebelum mereka pergi, Bu Ratih menghampiriku.
“Nak, Ibu minta maaf. Ibu hanya ingin kamu menjadi istri yang baik untuk Arga.”
Aku menatap tanganku yang masih memegang tubuh kecil Alya.
“Ibu, menjadi istri yang baik bukan berarti harus menerima semua perlakuan buruk. Dan menjadi menantu yang baik bukan berarti saya harus membuktikan kekayaan saya agar pantas dihormati.”
Bu Ratih menangis semakin keras.
Aku tidak mengusirnya. Aku juga tidak memeluknya. Aku hanya meminta agar ia memberiku waktu.
Setelah semua orang keluar, Arga tetap berdiri di ruang keluarga.
“Nadira, aku tahu aku salah. Aku seharusnya membelamu kemarin.”
“Bukan hanya kemarin, Ga.”
Ia mengangkat wajah.
“Aku sering membiarkanmu merasa sendirian ketika keluargaku menyakitimu. Aku selalu meminta kamu bersabar karena itu lebih mudah daripada menegur mereka.”
Untuk pertama kalinya, Arga mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan keadaan.
“Aku masih mencintaimu,” katanya.
Aku memandangnya dengan mata lelah.
“Aku juga pernah sangat mencintaimu. Tapi aku perlu tahu apakah kamu mencintai aku, atau hanya mencintai kehidupan yang kita miliki.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin. Tapi perubahan tidak bisa dibuktikan dengan janji pagi ini.”
Aku memintanya tinggal sementara di rumah ibunya agar aku bisa memulihkan diri bersama Alya tanpa tekanan. Ia tidak membantah. Sebelum pergi, ia mencium kening putri kami dan berbisik bahwa ia akan tetap bertanggung jawab sebagai ayah.
Aku berharap ia benar-benar melakukannya.
Dalam beberapa minggu berikutnya, audit menemukan bukti bahwa Rian menggunakan perusahaan fiktif untuk menyalurkan dana proyek. Arga memang menyetujui beberapa dokumen tanpa pemeriksaan memadai, tetapi penyelidikan juga menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui seluruh skema tersebut. Semua pihak yang terlibat diminta mempertanggungjawabkan tindakan masing-masing sesuai hasil pemeriksaan.
Aku mengambil alih tugas sebagai pemegang saham pengendali, tetapi tidak langsung memecat siapa pun. Aku membentuk tim audit independen, memperbaiki sistem pengadaan, dan memastikan perusahaan tetap membayar gaji para karyawan yang tidak terlibat.
Aku tidak ingin kekuasaan menjadi alat balas dendam.
Aku ingin perusahaan itu menjadi tempat orang dinilai berdasarkan kejujuran dan kemampuan, bukan hubungan keluarga.
Tiga bulan kemudian, Arga datang menemuiku. Ia membawa sebuket bunga sederhana dan sebuah amplop.
“Aku tidak datang untuk meminta kamu langsung menerimaku kembali,” katanya. “Aku datang untuk menunjukkan sesuatu.”
Di dalam amplop itu terdapat surat pengunduran dirinya dari jabatan supervisor.
“Aku sudah memberikan kesaksian lengkap kepada auditor. Aku juga mengembalikan bonus yang kuterima dari proyek-proyek yang sekarang sedang diperiksa. Aku tidak ingin menggunakan jabatan untuk menghindari tanggung jawab.”
Aku membaca surat itu dengan saksama.
“Lalu kamu akan bekerja di mana?”
“Belum tahu. Aku akan mencari pekerjaan berdasarkan kemampuanku sendiri.”
Aku melihat wajahnya. Ia tampak lebih kurus, tetapi kali ini tidak berusaha menyembunyikan ketakutannya di balik kesombongan.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa kita akan kembali seperti dulu,” kataku.
“Aku mengerti.”
“Kalau kamu ingin menjadi ayah yang baik, kamu bisa mulai dari sekarang. Jangan jadikan Alya alat untuk memintaku memaafkanmu.”
Arga mengangguk.
Sejak hari itu, ia mulai datang secara teratur untuk mengurus Alya, tanpa menuntutku kembali menjadi istrinya. Ia belajar mengganti popok, menyiapkan susu, dan menenangkan putrinya ketika menangis. Perubahan itu tidak langsung menghapus luka kami, tetapi setidaknya ia mulai memahami bahwa tanggung jawab tidak cukup diucapkan.
Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama Alya, Bu Ratih datang membawa kue buatannya sendiri.
Ia berdiri di depan pintu dengan wajah gugup.
“Ibu tidak tahu apakah kamu masih mau menerima Ibu di rumah ini,” katanya. “Tapi Ibu ingin meminta maaf sekali lagi, tanpa alasan.”
Aku mempersilakannya masuk.
Ketika melihat Arga sedang menggendong Alya di ruang keluarga, Bu Ratih menangis diam-diam. Ia lalu meletakkan kue di meja dan bertanya apakah aku ingin beristirahat sementara ia membantu menyiapkan makan malam.
Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berarti daripada semua permintaan maafnya.
Aku mengangguk.
Malam itu kami makan bersama. Tidak ada yang membahas saham, jabatan, atau kekayaan keluarga. Hanya ada makanan sederhana, tawa kecil Alya, dan percakapan yang tidak lagi dipenuhi sindiran.
Aku belum memutuskan apakah akan kembali hidup bersama Arga. Aku ingin melihat apakah perubahan itu akan bertahan ketika keadaan kembali sulit.
Sebelum pulang, Bu Ratih menggenggam tanganku.
“Dulu Ibu mengira perempuan yang baik adalah perempuan yang selalu diam. Sekarang Ibu mengerti, diamnya seseorang bukan berarti dia tidak punya harga diri.”
Aku tersenyum tipis.
Setelah pintu tertutup, aku menggendong Alya ke kamar dan memandang wajahnya yang tertidur.
Hari itu aku memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh uang, saham, atau jabatan.
Kekayaan bisa membuat orang terkejut, kekuasaan bisa membuat mereka menunduk, tetapi keduanya tidak pernah bisa menciptakan rasa hormat yang tulus.
Aku tidak ingin Alya tumbuh dengan keyakinan bahwa seorang perempuan harus menjadi kaya untuk pantas dihargai.
Aku ingin putriku tahu bahwa bahkan ketika ia tidak memiliki apa-apa selain suaranya sendiri, ia tetap berhak berkata bahwa dirinya sedang disakiti.
Sebab nilai seorang perempuan tidak pernah ditentukan oleh isi rekeningnya, rumah yang ditempatinya, atau siapa ayahnya.
Nilainya sudah ada sejak awal.
Dan orang yang benar-benar mencintainya tidak akan menunggu sampai sebuah koper penuh dokumen dan uang dibuka untuk menyadarinya.
