Mahasiswi Miskin Membawa Bayi ke Panggung Wisuda dan Dipermalukan Keluarga Pejabat, Namun Sebuah Amplop Membuat Rektor Menghentikan Acara di Hadapan Semua Tamu.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari foto itu. Sepatu hitam di depan pintu kontrakanku memang milik Farhan. Ada goresan putih di sisi kirinya, bekas kecelakaan kecil yang terjadi ketika kami masih tinggal bersama.

Mengapa dia kembali sekarang, tepat ketika laporan penyalahgunaan dana beasiswa yang kubuat enam bulan lalu mulai diperiksa?

Aku mengangkat wajah. Profesor Aditya masih berdiri di sampingku, sementara ratusan tamu menunggu kelanjutan prosesi wisuda. Aluna mulai menangis pelan dalam gendonganku.

“Pak, saya harus pulang,” kataku.

Rektor itu memperhatikan wajahku. “Apakah ada masalah, Naila?”

Aku menunjukkan pesan tersebut. Ekspresinya langsung berubah serius. Beliau memanggil petugas keamanan kampus dan meminta mereka memastikan keselamatanku, tetapi aku menolak meninggalkan auditorium sebelum menerima ijazah.

“Aku sudah berjuang empat tahun untuk hari ini, Bu,” bisikku kepada Aluna. “Kita tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya.”

Aku kembali berdiri tegak.

Ketika namaku dipanggil sekali lagi, aku maju ke tengah panggung. Profesor Aditya menyerahkan ijazah kepadaku, lalu menjabat tanganku dengan hangat.

“Selamat, Naila. Kamu pantas mendapatkannya.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Bahkan beberapa orang yang tadi terdiam kini berdiri. Aku memeluk ijazah dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang Aluna.

Namun, di barisan kehormatan, Ratih justru bergegas meninggalkan tempat duduknya bersama Celine.

Sebelum keluar, dia sempat menatapku dengan pandangan tajam.

Aku tahu masalah ini belum selesai.

Setelah prosesi berakhir, aku dibawa ke ruang rektorat. Di sana sudah menunggu kepala bagian hukum universitas, seorang auditor independen, dan seorang perempuan paruh baya bernama Bu Maya, ketua tim pemeriksa dana Yayasan Cahaya Generasi.

Amplop cokelat yang kulihat di panggung terletak di atas meja.

“Naila,” kata Bu Maya, “enam bulan lalu kamu melaporkan bahwa sejumlah mahasiswa penerima beasiswa tidak pernah menerima dana sesuai jumlah yang tercatat dalam laporan yayasan. Apakah kamu masih memiliki bukti?”

Aku mengangguk.

Aku mengeluarkan buku catatan lama dari tas. Di dalamnya terdapat tanggal pencairan, jumlah bantuan yang dijanjikan, serta uang yang benar-benar diterima oleh beberapa mahasiswa. Aku mengumpulkan informasi itu setelah teman-temanku mengeluh bahwa biaya penelitian mereka mendadak dipotong.

Awalnya aku mengira masalahnya hanya kesalahan administrasi. Namun, setelah mencocokkan bukti transfer dan kuitansi, aku menemukan pola yang sama.

Dana bantuan untuk puluhan mahasiswa tercatat telah dibayarkan penuh, padahal sebagian besar hanya menerima separuhnya.

“Kenapa kamu tidak langsung melaporkannya kepada polisi?” tanya auditor.

“Karena saya belum punya bukti lengkap. Saya tidak ingin menuduh orang tanpa dasar.”

Bu Maya membuka amplop itu.

“Pemeriksaan kami menemukan bahwa sebagian dana beasiswa dialihkan ke perusahaan konsultan yang tidak memiliki kegiatan sesuai kontrak. Perusahaan tersebut menerima pembayaran berulang selama tiga tahun.”

Aku menahan napas ketika sebuah nama muncul di halaman berikutnya.

Perusahaan itu dimiliki oleh keluarga Ratih Kusumawardani.

Celine ternyata tercatat sebagai pengurusnya, meskipun usianya masih sangat muda ketika perusahaan tersebut didirikan.

“Jadi, dana yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa digunakan untuk membiayai perusahaan keluarga mereka?” tanyaku.

“Dugaan itu didukung sejumlah transaksi, tetapi penyelidikan belum selesai,” jawab Bu Maya. “Kami membutuhkan bukti tambahan untuk mengetahui siapa yang menyetujui pemindahan dana.”

Tiba-tiba pintu diketuk keras.

Seorang petugas keamanan masuk dan melaporkan bahwa seorang pria menunggu di lobi. Namanya Farhan Adiwijaya. Dia mengaku sebagai suamiku dan bersikeras harus bertemu denganku.

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Biarkan dia masuk.”

Farhan muncul beberapa saat kemudian. Wajahnya lebih kurus daripada yang kuingat. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya langsung tertuju pada Aluna.

Dia mendekat, tetapi aku mundur selangkah.

“Jangan mendekat dulu. Kamu mau apa?”

Farhan menunduk. “Aku ingin menjelaskan semuanya.”

“Setelah meninggalkan aku ketika sedang hamil? Setelah tidak pernah menanyakan keadaan anakmu? Sekarang kamu datang tepat ketika kasus ini dibuka kembali?”

Dia mengeluarkan sebuah map tipis dari tasnya.

“Aku bekerja untuk perusahaan konsultan yang menerima dana dari yayasan itu. Awalnya aku hanya mengurus pengiriman dokumen. Aku tidak tahu uangnya berasal dari dana beasiswa.”

“Lalu?”

“Ketika aku menyadarinya, aku ingin berhenti. Mereka mengancam akan melaporkanku sebagai pelaku utama karena beberapa dokumen memakai tanda tanganku.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi, kamu meninggalkanku karena takut?”

Farhan mengangguk, air matanya mulai mengalir.

“Aku malu. Aku tidak punya pekerjaan tetap, utang menumpuk, dan mereka terus menekan aku. Aku pikir pergi akan membuatmu aman.”

“Kamu tidak membuatku aman, Farhan. Kamu membiarkan aku menghadapi semuanya sendirian.”

Dia tidak membantah.

Lalu dia membuka map tersebut dan menyerahkan beberapa salinan dokumen kepada auditor.

“Ini bukti bahwa perintah pemindahan dana berasal dari kantor yayasan. Ada juga surat yang menunjukkan siapa yang menyetujui pembayaran.”

Auditor memeriksanya dengan serius. Di halaman terakhir terdapat tanda tangan Ratih dan nama seorang pejabat yayasan.

Namun, ada satu dokumen lain yang membuat Bu Maya terdiam.

Surat itu berisi daftar penerima dana tambahan yang tidak pernah diumumkan secara resmi. Salah satu nama di sana adalah namaku.

Aku mengernyit.

“Saya tidak pernah menerima dana tambahan.”

“Benar,” kata Bu Maya. “Menurut dokumen ini, kamu seharusnya menerima bantuan penelitian sebesar Rp120 juta dua tahun lalu. Dana itu dicatat telah kamu terima melalui rekening perantara.”

Aku merasa seluruh ruangan mendadak berputar.

Uang itu seharusnya cukup untuk membiayai penelitian akhirku, membeli bahan laboratorium, dan membayar kebutuhan kuliah. Saat itu, aku bahkan harus bekerja malam hari demi mencukupi biaya penelitian.

“Siapa yang menerima uangnya?” tanyaku.

Farhan menatap lantai.

Aku menoleh kepadanya. “Kamu tahu sesuatu?”

Dengan suara nyaris tak terdengar, dia menjawab, “Aku pernah diminta mengirimkan dana itu ke rekening lain. Aku tidak tahu itu atas namamu sampai melihat dokumen lengkapnya.”

“Rekening siapa?”

Farhan mengangkat wajah, lalu menyebut nama yang tidak pernah kuduga.

Nama ibuku.

Aku terdiam. Ibuku telah meninggal dua tahun sebelumnya. Dia tidak mungkin menerima uang itu setelah kematiannya, apalagi menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Bu Maya segera memeriksa nomor rekening yang tercantum. Beberapa menit kemudian, auditor menemukan bahwa rekening tersebut memang pernah dibuka atas nama ibuku, tetapi tidak menggunakan alamat tempat tinggal kami.

Permohonan pembukaan rekening itu disertai salinan identitas lama ibuku dan tanda tangan yang tampak berbeda dari dokumen aslinya.

“Ini kemungkinan pemalsuan identitas,” kata auditor.

Aku memandangi dokumen tersebut dengan tangan dingin.

Selama ini aku mengira kemiskinan kami semata-mata disebabkan oleh keadaan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa seseorang mungkin sengaja mengambil hakku ketika aku sedang berjuang menyelesaikan kuliah.

Farhan kemudian menyerahkan sebuah surat yang dia simpan selama berbulan-bulan.

“Aku menemukan ini di arsip perusahaan sebelum pergi. Aku takut membawanya, tetapi sekarang aku sadar bahwa diam hanya membuat semuanya semakin buruk.”

Surat itu merupakan korespondensi internal antara yayasan dan perusahaan konsultan. Isinya menunjukkan bahwa dana atas namaku dialihkan melalui rekening perantara, lalu digunakan untuk membayar biaya pengobatan seseorang.

Aku membaca nama pasien yang tercantum pada lampiran.

Ratih Kusumawardani.

Bu Maya langsung meminta tim hukum mengamankan dokumen dan menyerahkannya kepada penyidik yang berwenang. Tidak ada yang berani menyimpulkan seluruh perkara saat itu juga, tetapi bukti yang terkumpul cukup untuk memperluas penyelidikan.

Aku tidak merasa puas mengetahui bahwa orang yang mempermalukanku mungkin terlibat dalam penggelapan dana. Aku justru memikirkan mahasiswa lain yang terpaksa berhenti kuliah karena kehilangan bantuan yang menjadi satu-satunya harapan mereka.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan resmi mengungkap bahwa dana bantuan pendidikan telah diselewengkan melalui perusahaan-perusahaan perantara. Ratih dan sejumlah pihak terkait diperiksa, sementara universitas bekerja sama dengan penyidik untuk memulihkan hak mahasiswa yang dirugikan.

Farhan juga harus mempertanggungjawabkan perannya. Dia bersedia memberikan kesaksian, tetapi aku tidak langsung memaafkannya. Kami mulai menjalani proses hukum dan pengurusan tanggung jawabnya terhadap Aluna secara terpisah dari hubungan pernikahan kami.

Aku menerima pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah negeri dan melanjutkan penelitian tentang akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.

Suatu sore, ketika aku menidurkan Aluna, aku menemukan amplop kecil terselip di antara dokumen lama milik ibuku. Di dalamnya terdapat sepucuk surat tulisan tangan yang belum pernah kubaca.

“Naila, jika suatu hari kamu mengetahui bahwa ada orang yang mengambil hakmu, jangan habiskan hidupmu hanya untuk membalasnya. Gunakan kebenaran untuk membuka jalan bagi orang lain.”

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak hari wisuda.

Ternyata, ibuku pernah mengetahui adanya masalah dengan bantuan pendidikan itu. Dia menyimpan salinan dokumen dan berusaha melaporkannya sebelum meninggal, tetapi tidak sempat menyelesaikan semuanya.

Di bagian bawah surat, ada satu kalimat yang membuatku menggenggam kertas itu erat-erat.

“Maafkan Ibu karena tidak sempat menyerahkan bukti itu sendiri.”

Kini aku memahami bahwa perjuanganku bukan hanya tentang ijazah, uang beasiswa, atau penghinaan di atas panggung.

Hari wisuda yang semula ingin dirampas dariku justru menjadi awal terbukanya kebenaran.

Dan ketika Aluna tumbuh besar nanti, aku ingin dia tahu satu hal.

Kemiskinan bukanlah aib. Membawa anak ke panggung bukanlah kehinaan. Yang seharusnya membuat seseorang menundukkan kepala adalah ketika dia memiliki kekuasaan, tetapi memilih merampas hak orang lain yang tidak berdaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang