Aku menatap Naya yang masih menggenggam tanganku erat-erat. Anak itu berusaha menahan tangis, seolah menangis pun merupakan kesalahan yang bisa membuatnya dihukum.
“Ke mana Om Damar akan membawamu besok?” tanyaku pelan.
Naya menggeleng. “Aku tidak tahu, Tante. Katanya ke luar kota untuk membantu usaha katering. Tapi aku pernah mendengar Mama bilang aku akan dititipkan kepada seseorang yang punya toko.”
Arga langsung berdiri.
“Siapa orang itu? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?”
Naya tersentak. Aku segera menyentuh lengan suamiku.
“Jangan membentaknya. Dia sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.”
Arga terdiam. Wajahnya memerah, bukan karena marah kepada Naya, melainkan karena baru menyadari betapa jauh dirinya dari kehidupan kedua anaknya sendiri.
Dokter keluar dari ruang tindakan beberapa menit kemudian. Kondisi Bima sudah lebih stabil setelah mendapatkan penanganan. Namun, dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan karena serangan sesaknya kali ini cukup berat.
Aku melihat Arga mengusap wajahnya berkali-kali.
“Berapa biaya pemeriksaannya, Dok?” tanyanya.
“Petugas administrasi akan menjelaskan. Yang terpenting sekarang, anak ini harus dipantau dan obatnya tidak boleh habis tanpa pengganti.”
Arga mengangguk, kemudian mengurus semua pembayaran. Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihatnya melakukan sesuatu tanpa bertanya kepada mantan istrinya terlebih dahulu.
Ketika kami kembali ke ruang tunggu, Naya sedang membagi nasi ayamnya menjadi dua bagian. Sebagian ia masukkan ke dalam kotak kecil untuk Bima.
Aku duduk di sebelahnya.
“Naya, kenapa kamu tidak pernah meminta bantuan kepada Papa?”
“Pernah, Tante. Dua bulan lalu aku menelepon Papa, tapi Mama bilang jangan membuat Papa bertengkar dengan keluarga barunya.”
Aku menelan ludah.
“Lalu?”
“Papa bilang akan menelepon kembali setelah rapat. Aku menunggu sampai malam. Setelah itu, aku tidak berani menelepon lagi.”
Arga yang berdiri tidak jauh dari kami mendengar semuanya. Ia menundukkan kepala, lalu duduk di lantai tepat di depan putrinya.
“Papa minta maaf, Nak.”
Naya tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali orang asing.
Pukul satu dini hari, kami membawa Bima pulang setelah dokter memastikan kondisinya cukup stabil untuk menjalani perawatan lanjutan di rumah dengan obat yang sesuai. Aku meminta Arga menghubungi Ranti dan memberitahukan bahwa kedua anak itu akan tinggal bersama kami sementara waktu.
Namun, ketika telepon tersambung, suara Ranti terdengar tenang.
“Anak-anak memang sedang bersamamu? Bagus. Besok kembalikan mereka. Aku sudah mengatur semuanya.”
“Mengatur apa?” tanya Arga.
“Jangan ikut campur. Kamu hanya perlu terus mengirim uang seperti biasa.”
“Uang itu untuk apa, Ranti? Untuk membayar sekolah Naya atau membiayai usaha Damar?”
Hening beberapa detik.
Kemudian Ranti tertawa kecil.
“Kamu baru menjadi ayah setelah istrimu yang baru mengajarimu?”
Arga mengepalkan tangan.
“Aku akan datang besok. Kita bicara langsung.”
“Silakan. Tapi jangan salahkan aku kalau anak-anak tidak mau kembali kepadamu.”
Telepon terputus.
Aku menatap suamiku. “Kita tidak boleh bertindak gegabah. Simpan semua bukti, hubungi pihak sekolah, dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Arga mengangguk. Malam itu, kami hampir tidak tidur.
Keesokan paginya, aku menghubungi SMP Harapan Bangsa. Pihak administrasi membenarkan bahwa Naya sudah tidak masuk selama hampir sebulan. Mereka juga menunjukkan salinan surat perpindahan sekolah yang diajukan oleh Ranti.
Yang membuat kami terkejut, surat tersebut menyatakan bahwa Naya akan pindah ke sebuah sekolah di luar kota dan tinggal bersama kerabat ibunya.
Tidak ada alamat lengkap. Tidak ada surat penerimaan dari sekolah tujuan.
Yang lebih mencurigakan, tanda tangan Arga tercantum sebagai persetujuan wali.
Aku meminta pihak sekolah menyimpan seluruh dokumen untuk keperluan pemeriksaan. Arga kemudian menghubungi pengacaranya agar pemalsuan tersebut ditangani secara resmi.
Siang harinya, kami mendatangi rumah Ranti di Banyumanik bersama pengacara dan seorang petugas pendamping perlindungan anak.
Damar membuka pintu dengan wajah kesal.
“Anak-anak sudah membuat keributan sampai rumah sakit? Kalian seharusnya tidak ikut campur urusan rumah tangga kami.”
“Ini juga urusan anak-anak saya,” jawab Arga.
Ranti muncul dari ruang tengah. Ketika melihat Naya, wajahnya berubah.
“Kamu mengambil dokumen itu dari mana?”
Naya langsung bersembunyi di belakangku.
Aku maju selangkah.
“Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa seorang anak harus menjual seragam sekolahnya untuk membeli obat adiknya.”
Ranti terdiam, tetapi Damar justru membentak.
“Anak-anak itu tinggal di rumah kami. Mereka makan dari uang kami. Wajar kalau Naya membantu pekerjaan!”
“Dengan mengorbankan sekolahnya?” tanya Arga. “Dan mengancam akan meninggalkan Bima di gudang?”
Damar tertawa sinis.
“Anak kecil suka membesar-besarkan cerita.”
Saat itulah Naya mengeluarkan ponsel lamanya.
“Aku merekamnya, Pa.”
Wajah Damar seketika berubah.
Naya menjelaskan bahwa ia mulai merekam percakapan di rumah karena takut tidak ada yang percaya. Rekaman itu berisi suara Damar yang memerintahkannya berhenti sekolah sementara, membantu usaha katering, dan mengancam akan mengirimnya kepada kenalannya jika menolak.
Ada pula percakapan Ranti tentang uang bulanan Arga yang digunakan untuk menutup utang usaha Damar.
Ranti mencoba merebut ponsel itu, tetapi petugas pendamping segera menghentikannya.
“Cukup,” kata Arga dengan suara bergetar. “Aku tidak akan membiarkan anak-anakku hidup seperti ini lagi.”
Namun, sebelum kami pergi, Ranti mengucapkan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.
“Kalian pikir aku melakukan semua ini karena ingin? Tanyakan kepada suamimu berapa lama dia membiarkan kami tanpa nafkah sebelum kalian menikah!”
Aku menoleh kepada Arga.
Ia tidak langsung menjawab.
Di mobil, setelah anak-anak tertidur, akhirnya ia mengaku bahwa dua tahun sebelumnya, usahanya pernah bangkrut. Selama beberapa bulan, ia memang terlambat mengirim uang kepada Ranti. Ia kemudian melunasi seluruh tunggakan, tetapi hubungan mereka sudah telanjur dipenuhi pertengkaran.
“Aku malu menceritakannya kepadamu,” katanya. “Aku takut kamu menganggapku gagal.”
Aku menatapnya lama.
“Kesalahanmu bukan karena pernah bangkrut, Ga. Kesalahanmu adalah mengira bahwa dengan mentransfer uang setiap bulan, kamu sudah menyelesaikan seluruh tanggung jawabmu sebagai ayah.”
Ia menunduk. Tidak ada pembelaan lagi.
Beberapa minggu berikutnya, kedua anak itu tinggal bersama kami sementara persoalan pengasuhan diperiksa oleh pihak berwenang. Naya kembali bersekolah, sedangkan Bima menjalani pemeriksaan medis lanjutan dan mendapatkan pengobatan yang dibutuhkannya.
Aku juga mengurus pendaftaran asuransi kesehatan dan membuat tabungan pendidikan khusus untuk mereka. Semuanya dilakukan secara terbuka bersama Arga, tanpa menyembunyikan apa pun.
Hubunganku dengan Naya tidak langsung berubah menjadi dekat. Ia masih sering meminta izin untuk mengambil makanan, bahkan untuk menggunakan sabun di kamar mandi.
Suatu malam, aku menemukannya mencuci seragamnya sendiri hingga larut.
“Besok biar Tante yang mencucinya,” kataku.
“Tidak usah, Tante. Aku tidak mau merepotkan.”
Aku duduk di sampingnya.
“Kamu tidak harus membayar kebaikan orang dengan menjadi anak yang sempurna.”
Naya terdiam. Kemudian, untuk pertama kalinya sejak malam di apotek, ia menangis sambil memelukku.
Sebulan kemudian, ketika keadaan mulai tenang, ia menyerahkan sebuah amplop kecil kepadaku. Di dalamnya ada uang receh yang pernah ia kumpulkan untuk membeli obat Bima.
“Aku mau mengembalikan uang Tante untuk nasi dan obat malam itu,” katanya.
Aku menggeleng.
“Uang itu simpan untuk keperluan sekolahmu.”
Naya menunduk, lalu bertanya dengan suara hampir tak terdengar.
“Kalau aku memanggil Tante Ibu, apa Tante akan marah?”
Dadaku terasa sesak. Selama ini aku begitu takut menjadi ibu sambung sampai lupa bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk kewajiban yang dipaksakan.
Aku memeluknya.
“Kalau kamu nyaman memanggil Tante Ibu, Ibu akan bahagia.”
Naya tersenyum di antara air matanya.
Beberapa hari kemudian, ia kembali dari sekolah membawa selembar formulir. Pada bagian hubungan dengan wali, ia menulis namaku sebagai ibu sambung.
Di bawahnya, ia menambahkan tulisan kecil dengan pensil.
“Ibu yang memilih tinggal.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dulu, aku menolak menjadi ibu sambung karena takut harus menanggung luka dari kehidupan yang bukan milikku. Namun, malam ketika Naya menawarkan seragamnya demi obat adiknya, aku memahami bahwa anak-anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dalam keluarga yang rumit.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit.
Dan ketika Bima berlari menghampiriku sambil membawa gambar keluarga yang dibuatnya di sekolah, aku menemukan diriku berdiri di tengah gambar itu, menggenggam tangan kedua anak tersebut.
Di atas gambar, Bima menulis satu kalimat sederhana.
“Rumah adalah tempat kami tidak perlu takut meminta pertolongan.”
Saat itu aku akhirnya mengerti, aku tidak pernah benar-benar dipaksa menjadi ibu sambung.
Aku hanya diberi kesempatan untuk menjadi rumah bagi dua anak yang terlalu lama merasa tidak memiliki tempat pulang.
