Notifikasi itu masih menyala di layar ponselku. Delapan puluh lima juta rupiah. Uang tabungan yang kukumpulkan selama tiga tahun, sebagian besar dari hasil katering kecil-kecilan yang kukerjakan diam-diam setelah pulang kantor.
Aku menatap Budi.
“Kenapa uang kita ditransfer ke rekening Putri?”
Wajahnya langsung pucat. Putri yang tadi berdiri dengan kesal mendadak duduk kembali. Bu Dewi merebut ponsel dari tanganku, seolah-olah dengan menguasainya, kenyataan bisa berubah.
“Ini urusan keluarga!” bentaknya. “Tidak perlu dibicarakan di depan semua orang.”
“Justru karena uang itu milik kami berdua, saya berhak tahu.”
Budi mendekat dan merendahkan suaranya. “Siti, kita bicarakan di rumah. Jangan mempermalukan aku di depan keluarga.”
Aku menatap meja kosong di belakangnya.
“Sejak tadi aku hanya meminta satu tempat untuk duduk. Kamu bahkan tidak mau memberikannya. Sekarang kamu meminta aku menjaga harga dirimu?”

Tidak ada yang menjawab.
Aku meletakkan kotak terakhir di dekat pintu, lalu membuka riwayat transaksi bank. Transfer itu dilakukan pukul 17.12, ketika aku masih berdiri di dapur menggoreng makanan untuk keluarga mereka. Ada transaksi lain tiga hari sebelumnya sebesar Rp15 juta, juga ke rekening Putri.
“Total seratus juta?” tanyaku.
Putri segera berdiri.
“Mas Budi bilang uang itu pinjaman keluarga!”
“Pinjaman untuk apa?” tanyaku.
Ia melirik ibunya sebelum menjawab terbata-bata, “Untuk menutup utang usaha suamiku.”
Aku menoleh kepada Budi. “Kamu mengambil uang tabungan kita tanpa izin untuk membayar utang adikmu?”
“Suaminya sedang kesulitan!” sahut Bu Dewi. “Kamu masih punya penghasilan. Bisa menabung lagi. Putri punya anak kecil, masa kamu tega melihatnya susah?”
Aku tertawa pelan, tetapi air mataku justru jatuh.
“Kalau saya yang kesulitan, siapa yang pernah menolong saya?”
Aku teringat tiga bulan lalu ketika ibuku harus menjalani operasi. Aku meminta Budi meminjamkan sebagian tabungan kami untuk biaya tambahan rumah sakit. Ia menolak dengan alasan uang itu harus dipertahankan demi masa depan keluarga.
Aku akhirnya membayar kekurangannya menggunakan tabungan pribadiku.
Sekarang aku tahu mengapa ia begitu mudah menolak permintaanku.
“Jadi, saat Ibu saya sakit, uang itu tidak boleh disentuh. Tetapi untuk utang suami Putri, seratus juta bisa dipindahkan tanpa sepengetahuan saya?”
Budi mengusap wajahnya.
“Aku berniat menjelaskannya setelah Tahun Baru.”
“Kapan? Setelah uangnya habis? Setelah aku memasak lagi untuk kalian semua?”
Paman Budi yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.
“Bud, kalau memang uang bersama, seharusnya kamu meminta persetujuan istrimu.”
Bu Dewi langsung menyela, “Paman tidak tahu masalah rumah tangga mereka. Jangan ikut campur.”
Namun kali ini, tak seorang pun kembali tertawa atau menyentuh gelas mereka.
Aku mengangkat tas makanan.
“Selamat Tahun Baru. Semoga tahun ini kita semua belajar membedakan keluarga dengan orang yang hanya memanfaatkan kita.”
Aku pergi tanpa menunggu jawaban.
Di dalam mobil, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena kehilangan seratus juta rupiah, melainkan karena akhirnya aku menyadari betapa lama aku berusaha mendapatkan tempat dalam keluarga yang selalu menganggap pengorbananku sebagai kewajiban.
Aku membawa makanan itu ke rumah ibuku di pinggiran Bekasi. Ibu terkejut melihatku datang hampir tengah malam dengan begitu banyak kotak.
“Kenapa membawa makanan sebanyak ini, Nak?”
Aku berusaha tersenyum.
“Karena malam ini aku memasak untuk dua puluh delapan orang, Bu, tetapi tidak ada satu pun yang menyediakan tempat untukku.”
Ibu tidak bertanya lagi. Ia hanya memelukku.
Kami memanaskan beberapa hidangan, lalu mengundang tetangga yang tinggal sendiri dan beberapa petugas keamanan kompleks yang sedang berjaga malam itu. Untuk pertama kalinya hari itu, aku duduk di meja makan tanpa harus berdiri untuk melayani siapa pun.
Seorang anak tetangga mengambil sepotong ayam dan berkata, “Tante, masakan Tante enak sekali!”
Kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa hangat.
Malam itu aku tidur di kamar lamaku. Pukul enam pagi, ponselku dipenuhi panggilan dari Budi.
Aku baru mengangkat telepon yang ketujuh.
“Kamu harus pulang sekarang,” katanya dengan suara tegang.
“Untuk apa?”
“Ibu marah besar. Keluarga sudah pulang. Kamu harus menjelaskan kepada mereka.”
“Menjelaskan apa?”
“Jangan mempersulit keadaan. Kita suami istri.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau begitu, jawab satu pertanyaan. Apakah kamu akan mengembalikan uang itu?”
Ia terdiam.
“Aku sedang mengusahakannya.”
“Dengan uang siapa?”
“Siti, jangan seperti ini!”
Aku menutup telepon.
Siang harinya, aku pergi ke bank untuk meminta penjelasan mengenai transaksi dari rekening bersama. Petugas menjelaskan bahwa transfer tersebut dilakukan melalui akses digital yang terdaftar atas nama Budi. Karena rekening itu milik bersama, penyelesaian sengketanya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Aku mengamankan bukti transaksi dan mengganti akses rekening pribadiku.
Saat sedang duduk di ruang tunggu, aku menerima pesan dari nomor Putri.
Mbak, aku perlu bicara. Ada sesuatu yang tidak Mbak ketahui.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil sore itu. Putri datang tanpa riasan, dengan mata sembap dan tangan gemetar.
“Utang suamiku memang ada,” katanya. “Tapi jumlahnya hanya tiga puluh juta.”
Aku terdiam.
“Lalu uang sisanya?”
Putri mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer dari tasnya.
“Mas Budi meminta aku menerima uang itu. Katanya untuk melunasi utang, tetapi aku baru tahu sebagian besar uangnya dipakai untuk membayar cicilan rumah yang dibeli atas nama Ibu.”
Aku membaca dokumen itu dengan teliti.
Rumah kedua.
Atas nama Bu Dewi.
Pembayarannya tertunggak selama berbulan-bulan.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
Putri menunduk.
“Karena aku juga salah, Mbak. Awalnya aku percaya Mas Budi. Setelah tahu uangnya bukan hanya untuk utang suamiku, aku takut. Ibu bilang kalau rahasia itu terbongkar, keluarga kami akan hancur.”
Aku menatapnya lama.
“Dan kamu membiarkan aku dituduh serakah jika menanyakan uangku?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Maafkan aku.”
Aku tidak langsung memaafkannya. Namun, aku menerima salinan bukti itu dan memintanya menyampaikan semua fakta dengan jujur jika persoalan ini dibawa ke jalur hukum.
Dua hari kemudian, Budi datang ke rumah ibuku bersama Bu Dewi. Mereka membawa selembar surat yang meminta aku menyatakan bahwa transfer seratus juta rupiah tersebut merupakan pemberian sukarela untuk keluarga.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
“Kalau aku menandatangani ini, aku kehilangan hak untuk meminta uangku kembali?”
Budi tidak menjawab.
Aku meletakkan surat di meja.
“Tidak.”
Bu Dewi mulai menangis dan mengatakan bahwa aku menghancurkan keluarga hanya karena uang. Budi mengaku bahwa ia mengambil keputusan itu karena tidak ingin ibunya kehilangan rumah.
“Kalau kamu menolak, Ibu bisa kehilangan tempat tinggal,” katanya.
Aku memandangnya dengan mata basah.
“Aku mengerti kamu ingin menyelamatkan ibumu. Tapi mengapa kamu memilih mengorbankan istrimu tanpa memberinya kesempatan untuk memutuskan?”
Budi tidak mampu menjawab.
Aku meminta mereka pulang. Setelah itu, aku berkonsultasi dengan pengacara dan mengajukan tuntutan pengembalian uang berdasarkan bukti yang kumiliki. Aku juga mulai menata kembali hidupku dan menerima pesanan katering dengan namaku sendiri.
Beberapa bulan kemudian, sebagian uang berhasil dikembalikan melalui kesepakatan tertulis. Hubunganku dengan Budi tidak pernah benar-benar pulih. Kami akhirnya berpisah setelah aku menyadari bahwa permintaan maafnya selalu datang setelah ia kehilangan sesuatu yang menguntungkan dirinya.
Setahun kemudian, pada malam Tahun Baru, aku kembali memasak dua puluh delapan hidangan.
Kali ini, tidak ada daftar perintah dari ibu mertua. Tidak ada orang yang melarangku duduk. Aku memasak bersama ibu, beberapa sahabat, dan para tetangga yang telah menjadi bagian dari hidupku.
Sebelum makan malam dimulai, aku meletakkan satu kursi tambahan di ujung meja.
Tetanggaku bertanya, “Kursi itu untuk siapa?”
Aku tersenyum sambil merapikan taplak meja.
“Untuk siapa pun yang datang ke sini dalam keadaan lapar dan merasa tidak punya tempat.”
Ketika semua orang duduk, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kupahami selama tiga tahun pernikahanku.
Meja makan bukan sekadar tempat menyantap hidangan. Meja makan adalah tempat seseorang menunjukkan siapa yang dianggap berharga.
Dulu, aku memasak dua puluh delapan hidangan agar diterima oleh sebuah keluarga.
Kini, aku tidak perlu memasak sebanyak itu untuk membuktikan bahwa aku pantas duduk bersama mereka.
Sebab akhirnya aku mengerti, rumah bukanlah tempat kita menghabiskan seluruh tenaga demi menyenangkan orang lain.
Rumah adalah tempat kita tidak perlu memohon untuk mendapatkan sebuah kursi.
