Rama tidak pernah menyangka bahwa malam itu akan menjadi malam yang paling menakutkan dalam hidupnya. Di balik pintu ruang perawatan intensif, Fania, perempuan yang selama ini selalu memaafkan kesalahannya, sedang berjuang untuk tetap hidup. Sementara itu, ia hanya bisa berdiri dengan tangan gemetar, dihantui penyesalan yang datang terlambat.
“Rama, kalau kamu benar-benar mencintai istrimu, buktikan dengan berubah. Jangan hanya menangis ketika kamu takut kehilangan dia,” kata Bu Yani sebelum meninggalkan lorong rumah sakit untuk menenangkan Syila.
Ucapan itu menancap dalam di hati Rama. Selama ini, ia selalu menganggap kesabaran Fania sebagai sesuatu yang akan terus ada. Ia terbiasa melihat istrinya mengalah, memaklumi kekurangannya, bahkan menutupi kesalahannya di hadapan keluarga. Rama terlalu sibuk mengejar kesenangan sendiri sampai lupa bahwa kesabaran manusia pun memiliki batas.

Dua jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang perawatan.
“Keluarga Ibu Fania?”
Rama segera berdiri. “Saya suaminya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?”
“Kondisinya mulai stabil, tetapi masih kritis. Kami menemukan komplikasi setelah operasi sebelumnya. Untuk sementara, pasien harus beristirahat total dan belum boleh menerima banyak pengunjung.”
Rama mengembuskan napas lega. Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, dokter itu menambahkan, “Ada satu hal yang perlu kami sampaikan. Pasien mengalami tekanan emosional yang cukup berat. Kami tidak bisa menyimpulkan penyebabnya hanya dari kondisi medis, tetapi keluarga perlu memastikan ia mendapat dukungan yang baik setelah sadar.”
Rama menunduk. Ia tahu betul siapa yang paling sering membuat Fania menangis dalam beberapa bulan terakhir.
Dirinya sendiri.
Pernikahan mereka sebenarnya tidak selalu buruk. Dahulu, Rama adalah lelaki sederhana yang berjanji akan menjaga Fania dalam keadaan apa pun. Ketika usaha mereka baru dirintis, Fania rela bekerja sampai larut malam, mengurus pesanan pelanggan, mencatat pemasukan, dan memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi.
Namun, setelah usaha mereka berkembang, Rama berubah. Ia mulai merasa berhak menikmati hidup tanpa memikirkan pengorbanan istrinya. Ia semakin sering berbohong, mengabaikan keluarga, dan menghabiskan waktu di luar rumah.
Setiap kali Fania menegurnya, Rama selalu menuduh istrinya terlalu banyak menuntut.
Kini, ketika melihat perempuan itu terbaring tak berdaya, semua pembelaan dirinya terdengar begitu memalukan.
Menjelang subuh, Syila tertidur di pangkuan Bu Yani. Amanda dan Maudy duduk berdekatan, sementara Rama masih berdiri di depan kaca ruang perawatan.
Tiba-tiba, Amanda menghampirinya.
“Bang, ada sesuatu yang harus Abang tahu.”
Rama menoleh. “Apa?”
Amanda mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya. Wajahnya tampak ragu, tetapi akhirnya ia menyerahkannya kepada sang kakak.
“Aku menemukan ini di rumah Mbak Fania ketika mengambil pakaian ganti untuk Syila.”
Rama membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, salinan transaksi bank, dan sebuah surat tulisan tangan.
Begitu melihat angka-angka pada dokumen itu, wajah Rama berubah pucat.
“Apa maksudnya ini?”
“Itu catatan pengeluaran usaha kita, Bang. Mbak Fania menyimpan bukti transfer dan pembayaran yang selama ini tidak pernah Abang periksa.”
Rama membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Sebagian uang perusahaan ternyata dipindahkan ke rekening pribadi seseorang. Jumlahnya tidak sedikit. Ada pula catatan pembayaran untuk barang-barang mewah yang tidak pernah digunakan dalam operasional usaha.
Ia teringat beberapa bulan terakhir, ketika Fania berkali-kali memintanya memeriksa laporan keuangan. Ia selalu menolak dengan alasan sibuk.
“Kenapa Fania tidak pernah memberitahuku?” bisiknya.
Amanda menatapnya kecewa.
“Mbak Fania sudah berkali-kali mencoba menjelaskan. Tapi setiap kali dia bicara, Abang malah marah. Dia bahkan menutupi beberapa kekurangan keuangan itu dengan tabungannya sendiri supaya usaha kita tidak bermasalah.”
Rama merasa dadanya sesak.
Selama ini, ia mengira Fania hanya ingin mengatur hidupnya. Padahal, perempuan itu sedang berusaha menyelamatkan sesuatu yang mereka bangun bersama.
“Siapa yang mengambil uang ini?” tanyanya.
Amanda terdiam beberapa saat.
“Aku belum tahu semuanya. Tapi ada satu nama yang muncul berkali-kali.”
Ia menunjuk salah satu lembar transaksi.
Nama itu membuat Rama tertegun.
Nama sahabatnya sendiri, Dimas.
Rama segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Dimas. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua langsung ditolak. Ketika ia mengirim pesan, nomor itu mendadak tidak dapat dihubungi.
Perasaan tidak enak mulai menyelimuti hatinya.
Namun, kejutan terbesar justru datang ketika ia membuka surat tulisan tangan Fania.
“Rama, jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak sanggup lagi menjelaskan semuanya secara langsung. Aku tidak ingin menghancurkan persahabatanmu dengan Dimas tanpa bukti yang cukup. Aku hanya ingin kamu berhenti mempercayai seseorang lebih daripada mempercayai istrimu sendiri.”
Rama berhenti membaca. Matanya memerah.
Ia melanjutkan kalimat berikutnya.
“Aku sudah mencoba menyelamatkan usaha kita. Aku juga sudah mencoba menyelamatkan pernikahan kita. Tetapi aku tidak bisa terus berjuang sendirian. Jika suatu hari aku memilih pergi, jangan katakan bahwa aku tidak pernah mencintaimu.”
Surat itu terlepas dari tangannya.
“Tidak, Fania. Jangan bicara seperti itu,” gumamnya, seolah istrinya dapat mendengar.
Bu Yani yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya mendekat.
“Sekarang kamu mengerti sedikit dari apa yang dia rasakan?”
Rama tidak menjawab.
“Fania tidak pernah meminta kehidupan mewah darimu. Dia hanya ingin dihargai. Tetapi kamu membuatnya merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.”
Air mata Rama jatuh tanpa bisa ditahan.
“Bu, aku ingin memperbaiki semuanya.”
“Memperbaiki semuanya tidak berarti kamu berhak meminta Fania kembali menerimamu. Dia berhak menentukan hidupnya sendiri.”
Rama mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba membela diri.
Pagi harinya, Fania akhirnya membuka mata.
Bu Yani yang berada di samping ranjang langsung menggenggam tangannya.
“Fania, Sayang. Kamu sudah sadar?”
Fania mengerjapkan mata, berusaha mengenali ruangan di sekelilingnya. Bibirnya bergerak pelan.
“Syila?”
“Dia baik-baik saja. Dia menunggumu di luar bersama Amanda dan Maudy.”
Fania tampak lega. Namun, ketika melihat Rama berdiri di dekat pintu, wajahnya langsung berubah. Ia memalingkan muka.
Rama tidak mendekat.
“Fania, aku minta maaf.”
Tidak ada jawaban.
“Aku tahu kata maaf tidak cukup. Aku tidak akan memaksamu memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akhirnya sadar betapa buruknya sikapku selama ini.”
Fania menutup mata. Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Rama,” katanya lirih, “aku lelah.”
Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kemarahan yang pernah diterimanya.
“Aku tahu,” jawab Rama dengan suara bergetar.
“Selama ini aku terus bertahan karena Syila. Aku selalu berpikir, mungkin suatu hari kamu akan berubah. Tapi setiap kali aku memberimu kesempatan, kamu justru membuatku semakin kehilangan diriku sendiri.”
Rama menunduk dalam-dalam.
“Aku tidak meminta kamu melupakan semuanya,” katanya. “Aku hanya akan bertanggung jawab atas kesalahanku.”
Fania menatapnya untuk beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajah.
“Sekarang, biarkan aku sembuh dulu.”
Rama mengangguk dan keluar tanpa membantah.
Hari-hari berikutnya, ia mulai melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan sejak lama. Ia mengurus Syila, menemani putrinya belajar, memeriksa kondisi usaha, dan menyerahkan dokumen keuangan kepada pihak profesional untuk ditelusuri. Ia juga melaporkan dugaan penyalahgunaan dana kepada pihak berwenang setelah berkonsultasi dengan penasihat hukum.
Dimas akhirnya ditemukan setelah beberapa hari. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa sebagian dana usaha memang dialihkan tanpa persetujuan yang semestinya. Proses hukum pun berjalan, dan Rama harus menerima kenyataan bahwa kepercayaannya yang salah telah merugikan keluarganya sendiri.
Sementara itu, Fania menjalani pemulihan dengan dukungan Bu Yani dan kedua adik iparnya. Ia perlahan kembali sehat, meski hubungan dengan Rama tetap berjarak.
Sebulan kemudian, Fania pulang ke rumah ibunya bersama Syila.
Rama membantu membawa barang-barang mereka sampai ke depan mobil. Ia tidak meminta Fania tinggal, tidak pula menggunakan Syila untuk menahan istrinya.
Sebelum masuk ke mobil, Syila memeluk ayahnya.
“Ayah akan menjemput Ibu nanti?”
Rama menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Ayah akan selalu ada untukmu, Nak. Tapi soal Ibu, biarkan Ibu menentukan apa yang membuatnya bahagia.”
Syila mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami.
Setelah mobil itu pergi, Rama kembali ke rumah yang terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Di atas meja ruang tamu, ia menemukan sebuah amplop kecil yang rupanya tertinggal di antara barang-barang Fania. Di dalamnya terdapat foto keluarga mereka ketika Syila masih balita. Pada bagian belakang foto itu, Fania menulis sebuah kalimat pendek.
“Aku pernah sangat bahagia bersamamu. Semoga suatu hari kamu belajar membuat orang lain bahagia tanpa harus kehilangan mereka terlebih dahulu.”
Rama duduk lama sambil memandangi tulisan itu.
Ia baru mengerti bahwa penyesalan bukanlah bukti bahwa seseorang telah berubah. Perubahan harus terlihat dalam tindakan, bahkan ketika orang yang pernah disakiti memilih untuk tidak kembali.
Beberapa bulan kemudian, usaha mereka kembali stabil. Rama juga mulai menjadi ayah yang lebih hadir bagi Syila. Ia tidak tahu apakah Fania suatu hari akan memberinya kesempatan lagi, dan untuk pertama kalinya, ia belajar menerima bahwa keputusan itu bukan miliknya.
Pada hari ulang tahun Syila, Fania datang bersama Bu Yani. Mereka merayakan hari itu sebagai keluarga, meski tidak lagi tinggal dalam satu rumah.
Ketika acara selesai, Rama mengantar Fania sampai ke gerbang.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
Fania tersenyum tipis. “Aku datang untuk Syila.”
“Aku mengerti.”
Fania menatapnya sejenak. “Teruslah berubah, Rama. Bukan supaya aku kembali, tetapi supaya Syila tidak tumbuh dengan mengira bahwa cinta berarti membiarkan diri sendiri terluka.”
Setelah Fania pergi, Rama berdiri diam di depan gerbang.
Dahulu, ia mengira kehilangan berarti ketika seseorang meninggalkan rumah. Kini ia memahami bahwa kehilangan yang sesungguhnya terjadi jauh lebih awal, ketika seseorang masih berada di samping kita, tetapi sudah tidak lagi merasa dicintai.
Dan untuk pertama kalinya, Rama tidak berdoa agar Fania kembali kepadanya.
Ia hanya berdoa agar perempuan yang pernah begitu tulus mencintainya itu akhirnya menemukan kebahagiaan, meskipun kebahagiaan tersebut tidak lagi melibatkan dirinya.
