Pesan itu membuat tanganku gemetar. Aku membaca kalimatnya berulang kali, berharap ada satu kata yang bisa mengubah maknanya. Namun, ancaman terhadap ayahku tetap terpampang jelas di layar.
Dimas mengambil ponselku tanpa berkata apa-apa. Setelah membaca pesan itu, wajahnya semakin dingin.
“Sejak kapan kamu menerima ancaman seperti ini?”
“Baru sekarang. Saya bahkan tidak tahu siapa yang mengirimnya.”
Dia meletakkan ponselku di meja, lalu mengunci pintu ruang kerjanya.
“Mulai malam ini, jangan pergi sendirian. Jangan menjawab nomor asing, dan jangan memberi tahu siapa pun tentang dokumen ini.”
Aku menatapnya dengan kesal. “Kamu baru saja menuduhku menerima uang suap. Sekarang kamu menyuruhku mengikuti perintahmu. Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”
Dimas terdiam sesaat.
“Aku belum percaya padamu, Alya. Tapi aku juga belum percaya pada laporan itu.”
“Lalu kenapa fotoku ada di sana?”

Dia membuka laptop dan menunjukkan halaman persetujuan pemecatan massal. Ada tanda tangan digital atas namanya, lengkap dengan kode otorisasi direksi.
“Aku menyetujui restrukturisasi berdasarkan laporan yang diberikan direktur kepatuhan. Aku tidak pernah memeriksa satu per satu nama karyawan yang dipecat.”
“Jadi, kamu memecat ratusan orang tanpa memastikan mereka bersalah?”
Pertanyaanku membuat rahangnya mengeras.
“Aku membuat keputusan berdasarkan informasi yang ternyata mungkin telah dimanipulasi.”
“Itu bukan jawaban yang bisa mengembalikan pekerjaanku.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Rumah sebesar itu terasa seperti sangkar mewah. Menjelang pukul dua, aku keluar kamar untuk mengambil air minum dan melihat cahaya dari ruang kerja Dimas.
Pintunya terbuka sedikit.
Di dalam, dia sedang memeriksa beberapa dokumen lama. Di layar laptopnya, muncul daftar karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja. Nama-nama itu disertai catatan mengenai dugaan pelanggaran, padahal sebagian besar karyawan bahkan tidak pernah dipanggil untuk memberikan penjelasan.
Aku mengetuk pintu.
“Kamu belum tidur?”
Dimas menutup laptopnya. “Kamu juga.”
Aku duduk di seberangnya dan menceritakan kejadian tiga hari sebelum pemecatan. Saat itu, aku menemukan dua berkas dengan angka transaksi berbeda, tetapi menggunakan nomor referensi yang sama. Ketika hendak memeriksanya, seorang manajer bernama Rendra meminta aku menghapus salinan laporan sementara dari sistem.
Aku menolak karena prosedur mengharuskan setiap perubahan tercatat.
Keesokan harinya, aksesku dibatasi.
Tiga hari kemudian, aku dipecat.
“Rendra Pratama?” tanya Dimas.
Aku mengangguk. “Dia masih bekerja di perusahaanmu?”
“Dia direktur kepatuhan grup.”
Aku merasa perutku melilit. “Orang yang memerintahkan penghapusan bukti justru bertugas memastikan perusahaan tidak melanggar aturan?”
Dimas menatap layar laptopnya yang kembali menyala.
“Sepertinya kita punya masalah yang jauh lebih besar daripada pernikahan ini.”
Keesokan paginya, Dimas menghubungi tim audit independen. Dia juga meminta pengamanan tambahan untuk rumah ayahku di Garut tanpa menjelaskan alasannya kepada siapa pun selain petugas yang ditugaskan.
Aku menolak ketika dia menawarkan untuk memindahkan ayahku ke Jakarta.
“Ayahku bukan barang yang bisa kamu pindahkan sesuka hati.”
“Aku berusaha melindunginya.”
“Kalau begitu, katakan yang sebenarnya kepadanya. Jangan membuat keputusan atas nama keluargaku.”
Dimas memandangku cukup lama, kemudian mengangguk.
Sore itu, dia menelepon ayahku dan menjelaskan ancaman yang kami terima. Ayah terkejut, tetapi berjanji akan tetap berhati-hati.
Sebelum menutup telepon, ayah mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Dimas, kalau kamu memang ingin melindungi anak saya, jangan cuma melindunginya dari orang jahat. Lindungi juga dia dari kesalahanmu sendiri.”
Dimas tidak menjawab selama beberapa detik.
“Saya akan mengingatnya, Pak.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi penyelidikan. Dimas menemukan sejumlah pembayaran mencurigakan kepada perusahaan pemasok yang baru didirikan beberapa bulan sebelum restrukturisasi. Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Sebagian transaksi disetujui menggunakan akun internal yang seharusnya hanya bisa diakses oleh beberapa pejabat senior.
Salah satunya Rendra.
Namun setiap kali tim audit mendekati bukti penting, dokumen pendukung mendadak hilang atau akses sistem terputus.
Aku akhirnya menyadari bahwa aku masih mengingat sesuatu yang tidak diketahui para auditor.
Dulu, aku menyimpan salinan laporan transaksi yang mencurigakan dalam arsip cadangan pribadi karena sistem kantor sering mengalami gangguan. Salinan itu tidak berisi data pelanggan, hanya riwayat perubahan nomor referensi dan waktu akses.
Aku masih menyimpan perangkat penyimpanan kecil tersebut di rumah kos lamaku.
“Kita harus mengambilnya,” kataku.
Dimas langsung menggeleng. “Terlalu berisiko.”
“Kalau kita menunggu sampai semua bukti hilang, kamu akan terus menyalahkan orang yang salah.”
“Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian.”
“Aku tidak meminta izin untuk menjadi bagian dari penyelidikan ini. Aku hanya memberitahumu apa yang akan kulakukan.”
Tatapannya berubah tajam, tetapi akhirnya dia mengalah. Kami pergi bersama seorang petugas keamanan dan mengambil perangkat itu dari tempat penyimpananku.
Malamnya, tim audit berhasil memulihkan sebagian besar catatan. Ada bukti bahwa sejumlah transaksi telah dialihkan melalui perusahaan fiktif. Lebih mengejutkan lagi, akun yang digunakan untuk menghapus jejak transaksi tercatat mengakses sistem dari komputer kantor Rendra.
Dimas segera menjadwalkan rapat direksi khusus.
Namun, satu jam sebelum rapat dimulai, sebuah video muncul di media sosial. Dalam video itu, aku terlihat menyerahkan sebuah amplop kepada seorang pria di lobi kantor lama. Judulnya menyebutku sebagai mantan karyawan yang menerima suap sebelum membantu membocorkan dokumen perusahaan.
Video itu nyata, tetapi konteksnya dipotong.
Pria tersebut sebenarnya petugas pengiriman dokumen yang menyerahkan formulir serah terima arsip kepadaku.
Dalam hitungan menit, namaku kembali menjadi bahan pembicaraan. Wartawan berkumpul di depan rumah Dimas. Ponselku dipenuhi pesan dari orang-orang yang dulu mengenalku.
Aku memandang layar dengan mata panas.
“Aku bahkan tidak bisa mencari pekerjaan dengan tenang. Sekarang mereka membuatku terlihat seperti penjahat.”
Dimas berdiri di sampingku.
“Aku akan mengeluarkan pernyataan resmi.”
“Jangan hanya mengatakan aku tidak bersalah. Tunjukkan bukti bahwa perusahaanmu telah memanipulasi laporan.”
Dia menoleh. “Kalau kita membuka semuanya, harga saham perusahaan bisa jatuh. Investor mungkin menarik dananya. Ribuan karyawan bisa terkena dampaknya.”
Aku menatapnya tajam.
“Ratusan orang sudah kehilangan pekerjaan karena keputusan yang dibuat berdasarkan kebohongan. Jangan gunakan nasib karyawan sebagai alasan untuk menyembunyikan kebenaran.”
Dimas tidak membantah.
Hari itu, dalam rapat direksi yang disiarkan kepada para pemegang saham, dia memerintahkan audit independen diumumkan secara terbuka. Dia juga mengakui bahwa persetujuannya terhadap pemecatan massal dilakukan tanpa pemeriksaan memadai.
Rendra mencoba membela diri. Dia menuduhku memalsukan arsip dan menyebut laporan audit belum membuktikan apa pun.
Lalu kepala tim audit menampilkan catatan akses sistem, riwayat perubahan transaksi, dan salinan instruksi penghapusan yang ditemukan dalam server cadangan.
Rendra mendadak kehilangan kata-kata.
Ketika ditanya mengenai tanda tangan digitalnya pada salah satu perintah penghapusan, dia menoleh kepada Dimas.
“Direktur, kita bisa menyelesaikan ini secara internal.”
Dimas berdiri.
“Dulu aku juga berpikir semua masalah bisa diselesaikan dengan sebuah tanda tangan. Akibatnya, orang-orang yang tidak bersalah kehilangan pekerjaan. Kali ini, semuanya akan diserahkan kepada penyidik.”
Rendra kemudian dibawa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Penyelidikan berlanjut, dan beberapa pejabat lain turut diperiksa.
Beberapa minggu kemudian, perusahaan mengumumkan pemulihan hak para karyawan yang terkena pemecatan tanpa dasar yang sah. Pembayaran kompensasi dipercepat, sementara kasus transaksi mencurigakan diteruskan kepada aparat berwenang.
Namaku dibersihkan setelah rekaman lengkap dan arsip asli membuktikan bahwa aku tidak menerima suap.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari Bu Hana.
Suatu malam, beliau memanggilku dan Dimas ke ruang keluarga. Di tangannya ada sebuah amplop tua.
“Ada sesuatu yang harus kalian ketahui,” katanya.
Di dalamnya terdapat surat dari mendiang ayah Dimas, pendiri Sagara Raya Group. Surat itu ditulis bertahun-tahun lalu, ketika perusahaan masih kecil.
Ayah Dimas pernah mengalami penggelapan dana oleh orang kepercayaannya sendiri. Setelah kejadian itu, dia menulis pesan kepada putranya: perusahaan tidak akan hancur karena kehilangan uang, melainkan ketika pemimpinnya lebih takut kehilangan kekuasaan daripada mengakui kesalahan.
Bu Hana mengusap ujung surat itu.
“Dimas, Mama memilih Alya bukan hanya karena dia membutuhkan bantuan. Mama pernah melihat namanya dalam laporan pengaduan karyawan yang ditolak perusahaan. Dia satu-satunya orang yang berani mempertanyakan angka-angka yang tidak masuk akal, meskipun dia tahu itu bisa merugikan dirinya sendiri.”
Aku menatap Bu Hana dengan bingung.
“Jadi, Ibu sudah tahu tentang saya sebelum kita bertemu di taman?”
“Tidak semuanya. Mama hanya tahu kamu pernah berusaha melakukan hal yang benar. Mama ingin kamu bertemu Dimas karena dia membutuhkan seseorang yang tidak takut mengatakan bahwa dia salah.”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Jadi, pernikahan ini bukan sekadar usaha Ibu mencari menantu?”
Bu Hana tersenyum tipis. “Awalnya memang karena Mama ingin anak Mama berhenti hidup seperti mesin. Tapi Mama tidak pernah memaksamu mencintainya.”
Dimas menunduk, lalu berkata pelan, “Dan aku tidak berhak meminta itu darimu.”
Setahun yang direncanakan dalam perjanjian kami belum berakhir. Aku sudah menerima pekerjaan baru di bagian audit operasional sebuah perusahaan lain, dengan gaji yang kuperoleh dari kemampuanku sendiri. Aku juga tidak lagi tinggal di rumah kos yang hampir membuatku kehilangan tempat berteduh.
Suatu malam, Dimas meletakkan dokumen di meja makan.
Aku langsung menatapnya curiga. “Jangan bilang ini perjanjian baru.”
“Bukan.” Dia mendorong dokumen itu kepadaku. “Ini surat yang menyatakan bahwa kamu bebas mengakhiri pernikahan kita kapan pun tanpa tuntutan apa pun dariku.”
Aku membaca halaman demi halaman.
“Kenapa sekarang?”
“Karena dulu aku menikahimu setelah menganggapmu bagian dari masalah. Sekarang aku tahu kamu justru membantu menunjukkan masalah yang selama ini sengaja tidak kulihat.”
Aku menutup dokumen itu.
“Dimas, aku tidak pernah meminta kamu menjadi pria yang sempurna.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya tidak mau menjadi istri yang harus terus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.”
Dia mengangguk. “Kamu tidak perlu membuktikan apa pun lagi.”
Aku memandang pria yang dulu menikahiku seperti menandatangani kontrak bisnis. Kini, untuk pertama kalinya, dia menungguku mengambil keputusan tanpa berusaha mengendalikannya.
Aku tidak langsung merobek surat itu. Aku menyimpannya di laci, sebab kebebasan memilih jauh lebih berarti daripada janji yang dibuat karena rasa takut.
Lalu aku duduk di hadapannya dan berkata, “Kita mulai lagi dari awal. Kali ini, tanpa perjanjian tentang perasaan.”
Dimas tersenyum kecil.
“Kalau begitu, bolehkah aku mengajak istriku makan malam besok?”
“Boleh. Tapi kamu yang memilih restoran, dan jangan membawa laptop.”
Dia tertawa pelan, suara yang belum pernah kudengar sejak kami menikah.
Beberapa bulan kemudian, ketika seseorang bertanya bagaimana aku bisa menikah dengan direktur dingin yang pernah menyetujui pemecatanku, aku selalu mengingat satu hal.
Aku menikahinya karena kehabisan uang sewa.
Aku bertahan bukan karena kekayaannya.
Aku bertahan karena pada akhirnya, pria yang memiliki kuasa untuk menghancurkan hidupku memilih mengakui kesalahannya dan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.
Dan Dimas pun belajar bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak orang yang mematuhi tanda tangannya, melainkan dari keberaniannya membatalkan keputusan yang salah, sekalipun tanda tangan itu miliknya sendiri.
