SUAMIKU SEDANG MANDI KETIKA WA MASUK “AKU HAMIL” DARI SEKRETARISNYA, AKU TERSENYUM DINGIN DAN MEMANGGIL SEMUA ORANG DATANG

“Mama, Papa, jangan buru-buru dulu. Memang ada kabar bahagia, tapi bukan seperti yang Mama pikirkan.”

Senyum Bu Ratna perlahan memudar. Ia menatapku, kemudian melirik Aditya yang berdiri kaku dengan rambut masih basah. Suasana ruang tamu yang semula dipenuhi kegembiraan mendadak terasa aneh.

“Kirana, maksud kamu apa?” tanya Papa Hendra.

Aku menarik napas, lalu menunjuk sofa. “Silakan duduk dulu. Sebentar lagi ada seseorang yang juga harus mendengar kabar ini.”

Aditya mendekat dan mencengkeram lenganku.

“Kirana, apa-apaan ini? Kamu sengaja mempermalukan aku di depan Mama Papa?”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya sendiri.

“Mempermalukan kamu? Aku bahkan belum mulai, Mas.”

Belum sempat Aditya membalas, bel pintu berbunyi lagi.

Aku berjalan membukanya.

Siska berdiri di depan pintu mengenakan blus putih dan rok hitam. Rambutnya tergerai rapi, sementara tangannya memegang tas kecil. Begitu melihatku, senyumnya mengembang, seolah dia benar-benar yakin akan disambut sebagai tamu istimewa.

“Kak Kirana,” sapanya manis. “Mas Aditya ada?”

Aku menyingkir, memberikan jalan.

“Ada. Masuklah. Semua orang sudah menunggu.”

Senyum Siska membeku ketika melihat Bu Ratna dan Pak Hendra. Matanya bergerak cepat ke arah Aditya, yang kini berdiri dengan wajah pucat.

“Siska?” suara Aditya terdengar tercekat. “Kamu ngapain ke sini?”

Aku menutup pintu.

“Bukankah kamu sendiri yang mengundangnya, Mas?”

“Aku nggak pernah—”

Aku mengambil ponselnya dari meja, membuka percakapan WhatsApp, lalu meletakkannya di depan semua orang.

Siska langsung menunduk.

Pesan terakhirnya masih terpampang jelas.

Aku hamil, Mas.

Bu Ratna mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Dia membaca pesan tersebut sekali, kemudian membacanya lagi seolah berharap huruf-hurufnya berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal.

“Apa maksudnya ini, Aditya?”

Aditya membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.

Aku akhirnya duduk dan menyilangkan kaki.

“Tenang, Ma. Kita semua akan mendapat penjelasan malam ini. Apalagi Siska sudah bersedia datang.”

Siska menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Kak, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Silakan.”

Dia menoleh kepada Aditya, mencari pertolongan. Namun, laki-laki yang selama ini memberinya janji itu justru menghindari tatapannya.

“Saya dan Mas Aditya memang dekat,” katanya pelan. “Tapi saya tidak pernah berniat merusak rumah tangga Kakak.”

Aku mengangguk seolah menerima penjelasannya.

“Lalu, kehamilanmu?”

Siska meremas tali tasnya.

“Saya baru tahu beberapa hari lalu.”

“Sudah berapa bulan?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Aditya buru-buru menyela. “Kirana, ini bukan urusan Mama Papa. Kita bicarakan berdua saja.”

Aku tertawa pendek.

“Menarik. Selama tiga tahun aku menjalani pemeriksaan kesuburan sendirian, kamu bilang urusan punya anak adalah urusan kita berdua. Tapi sekarang, ketika sekretarismu mengaku hamil, mendadak ini bukan urusan keluarga?”

Wajah Bu Ratna berubah. Dia menatap putranya dengan kekecewaan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Aditya, kamu selama ini bilang kalian belum punya anak karena kondisi Kirana. Kamu bahkan menyuruhnya mencoba pengobatan lain. Apa kamu sadar betapa beratnya semua itu untuk menantu Mama?”

Aditya mengusap wajahnya.

“Ma, aku bisa jelaskan.”

“Kalau begitu, jelaskan!”

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Aku membuka map cokelat yang sejak tadi tergeletak di meja. Di dalamnya ada salinan rekening, bukti transfer, beberapa lembar dokumen perusahaan, dan hasil pemeriksaan medis.

“Ini alasan sebenarnya aku mengundang kalian.”

Aku menyerahkan beberapa lembar kepada Pak Hendra.

“Selama dua bulan terakhir, aku memeriksa keuangan keluarga kita. Aku menemukan transfer rutin dari rekening bersama ke rekening pribadi Siska. Jumlahnya mencapai hampir delapan ratus juta rupiah.”

Pak Hendra langsung berdiri.

“Delapan ratus juta?”

Aditya bergerak hendak mengambil dokumen itu, tetapi aku lebih cepat menariknya kembali.

“Belum selesai, Mas.”

Aku mengeluarkan selembar surat lagi.

“Sebagian uang itu berasal dari dana yang kita siapkan untuk program bayi tabung. Ada juga pembayaran apartemen lain, perhiasan, dan biaya perjalanan. Semua tercatat.”

Bu Ratna menutup mulutnya.

Siska mulai menangis. “Mas Aditya bilang uang itu miliknya sendiri.”

“Sebagian memang dari penghasilanku,” jawab Aditya cepat. “Aku kepala keluarga. Aku berhak menggunakan uangku!”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Uangmu sendiri? Kalau begitu, kenapa kamu menggunakan rekening bersama dan memalsukan tanda tanganku pada pengajuan pinjaman perusahaan?”

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Pak Hendra mengambil dokumen terakhir. Dahinya berkerut saat membaca surat persetujuan pinjaman yang mencantumkan namaku sebagai penjamin.

“Apa ini, Aditya?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Pinjaman itu diajukan untuk membiayai perusahaan pemasok yang terhubung dengan Siska. Aku tidak pernah menandatangani persetujuan ini. Kalau aku tidak memeriksanya tepat waktu, aset yang kami bangun bersama bisa ikut terseret.”

Siska menggeleng cepat.

“Bukan saya yang membuat dokumen itu! Saya cuma menerima uang yang diberikan Mas Aditya.”

“Kalau begitu, kamu tidak keberatan jika semua transaksi diperiksa?” tanyaku.

Dia langsung terdiam.

Aditya mendekat dengan wajah marah.

“Kamu sudah merencanakan semua ini sejak awal?”

“Tidak. Aku hanya mulai mencari jawaban setelah menyadari setiap kali aku membutuhkanmu, kamu selalu punya alasan untuk pergi.”

Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari bagian paling bawah map.

“Dan ada satu hal lagi.”

Aditya menatap amplop itu dengan ketakutan yang kini tak lagi bisa disembunyikannya.

Aku menyerahkan salinan hasil pemeriksaan medis kepada Bu Ratna.

“Ini hasil pemeriksaan kesuburanku. Dokter menyatakan peluang kehamilanku masih ada. Selama ini aku terus menyalahkan diriku sendiri karena percaya bahwa akulah satu-satunya masalah dalam pernikahan ini.”

Aku berhenti sejenak, menatap Aditya.

“Namun, dua bulan lalu aku meminta dokter menyarankan pemeriksaan untuk kami berdua. Aditya menolak berkali-kali. Akhirnya, setelah kubujuk, dia bersedia melakukan pemeriksaan.”

Aku mengeluarkan lembar hasil laboratorium miliknya.

“Pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan kesuburan yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Bukan berarti dia pasti tidak bisa memiliki anak, tetapi jelas bahwa masalah ini tidak pernah sesederhana yang dia tuduhkan kepadaku.”

Bu Ratna menatap anaknya dengan mata basah.

“Jadi selama ini kamu membiarkan Kirana menanggung semua kesalahan sendirian?”

Aditya membentak, “Itu tidak ada hubungannya dengan Siska!”

“Benar,” jawabku. “Karena itu, kita tidak akan menyimpulkan apa pun hanya dari dugaan.”

Aku menoleh kepada Siska.

“Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar hamil. Pesan WhatsApp bukan bukti medis. Kalau kamu memang sedang mengandung, kamu berhak mendapat pemeriksaan dan kepastian. Aku tidak akan menghina atau menyalahkanmu atas sesuatu yang belum terbukti.”

Siska mengangkat wajahnya, tampak terkejut karena tidak menduga akan mendengar kalimat itu dariku.

“Tapi,” lanjutku, “kehamilan bukan alasan untuk menutupi pengkhianatan atau transaksi keuangan yang mencurigakan.”

Aku mengeluarkan ponselku.

“Aku sudah menghubungi pengacaraku. Besok, seluruh dokumen keuangan akan diserahkan untuk diperiksa secara resmi. Aku juga sudah mengamankan rekening pribadiku dan meminta bank meninjau transaksi yang tidak kuizinkan.”

Aditya meraih tanganku.

“Kirana, jangan lakukan ini. Kita bisa memperbaiki semuanya. Aku masih mencintaimu.”

Aku menatapnya lama.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu membiarkanku percaya bahwa aku tidak cukup baik selama tiga tahun?”

Dia tidak mampu menjawab.

Aku melepaskan tanganku, lalu meletakkan sebuah amplop lain di hadapannya.

“Surat dari pengacaraku. Aku akan mengajukan gugatan cerai. Untuk sementara, aku juga meminta kita tinggal terpisah.”

Bu Ratna menangis pelan. Pak Hendra duduk kembali, memandang putranya seolah baru mengenal laki-laki yang dibesarkannya sendiri.

Aditya merobek amplop itu dengan tangan gemetar, tetapi aku menghentikannya.

“Tidak perlu merobek apa pun. Semua salinannya sudah ada.”

Aku berdiri dan berjalan menuju kamar, lalu kembali membawa sebuah koper kecil yang telah kusiapkan sebelum mereka datang.

Siska masih duduk membisu. Aditya memandang koper itu, kemudian menatapku.

“Kamu sudah menyiapkan semuanya?”

“Sejak aku sadar bahwa aku tidak bisa terus mengorbankan diriku demi mempertahankan pernikahan yang hanya kujaga sendirian.”

Aku berpamitan kepada Pak Hendra dan Bu Ratna. Sebelum keluar, Bu Ratna memelukku erat.

“Maafkan Mama, Nak. Mama terlalu sibuk menginginkan cucu sampai lupa bertanya apakah kamu bahagia.”

Untuk pertama kalinya malam itu, air mataku jatuh.

“Tidak apa-apa, Ma. Tapi mulai sekarang, aku ingin belajar memilih diriku sendiri.”

Aku melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Di dalam lift, ponselku bergetar. Ada pesan dari nomor tak dikenal.

Kirana, saya dokter yang menangani pemeriksaan suami Anda. Ada informasi yang perlu Anda ketahui mengenai hasil tes yang terakhir.

Aku membalas bahwa aku bersedia menerima penjelasan melalui jalur resmi bersama pengacaraku.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

Saya perlu mengklarifikasi bahwa hasil pemeriksaan tersebut bukan bukti bahwa suami Anda tidak dapat memiliki anak. Namun, ada ketidaksesuaian identitas pada dokumen yang Anda lampirkan. Kami sedang menyelidikinya.

Aku menatap layar dengan jantung berdebar.

Dokumen itu bukan hanya tentang kesuburan. Ada sesuatu yang lebih besar yang selama ini disembunyikan Aditya.

Aku memasukkan ponsel ke tas dan melangkah keluar gedung menuju mobil yang sudah kupesan.

Malam itu, aku belum mengetahui seluruh kebenaran. Aku juga belum tahu apakah Siska benar-benar hamil atau siapa yang memalsukan dokumen pemeriksaan tersebut.

Namun, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak lagi merasa harus menemukan semua jawaban demi menyelamatkan pernikahanku.

Aku hanya perlu memastikan bahwa kebenaran tidak lagi bisa digunakan untuk menghancurkan hidupku.

Sebab, terkadang akhir sebuah pernikahan bukanlah kekalahan.

Terkadang, itu adalah awal ketika seseorang akhirnya berhenti meminta maaf karena berani menyelamatkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang