Kuceraikan istriku tepat saat jabatanku naik. Bagiku, dia cuma wanita pengangguran yang kerjanya di rumah, melahirkan anak perempuan, lalu mengeluh.

Aku benar-benar menikmati hidup baruku selama tiga bulan pertama. Setiap pagi, aku berangkat ke kantor dengan mobil baru, mengenakan pakaian mahal, dan disambut senyum kagum para bawahanku. Nita selalu berada di sampingku, memastikan semua kebutuhanku terpenuhi.

Namun, ada satu hal yang mulai menggangguku. Setiap kali pulang ke rumah, aku tidak pernah mendengar suara anak-anak berlarian menyambutku. Tidak ada lagi Salma yang meminta dibelikan buku cerita, Ayesha yang menunjukkan gambar buatannya, atau Aira yang memeluk kakiku sambil memanggil, “Ayah!”

Awalnya, aku menganggap perasaan itu hanya kebiasaan yang belum hilang. Aku yakin Laika akan segera menghubungiku, memohon agar aku kembali. Bagaimanapun, selama bertahun-tahun, dialah yang selalu mengalah setiap kali kami bertengkar.

Namun, telepon yang kutunggu tidak pernah datang.

Aku bahkan sengaja tidak mengirim uang selama beberapa minggu, ingin membuktikan bahwa Laika tidak akan sanggup hidup tanpa penghasilanku.

Ketika akhirnya aku menghubungi rumah lama, nomor teleponnya tidak aktif.

“Bagus,” gumamku. “Mungkin dia sedang sibuk menangis.”

Aku sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, Laika sedang duduk di sebuah ruangan kecil bersama ketiga putrinya, menghitung uang untuk membayar kebutuhan sekolah mereka.

Sampai suatu pagi, atasanku memanggilku ke ruangannya.

“Haris, minggu depan perusahaan kita menghadiri peresmian pusat pengembangan bisnis baru. Kamu akan memimpin presentasi di hadapan jajaran direksi dan investor.”

Aku langsung tersenyum lebar. Kesempatan itu bisa membawaku satu langkah lebih dekat ke posisi direktur.

“Siap, Pak. Saya akan mempersiapkan semuanya.”

“Bagus. Ada satu hal lagi. Perusahaan yang akan menjadi mitra utama kita baru saja menunjuk komisaris baru. Beliau meminta semua kepala divisi hadir dalam jamuan penyambutan.”

“Siapa nama komisarisnya, Pak?”

Atasanku menyebut sebuah nama perusahaan investasi yang cukup terkenal. Aku pernah membaca beritanya di media bisnis, tetapi tidak pernah membayangkan akan berhadapan langsung dengan pemiliknya.

“Namanya Ibu Laika Prameswari.”

Aku terdiam.

“Laika?” tanyaku spontan.

Atasanku mengangkat alis. “Kamu mengenalnya?”

Aku buru-buru menggeleng. “Mungkin hanya kebetulan, Pak.”

Namun, sepanjang perjalanan pulang, nama itu terus terngiang di kepalaku.

Laika Prameswari.

Aku pernah mengenal seorang Laika yang sama sekali tidak mengerti dunia bisnis. Perempuan yang menghabiskan hari-harinya di rumah, mengurus anak, memasak, dan mengeluh kelelahan.

Tidak mungkin dia menjadi komisaris perusahaan investasi besar.

Aku berusaha menyingkirkan pikiran itu. Mungkin hanya orang lain dengan nama yang sama.

Sementara itu, Nita sedang menungguku di rumah.

“Mas, ada kabar baik. Aku sudah mengatur makan malam dengan beberapa investor yang kukenal. Kalau berhasil, posisi Mas akan semakin kuat.”

Aku tersenyum dan memeluknya sekilas.

“Bagus. Setelah acara minggu depan, kita bicarakan tanggal pernikahan.”

Nita tampak senang, tetapi ekspresinya berubah ketika ponselku berdering. Panggilan itu berasal dari nomor yang tidak kukenal.

“Halo?”

“Selamat sore, Pak Haris. Kami dari sekretariat komisaris PT Prameswari Capital. Kami mengonfirmasi kehadiran Bapak dalam acara penyambutan Ibu Laika Prameswari pekan depan.”

Tanganku membeku.

“Bisa kirimkan profil beliau?” tanyaku.

“Baik, Pak. Akan kami kirimkan melalui surel.”

Beberapa menit kemudian, sebuah berkas masuk ke kotak masukku.

Aku membukanya.

Di halaman pertama, terpampang foto seorang perempuan mengenakan setelan jas berwarna krem. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya tenang, dan tatapannya penuh keyakinan.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Itu Laika.

Bukan Laika yang berdiri gemetar di ballroom ketika satpam hendak mengusirnya. Bukan Laika yang mengenakan gamis lusuh sambil membawa ponselku yang tertinggal.

Perempuan dalam foto itu adalah komisaris utama sebuah kelompok investasi yang memiliki portofolio bisnis di bidang teknologi, properti, dan layanan kesehatan.

Aku membaca profilnya berulang kali.

Laika ternyata pernah menyelesaikan pendidikan di bidang keuangan sebelum kami menikah. Setelah itu, ia bekerja di sebuah perusahaan investasi, tetapi mengundurkan diri ketika Salma lahir karena kami sepakat bahwa salah satu dari kami perlu lebih banyak mendampingi anak-anak.

Selama bertahun-tahun, aku menganggap keputusannya berhenti bekerja sebagai bukti bahwa dia tidak memiliki ambisi.

Ternyata aku tidak pernah benar-benar mengenal istriku sendiri.

Bagian terakhir profil itu membuat tenggorokanku terasa kering. Laika mendirikan yayasan pendidikan bagi anak-anak perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah, sekaligus memimpin perusahaan yang diwarisinya dari mendiang ayahnya setelah melalui proses restrukturisasi panjang.

Ayahnya meninggal dua tahun lalu.

Aku tidak pernah tahu.

Bahkan, ketika ayahnya sakit, Laika pernah meminta izin untuk pulang beberapa hari. Aku menolaknya karena saat itu aku sedang mempersiapkan promosi.

Kini aku sadar, betapa banyak bagian dari kehidupan istriku yang tidak pernah kupedulikan.

Hari peresmian akhirnya tiba.

Aku datang lebih awal, mengenakan setelan terbaikku. Nita berjalan di sampingku dengan gaun elegan, sementara aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah kebetulan.

Pukul sepuluh tepat, pintu utama ballroom terbuka.

Beberapa orang berdiri menyambut seorang perempuan yang berjalan masuk bersama rombongan eksekutif.

Laika.

Ia mengenakan setelan putih gading, dengan langkah tenang dan sikap yang menunjukkan bahwa ia terbiasa mengambil keputusan besar. Di sampingnya berjalan seorang asisten yang membawakan dokumen.

Aku terpaku.

Laika melihatku sekilas. Tidak ada keterkejutan, kemarahan, atau kesedihan di wajahnya. Ia hanya memberikan anggukan singkat, seperti menyapa seseorang yang pernah ditemuinya dalam urusan pekerjaan.

Sikap dingin itu justru membuatku merasa kecil.

Acara dimulai. Setelah sambutan direktur utama, Laika maju ke panggung untuk menjelaskan arah kerja sama kedua perusahaan.

Presentasinya tajam, terstruktur, dan penuh pemahaman mendalam tentang pasar. Para investor mendengarkan dengan saksama. Bahkan atasanku beberapa kali mengangguk kagum.

Aku baru mengetahui bahwa perempuan yang dahulu kuanggap tidak memiliki kemampuan apa pun ternyata jauh lebih cakap daripada banyak orang yang selama ini kukagumi.

Setelah presentasi, direktur utama memanggilku ke depan untuk memaparkan rencana divisi kami.

Aku mencoba berbicara dengan percaya diri, tetapi pikiranku terus tertuju pada Laika.

Di tengah sesi tanya jawab, Laika mengangkat tangan.

“Pak Haris, dalam proposal ini, perusahaan Anda menyebutkan bahwa sebagian besar pertumbuhan pendapatan berasal dari efisiensi operasional. Namun, laporan pendukungnya tidak menunjukkan peningkatan produktivitas yang sebanding. Bisakah Anda menjelaskan dasar perhitungannya?”

Aku terdiam beberapa detik.

Pertanyaannya tepat mengenai kelemahan proposal yang belum sempat kuperiksa secara mendalam.

Aku mencoba menjawab, tetapi penjelasanku berputar-putar. Laika tidak memotong pembicaraanku. Ia hanya menunggu sampai aku selesai, lalu berkata dengan tenang, “Saya menyarankan agar tim Anda meninjau ulang data tersebut sebelum kerja sama ini dilanjutkan. Kami membutuhkan mitra yang memahami angka-angka yang mereka ajukan.”

Tidak ada penghinaan dalam suaranya. Justru itulah yang membuatku semakin malu.

Setelah acara selesai, aku bergegas menghampirinya.

“Laika.”

Ia berhenti dan menoleh.

“Kita perlu bicara.”

“Jika mengenai proposal perusahaan, silakan ajukan melalui sekretariat.”

“Bukan soal pekerjaan. Aku ingin bicara sebagai mantan suamimu.”

Laika terdiam sejenak, lalu mengangguk kepada asistennya agar memberi kami waktu beberapa menit.

Aku menelan ludah.

“Aku tidak tahu kamu memiliki semua ini.”

Laika menatapku tanpa ekspresi.

“Memangnya kamu pernah bertanya?”

Aku kehilangan kata-kata.

“Aku mengira kamu tidak punya kemampuan selain mengurus rumah dan anak-anak,” lanjutku lirih. “Aku salah.”

“Bukan hanya salah, Haris. Kamu memilih untuk tidak melihat.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada kemarahan.

“Aku menyesal,” kataku. “Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Anak-anak juga pasti ingin kita bersama lagi.”

Untuk pertama kalinya, wajah Laika menunjukkan perubahan. Bukan kelembutan, melainkan kesedihan yang sudah lama selesai diproses.

“Jangan menggunakan anak-anak untuk meminta sesuatu dariku. Mereka berhak memiliki ayah yang menyayangi mereka, terlepas dari apakah aku kembali menjadi istrimu atau tidak.”

Aku menunduk.

“Bagaimana keadaan mereka?”

“Baik. Salma sedang mempersiapkan ujian masuk sekolah unggulan. Ayesha mengikuti kelas seni, sedangkan Aira baru mulai belajar membaca.”

“Aku ingin menemui mereka.”

“Bicarakan jadwalnya dengan pengacaraku. Aku tidak akan menghalangi hubunganmu dengan anak-anak selama kamu benar-benar bertanggung jawab.”

Aku ingin bertanya tentang hidupnya, tentang perusahaan itu, tentang semua tahun yang kulewatkan. Namun, aku tahu aku tidak lagi memiliki hak untuk menuntut penjelasan darinya.

Sebelum pergi, Laika menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

Di dalamnya ada salinan dokumen perceraian yang telah selesai diproses, beserta surat pendek.

Aku membacanya setelah ia meninggalkan ruangan.

“Terima kasih karena pernah memberiku alasan untuk memahami bahwa aku tidak boleh menggantungkan harga diriku pada penilaian orang lain. Ketika kamu meninggalkanku, aku tidak langsung menjadi kuat. Aku menangis, takut, dan hampir menyerah. Tetapi aku harus bangkit, karena tiga anak perempuan menungguku di rumah. Aku membangun hidupku kembali bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat darimu. Aku melakukannya agar anak-anakku tahu bahwa perempuan tidak kehilangan nilai dirinya hanya karena seseorang berhenti menghargainya.”

Aku melipat surat itu dengan tangan gemetar.

Di kejauhan, aku melihat Laika berjalan keluar bersama timnya. Beberapa orang menghampirinya untuk berjabat tangan, sementara seorang anak perempuan kecil yang datang bersama pengasuhnya berlari memeluk pinggangnya.

Laika membungkuk, mengusap kepala anak itu, lalu tertawa lembut.

Senyum yang dulu kukenal.

Senyum yang pernah menjadi bagian dari rumahku, tetapi tidak pernah benar-benar kuhargai.

Malam itu, aku pulang sendirian. Nita mengirim pesan bahwa ia ingin menunda rencana pernikahan kami setelah mengetahui bahwa hubunganku dengan Laika belum selesai secara emosional. Aku tidak menyalahkannya. Aku sendiri bahkan belum memahami kerusakan yang telah kubuat.

Beberapa minggu kemudian, aku mulai menemui ketiga putriku secara rutin. Aku tidak datang membawa hadiah mahal atau janji muluk. Aku hanya berusaha hadir, mendengarkan cerita mereka, dan belajar menjadi ayah yang seharusnya sejak dahulu.

Laika tidak kembali kepadaku.

Ia juga tidak perlu kembali untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.

Pada suatu sore, setelah mengantar anak-anak pulang, aku melihat Laika berdiri di teras rumahnya. Ia mengucapkan terima kasih karena aku menepati jadwal dan tidak membuat anak-anak menunggu.

Aku mengangguk, lalu berjalan menuju mobil.

“Mas Haris,” panggilnya.

Aku berbalik dengan harapan yang langsung muncul tanpa izin.

Laika tersenyum tipis.

“Anak-anak senang kamu datang hari ini. Pertahankan itu.”

Hanya itu.

Tidak ada janji untuk memulai kembali, tidak ada isyarat bahwa hatinya masih menyimpan tempat untukku.

Aku masuk ke mobil dengan dada sesak, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak marah kepadanya.

Aku akhirnya mengerti: ketika aku menceraikan Laika, aku mengira sedang membuang beban dari hidupku. Padahal, aku sedang melepaskan seseorang yang selama bertahun-tahun membangun hidupku bersamaku, sering kali dengan mengorbankan hidupnya sendiri.

Kini, ia berdiri sebagai perempuan yang berhasil menentukan masa depannya tanpa bergantung kepadaku.

Dan aku berdiri sebagai lelaki yang baru memahami nilai dirinya setelah kehilangan kesempatan untuk memilikinya.

Ternyata, promosi jabatan memang bisa membuat seseorang naik pangkat.

Tetapi tidak ada jabatan setinggi apa pun yang mampu menyelamatkan harga diri seseorang yang merendahkan orang lain demi merasa lebih tinggi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang