Pagi itu, aku meninggalkan kota tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun.
Pukul empat dini hari, taksi yang kupesan berhenti di depan apartemen. Aku membawa satu koper besar, sebuah tas kerja, dan hati yang rasanya sudah terlalu lelah untuk mempertanyakan apa pun. Ponselku terus bergetar. Ada enam panggilan dari Arga, tiga dari Ibu, dan satu pesan dari Laras.
Aku tidak menjawab satu pun.
Di bandara, aku duduk di dekat jendela sambil memandangi pesawat yang perlahan bergerak di landasan. Empat hari lalu, aku masih membayangkan berjalan menuju altar dengan gaun putih, menggenggam tangan lelaki yang kucintai selama enam tahun. Sekarang, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang telah menjadikan hidupku sebuah sandiwara.

Pukul enam lewat dua puluh, pesawat lepas landas.
Aku mematikan ponsel tepat ketika pesan terakhir masuk dari Arga.
“Naya, jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali. Aku bisa menjelaskan semuanya.”
Aku hampir tertawa. Selama bertahun-tahun, aku selalu menjadi orang yang menunggu penjelasan darinya. Kali ini, biarlah dia yang menunggu.
Setibanya di rumah sakit tempatku menjalani pengarahan misi kemanusiaan, aku menyerahkan dokumen perjalanan dan mengikuti pemeriksaan terakhir. Penempatanku berada di sebuah pusat pelayanan medis di wilayah terpencil yang membutuhkan tenaga kesehatan tambahan. Aku tahu pekerjaan itu tidak akan mudah. Namun setidaknya, di sana aku tidak perlu berpura-pura bahagia demi menjaga perasaan orang lain.
Sementara itu, di Jakarta, kekacauan mulai terjadi.
Aku mengetahui semuanya dari pesan yang masuk ke alamat email cadanganku. Pengirimnya adalah Ayah.
“Naya, kamu di mana? Arga datang ke rumah sejak pagi. Dia bilang kalian bertengkar. Ibu menangis terus. Tolong kabari Ayah.”
Aku membaca pesan itu dua kali, lalu menutup laptop.
Tidak ada satu kalimat pun yang menanyakan apakah aku baik-baik saja. Mereka hanya khawatir karena aku menghilang sebelum pernikahan yang sudah mereka persiapkan.
Menjelang siang, sebuah email baru masuk. Kali ini dari Laras.
“Naya, Kakak tahu kamu marah. Tolong jangan mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasan kami. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatap layar cukup lama sebelum membalas.
“Kalau memang bukan seperti yang kupikirkan, kenapa kalian menyembunyikannya?”
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Kakak akan menjelaskan semuanya. Rafi juga terus mencarimu.”
Nama keponakanku membuat dadaku sesak. Rafi baru berusia enam tahun. Sejak kecil, aku selalu menjadi orang yang menjemputnya dari sekolah ketika Laras bekerja lembur. Aku mengajarinya membaca, membawanya ke taman, bahkan menemaninya ketika demam.
Aku tidak ingin kehilangan anak itu hanya karena kebohongan orang dewasa.
Namun aku juga tidak ingin kembali menjadi perempuan yang selalu mengalah.
Sore harinya, aku menerima panggilan video dari Ayah. Kali ini aku mengangkatnya.
Wajah Ayah terlihat kusut. Di belakangnya, Ibu mondar-mandir sambil memegangi saputangan.
“Naya, akhirnya kamu menjawab. Kamu sekarang di mana?”
“Di tempat penugasan.”
“Penugasan apa? Kenapa kamu tidak bilang kepada keluarga?”
“Karena keluarga juga tidak pernah bilang kepadaku bahwa tunanganku sedang mengurus pernikahan dengan kakakku.”
Ayah terdiam.
Ibu mendekat ke layar. “Nak, dengarkan Ibu dulu. Ada hal-hal yang tidak kamu pahami.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Ibu membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Aku menarik napas panjang. “Aku hanya ingin tahu satu hal. Sejak kapan?”
Ayah akhirnya menjawab dengan suara rendah. “Enam bulan lalu.”
Enam bulan.
Saat itu Arga masih mengajakku memilih gedung pernikahan. Dia masih mengirim bunga ke kantorku setiap ulang tahun hubungan kami. Bahkan dua bulan sebelumnya, dia berlutut di ruang tamu apartemenku dan berkata bahwa aku adalah satu-satunya perempuan yang ingin dia jadikan istrinya.
“Kenapa?” tanyaku.
Ayah menunduk. “Laras hamil.”
Aku terdiam.
“Rafi sakit beberapa bulan lalu,” lanjut Ayah. “Laras takut kehilangan hak asuhnya jika keadaan hidupnya semakin tidak stabil. Arga sudah dekat dengan Rafi sejak lama. Ketika hubungan mereka menjadi serius, kami berusaha mencari jalan keluar.”
“Jalan keluar dengan membiarkan Arga menikah denganku?”
Ibu menangis. “Kami pikir kalian sudah terlalu jauh mempersiapkan pernikahan. Kami tidak tahu bagaimana menghentikannya tanpa menghancurkan semuanya.”
Aku menatap mereka tanpa berkedip.
Mereka takut menghancurkan semuanya, tetapi tidak keberatan menghancurkan hidupku.
“Laras benar-benar hamil?” tanyaku akhirnya.
Ayah mengangguk pelan.
Aku mengakhiri panggilan sebelum mereka sempat mengatakan hal lain.
Selama beberapa menit, aku duduk diam di kamar penginapan yang disediakan rumah sakit. Berita itu mengubah banyak hal, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa mereka telah merencanakan pernikahanku tanpa memberiku kesempatan untuk menentukan hidupku sendiri.
Malamnya, Arga akhirnya mengirimkan pesan panjang.
Dia mengaku bahwa hubungannya dengan Laras dimulai setelah mereka sering bertemu ketika mengurus Rafi. Awalnya, katanya, mereka hanya saling membantu. Kemudian perasaan itu tumbuh, dan ketika Laras mengetahui dirinya hamil, mereka memutuskan untuk menikah.
Namun Arga juga menulis sesuatu yang membuatku membaca pesannya berkali-kali.
“Aku tetap ingin menikah denganmu karena aku tidak sanggup kehilanganmu. Aku pikir setelah menikah, aku bisa mengatur semuanya.”
Aku memejamkan mata.
Jadi, dalam pikirannya, aku bisa menjadi istri sekaligus perempuan yang terus menunggu, sementara dia membangun keluarga lain di belakangku.
Aku membalas singkat.
“Kamu tidak kehilangan aku hari ini, Arga. Kamu kehilangan aku setiap kali memilih berbohong.”
Setelah itu, aku memblokir nomornya.
Hari-hari berikutnya kuhabiskan untuk bekerja. Di tempat penugasan, aku bertemu pasien-pasien yang datang dari desa jauh, para ibu yang menggendong anak mereka berjam-jam demi mendapatkan pengobatan, dan tenaga medis yang tetap tersenyum meskipun kelelahan.
Perlahan, aku mulai merasa bahwa hidupku masih memiliki arti di luar pernikahan yang gagal.
Dua minggu kemudian, sebuah paket kecil tiba di kantor misi. Pengirimnya adalah Rafi.
Di dalamnya terdapat gambar tiga orang yang bergandengan tangan. Aku mengenali tulisan tangannya yang masih berantakan.
Di bagian bawah, dia menulis, “Tante Naya, kapan pulang? Rafi kangen.”
Aku memeluk gambar itu sambil menahan air mata.
Aku tidak membenci Rafi. Dia tidak bersalah atas keputusan siapa pun. Karena itu, aku membalas melalui alamat pengiriman paket, menyertakan sebuah buku cerita dan surat pendek yang mengatakan bahwa aku menyayanginya dan berharap dia selalu sehat.
Aku tidak menyebut Arga ataupun Laras.
Sebulan kemudian, Ayah mengirimkan sebuah surat. Kali ini, dia tidak meminta aku pulang. Dia hanya meminta maaf dan mengakui bahwa keluargaku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan alasan ingin melindungi seseorang.
Di akhir surat, ada satu kalimat yang membuatku berhenti membaca.
“Arga dan Laras tidak jadi menikah.”
Aku tidak merasa senang mendengarnya. Aku hanya bertanya-tanya berapa banyak kebohongan yang masih harus mereka hadapi setelah kebohongan pertama terbongkar.
Beberapa hari kemudian, Laras menghubungiku melalui nomor baru. Aku hampir mengabaikannya, tetapi sebuah pesan masuk sebelum aku sempat memblokir nomor itu.
“Naya, aku tidak mengharapkan kamu memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa bayi ini bukan alasan aku mendekati Arga. Aku sudah mencintainya sebelum tahu aku hamil. Aku pengecut karena membiarkan Ibu dan Ayah menutupi semuanya.”
Aku membaca pesan itu dalam diam.
Untuk pertama kalinya, Laras tidak menyalahkan keadaan, tidak meminta pengertian, dan tidak menggunakan Rafi untuk membuatku kembali.
Aku tidak membalas. Belum.
Enam bulan kemudian, aku menyelesaikan penugasan pertamaku dan memilih memperpanjang masa kerja di luar negeri. Aku menemukan teman-teman baru, pekerjaan yang kucintai, dan keberanian untuk mengatakan tidak tanpa merasa harus menjelaskan diri kepada semua orang.
Pada suatu malam, aku membuka kembali koper yang kubawa dari Jakarta. Di bagian paling bawah, masih tersimpan kotak cincin pertunanganku.
Aku mengeluarkan cincin itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu mengirimkannya kembali kepada Arga melalui alamat kantornya.
Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan.
Hanya cincin yang pernah kujanjikan akan kupakai seumur hidup.
Setahun setelah malam aku pergi, sebuah kartu pos tiba dari Jakarta. Tulisan di bagian belakangnya milik Rafi.
“Tante Naya, sekarang aku punya adik perempuan. Ibu bilang suatu hari aku boleh mengajak adikku bertemu Tante. Aku harap Tante bahagia.”
Aku tersenyum membaca kalimat terakhir.
Anak kecil itu tidak memahami rahasia, pengkhianatan, atau janji yang dilanggar. Dia hanya tahu bahwa dia menyayangi seseorang dan berharap orang itu baik-baik saja.
Aku menyimpan kartu pos tersebut di meja kerjaku.
Lalu aku menulis satu kalimat di buku catatan yang selama ini kubawa ke mana-mana.
Aku pernah mengira kehilangan pernikahan berarti kehilangan masa depan. Ternyata, yang benar-benar hilang adalah masa depan yang dibangun di atas kebohongan. Dan meninggalkannya bukanlah kegagalan.
Itu adalah pertama kalinya aku memilih diriku sendiri, tanpa meminta izin siapa pun.
