Pagi itu, aku meninggalkan cincin pertunangan di atas meja dan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun.
Pukul lima, sebuah taksi membawaku menuju bandara Soekarno-Hatta. Koperku hanya satu, tetapi rasanya aku sedang membawa seluruh hidupku yang hancur. Ponselku terus bergetar. Ada panggilan dari Arga, Ibu, Ayah, dan Laras. Aku tidak mengangkat satu pun.
Pesan terakhir dari Arga berbunyi, “Naya, jangan membuat masalah menjelang pernikahan kita. Aku akan menjelaskan semuanya nanti.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali. Enam tahun bersama, dan ternyata baginya aku hanyalah seseorang yang bisa diminta menunggu sementara dia mengatur kebahagiaannya sendiri.
Sebelum naik pesawat, aku mengirim pesan kepada Arga.
“Aku juga punya sesuatu yang harus kuselesaikan. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Lalu aku mematikan ponsel.
Perjalanan menuju tempat penugasan terasa seperti memasuki kehidupan orang lain. Aku akan bekerja di sebuah pusat medis kemanusiaan di Asia Selatan selama satu tahun. Tidak ada pesta pernikahan, tidak ada janji di hadapan penghulu, dan tidak ada keluarga yang berdiri di sampingku sambil menyembunyikan kebohongan.

Hanya ada pekerjaan yang harus kulakukan dan kesempatan untuk belajar hidup tanpa menggantungkan masa depanku kepada seseorang.
Namun, tiga hari setelah tiba, aku mengetahui bahwa rahasia keluargaku jauh lebih rumit daripada perselingkuhan.
Aku baru selesai bertugas ketika sebuah email dari Ayah masuk. Subjeknya hanya dua kata: Tolong Pulang.
Aku hampir menghapusnya, tetapi lampiran yang disertakan membuat tanganku berhenti. Itu adalah salinan dokumen dari kantor pencatatan sipil, sama seperti yang kulihat dalam foto keluarga. Kali ini seluruh halaman terlihat jelas.
Nama Arga Mahendra tercantum sebagai pemohon pencatatan perkawinan. Nama Laras Prameswari berada tepat di bawahnya.
Tanggal pengajuan dokumen itu ternyata bukan beberapa hari sebelumnya.
Dokumen tersebut telah diproses dua tahun lalu.
Aku membaca tanggalnya berkali-kali, mencoba mencari kesalahan. Dua tahun lalu, Arga masih sering datang ke rumah kami untuk menemaniku makan malam. Dua tahun lalu, dia melamarku di sebuah restoran kecil di Bandung. Dua tahun lalu, Laras baru saja bercerai dan kembali tinggal bersama orang tua kami.
Bagaimana mungkin semuanya terjadi pada waktu yang sama?
Aku segera menelepon Ayah melalui sambungan internet.
Begitu panggilan terhubung, suara Ayah terdengar lelah.
“Naya, kamu sudah melihat dokumennya?”
“Jelaskan, Yah. Apa Arga sudah menikahi Kak Laras?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Keheningan itu terasa seperti pengakuan.
“Belum ada pernikahan yang tercatat secara sah,” katanya akhirnya. “Dokumen itu bagian dari pengajuan yang mereka batalkan.”
“Kenapa mereka mengajukannya?”
Ayah menarik napas panjang. “Karena Rafi.”
Aku terdiam.
Dua tahun lalu, ketika Laras bercerai, mantan suaminya pergi tanpa memberikan nafkah yang layak. Rafi masih kecil, dan Laras kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari. Arga membantu mereka secara finansial. Awalnya, katanya, hanya pinjaman. Lama-kelamaan, kedekatan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.
Arga pernah berjanji akan menikahi Laras setelah urusan perceraian dan hak asuh Rafi selesai. Tetapi ketika aku menerima lamaran Arga, dia berubah pikiran.
Laras mengalah. Setidaknya, itulah yang selama ini dikatakan keluarga kami.
“Jadi kalian membiarkanku menikah dengan laki-laki yang pernah berjanji menikahi kakakku?” tanyaku.
“Kami pikir dia sudah memilihmu,” jawab Ayah lirih. “Kami berharap semuanya akan selesai setelah kalian menikah.”
Aku tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena jawaban itu begitu menyedihkan.
“Setelah aku menikah, masalahnya selesai? Untuk siapa, Yah? Untuk Arga? Untuk Kak Laras? Atau untuk kalian yang tidak mau menghadapi akibat keputusan sendiri?”
Ayah terdiam.
Lalu dia mengungkapkan sesuatu yang membuatku lebih terpukul.
Arga bukan hanya pernah berjanji menikahi Laras. Selama dua tahun, dia juga membiayai sebagian besar kebutuhan Rafi. Ketika hubungan mereka diketahui Ibu, keluarga kami meminta Arga menjauh dari Laras demi menjaga nama baik keluarga. Mereka takut aku membatalkan pernikahan dan takut Laras kehilangan satu-satunya orang yang selama ini membantunya.
Mereka menyembunyikan semuanya dengan harapan waktu akan menyelesaikan masalah.
“Lalu kenapa Ibu mengatakan Arga sedang mempersiapkan sesuatu untukku?” tanyaku.
“Karena kami ingin kamu tetap menikah dengannya.”
Aku memejamkan mata.
Bukan karena mereka tidak tahu bahwa aku akan terluka. Mereka tahu. Mereka hanya menganggap luka itu sebagai harga yang pantas kubayar demi menjaga keluarga tetap utuh.
“Yah, aku tidak akan pulang.”
“Naya, Ibu menangis setiap malam.”
“Aku juga menangis, Yah. Bedanya, aku menangis karena kalian bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memilih.”
Aku mengakhiri panggilan.
Malam itu aku tidak tidur. Bukan karena masih berharap Arga menjelaskan sesuatu, melainkan karena aku mulai memahami bahwa orang bisa mencintaimu sekaligus membuat keputusan yang menghancurkanmu. Kedua hal itu bisa terjadi bersamaan, dan cinta tidak otomatis menghapus tanggung jawab.
Seminggu kemudian, Arga akhirnya berhasil menghubungiku melalui nomor baru.
“Aku tahu kamu marah,” katanya. “Tapi aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tetap melamarku?”
“Aku mencintaimu, Naya.”
“Apakah kamu juga mencintai Laras?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunggu beberapa detik, lalu berkata, “Kamu tidak harus menjawab. Selama ini, tindakanmu sudah menjawab semuanya.”
Arga mulai menjelaskan bahwa dia merasa bertanggung jawab terhadap Rafi. Dia mengaku masih menyayangi Laras, tetapi takut kehilangan aku. Dia ingin mempertahankan hubungan kami sambil tetap membantu kakakku.
“Kenapa kamu tidak mengatakan itu sejak awal?”
“Aku takut kehilanganmu.”
“Jadi kamu memilih mengambil hakku untuk mengetahui kebenaran, supaya kamu tidak perlu menghadapi kemungkinan kehilangan?”
Suaranya melemah. “Aku bisa memperbaiki semuanya.”
“Tidak semua hal bisa diperbaiki dengan meminta seseorang tetap tinggal.”
Aku menutup telepon.
Dua bulan berlalu. Aku mulai menikmati pekerjaanku, mengenal rekan-rekan baru, dan kembali tertawa tanpa merasa bersalah. Aku tidak membenci Laras. Aku tahu dia juga berada dalam keadaan sulit, meskipun caranya melindungi dirinya telah melukai orang lain.
Suatu sore, sebuah paket tiba di tempat tinggalku. Di dalamnya ada surat dari Laras dan sebuah foto Rafi yang sedang menggambar.
Dalam suratnya, Laras meminta maaf. Dia mengakui bahwa hubungan emosionalnya dengan Arga tidak pernah benar-benar berakhir. Dia juga mengakui bahwa keluarga kami sengaja menyembunyikan semuanya karena mereka takut aku akan pergi.
Bagian terakhir surat itu membuatku berhenti membaca sejenak.
Arga ternyata telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan siapa pun. Dia memilih membantu Rafi melalui kesepakatan yang jelas, tanpa menjanjikan pernikahan kepada Laras ataupun mempertahankan pertunangan denganku. Laras juga mulai mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih baik agar tidak lagi bergantung kepadanya.
Aku tidak tahu apakah keputusan mereka lahir dari penyesalan atau sekadar kelelahan. Namun, untuk pertama kalinya, mereka mulai menghadapi akibat dari pilihan mereka sendiri.
Di balik surat itu, Rafi menyelipkan gambar sederhana. Ada tiga orang berdiri di depan rumah, dengan matahari besar di sudut kertas. Di bawah gambar, dia menulis dengan tulisan anak-anak yang tidak rata, “Tante Naya, kapan pulang?”
Air mataku akhirnya jatuh.
Aku merindukan Rafi. Aku merindukan rumah masa kecilku, suara Ibu di dapur, dan bahkan kebiasaan Ayah menyiram tanaman setiap sore. Tetapi aku tidak lagi menganggap kerinduan sebagai alasan untuk kembali ke tempat yang membuatku kehilangan kepercayaan terhadap diriku sendiri.
Aku membalas surat Laras dengan singkat. Aku memaafkannya, tetapi belum siap kembali seperti dahulu. Kepada Rafi, aku mengirimkan buku gambar dan berjanji akan mengunjunginya ketika waktunya tepat.
Setahun kemudian, ketika masa penugasanku berakhir, aku pulang ke Indonesia.
Aku tidak kembali untuk merebut Arga atau menuntut keluarga berlutut meminta maaf. Aku pulang karena akhirnya mengerti bahwa rumah bukan sekadar tempat seseorang dilahirkan, melainkan tempat dia boleh mengatakan kebenaran tanpa harus takut kehilangan kasih sayang.
Di bandara, Ayah menungguku seorang diri. Rambutnya semakin putih. Dia tidak langsung memelukku.
“Ayah tidak tahu apakah kamu bisa memaafkan kami,” katanya.
Aku meletakkan koper, lalu menatapnya.
“Aku sedang belajar, Yah. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Ayah mengangguk, matanya berkaca-kaca.
Sebelum kami meninggalkan bandara, sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan sebagai kontak favorit.
Arga.
“Selamat pulang, Naya. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang dulu tidak bisa kuberikan.”
Aku membaca pesan itu sekali, lalu menghapusnya.
Bukan karena aku membencinya. Aku hanya tidak lagi membutuhkan pengakuannya untuk menentukan nilai diriku.
Di luar bandara, matahari pagi menyinari jalanan Jakarta yang mulai ramai. Aku menarik koper dan berjalan di samping Ayah.
Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang melarikan diri dari siapa pun.
Aku hanya sedang pulang kepada diriku sendiri.
