AKU HAMIL DELAPAN BULAN TAPI DIPAKSA SUAMIKU MEMASAK 5 MENU UNTUK INVESTORNYA

Roman berdiri mematung di dekat meja makan. Wajahnya tidak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun. Alih-alih berlari membantuku, ia justru melangkah mendekat, menatapku dengan mata yang penuh kebencian dan rasa malu. Di depan klien besarnya, aku hanyalah perusak pemandangan yang memalukan.

“Bangun, Maya,” bisiknya tajam, cukup rendah agar tidak terdengar sepenuhnya oleh tamu, tapi cukup jelas untuk melukai hatiku. “Jangan bersikap dramatis. Kamu menghancurkan kesempatanku. Berdiri sekarang dan minta maaf pada Mr. Vergara!”

Aku tidak bisa. Pandanganku mulai gelap. Rasa sakit di bawah perutku menjalar seperti lava panas. Aku merasakan cairan hangat mengalir di pahaku. Ketuban itu pecah. Aku tahu, anak kami akan lahir dalam kondisi darurat di lantai dapur yang dingin.

“Roman… aku… aku mau melahirkan,” bisikku lirih, suaraku nyaris hilang.

Roman menendang pelan kakiku dengan sepatunya, seolah aku adalah sampah yang menghalangi jalannya. “Berhenti berakting! Kamu hanya ingin membuatku tampak buruk di depan Vergara, kan? Cepat bangun atau aku akan pastikan kamu menyesal nanti!”

Mr. Alejandro Vergara berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terdengar berat di atas marmer. Aku memejamkan mata, menunggu pukulan atau cacian lebih lanjut.

Namun, yang kurasakan bukanlah sepatu Roman. Sebuah tangan tua yang hangat dan bergetar menyentuh bahuku dengan sangat lembut.

“Cukup, Roman.”

Suara Mr. Vergara berat, dalam, dan dipenuhi otoritas yang membuat ruangan itu mendadak hening.

Roman tersentak, wajahnya pucat. “Pak, saya mohon maaf. Dia hanya…”

“Diam,” potong Mr. Vergara tanpa menoleh. Dia berlutut di sampingku, mengabaikan jas mahalnya yang terkena tumpahan saus dan pecahan piring. Dia melepas jasnya, lalu dengan hati-hati membalutkan tubuhku yang menggigil. “Panggil ambulans, sekarang! Jika terjadi sesuatu pada istri dan cucuku… kamu akan tahu konsekuensinya.”

Aku membuka mata sedikit, bingung. Cucu?

Roman tertawa canggung, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya. “Pak, maaf, sepertinya Anda salah paham. Ini anak saya, anak Maya.”

Mr. Vergara menatap Roman dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang paling dibencinya. Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya dan melemparkannya ke meja.

“Anakmu? Apakah kamu lupa dengan siapa kamu berhadapan, Roman?” Mr. Vergara mendekatkan wajahnya ke Roman yang gemetar. “Nama belakangku bukan sekadar nama. Istrimu, Maya, adalah anak perempuan dari sahabat karibku yang hilang dua puluh tahun lalu. Aku menghabiskan waktu dua dekade mencari keluarganya. Dan hari ini, aku menemukan dia sedang disiksa oleh seorang pria tak tahu diri sepertimu.”

Dunia Roman runtuh. Aku melihat rahangnya jatuh. Investasi yang ia kejar mati-matian, promosi yang ia impikan, dan status sosial yang ia agungkan—semuanya lenyap dalam hitungan detik. Mr. Vergara bukan sekadar investor. Dia adalah pemegang saham utama di perusahaan tempat Roman bekerja, dan dia baru saja memutuskan untuk menghancurkan hidup Roman hingga ke akarnya.

“Ambulans sudah di jalan,” kata Mr. Vergara sambil membelai rambutku. “Jangan takut, Sayang. Kamu sudah aman sekarang.”

Roman mencoba mendekat, suaranya parau dan memohon, “Pak, tolong… saya tidak tahu. Kita bisa bicara…”

“Satu langkah lagi mendekat, dan aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari di luar jeruji besi,” ancam Mr. Vergara.

Saat petugas medis masuk, aku dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan, aku mendengar sayup-sayup suara Mr. Vergara menelepon seseorang, memerintahkan pembatalan semua kontrak Roman, penarikan aset, dan audit forensik atas semua kecurangan yang pernah dilakukan suamiku di kantor.

Tiga minggu kemudian.

Aku duduk di taman rumah sakit dengan bayi laki-lakiku di pelukan. Mr. Vergara duduk di sebelahku, menyesap tehnya dengan tenang.

“Roman?” tanyaku pelan, meskipun aku sudah tidak peduli.

Mr. Vergara tersenyum tipis. “Dia sekarang hidup di apartemen kumuh dengan tumpukan utang yang tidak akan bisa dia lunasi seumur hidupnya. Dia kehilangan segalanya, Maya. Dia kehilangan martabatnya, uangnya, dan yang paling penting… dia kehilangan kesempatan untuk menjadi ayah bagi anak yang tidak pernah dia hargai.”

Aku menatap bayiku. Dia memiliki mata yang jernih, sangat berbeda dengan ayahnya yang penuh ambisi gelap.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku.

“Kamu akan tinggal bersamaku,” jawabnya tegas. “Anak ini akan menyandang nama besar keluarga Vergara. Kamu tidak akan pernah lagi memasak untuk orang yang tidak menghargai hidupmu. Mulai sekarang, kamulah yang akan menjadi penentu masa depan, bukan mereka.”

Aku menatap langit biru. Aku telah melewati neraka, melewati rasa sakit yang paling tajam, dan hampir kehilangan segalanya. Tapi aku baru menyadari satu hal: terkadang, kita harus hancur berkeping-keping di lantai dapur yang kotor agar takdir bisa menyapu bersih semua sampah yang menempel di hidup kita.

Roman berpikir dia sedang menjamu investor untuk masa depannya, tapi dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya sedang menyambut algojo yang akan memenggal seluruh ego dan masa depannya.

Aku tersenyum pada bayiku. Aku adalah Maya, dan ini adalah awal dari hidup yang baru. Hidup yang tidak lagi diatur oleh siapa pun, kecuali oleh diriku sendiri. Dan bagi Roman, dia hanyalah bab penutup dari masa lalu yang menyakitkan, sebuah kesalahan yang sudah dikoreksi oleh semesta dengan cara yang paling kejam sekaligus indah.

Saat aku melihat ke arah gerbang rumah sakit, aku melihat seorang pria kurus, kucel, dan hancur sedang berdiri di sana, menatap jendela kamarku dengan penyesalan yang terlambat.

Itu Roman. Dia ingin meminta maaf. Dia ingin memohon kesempatan.

Aku memalingkan wajah, menutupi wajah bayiku agar dia tidak melihat ayahnya. Aku tidak membenci Roman, karena membenci berarti masih ada ikatan emosional. Bagiku, dia hanyalah orang asing yang pernah numpang lewat dalam hidupku, orang asing yang baru saja kehilangan dunianya karena kebodohannya sendiri.

Aku berbalik, berjalan pergi bersama Mr. Vergara, menjauh dari kenangan tentang dapur yang panas, teriakan kasar, dan rasa sakit yang menyiksa. Di depanku, matahari mulai terbit, menyinari dunia baru yang tak lagi mengenal kata ‘paksaan’.

Kini, aku tidak hanya seorang istri yang dilukai. Aku adalah seorang ibu yang memiliki segalanya. Dan yang paling penting, aku adalah wanita yang telah memenangkan perang—bukan dengan senjata, melainkan dengan ketahanan yang mengubah seluruh skenario hidupku dalam satu malam yang tak terlupakan.

Malam itu, di lantai dapur, bukan aku yang hancur. Roman-lah yang hancur. Dan aku? Aku baru saja dilahirkan kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang