ANJING K9 MENOLAK MENINGGALKAN SISI PETI MATI REKAN POLISINYA…

Kapten Herrera mendekat, tangannya gemetar sedikit. Ia tahu Rex bukan anjing sembarangan; insting Rex telah menyelamatkan nyawa tim mereka berkali-kali dari jebakan bom dan penyergapan musuh.

“Berhenti!” perintah Kapten kepada para petugas pembawa peti. “Jangan sentuh peti itu.”

Hening menyelimuti pemakaman. Ibu Marco berhenti menangis, menatap tajam ke arah Rex yang kini berdiri mematung di atas peti, bulu kuduknya berdiri tegak. Rex menundukkan kepalanya, menyentuhkan hidungnya ke celah kecil di antara tutup peti dan badan kayu, lalu mulai mengendus dengan napas yang memburu.

Rex kemudian menatap Kapten Herrera tepat di matanya. Tatapan itu bukan lagi tatapan kesedihan. Itu adalah tatapan mendesak. Sebuah perintah.

Tanpa menunggu komando, Kapten Herrera mengambil linggis dari tangan salah satu petugas pemakaman. Dengan tarikan napas panjang, ia menyelipkan ujung besi itu ke bawah tutup peti yang seharusnya sudah disegel rapat demi prosedur keamanan.

“Kapten, apa yang Anda lakukan?!” seru salah satu pejabat tinggi kepolisian. “Ini penodaan terhadap jenazah!”

“Diam!” bentak Herrera. “Jika anjing ini gila, aku yang akan bertanggung jawab.”

Krak.

Bunyi kayu yang dipaksa terbuka terdengar nyaring di tengah kesunyian pemakaman. Saat tutup peti itu terbuka sedikit saja, bau menyengat yang keluar bukanlah aroma bunga atau formalin, melainkan bau bensin dan mesiu yang sangat tajam.

Seluruh orang yang hadir mundur selangkah. Namun, Rex tidak mundur. Ia justru masuk ke dalam peti tersebut, menggali dengan kakinya yang berdarah ke bawah lapisan kain putih yang membungkus jenazah Marco.

“Ya Tuhan…” seorang perwira wanita menutup mulutnya.

Di balik tumpukan kain putih yang seharusnya menutupi tubuh Marco, tidak ada tubuh manusia. Yang ada hanyalah sebuah boneka mannequin besar yang dililit dengan puluhan kilogram bahan peledak C-4 dan detonator yang terhubung dengan jam mekanis yang masih berdetak pelan.

Tik. Tik. Tik.

Detonator itu disetel untuk meledak tepat saat peti mati diturunkan ke liang lahat—tepat di mana seluruh petinggi kepolisian Manila sedang berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.

“JANGAN ADA YANG BERGERAK!” teriak Kapten Herrera. Ia sadar, ini bukan sekadar pemakaman; ini adalah jebakan maut yang dirancang untuk memenggal kepala kepolisian Manila dalam satu serangan.

Rex tidak berhenti. Dengan kegigihan yang luar biasa, ia menarik keluar sebuah benda dari bawah mannequin itu menggunakan mulutnya. Itu adalah transmiter radio kecil yang masih menyala.

Rex meletakkan benda itu di tanah, lalu dengan satu hentakan kakinya yang kuat, ia menghancurkan transmiter itu hingga hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, dari arah semak-semak di pinggir area pemakaman, terdengar suara tembakan sniper yang meleset tipis dari kepala Kapten Herrera. Tim keamanan segera merespons, mengejar sosok bayangan yang melarikan diri ke arah hutan kota.

Namun, di tengah kekacauan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih mengerikan: Jika di dalam peti ini bukan Marco, lalu di mana Marco yang asli?

Tiga puluh menit kemudian, saat tim forensik dan penjinak bom mensterilkan area, seorang petugas menerima pesan terenkripsi di ponsel dinasnya. Pesan itu berasal dari nomor milik Marco Reyes yang seharusnya sudah tidak aktif.

“Jangan cari aku di pemakaman. Cari aku di tempat di mana aku pernah bersumpah untuk mengakhiri segalanya. Rex tahu jalannya.”

Rex, yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba berlari kencang keluar dari area pemakaman. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, tidak lagi peduli pada suara sirene polisi. Ia berlari menuju distrik pelabuhan Tondo—tempat yang sama di mana mereka mengatakan Marco “tewas”.

Kapten Herrera mengikuti anjing itu dengan mobilnya, firasat buruk menghantuinya. Ia menyadari satu hal yang baru: Ledakan tiga hari lalu bukanlah sebuah kecelakaan. Itu adalah pelarian. Marco Reyes tidak tewas; ia dipaksa untuk menghilang karena ia telah menemukan bukti bahwa ada “pengkhianat” di dalam departemen kepolisian mereka sendiri yang menjual informasi operasi kepada kartel narkoba.

Setibanya di gudang tua yang telah hancur, Rex berhenti di depan sebuah dinding beton yang tampak tidak mencolok. Ia mulai menggaruk lantai dengan ritme tertentu—tiga kali pendek, dua kali panjang.

Klik.

Sebuah pintu rahasia di bawah tanah terbuka. Di sana, di tengah kegelapan, duduk seorang pria dengan seragam polisi yang kotor dan berdebu, memegang senjata dengan tangan yang gemetar. Itu Marco.

“Aku tahu mereka akan mencoba meledakkan pemakaman itu,” bisik Marco parau saat melihat Kapten Herrera. “Aku meninggalkan bom itu di sana sebagai umpan. Siapa pun yang memerintahkan pemakaman itu dengan peti tertutup rapat… dia adalah orang yang berusaha membunuhku tiga hari lalu.”

Rex melompat ke pelukan Marco, menjilati wajah tuannya dengan air mata yang mengalir di wajah anjing itu.

Kebenaran yang sebenarnya lebih mengejutkan: Perintah pemakaman dengan peti tertutup rapat dan protokol keamanan ketat itu datang langsung dari kantor Kepala Polisi Kota—pria yang baru saja berdiri di samping Kapten Herrera beberapa menit yang lalu.

Pemakaman itu bukan untuk Marco. Pemakaman itu adalah eksekusi massal yang disamarkan, dan Rex, dengan kesetiaannya yang melampaui logika, telah menyelamatkan nyawa seluruh rekan-rekan mereka dari konspirasi yang paling busuk di Manila.

Marco menatap Herrera dengan mata yang tajam. “Kita tidak punya waktu lagi. Mereka tahu aku masih hidup sekarang. Rex, apakah kau siap untuk satu pertempuran terakhir?”

Rex menyalak, sebuah suara yang bukan lagi berisi duka, melainkan tekad seorang prajurit. Di luar sana, suara sirene polisi yang korup mulai mendekati gudang. Namun, kali ini, mereka tidak lagi berhadapan dengan anjing yang berduka, melainkan dengan anjing perang yang siap memburu para pengkhianat hingga ke ujung dunia.

Dan bagi Kapten Herrera, malam itu menjadi malam di mana ia belajar bahwa terkadang, satu-satunya pihak yang bisa dipercaya di dunia yang penuh kebohongan ini hanyalah seekor anjing.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang