Keesokan harinya, drama dimulai di rumah sakit elite. Dokter spesialis kandungan ternama di Jakarta, yang biasanya hanya menangani selebriti atau petinggi negara, dengan hati-hati melakukan pemindaian.
Namun, wajahnya yang semula tenang tiba-tiba berubah pucat pasi. Ia memutar-mutar probe USG itu ke berbagai sudut, berkeringat dingin, lalu berdeham berkali-kali.
“Nyonya… Nyonya Guevarra, keluarga Anda… sepertinya isi kandungan ini adalah sistem grosir,” bisiknya gemetar.
Ibu mertuaku membeku. Dia mencengkeram lengan kursinya hingga buku jarinya memutih. “Apa maksudmu, Dok? Grosir? Apakah ini… kembar dua?”
Dokter itu menelan ludah dengan susah payah, lalu menunjuk layar monitor yang menampilkan empat kantung kehamilan yang berdenyut ritmis. “Empat, Nyonya. Kembar empat. Dan yang paling mengejutkan… dari hasil pemindaian struktur, keempatnya menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang… di luar nalar medis.”

Saat itulah aku mengeluarkan ponselku dan mengunggah status legendaris itu. Clyde, yang sedang berada di kantor, membalas dengan satu tanda tanya yang sangat mencerminkan keterkejutan jiwanya.
4 Kabar itu meledak. Rumah mewah kami mendadak berubah menjadi pangkalan militer. Donya Vicky tidak lagi menganggapku manusia; aku adalah dewa. Dia mempekerjakan tim medis pribadi yang menjaga pintu kamarku 24/7.
Tapi, ada satu hal yang tidak mereka ketahui.
Sejak hari itu, aku mulai mendengar suara-suara. Bukan suara bisikan gaib, melainkan percakapan yang sangat teknis. Di dalam perutku, keempat janin itu tidak menangis. Mereka sedang melakukan diskusi strategis.
“Sektor 4, periksa pasokan kalsium dari inang. Kurang dari batas minimal,” suara bernada rendah terdengar di pikiranku.
“Roger. Sedang melakukan kompensasi dengan mengambil cadangan dari tulang belakang inang,” sahut suara lain yang terdengar seperti sistem navigasi pesawat.
Aku mematung di sofa. Tunggu dulu… apa ini?
“Sistem grosir” yang dimaksud dokter itu bukan sekadar jumlah. Mereka adalah… entitas dengan kecerdasan buatan atau entitas yang lebih tinggi dari manusia. Mereka tidak hanya tumbuh; mereka sedang menginstal sesuatu di dalam diriku.
Clyde, yang mulai curiga dengan perilakuku yang sering berbicara sendiri atau menahan sakit kepala hebat, mulai sering berada di dekatku. Suatu malam, saat dia masuk ke kamar, dia tidak lagi memasang wajah CEO yang dingin.
“Lani,” panggilnya lembut, duduk di sisi tempat tidur. Dia meletakkan tangannya di perutku. “Aku mendengar mereka.”
Aku terbelalak. “Kamu… kamu mendengar mereka juga?”
Clyde tersenyum kecut. Dia membuka kancing lengannya, memperlihatkan tanda di pergelangan tangannya yang selama ini tertutup jam tangan mewah. Itu adalah tato berbentuk sirkuit yang berpendar biru samar.
“Keluarga Guevarra tidak pernah punya anak lebih dari satu karena kami bukan manusia murni,” bisiknya pelan. “Kami adalah wadah. Setiap generasi, kami harus ‘memproduksi’ empat entitas baru yang akan menjaga keseimbangan dunia. Selama ini, aku pikir aku gagal karena aku tidak punya pasangan yang cocok. Tapi kamu… kamu adalah ‘inang’ sempurna yang dicari oleh sistem.”
Duniaku runtuh. Pernikahan kontrak ini? Uang 1 miliar itu? Itu bukan bonus. Itu adalah biaya sewa tubuhku.
5 Kehamilan itu berlangsung sangat cepat. Hanya dalam dua bulan, perutku sudah sebesar orang hamil sembilan bulan. Namun, anehnya, aku tidak merasa berat. Sebaliknya, aku merasa seperti memiliki akses ke semua data di dunia. Aku bisa melihat pergerakan bursa saham melalui mataku, bisa memprediksi cuaca, bahkan mendengar percakapan orang di seberang kota.
Malam itu, saat waktunya tiba, rumah bukan lagi berisi dokter, melainkan para “pengawas” dari organisasi misterius yang selama ini mengawasi keluarga Guevarra.
Clyde menggenggam tanganku dengan erat. “Lani, ini akan menyakitkan, tapi kau akan menjadi legenda.”
Proses kelahiran tidak terjadi di meja operasi. Keempat entitas itu “keluar” bukan dengan cara biologis biasa, melainkan melalui proyeksi cahaya yang memecah realitas di tengah ruangan.
Tepat saat mereka lahir, rumah mewah kami lenyap. Aku tidak lagi berada di Jakarta. Aku berdiri di sebuah ruangan serba putih yang sangat luas, dikelilingi oleh ribuan layar yang menampilkan data dari seluruh dunia.
Clyde berdiri di depanku, namun dia tampak berbeda. Dia mengenakan seragam perak yang megah.
“Terima kasih, Lani,” katanya.
“Di mana anak-anakku?” teriakku, bingung dan ketakutan.
Clyde menunjuk ke arah empat pilar cahaya di tengah ruangan. Di sana, empat sosok yang bersinar terang perlahan mulai berbentuk menjadi manusia dewasa dalam hitungan detik. Mereka bukan bayi. Mereka adalah administrator sistem yang baru.
“Mereka bukan anak-anakmu dalam arti biologis, Lani,” jelas Clyde dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Mereka adalah pemutakhiran sistem dunia. Dan kontrakmu sudah berakhir.”
Dia menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba, aku merasa tubuhku memudar. Aku melihat diriku sendiri, Lani yang asli, terbangun kembali di kamar tidurnya di panti asuhan, memegang formulir pendaftaran kerja yang belum terisi.
Pernikahan dengan Clyde? Kehamilan itu? Uang 1 miliar? Semuanya tidak pernah terjadi. Itu hanyalah sebuah simulasi yang diberikan sistem kepada calon-calon inang yang potensial untuk melihat sejauh mana mereka bisa bertahan.
Aku menatap cermin di kamar panti asuhan yang retak. Di pergelangan tanganku, samar-samar terlihat jejak tato sirkuit yang memudar.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari Facebook muncul, padahal aku tidak pernah merasa mengunggah apa pun.
【Selamat, Lani. Anda telah lulus tahap seleksi awal sebagai Inang Utama Sektor 7. Harap bersiap untuk penugasan berikutnya.】
Aku menatap jendela, melihat kota yang tampak begitu nyata, namun kini aku tahu… aku tidak pernah benar-benar keluar dari sistem itu. Aku hanya sedang menunggu giliran untuk “digrosir” kembali.
