Di dalam kamar yang gelap itu, pandangan saya kabur. Cahaya lampu gang yang temaram menyeruak masuk, menyinari butiran debu yang menari-nari di udara, seolah menertawakan ketakutan saya.
“Adit?” bisik saya, suara saya tercekat di tenggorokan.
Namun, kamar itu kosong. Tidak ada jenazah. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Yang ada hanyalah tumpukan kertas—ratusan lembar struk transaksi bank, laporan medis, dan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang tergeletak di atas kasur tipis yang sudah tidak terpakai.
Wanita di sebelah saya—yang kemudian saya ketahui bernama Mbak Sari—menutup mulutnya dengan sapu tangan. “Dia sudah pergi seminggu yang lalu, Bu. Dia bilang, jika Ibu datang, berikan buku ini.”

Tangan saya gemetar saat meraih buku itu. Saya membuka halaman pertamanya. Tulisan tangan Adit yang rapi, yang biasa saya lihat di kartu ucapan ulang tahun, kini terlihat bergetar dan tidak beraturan.
“Bu, jika Ibu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini untuk memeluk Ibu. Aku tidak bekerja di perusahaan konstruksi. Gaji Rp4,5 juta itu kebohongan. Uang yang aku kirimkan selama tiga tahun ini bukan hasil kerjaku, Bu. Itu adalah uang pinjaman dari rentenir gelap yang kututup dengan meminjam dari rentenir lain. Sistem gali lubang tutup lubang. Aku melakukan ini karena aku ingin Ibu hidup layak, ingin Ibu berhenti membungkuk di ladang. Tapi, mereka menemukan aku. Mereka meminta bunganya, dan mereka tidak menerima penolakan.”
Dunia saya seakan runtuh. Uang yang selama ini saya banggakan, uang yang saya gunakan untuk membeli perabotan baru dan memperbaiki atap rumah, ternyata adalah racun yang membunuh anak saya perlahan-lahan.
Saya membalik halaman berikutnya. Di sana terselip sebuah foto hasil rontgen paru-paru. Ada bayangan hitam yang sangat besar. Adit ternyata menderita kanker stadium lanjut—penyakit yang mungkin ia dapatkan karena kerja lembur di pabrik kimia ilegal demi menutupi utang-utang itu.
“Jangan cari aku, Bu. Mereka menawari aku satu jalan keluar: aku menyerahkan ginjalku untuk pelunasan utang terakhir. Aku melakukannya agar Ibu tidak diganggu oleh penagih utang. Aku tidak pulang karena aku tidak ingin Ibu melihatku layu seperti sayur yang busuk di atas meja makan kita.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari ujung gang. Pintu kamar di depan saya yang tadinya terbuka lebar, tiba-tiba didorong oleh seseorang. Pria-pria berjaket kulit hitam dengan wajah kasar berdiri di sana. Mereka menatap saya dengan pandangan yang dingin, seolah saya adalah objek yang tak berharga.
“Ibu pemilik uang itu?” salah satu dari mereka bertanya, suaranya parau.
Saya membatu. “Anak saya… di mana dia?”
Pria itu tertawa dingin, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam. “Anak Ibu? Dia sudah melunasi utangnya. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, Bu. Tubuhnya sekarang menjadi milik ‘klinik’ yang membiayai utangnya. Tapi, Ibu masih memiliki utang bunga yang belum terbayar.”
Saya merasa dunia berputar. Namun, dalam keputusasaan itu, saya menemukan sesuatu yang ganjil di dalam buku catatan Adit. Di halaman terakhir, ada sebuah alamat yang ditulis dengan tinta merah tebal: Jl. Veteran No. 42, Jakarta Pusat.
Dengan sisa tenaga, saya berlari. Saya tidak tahu dari mana kekuatan itu datang. Saya menabrak pria-pria itu dan keluar ke jalan raya. Saya tidak kembali ke Boyolali. Saya mengikuti naluri seorang ibu yang merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alamat itu membawa saya ke sebuah rumah mewah, bukan klinik kumuh. Saya mengetuk pintu dengan membabi buta. Pintu terbuka, dan di sana berdiri seorang pria tua berjas rapi, seorang pengusaha konstruksi ternama yang wajahnya sering muncul di televisi.
“Siapa Anda?” tanyanya angkuh.
Saya melemparkan buku catatan Adit ke wajahnya. “Di mana anak saya, pembunuh?!”
Pria itu membuka buku itu, membacanya sekilas, lalu wajahnya berubah pucat pasi. Ia memanggil ajudannya dengan panik. “Bawa dia ke bawah! Jangan biarkan dia berteriak!”
Saya diseret ke ruang bawah tanah. Dan di sana, di balik pintu besi yang berat, saya menemukan sesuatu yang membuat saya menjerit hingga suara saya hilang.
Adit tidak mati.
Ia duduk di atas kursi kayu, tubuhnya sangat kurus, terhubung dengan selang-selang medis, tetapi matanya terbuka. Dia sedang dipaksa bekerja di depan serangkaian monitor komputer. Dia adalah seorang hacker, seorang jenius komputer yang dipaksa membobol sistem perbankan internasional untuk pria itu.
“Adit!” tangis saya.
Dia menoleh. Matanya redup, namun saat melihat saya, ada kilatan amarah yang luar biasa. “Ibu… lari! Jangan lihat ini!”
Ternyata, “utang” yang selama ini membelenggu Adit hanyalah rekayasa untuk mengikatnya. Adit bukanlah buruh konstruksi, melainkan sandera dari sebuah sindikat kejahatan siber internasional yang menyamar sebagai pengusaha terhormat. Uang yang dia kirimkan kepada saya setiap bulan adalah hasil dari peretasan yang dia lakukan sendiri.
Namun, yang tidak diketahui oleh sindikat itu adalah satu hal: Adit jauh lebih pintar dari mereka.
Tiba-tiba, monitor-monitor di ruangan itu berubah warna menjadi merah. Alarm berbunyi melengking. Seluruh sistem keamanan rumah itu terkunci secara otomatis.
“Apa yang kau lakukan?!” pria tua itu berteriak dari balik pintu besi.
Adit tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang paling indah yang pernah saya lihat. “Aku tidak hanya mencuri uang mereka, Tuan. Aku telah mengirimkan semua bukti transaksi gelap Anda, daftar klien ilegal Anda, dan lokasi markas ini ke kantor polisi pusat—tiga menit yang lalu. Polisi sudah di depan gerbang.”
Suara sirine polisi terdengar memecah keheningan malam Jakarta.
Pria tua itu mencoba melarikan diri, namun ia terjebak oleh sistem keamanannya sendiri yang telah dikunci mati oleh Adit. Sesaat kemudian, pintu besi terbuka. Polisi menyerbu masuk, menangkap semua anggota sindikat.
Adit terjatuh dari kursi, napasnya tersengal. Saya segera memeluknya, menangis sejadi-jadinya di bahunya yang tulang belulangnya menonjol.
“Ibu,” bisiknya lemah di tengah hiruk-pikuk petugas yang mengamankan ruangan. “Uang yang Ibu pakai selama ini… itu uang haram. Tapi sekarang, mereka akan menyita semua aset pria ini. Aku sudah mengatur agar semuanya dikembalikan ke negara, dan sebagai kompensasi atas kerjasamaku, mereka menjamin perlindungan untuk kita.”
“Kita pulang, Nak,” kata saya lirih. “Kita tidak butuh harta. Kita punya satu sama lain.”
Namun, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Adit memegang tangan saya erat. Dia menatap langit-langit ambulans dengan pandangan kosong. “Bu, ada satu hal lagi. Aku tidak pernah bekerja di konstruksi karena aku tidak ingin Ibu tahu aku seorang hacker. Tapi yang benar-benar membuatku bertahan selama tiga tahun ini bukan rasa takut… melainkan janji bahwa suatu hari nanti, aku akan menghancurkan mereka dengan cara yang paling menyakitkan.”
Tahun Baru itu tidak berakhir dengan duka. Ia berakhir dengan kebenaran yang pahit, namun membebaskan. Adit memang kehilangan masa mudanya karena terkurung dalam kegelapan, namun dia telah menjadi pahlawan yang tidak pernah diketahui dunia—seorang anak yang rela menjadi penjahat demi melindungi kehormatan ibunya, dan kemudian menjadi malaikat pembalas bagi mereka yang memperbudaknya.
Kami pulang ke Boyolali. Kami tidak lagi kaya, tapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, saya bisa tidur nyenyak. Adit ada di kamar sebelah, bernapas teratur. Di atas meja makan, saya tidak lagi menatap hidangan dengan kesepian. Saya menatap masa depan, di mana tidak ada lagi utang, tidak ada lagi kebohongan, hanya kami—ibu dan anak yang berhasil lolos dari neraka yang tersembunyi di balik gemerlap Jakarta.
Tiba-tiba, ponsel Adit yang saya simpan di saku saya berbunyi. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal:
“Terima kasih telah menuntaskan tugas terakhir. Kami tahu kau masih hidup, Adit. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.”
Saya mematikan ponsel itu, membuangnya ke dalam tempayan air, dan menutup pintu rumah. Biarlah masa lalu terkubur. Besok, kami akan memulai hidup baru. Dan jika mereka datang lagi, mereka akan tahu bahwa seorang ibu yang telah kehilangan segalanya tidak akan pernah merasa takut lagi pada apa pun.
