Arjun mematung. Keheningan di kamar mandi itu terasa menyesakkan, seolah oksigen di ruangan tersebut habis terserap oleh rasa malu yang menjalar hebat di dadanya. Pria teknisi itu menunduk, tampak kikuk, sementara Priya masih memegang ujung jubah mandinya dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Kamu memasang kamera…” gumam Priya lagi. Kali ini suaranya bukan lagi tentang rasa terluka, melainkan sebuah pengakuan atas retaknya fondasi yang selama ini mereka bangun.
Arjun tidak langsung menjawab. Ia keluar dari kamar mandi, meninggalkan Priya dan teknisi itu, lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di sofa, menatap layar ponselnya yang masih menyala—menampilkan rekaman pria asing yang masuk ke rumahnya. Baru sekarang ia sadar betapa dangkalnya prasangka yang ia pelihara selama tiga bulan terakhir.

Namun, tepat saat Arjun hendak mematikan aplikasi tersebut, sebuah notifikasi lain muncul. Sebuah pesan teks yang masuk ke ponsel Priya yang tertinggal di atas meja tamu. Layar ponsel itu menyala, memperlihatkan pesan dari nomor tak dikenal: “Pekerjaan selesai. Pastikan suamimu tidak melihat ada sesuatu di balik panel lantai kamar mandi.”
Darah Arjun mendesir hebat. Jantungnya kembali berpacu, kali ini bukan karena kecemburuan buta, melainkan karena naluri seorang insinyur yang mencium keganjilan. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi. Teknisi itu sedang membereskan peralatannya, dan Priya sedang mengantarnya keluar dengan wajah yang masih tegang.
Setelah pintu rumah tertutup rapat, Arjun tidak menegur Priya. Ia justru bangkit, mengambil obeng dari laci dapur, dan melesat kembali ke kamar mandi.
“Arjun! Apa yang kamu lakukan?” teriak Priya dari ruang tamu, suaranya melengking penuh ketakutan.
Arjun tidak menghiraukan. Ia berlutut di dekat sudut kamar mandi, tepat di area yang tadi terlihat basah. Ia mengetuk-ngetuk ubin lantai. Bunyinya kopong. Dengan cekatan, ia mencongkel nat ubin yang tampak sedikit berbeda warnanya. Begitu satu ubin terangkat, ia menemukan sebuah panel kayu kecil yang tersembunyi di balik beton.
Priya berlari masuk, napasnya tersengal. Wajahnya yang pucat pasi kini berubah pucat pasi yang sesungguhnya. “Arjun, jangan! Jangan buka itu!”
Arjun menatap istrinya dengan tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Jadi, handuk itu bukan untuk mengeringkan rambut? Itu untuk menutupi jejak debu saat kamu membuka panel ini setiap kali aku pergi, kan?”
Dengan satu sentakan, Arjun membuka panel tersebut.
Di dalamnya, tidak ada uang, tidak ada surat cinta, atau benda-benda terlarang yang ia bayangkan. Yang ada hanyalah tumpukan buku catatan kecil dengan sampul kulit yang sudah lusuh, sebuah perangkat hard drive portabel, dan sebuah foto lama—foto Arjun dan Priya di hari pernikahan mereka, namun dengan wajah Arjun yang dicoret silang dengan tinta merah.
Arjun gemetar saat membuka salah satu buku catatan tersebut. Itu adalah buku harian, tapi bukan milik Priya. Tulisan di dalamnya adalah tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Tulisan tangannya sendiri.
“Apa ini, Priya?” suara Arjun serak.
Priya jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin. Tangisnya pecah, bukan tangis permohonan maaf, melainkan tangis kepasrahan. “Arjun… kamu harus tahu, sejak proyek pembangunan jembatan di luar kota dua tahun lalu, kamu bukan lagi Arjun yang aku nikahi.”
Arjun mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kamu mengalami kecelakaan kerja yang parah. Kamu koma selama enam bulan. Saat kamu bangun, kamu ingat namamu, kamu ingat pekerjaannmu, tapi ada bagian dari dirimu yang… hilang. Kamu menjadi sangat paranoid, posesif, dan sering kali tidak ingat apa yang kamu lakukan di malam hari.”
Priya menarik napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan nanar. “Teknisi itu bukan teknisi elektronik, Arjun. Dia adalah dokter saraf yang aku bayar secara diam-diam untuk melakukan hipnoterapi padamu setiap kali kamu menunjukkan tanda-tanda ‘episode’ itu. Handuk basah itu adalah kain kompres dingin yang ia gunakan untuk menenangkan sarafmu saat kamu terbangun dari sesi hipnoterapi di kamar mandi—tempat di mana kamu merasa paling aman.”
Arjun terpaku. Memorinya tiba-tiba seperti mengalami korsleting. Ia teringat samar-samar tentang rasa sakit di kepalanya, tentang suara-suara yang menyuruhnya untuk curiga pada siapa pun, dan tentang bagaimana ia sering terbangun di lantai kamar mandi dengan perasaan lelah yang luar biasa.
“Jadi…” Arjun berbisik, suaranya hampir tak terdengar. “Selama ini aku… aku sakit?”
“Dan aku menyembunyikannya darimu karena aku tidak ingin kamu hancur mengetahui bahwa ingatanmu tentang delapan tahun pernikahan kita hanyalah potongan-potongan yang kamu susun ulang agar terlihat ‘sempurna’,” jawab Priya getir.
Arjun menatap buku catatan di tangannya. Di halaman terakhir, tertulis kalimat yang ditulis oleh tangannya sendiri: “Jika aku mulai curiga lagi, berarti aku sedang lupa siapa diriku. Priya, maafkan aku karena telah melupakanmu setiap hari.”
Ternyata, rahasia di balik pintu itu bukanlah perselingkuhan, melainkan pengabdian seorang istri yang harus merawat suaminya yang perlahan-lahan kehilangan dirinya sendiri. Arjun menatap Priya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang buram. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok insinyur sukses yang sempurna. Ia melihat seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah menjadi orang asing di rumahnya sendiri—dan bahwa satu-satunya orang yang memegang jiwanya adalah wanita yang hampir saja ia hancurkan karena rasa curiga yang tak berdasar.
Arjun menutup panel itu perlahan. Ia tidak butuh kamera lagi. Ia hanya butuh seseorang yang bisa mengingatkannya siapa dia sebenarnya saat dunia di dalam kepalanya mulai gelap.
“Besok,” kata Arjun pelan sambil merangkul bahu Priya yang masih bergetar, “kita jangan panggil dokter itu lagi. Biarkan aku mencoba mengingatmu dengan caraku sendiri.”
Priya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini tulus dan penuh duka. Namun di balik keheningan malam itu, Arjun tidak menyadari satu hal: di dalam catatan yang ia pegang, ada satu lembar terakhir yang belum sempat ia baca.
Sebuah catatan tertanggal besok, ditulis dengan tulisan tangannya sendiri: “Besok, aku akan lupa lagi. Dan Priya harus pergi.”
Arjun menatap jendela, di mana bayangan seseorang—entah siapa—sedang berdiri di balik pohon besar di depan rumah, memperhatikan mereka dengan tenang. Rahasia itu belum berakhir. Itu baru saja dimulai.
