Ayah tidak mampu mengangkat wajahnya.
Jemarinya mencengkeram ujung taplak meja. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Ma, map apa itu?” Arga mendekat.
Bu Ratih belum menjawab. Matanya beralih kepadaku, lalu turun ke amplop yang dipegangnya. Seolah baru saat itu beliau menyadari bahwa namaku bukan sekadar tulisan di atas kertas.
Aku mengangkat tangan.
“Tolong matikan mikrofonnya, Bu.”
Suaraku pelan, tetapi cukup jelas di tengah keheningan.
“Saya tidak tahu isi map itu. Kalau menyangkut hidup saya, saya ingin mendengarnya lebih dulu. Bukan bersama seluruh tamu.”
Wajah Bu Ratih berubah. Beliau segera menurunkan mikrofon.
“Kamu benar. Maafkan Ibu.”
Lalu beliau menyerahkannya kepada pembawa acara dan meminta musik dilanjutkan.
Tidak ada tepuk tangan. Hanya bunyi sendok yang kembali menyentuh piring, percakapan lirih, dan tatapan yang masih mengikuti kami ketika seorang petugas hotel menunjukkan ruang keluarga di samping ballroom.
Arga berjalan di dekatku.

“Boleh kubantu dorong, Kak?”
Aku menggeleng.
“Aku bisa.”
Dia mengangguk dan menahan pintu agar aku bisa lewat.
Untuk pertama kalinya sejak tiba, aku merasa seseorang mendengarkan jawabanku.
Di ruangan kecil itu hanya ada kami berenam. Musik dari ballroom terdengar samar di balik dinding.
Salsa berdiri dekat cermin. Ibu duduk dengan kedua tangan saling meremas. Ayah tetap di dekat pintu, seakan berharap ada seseorang memanggilnya keluar.
Bu Ratih meletakkan amplop cokelat di meja, dalam jangkauanku.
“Pak Hendra menyerahkan ini kepada saya sebelum akad,” katanya. “Beliau meminta bantuan mencarikan tempat tinggal untukmu.”
Aku menatap Ayah.
“Tempat tinggal?”
Ayah menarik kursi, tetapi tidak jadi duduk.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Ayah belum tahu apa yang kupikirkan.”
Bu Ratih melanjutkan dengan hati-hati.
“Saya menjadi pengurus yayasan yang mendukung hunian mandiri bagi penyandang disabilitas. Ayahmu bilang kamu ingin pindah, bekerja dari sana, dan mengurangi ketergantungan pada keluarga.”
Aku membuka amplop.
Ada salinan KTP-ku. Ringkasan pemeriksaan lama. Kartu keluarga. Lalu formulir permohonan yang sebagian besar telah diisi.
Pada kolom alasan tertulis:
Keluarga tidak lagi mampu memberikan pendampingan sehari-hari. Pemohon bersedia ditempatkan di fasilitas yang direkomendasikan.
Di bagian tanda tangan pemohon, masih ada ruang kosong.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Aku tidak pernah mengatakan bersedia.”
“Iya, makanya belum ditandatangani,” Ayah buru-buru menjawab. “Ini baru mencari kemungkinan.”
“Tapi Ayah sudah bilang kepada Bu Ratih aku ingin pindah.”
Ibu mulai menangis.
“Kami khawatir, Nadira. Ayah sudah sering sakit. Ibu juga tidak sekuat dulu.”
Aku memandang mereka bergantian.
Aku bekerja sebagai pengelola administrasi untuk dua toko daring. Aku membayar kebutuhan pribadiku, ikut membeli belanja rumah, dan hanya sesekali meminta bantuan untuk hal-hal yang belum bisa kulakukan sendiri.
Ada hari ketika nyeri membuatku harus berbaring lebih lama. Ada tempat yang tidak bisa kudatangi karena tangganya terlalu tinggi. Tetapi kesulitan itu tidak berarti aku tidak bisa diajak bicara tentang hidupku sendiri.
“Kalau Ibu dan Ayah lelah, kita bisa membicarakannya,” kataku. “Kenapa harus mengatakan aku sudah setuju?”
Tak seorang pun menjawab.
Lalu Salsa berbicara dari dekat cermin.
“Karena setiap membahas masa depan Kakak, semuanya selalu sulit.”
Aku menoleh.
“Apa yang sulit?”
Salsa menelan ludah.
“Kakak pasti tersinggung.”
“Jadi kalian memilih merencanakannya diam-diam?”
“Kami juga punya hidup, Kak.”
Arga menatap istrinya.
“Salsa.”
“Apa?” Suaranya meninggi. “Kalian semua sekarang memandangku seperti orang jahat. Padahal selama sebelas tahun setiap orang selalu mengingatkan aku soal kebakaran itu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Salsa menarik napas pendek-pendek.
“Kalau aku ulang tahun, ada yang bilang aku harus bersyukur karena Kak Nadira. Kalau aku lulus, ada yang bilang jangan lupa pengorbanan Kak Nadira. Bahkan waktu aku dilamar, Tante bilang seharusnya Kakak yang lebih dulu bahagia.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku capek merasa hidupku ini utang.”
Aku memandang adikku lama sekali.
Di balik riasan dan gaun mahal itu, aku tiba-tiba melihat anak sebelas tahun yang belum pernah benar-benar keluar dari rumah terbakar.
Tetapi kali ini, aku tidak bisa masuk ke dalam apinya untuk menariknya keluar.
“Salsa,” kataku, “pernahkah aku menagihnya?”
Dia diam.
“Pernah aku meminta kamu membatalkan sesuatu demi merawatku? Pernah aku bilang kamu tidak boleh bahagia karena aku tidak bisa berjalan?”
Salsa menggeleng nyaris tak terlihat.
“Kalau ucapan orang menyakitimu, kamu boleh marah kepada mereka. Kamu boleh bilang berhenti. Tapi hari ini kamu memilih menyakiti aku.”
Dia menutup wajah.
Aku menunggu sampai suaraku tidak lagi bergetar.
“Aku tidak meminta tempat di foto karena pernah menyelamatkanmu. Aku meminta tempat karena aku kakakmu.”
Arga menarik kursi dan duduk. Wajahnya pucat.
“Kamu bilang Kak Nadira tidak nyaman difoto,” katanya kepada Salsa. “Kamu bilang dia sendiri yang minta duduk di tempat sepi.”
Salsa tidak menjawab.
“Aku sampai meminta fotografer tidak mendekatinya tanpa izin. Ternyata bukan itu yang terjadi.”
“Aku cuma ingin satu hari berjalan sesuai keinginanku.”
“Dan Kakak harus disembunyikan supaya itu terjadi?”
Salsa menangis semakin keras.
Arga mengusap wajahnya, lalu menatapku.
“Maaf, Kak. Aku seharusnya bertanya langsung.”
Aku mengangguk kecil. Saat itu aku belum sanggup menenangkan siapa pun.
Bu Ratih menarik formulir yang tadi kubaca, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
“Boleh Ibu ambil?”
“Untuk apa?”
“Mengembalikannya kepada ayahmu. Tidak ada permohonan yang akan kami proses tanpa percakapan langsung dan persetujuanmu.”
Aku menyerahkan lembar itu.
Beliau memasukkannya kembali ke amplop.
“Dan soal tadi di ballroom, Ibu juga salah. Ibu marah melihatmu diperlakukan seperti itu, lalu hampir menjadikan urusan pribadimu tontonan.”
“Terima kasih sudah berhenti,” jawabku.
Ayah akhirnya duduk.
“Ayah takut,” katanya lirih. “Kalau suatu hari Ayah dan Ibu tidak ada, siapa yang menjagamu?”
Aku menatap wajahnya yang mendadak tampak jauh lebih tua.
“Kalau begitu, bantu aku menyiapkan hidupku. Jangan putuskan hidupku tanpa aku.”
Ayah mengangguk, tetapi aku tahu satu anggukan belum memperbaiki apa pun.
Aku meraih tas di pangkuanku dan mengeluarkan kotak kecil berlapis kain biru.
Hadiah untuk Salsa.
Sejak tadi sudutnya menekan pahaku, mengingatkanku pada alasan aku datang.
Kutaruh kotak itu di meja.
“Aku menyiapkan ini untukmu.”
Salsa mengangkat wajah.
Di dalamnya ada gelang perak dengan pengait baru. Gelang yang dulu kami beli dari uang tabungan bersama saat berjalan-jalan di Braga. Aku memilih gelang, Salsa memilih jepit rambut, lalu sepanjang perjalanan pulang dia terus meminta bertukar.
Gelang itu sedang kupakai pada malam kebakaran. Pengaitnya rusak ketika seorang perawat melepaskannya di rumah sakit.
Bertahun-tahun kusimpan sebelum akhirnya kubawa ke tukang perhiasan bulan lalu.
Di bawahnya ada kartu kecil.
Semoga rumah barumu menjadi tempat kamu tidak perlu takut menjadi diri sendiri.
Salsa membacanya. Bahunya mulai bergetar.
“Kak, aku…”
“Simpan saja. Aku memang membelinya kembali untukmu.”
“Maksud Kakak?”
“Aku memperbaikinya supaya bisa dipakai. Bukan untuk mengingatkanmu tentang api.”
Aku menggeser kursiku ke arah pintu.
Ibu langsung berdiri.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Nanti foto keluarga dulu. Ibu panggil fotografer ke sini.”
Aku menggeleng.
“Tadi aku ingin berfoto bersama kalian. Sekarang aku ingin pulang. Tolong hormati itu.”
Kali ini tidak ada yang menyuruhku mengalah.
Arga menghubungi petugas hotel untuk memastikan kendaraan jemputanku bisa berhenti di pintu samping yang memiliki jalur landai. Sambil menunggu, aku menelepon Rani, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa rehabilitasi.
“Boleh aku menginap beberapa hari?”
Dia tidak langsung bertanya.
“Boleh. Kamar bawah kosong. Kamu sudah makan?”
Pertanyaan sederhana itu membuat air mataku akhirnya jatuh.
“Belum.”
“Aku masak nasi dulu.”
Aku tidak kembali ke rumah orang tuaku malam itu.
Tidak juga malam berikutnya.
Selama beberapa hari, ponselku dipenuhi pesan. Permintaan maaf Ibu. Pertanyaan Ayah tentang obat dan pakaian. Pesan Salsa yang panjang, lalu dihapus, kemudian diganti dengan satu kalimat.
Kak, aku tahu aku keterlaluan.
Aku membalas ketika sudah siap.
Aku butuh waktu. Jangan datang tanpa mengabari.
Tinggal di rumah Rani memberiku kesempatan memikirkan sesuatu yang selama ini selalu kutunda. Bukan karena aku tidak mampu, melainkan karena aku merasa pergi berarti meninggalkan orang tua yang telah merawatku.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tinggal bersama pun tidak menjamin kami saling melihat dengan utuh.
Tiga minggu kemudian, aku menemukan rumah kontrakan kecil yang berbagi halaman dengan pemiliknya. Pintu kamar mandinya cukup lebar. Ada satu ambang tinggi di pintu depan, tetapi pemilik rumah bersedia memasang jalur landai sederhana.
Aku menghitung biaya sewa, transportasi, dan bantuan paruh waktu bila diperlukan. Rani membantuku mengukur ruangan. Bu Ratih, atas permintaanku, memberikan kontak seseorang yang berpengalaman menilai akses rumah.
Ayah datang membawa kotak perkakas.
Dia berdiri di teras cukup lama sebelum bertanya, “Pegangan di kamar mandi mau dipasang sebelah mana?”
Aku menunjukkan tempatnya.
Ayah mengukur, menandai dinding, lalu berhenti.
“Dulu Ayah bilang nanti kita bicarakan di rumah,” katanya tanpa menatapku. “Padahal Ayah cuma ingin kamu diam.”
Aku tidak menjawab.
“Ayah malu mengakuinya. Tapi itu yang terjadi.”
Suara bor dari rumah sebelah terdengar sebentar.
“Ayah seharusnya membelamu.”
“Iya,” kataku.
Ayah mengangguk. Tidak meminta aku mengatakan bahwa semuanya sudah tidak apa-apa.
Untuk pertama kalinya, permintaan maafnya tidak terasa seperti pekerjaan tambahan untukku.
Ibu mulai datang seminggu sekali. Pada kunjungan pertama, beliau sibuk merapikan barang-barang sampai aku memintanya duduk.
“Nadira mengundang Ibu minum teh, bukan memeriksa rumah.”
Ibu tersenyum kikuk.
Lama-kelamaan, beliau belajar bertanya sebelum membantu.
Aku juga belajar meminta bantuan tanpa merasa harus menyerahkan seluruh kendali.
Salsa belum kuizinkan datang.
Dari Arga, yang sesekali mengirim pesan menanyakan kabarku, aku tahu mereka tetap menjalani pernikahan itu. Tetapi mereka mulai mengikuti konseling. Aku tidak meminta rinciannya. Ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan tanpa menjadikanku pusat pembicaraan lagi.
Dua bulan setelah resepsi, sepucuk surat datang.
Tulisan tangan Salsa.
Ia tidak menulis tentang betapa stresnya persiapan pernikahan. Tidak menyalahkan fotografer, tamu, atau ucapan kerabat.
Ia menuliskan apa yang telah dilakukannya.
Aku berbohong kepada Arga. Aku membuat Kakak merasa harus menutupi tubuh Kakak. Aku meminta Kakak pergi, lalu lega ketika Kakak menurut. Aku tahu sekarang kenapa bagian itu paling menyakitkan.
Aku berhenti membaca beberapa saat.
Di paragraf terakhir, ia menulis:
Aku tidak ingin meminta Kakak cepat memaafkan hanya supaya aku bisa berhenti merasa bersalah. Kalau suatu hari Kakak mengizinkan, aku ingin belajar menjadi adik yang tidak membuat Kakak mengecilkan diri.
Surat itu kusimpan di laci.
Seminggu kemudian, aku mengirim pesan.
Minggu sore aku ada di rumah. Kalau mau datang, datang sendiri dulu.
Salsa tiba tanpa riasan tebal, memakai kemeja dan celana panjang. Di pergelangan tangannya melingkar gelang perak itu.
Dia membawa jeruk.
“Aku ingat Kakak suka yang agak asam.”
“Masih.”
Kami duduk di teras. Percakapan awal terasa canggung. Tentang pekerjaanku. Tentang tanaman yang baru kubeli. Tentang keran dapur yang menetes.
Kemudian Salsa meletakkan gelasnya.
“Aku tidak akan meminta Kakak melupakan hari itu.”
Aku menatapnya.
“Bagus. Karena aku tidak bisa.”
Dia mengangguk. Matanya basah, tetapi kali ini dia tidak memalingkan wajah.
“Aku juga tidak menyesal menyelamatkanmu,” kataku.
Bibirnya bergetar.
“Tapi aku sedih kamu pernah menganggap hidupku selesai pada malam itu. Seolah sesudahnya aku cuma bekas luka dan kursi roda.”
“Maaf, Kak.”
“Aku masih punya hidup, Salsa. Dan aku ingin kamu mengenalnya.”
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, adikku bertanya tentang pekerjaanku sampai selesai. Dia mendengarkan keluhanku tentang pelanggan, tertawa ketika kuceritakan kesalahan pengiriman barang, lalu membantuku memilih warna tirai setelah aku meminta pendapatnya.
Sebelum pulang, dia mengeluarkan sebuah amplop foto.
“Boleh kutinggal di sini?”
Di dalamnya bukan foto pelaminan.
Itu foto lama kami di Braga. Aku berusia sembilan belas tahun, Salsa sepuluh. Kami berdiri berdempetan dengan wajah berkeringat dan dua kantong jajanan di tangan.
“Aku suka foto ini,” katanya. “Tapi aku sadar selama ini aku selalu bilang kangen Kakak yang dulu.”
Aku diam.
“Padahal Kakak masih di sini.”
Dia memasukkan ponselnya kembali ke tas tanpa meminta foto baru.
Justru akulah yang memanggilnya ketika dia sudah sampai di pagar.
“Sal.”
Dia berbalik.
“Mau foto?”
Dia menatapku, memastikan.
Aku mengangguk.
Kami meminta bantuan pemilik rumah yang sedang menyiram tanaman. Salsa mengambil posisi di sampingku, lalu bertanya apakah boleh merangkul bahuku.
“Boleh.”
Dalam foto itu tidak ada bunga putih, lampu kristal, atau huruf emas.
Hanya teras kecil, dua gelas teh di meja, dan sandal yang lupa kami singkirkan.
Kursi rodaku terlihat seluruhnya.
Bekas luka di wajahku juga.
Ketika melihat hasilnya, Salsa tidak menggeser layar untuk memotong bagian mana pun.
